Tuesday, September 6, 2016

Sinopsis: Moon Lovers - Scarlet Heart Ryeo: Episode 04 - Part 2

Standard

Haesoo menangis di ranjangnya malam itu . Wook dengan hati2 berkata pelan di depan pintu kamar. Wook berkata kalau dia membawa obat dan berharap Haesoo dapat melupakan insiden tadi siang.
Wook melangkah pergi .


Haesoo akhirnya menyusul keluar kamar dan mencari keberadaan Wook. Keduanya saling berpandangan sesaat. Wook mendekat untuk menyodorkan obat. Haesoo meminta maaf karena tadi pura-pura tertidur karena malu .

Wook tersenyum memahami . Haesoo mengaku bukan luka yang membuatnya pedih , tetapi sikap tidak hormat. Haesoo bertanya apakah Goryeo adalah negri dimana seseorang bisa diikat dan dipukuli seperti hewan .
Wook tidak bisa menyanggah , dan meminta maaf karena tadi tidak mencegah insiden pemukulan terjadi . Sambil menyentuh bahu Haesoo , Wook berjanji tidak akan membiarkan Haesoo mengalami perlakuan seperti itu lagi.
Haesoo tersentuh , namun segera mengingat harus menjaga jarak dengan Wook agar tidak melukai perasaan Lady Hae. Haesoo segera kembali masuk kamarnya.
***

Keesokan harinya Haesoo mondar-mandir berjalan seorang diri hingga akhirnya bertabrakan dengan So yang tiba2 berdiri disekitar.  Haesoo mengaduh kesakitan , namun tiba2 bersikap serius , memprotes perkataan So terhadap Yeonhwa tempo hari : "Dia itu milikku?"
So mengingatkan seharusnya Haesoo mengucapkan terimakasih karena diselamatkan dari pukulan Yeonhwa. Haesoo penasaran kenapa So yang dulu selalu ingin membunuhnya , kemudian jadi berusaha menyelamatkannya. Dan akhirnya Haesoo mengucapkan terimakasih dengan singkat.
So bertanya dimana Haesoo menemukan jepit rambutnya . Haesoo mengakui telah menemukan saat di area pemandian tempo hari , dan itu semua gara2 So telah mengancam untuk menjaga rahasia mengenai wajah So yang cacat. Haesoo mengklaim telah memegang janjinya .
Giliran So penasaran kenapa Haesoo tidak takut ? . Haesoo mengaku masih khawatir jika berdekatan dengan Haesoo , namun sudah tidak takut lagi. Haesoo kembali mengingatkan So agar jangan mengklaim dia sebagai "milik"-nya lagi , karena bukan barang dan juga hewan.
So mencondongkan mukanya mendekati wajah Haesoo seraya menggoda : "Kalau begitu , apa aku harus menyebutmu sebagai "orang"ku?


Haesoo terdiam sesaat kemudian menyarankan So agar menghindari sebutan2 yang membebani dirinya.
***
Pangeran 14 Jung kembali menyamar sebagai rakyat jelata dan terlibat dalam perkelahian jalanan. Jung kembali memenangkan perkelahian , sampai tibalah dia terkepung dan salah satu pemimpinnya yang bertangan buntung mengenali Jung sebagai pangeran.
***
Chaeryung dan Haesoo memergoki Jung sedang diseret sekawanan . Haesoo memerintahkan Chaeryung untuk mencari bala bantuan.

Haesoo berlari untuk menyusul kawanan penjahat . So dari atas kuda bingung melihat Haesoo berlari entah kemana.
***
Kawanan penjahat menyeret Jung ke hutan bambu .  Jung dipaksa berlutut , namun terus memaki2 dan mengancam para kawanan itu bisa mati jika memperlakukannya seperti ini.

Rupanya pria buntung itu dendam karena pernah menang berkelahi dengan Jung , namun tangannya dibikin buntung oleh Ibunya Jung. Jung terperanjat karena tidak mengetahui hal ini.
Dengan prinsip tangan dibalas tangan, pria buntung itu mengambil kampak dan bersiap membuntungi tangan Jung.
Haesoo yang sudah mengintai terpaksa keluar menyelamatkan Jung dengan naluri seorang wanita , yakni berteriak histeris dengan mengayun2kan batang kayu .  Pembelaan seadanya ternyata sanggup membuat kawanan itu terpencar sesaat , dan memberi kesempatan pada Jung untuk berdiri bahu membahu dengan Haesoo.
***
Rumah kediaman Pangeran 8 Wook. Ibunda Ratu mengkhawatirkan mantunya , Lady Hae , yang sakitnya semakin hari makin parah.

