Wednesday, September 21, 2016

Sinopsis: Moon Lovers - Scarlet Heart Ryeo: Episode 09 - Part 2

Standard

Haesoo bersiap meninggalkan istana Damiwon , dan memberikan hadiah pada Wook yang sedang menantinya diluar . Haesoo mengatakan hadiah ini untuk bracelet yang pernah diberikan Wook .



Rekap  Episode 9  : Moon Lovers - Scarlet Heart Ryeo - Episode 9 Part 2
 


Wook membuka hadiah itu , didalamnya ada sebuah bantal sutera karya Haesoo , sesuai permintaan almarhum Lady Hae yang pernah meminta Haesoo agar menjadi sebuah bantal sandaran bagi Wook . 



Wook berkata jika salju tiba lagi , akan mengajak Haesoo berjalan2 sebagaimana animasi dalam buku gambar itu . Wook menangis terharu dan berjanji akan menantikannya.

Wook dan Haesoo saling berpelukan , dan Wook mengucapkan cinta pada Haesoo .

***

Lady Oh memberikan petunjuk bagaimana menyuguhkan tea untuk Raja , dan bagaimana kebiasaan serta kondisi kesehatan Raja yang punya kelemahan sakit kepala dan penglihatan yang buruk .

Pada kesempatan ini Lady Oh juga menasehati Haesoo untuk berhati2 menghadapi Wang So . Menurut Lady Oh jika Haesoo tidak bisa memberikan hatinya sepenuhnya pada Wang So sebaiknya memperjelas .

Haesoo bertanya bagaimana jika dia ternyata bisa merubah orang .

Lady Oh bercerita bahwa dulunya pun dia pernah mencintai seorang pria jelata yang dipikir akan memberikan segalanya . Namun pada akhirnya pria itu mencapai posisi yang sedemikian tinggi , hingga diluar jangkauannya , karena itu tidak masuk akal keinginan merubah seseorang .

***

Ketika sedang mengatur anak buahnya , Haesoo dicegat oleh Soondeok yang memohon bantuan untuk menenangkan hati Eun yang sedang mengurung diri di kamar.  Haesoo keberatan untuk ikur campur mengingat nasehat Astronom Choi sebelumnya.


Soondeok yang sudah mempersiapkan diri dengan busana pengantin bahkan mengaku rela kalau Haesoo menjadi istri kedua Eun .

Sementara itu Baek Ah menyarankan Jung untuk menggunakan kampak mendobrak pintu kamar Eun . Haesoo muncul mencegah , mengancam tidak akan bicara lagi dengan Eun jika terus mengurung diri . Pintu kamar akhirnya terbuka dan Haesoo masuk seorang diri ke kamar Eun .

Terlihat Eun sedang frustasi dalam minuman . Haesoo merampas botol arak dan menganggap tingkah Eun ini tidak akan bisa mencegah pernikahan .  Eun mengeluh kalau Haesoo tidak bisa memahami perasaannya .


Dengan wajah datar Haesoo menerka kalau Eun menyukainya , namun terpaksa menikah dengan gadis lain .

Eun mengajukan ide agar Haesoo  bersedia menjadi istri kedua , dan berjanji akan mempedulikan Haesoo . Haesoo berkilah tidak mau dimadu . Eun tahu kalau Haesoo berdusta , karena hasilnya akan sama saja , Haesoo akan menolak sekalipun jadi istri pertama.

Eun dengan sedih mengakui bahwa dirinya sangat bodoh dibandingkan saudara2nya yang lain , dengan daya tangkap yang rendah dan lambat dalam memahami apapun . Eun maklum jika Haesoo tidak menyukai dirinya.

Haesoo menenangkan kalau selama ini bahagia jika bersama Eun , sebagai pemuda yang apa adanya , menangis dikala sedih , dan tertawa dikala senang . Haesoo mengaku nyaman jika sedang bersama Eun .

Eun menolak dihibur seperti itu , dan sadar sejak awal tidak bisa memiliki Haesoo . Eun bertanya apa pernah barang sekalipun Haesoo menyukai dirinya . Haesoo menegaskan tetap menyukai Eun hingga saat ini , karena itu berharap Eun bisa hidup bahagia .


Haesoo keluar dari kamar , disusul oleh Eun .

Eun mengajak Soondeok untuk menuju acara pernikahan mereka.