Putri Yeonhwa dengan antusias memberitahu ibunya ,  jika Lady Hae telah meminta suaminya untuk bercerai. Dan hal ini pantas untuk disukuri  .
Ibunda terperanjat . Wook tampak gusar mendengar ucapan adiknya ini dan menegaskan tidak akan berpaling dari istrinya yang sakit.
Yeonhwa menyarankan kakaknya untuk mempertimbangkan menikah lagi demi masa depan . Wook kehilangan kesabaran dan mulai mengomel , bahwa dia tidak menyukai pernikahan untuk alasan politik. Wook juga cemas akan menimbulkan kesan buruk dimata ayahanda raja kelak.
Ibunda juga menyetujui Wook , karena mereka berhutang budi pada keluarga Hae . Ibunda mengingatkan anak2nya untuk mengingat budi terlebih Lady Hae lagi sakit keras.
Tiba2 Chaeryung datang memohon Wook untuk menyelamatkan Haesoo dan Jung.
***

Dengan gagah berani Haesoo dan Jung saling bahu membahu . Namun batang kayu pun terlepas dari lengan Haesoo. Sudah jelas mereka berdua terlalu lemah untuk menghadapi begitu banyak kawanan penjahat. Haesoo menyarankan untuk melarikan diri
Namun pukulan datang bertubi2, dan Jung bersikap sebagai pria sejati , walaupun tak berdaya namun pasang badan untuk melindungi Haesoo , dan menegaskan akan menyelamatkan Haesoo.
Haesoo dalam paniknya jadi berkomentar : "  Sebenarnya siapa yang menyelamatkan siapa ?"
Disaat genting , Wook datang . Jung terlihat lega melihat kemunculan kakak tirinya.

Dengan tangan kosong Wook bertarung dengan merobohkan kawanan satu demi satu hingga tinggal si tangan buntung yang tersisa. Si Buntung berkata : "Kepercayaan diri yang berlebihan adalah musuh terbesarmu."
Benar saja , muncul lagi kawanan yang lebih banyak sebagai bala bantuan dan mulai mengepung Wook.
Tiba2 So muncul mengutip ulang perkataan si buntung : ""Kepercayaan diri yang berlebihan adalah musuh terbesarmu."

Semua penjahat gemetar mengingat nama besar So sebagai "Serigala" . Baru saja So mengancam dengan perkataan dan pedang terhunus , semua kawanan termasuk si Buntung melarikan diri tunggang langgang.

So turun dari kuda , dan tumben menanyakan adiknya , Jung , apa baik2 saja. Walaupun Wook menganggap So yang berkontribusi besar , namun Jung memberikan kredit terbesar pada Wook yang menyelamatkan , juga Haesoo .

Jung berjanji akan membuat nyawa Haesoo seperti nyawanya sendiri. Naluri Haesoo sebagai wanita yang lebih tua lantas memperlakukan Jung seakan adiknya yang manja.

Haesoo reflek memeluk Jung seakan adiknya , dan memberikan semangat dengan menepuk2 bahu Jung . Giliran Jung yang risih dan salah tingkah menggelengkan kepala ke kanan dan kiri .

Wook dan So menganggap tingkah Haesoo janggal , dan Haesoo pun tersadar menarik diri dari Jung. Haesoo meminta maaf , dan mengaku menganggap Jung sebagai adiknya . Jung pun tidak keberatan dan menyebut Haesoo sebagai kakak.


Semuanya terperanjat dan aneh ketika Haesoo melontarkan ucapan abad 21 : "Fighting !!!"
Namun Jung tetap mencoba untuk menirukan ucapan "Fighting" tersebut.
***
Malam hari , Wook dan Haesoo berjalan kembali kerumah . Wook berjalan cepat sekalipun Haesoo sudah meminta untuk berjalan pelan.

Haesoo menduga Wook sedang marah , dan mulai berpura2 kesakitan untuk mencari perhatian. Wook memang terpancing dan kembali menghampiri Haesoo , sambil mengeluh kalau dia takut kehilangan Haesoo . Dan diluar dugaan Haesoo , Wook mulai mendekatkan wajahnya dan hendak mencium sebelum muncul Lady Hae , Yeonhwa dkk .

Wook tidak banyak berkata2 dan berlalu dari mereka semua.
***

Jung sedang mengernyit kesakitan memeriksa lukanya , diawasi oleh So yang berdiri dibelakangnya . So mulai menguliahi Jung yang dinilai tidak bisa mempertanggungjawabkan perbuatannya , membuat seorang pria kehilangan sebelah tangan , dan rumah tangganya hancur berantakan.
Jung berkilah tidak tahu menahu perihal tangan si buntung . So berujar bahwa bagaimanapun Jung adalah seorang pangeran , dan semakin tinggi posisi semakin besar pula tanggungjawabnya.  Jung mulai kesal dan berkata kalau So bersikap begitu karena mendapat perlakuan dingin dari ibunya sehingga menyasar adik bungsunya . Jung mengulang apa yang pernah dilontarkan Yo , kalau terlahir dari rahim yang sama dengan So menjadi sangat memalukan.
So gusar dan menampar adik bungsunya , tepat disaat Ratu muncul diruangan. Ibunda Ratu gusar dan mendorong So hingga menjauh , sambil menasehati Jung agar menjauhi So si pembawa sial . Giliran Jung yang membela So , mengklaim bahwa So telah menyelamatkan dirinya hari ini . Ibunda tidak tergerak dan meminta So menjauh dari adiknya.
So tidak ada pilihan lain selain menyanggupi permintaan Ibu . Sebelum So berlalu , sempat berkata pelan tertuju pada Jung , perihal anak yang berlindung diketiak ibunya .
Jung pun terlihat bersedih usai pertengkaran , sekalipun Ibunda terus mengkhawatirkan luka anak bungsunya.
***
Wook melarikan kudanya dengan kencang ke arah taman hutan. Disana Wook beristirahat untuk kegalauannya.