***


Para pangeran memberikan hadiah pada Eun dan Soondeok , berharap yang terbaik bagi pernikahan mereka. Walaupun harapan baik itu sangat tidak nyaman ditelinga Eun , seperti hadiah yang menyiratkan keberuntungan untuk lekas mendapatkan anak , hadiah yang mengharapkan kehidupan pernikahan bahagia dsbnya.

Soondeok bangkit mengajukan satu perumpamaan yang artinya ketulusan hati adalah yang terpenting dalam suatu pernikahan , dan hadiah ini ibarat bonus tambahannya. Soondeok dengan senyum riang berjanji akan menggunakan hadiah2 ini dengan baik.

(Haesoo baru tiba dan mendengar hal ini )

Semua pangeran tertawa .  Sementara itu Jendral Park dari kejauhan ikut sangsi apa putrinya bisa hidup bahagia ?

Wang So juga turut memberi hadiah akan mengirim sebuah pohon bunga dan buah bermekaran .  Jung menambahkan tantangan bergulat pada Soondeok . Soondeok meledek Jung akan kalah lagi .


Haesoo pada saat itu mendapat visi masa depan mengerikan lainnya . Bahwa Eun terlihat terluka akibat panah yang menembus dadanya . Dan Wang So dalam penglihatan itu menggunakan pedang untuk menghabisi Eun dan Soondeok . Wang So tertawa terbahak2 usai menewaskan adik tirinya ini .

Haesoo terlihat ketakutan membayangkan kemungkinan buruk ini . Kebetulan Wook dan So memperhatikan Haesoo dengan wajah bingung.


***


Haesoo berlari dengan depresi berat , dan langsung mengatakan Wook yang datang menyusulnya . Haesoo mengatakan dengan suara gemetar : “ Waspadai Wang So . Menjauh darinya . Jangan coba menghentikannya . Jika kamu mencoba … kamu semua akan mati .”


Wook bingung apa maksud perkataan ini . Haesoo mengungkap keinginan untuk meninggalkan Istana  . Wook memeluk Haesoo untuk menenangkan , dan berjanji akan mengabulkan permintaan Haesoo .

***

Para pangeran senior seperti Wang Mo , Wang Yo dan Wang So menghadap Raja . Pada kesempatan ini Raja memerintahkan Wang Yo meninggalkan ibukota Songak untuk perjalanan dinas inspeksi lumbung padi diseluruh negri .

Raja tidak menerima penjelasan Yo , dan menganggap pantas kalau seorang pangeran juga punya tanggung jawab untuk mengatasi permasalahan Negara.

Walau keberatan , Yo tidak ada pilihan lain untuk mematuhi perintah raja . Yo semakin kecewa ketika Pasukan Logistik yang selama ini dibawah komandonya , dialihkan wewenangnya kepada Wang So .

Usai pertemuan , Yo mendamprat Astronom Choi dan bertanya apa Raja sedang mengasingkannya ? . Astronom Choi berkilah kalau semakin raja mempercayai seseorang , makin besar pula tugas yang dibebankan .

Yo : “ Kamu berkata sesuatu ketika menyerahkan kursi tanduku kepada Wang So . Raja yang pilih kasih membuat dua anak saling bermusuhan satu sama lain . Apa ini juga termasuk Kehendak Langit ? ”

Choi : “ Kamu telah iri pada apa yang menjadi hak Pangeran Mahkota sejak kamu masih muda. Dan kini kamu harus mencari tempatmu yang layak di dunia ini .”

Yo menantang Choi untuk menyaksikan sampai akhir , dimana tempat Yo akan berada. Yo melempar tatapan tajam ambisius kearah kursi tahta raja .

***


Suatu keajaiban terjadi ketika Wang So diundang ibunya untuk makan bersama Yo dan Jung .  Hal ini terjadi ketika Ratu jahat ini tiba2 bersikap manis pada So , mengaku bangga bahwa So mendapat kepercayaan raja .

Jung yang polos mengaku senang bisa makan bersama So untuk pertama kalinya. Wang So menjelaskan ketika Jung lahir , dia sudah diasingkan ke Shinju. Yo mengajak semua untuk melupakan permusuhan masa lampau.

Ratu bersikap manis menuangkan daging yang menjadi favorit So sejak kecil . Alhasil Yo nyaris tersedak karena terkejut melihat perubahan sikap ibunya ini .  Ratu mengingatkan So untuk belajar dari Pangeran Mahkota setelah menggantikan posisi Yo .

Dan topic beralih secara tersirat bahwa Wang So punya banyak kesempatan membunuh Pangeran Mahkota karena kedekatan mereka berdua. Jung memprotes perkataan ibunya yang dianggap keterlaluan .

Yo menjelaskan fakta sejarah bahwa tidak ada seorang rajapun yang tidak membunuh saudaranya ketika menaiki tahta. Menurut argument Yo , jika dia tidak naik tahta , maka keluarga mereka akan mati . Jung merasa Pangeran Mahkota bukan tipe orang keji yang tega membunuh saudara2nya.

Wang So berkata sinis , jika memang dirinya mau membunuh Pangeran Mahkota , maka dia sendiri yang akan menduduki tahta . So berargumen seharusnya Ibu Ratu tetap senang dengan fakta bahwa salah satu anaknya naik sebagai Raja , bukan melulu menumpukan harapan pada Yo semata.

Wang So : “ Ibu ingin anak ibu jadi raja khan ? jadi seharusnya tidak masalah jika aku yang naik tahta . Aku tidak akan membahayakan Yo dan Jung. “

Wang Yo memotong : “Kamu jangan berlagak hebat . Jika aku sendiri yang memimpin ritual hujan hasilnya akan tetap sama .”

So bersikukuh bahwa Kehendak Langit telah memilih dirinya. Ratu tetap membela Yo yang ditakdirkan untuk menjadi raja .

Wang So tertawa menganggap perkataan ibunya sebagai dagelan belaka : “Tetapi aku tetap menyimpan gagasan ini dalam pikiranku . Bagaimana jika aku naik tahta sebagai raja ?”

Giliran Ratu yang tertawa menganggap ucapan So sebagai dagelan . Ratu berargumen bahwa Raja telah memperalat So untuk menggantikan posisi Pangeran Mahkota , toh tidak mengapa jika So dilempari batu sampai mati. Ratu menambahkan bahwa Raja menganggap So sebagai perisai bagi setiap anak panah atau kesialan yang mungkin datang .

Wang So bangkit dari meja makan , dan menyindir kalau masakan ini enak , seharusnya untuk keluarga internal . So mengingatkan Ibunya untuk tidak mengundang lagi ke acara ini .

Yo mengeluh sangat sulit berdamai dengan So , dan menyarankan Ibunya untuk lekas melepas tali keluarga dengan So . Jung kembali memprotes keras : “Kalian itu kelewatan , mengajukan ide gagasan membunuh orang pada saat makan . Dan Ibu , kenapa harus melahirkan anak2 jika dipaksa harus bermusuhan ? “

***

Diluar , Wang So mengeluhkan diri sendiri yang terlalu mengharapkan perlakuan baik dari keluarganya.

Wang So memandang bangunan dinas yang ditempati Haesoo .

Sementara itu didalam Haesoo masih tenggelam dalam ketakutan akan visi masa depan yang mengerikan . Berulang kali Haesoo menepuk dada sendiri untuk menenangkan diri .


Ditempat lain , Wang Wook terus berpikir keras tentang peringatan Haesoo agar mewaspadai Wang So .

***

Haesoo berjalan mencari udara segar diluar . Tiba2 Wang So muncul dari belakang dan mendekapnya dari belakang .  Haesoo meronta , namun So bersikeras meminta waktu Haesoo sejenak .


Haesoo yang ketakutan mencoba mendorong So untuk menjauh , dan berkata : “ Aku takut pada anda , Yang Mulia.”

So kecewa : “Aku pikir kamu telah mengatakan tidak takut melihat diriku ?”
Haesoo : “ Aku pikir aku dapat merubah banyak hal . Ternyata aku salah . Kau telah mengacaukan segalanya pada akhirnya . Pergi !! Kamu lebih baik menjauh !!

Wang So sedih bercampur marah , berjalan mendekat : “ Jangan bilang aku untuk pergi . Jangan bilang aku membawa kesialan . Jangan bilang aku seekor binatang liar. Paling tidak kau tidak bisa melakukan hal itu padaku , karena kamu itu adalah orangku . Kamu itu adalah milikku . Tanpa ijinku kamu tidak bisa pergi , dan juga tidak bisa mati . Kamu sepenuhnya milikku.”


Wang So mulai mencium paksa Haesoo , yang tidak berdaya selain menitikkan air mata.

0 comments:

Post a Comment