***
Haesoo juga sedang galau seorang diri berbaring di ranjang kamarnya.

***

So kali ini bisa mengontrol kesedihannya dengan lebih konstruktif , yakni dengan menyusun batu doa . Hati So masih pedih atas perlakuan ibunya yang terus menerus menolaknya.
***
Pangeran Mahkota Wang Mo memohon pada ayahanda raja untuk mengabulkan permintaan So menetap di Ibukota.  Mo mengungkap bahwa dia ingin menarik So dipihaknya.

Astronom Choi menambahkan bahwa bintang Pangeran 4 So sedang bersinar di ibukota, dan cocok dikalibrasikan dengan bintang Pangeran Mahkota.
Raja langsung memotong kalau Ibunya So mencoba membunuh Pangeran Mahkota , dan abangnya So , yakni Pangeran 3 Yo , berambisi menjadi Putra Mahkota.
So menegaskan tidak pernah sehaluan dengan ambisi di keluarganya . Raja Taejoo bertanya perihal Keluarga Kang di Shinju. So menegaskan  bahwa dia lebih merasa sebagai sandera di keluarga Kang.
So berlutut untuk menegaskan posisinya bukan sebagai anak (pangeran) melainkan sebagai subjek yang loyal terhadap ayahanda Raja dan Putera Mahkota . 
Raja Taejoo jadi yakin setelah mendapat konfirmasi dari Choi tentang peruntungan bintang So dan Pangeran Mahkota yang cocok dan bisa membawa kebaikan bagi negri Goryeo .

Raja  memerintahkan Astronom Choi untuk mengabarkan ke seluruh Ibukota dan juga Keluarga Kang di Shinju bahwa sejak saat itu Pangerang 4 Wang So akan menetap di ibukota Songak.
So berlutut mengucapkan terimakasih
***

Suasana menjadi kikuk dirumah Wook . Lady Hae mengamati kalau suaminya tidak berselera makan. Terlebih ketika Haesoo masuk ruangan dan Lady Hae mempersilahkan Haesoo duduk bersama di meja makan.
 [Rekap dalam bentuk teks terpotong dan tersaji ulang dalam bentuk JPEG dibawah ini ]  
----------------------------------------------------------------------------------------------------------- 

[Rekap dalam bentuk teks terpotong dan tersaji ulang dalam bentuk JPEG diatas ini ]  
----------------------------------------------------------------------------------------------------------- Haesoo memberikan ujar2 nasehat untuk So : "Hiduplah dengan tenang di istana. Jangan mengancam untuk membunuh orang lagi. Jangan melotot ke orang yang tidak mendengarkannya. Berhati2 kamu menarik pedang  terhadap apapun. Jangan merusak sesuatu yang dibangun dengan susah payah. Apalagi yah ? "
So menggerutu dengan kesal agar Haesoo berhenti berujar.
Haesoo menambahkan dengan sikap benar2 peduli kali ini , agar So jangan telat makan dan tidur nyenyak dan terhindar dari mimpi buruk.
Raut wajah So berubah melihat kepedulian Haesoo terhadapnya.

Haesoo tersadar So sedang memandanginya : "Kenapa kau terus memandangiku seperti itu ."
So tersenyum dan mengingat kalau Haesoo pernah mengatakan tidak takut lagi terhadap So. Haesoo mengungkap ketakutan terhadap diri sendiri :"Meskipun itu perasaanku , aku tidak bisa menerka kemana perasaan itu sedang tertuju. Tak peduli betapa aku mencoba untuk mengubah arahnya. Itu tidak berkerja dengan baik."
Haesoo tersenyum memandang angkasa sambil berkata kini dia di Goryeo , dan ada banyak bintang di angkasa. So tersenyum menanyakan maksud Haesoo  :" Kamu tidak percaya kamu hanya bisa melihat bintang di Goryeo khan ? Astronom Choi pun akan terperanjat jika dia tahu."
Salju mulai turun , So memandang Haesoo yang sedang menikmati turun salju sampai kedua mata bertatapan dan kikuk untuk sesaat.
Diseberang , Wook berdiri menatap keluar jendela bahwa salju sedang turun , juga melihat kearah Haesoo dan So diluar sana.
 

0 comments:

Post a Comment