Tuesday, September 13, 2016

Sinopsis: Moon Lovers - Scarlet Heart Ryeo: Episode 07 - Part 1

Standard

Haesoo (dengan seragam barunya)  memulai kehidupan barunya sebagai seorang wanita istana . Lady Oh adalah seorang court lady tertinggi di Istana Goryeo yang mulai bertanya tentang pengetahuan apa saja yang Haesoo miliki .



EPISODE 7 RECAP
Sinopsis: Moon Lovers - Scarlet Heart Ryeo: Episode 07 - Part 1 Haesoo dengan riang dan percaya diri mengatakan kalau dia menguasai berbagai bahan herbal dan juga kosmetik , dan tersenyum yakin akan cocok berada Istana Damiwon . Kepercayaan diri Haesoo luntur seketika ketika ditanya apa bisa menulis dan membaca (dalam aksara Tiongkok) .
***
Haesoo meninggalkan ruangan Lady Oh , dan menyadari Wang So masih berada di Damiwon menunggunya.  Kepada So , Haesoo yakin akan betah dan baik-baik saja disini . Haesoo meminta So untuk sering berkunjung.  Haesoo mengaku lega tidak jadi menikah dengan Raja .
Belum selesai Haesoo bicara , Wang So menyambar tangan Haesoo yang masih diperban dan mulai menegur tindakan nekad Haesoo tempo hari bisa berujung pada kematian , jika sedikit saja lebih dalam lukany . Mata Haesoo berkaca-kaca , berkata lirih kalau toh dia masih hidup .
Wang So : “ Kamu pernah berpikir bagaimana rasanya hidup dengan sebuah luka di tubuhmu . Apa kamu bahagia menjadi court-lady ? Kamu mungkin tidak bisa meninggalkan tempat ini selamanya. Kenapa kamu bertindak sampai sejauh ini ?  Kenapa kamu tidak menikahi raja saja sekalian ?
Haesoo membela diri dengan sedihnya , bahwa dia tidak tahu , dan mengakui kalau dia hanya tidak bisa membiarkan hal kemaren malam itu terjadi . Haesoo yakin hanya diri sendiri yang bisa menyelamatkan .
Mata Haesoo semakin berlinang , dan Wang So memaki Haesoo sebagai gadis bodoh , mengancam Haesoo agar tidak mengulangi lagi kenekadannya , atau tidak akan memaafkan .
Wang So mengajak Haesoo tour keliling istana hingga ke kawasan Dongji dimana sinar mentari pagi akan menyapa kawasan ini pertama kali . Tempat yang sedemikian indah dimana pepohonan rimbun , dan pantulan permukaan air danau , menjadi kombinasi yang sangat indah .
Wangso menjelaskan bahwa kehidupan di Istana begitu pekat dengan kesepian , dimana setiap orang bisa mati jika terlalu mempercayai orang lain . Hidup dalam kekhawatiran yang constant , termasuk terhadap orang terdekat sekalipun .
Haesoo menatap danau indah , dan memandang dalam perspektif lain , bahwa dia tidak sendiran , menunjuk Wang So yang kini berada disampingnya. Haesoo yakin dapat bertahan .
Wang Soo berharap seorang wanita berisik seperti Haesoo dapat memeriahkan suasana Istana yang membosankan. Haesoo tersenyum dan mulai merasa optimis .
***

Seorang jenderal besar tiba di Istana . Dia adalah Jendral Park Sookyung (Sung Dongil) dan putrinya yang tomboy , Park Soondeok . Jendral Park menggerutu atas sikap putrinya yang menolak untuk memberikan kulit tebal beruang . Soondeok berkilah kulit beruang itu untuk hadiah bagi seseorang .
Terlihat Jendral Park memiliki kharakter yang riang dan bersikap sedikit urakan , dan jorok .
Jendral Park langsung menemui Raja Taejooo yang menyambut dengan rasa hormat . Jendral Park meminta maaf karena belum sempat membersihkan diri dengan layak. Raja Taejoo merasa tidak enak hati karena sudah merepotkan Jendral Park yang mendidik Wang So secara rahasia . (Ternyata Jendral Park guru rahasia Wang So selama ini .)
Jendral Park mengakui nyaman mendidik Wang So yang sedemikian berbakat , bahkan jika saja wajah So tidak cacat , maka besar potensi Wang So menjadi Putera Mahkota. Sebaliknya sang Jendral berpendapat Putera Mahkota saat ini , Wang Mo , terlalu lembut , dan diragukan jika terlibat dalam pertarungan , begitu juga dengan pertarungan politik di Istana yang keras.

Raja Taejoo terlihat sedikit kurang suka mendengar komentar ini dan berlalu . Astronom Choi membisiki Jendral Park harus belajar beberapa hal di Istana . Dan mereka mulai berdebat kusir .

***

Para pangeran sedang terlibat dalam permainan sport kuno Goryeo . Mereka terbagi dalam dua team .
Team 1 : Pangeran Mahkota Wang Moo , Wang So , Wang Baek Ah , Wang Eun.


Team 2 : Wang Yo , Wang Won , Wang Wook Wang Jung  
Pangeran senior seperti Wang Moo , dan Wang Yo menjadi pemimpin dari team , dan pangeran2 cilik seperti Jung dan Eun ditopang keatas. Seperti biasa Jung dan Eun saling melempar perang urat saraf .
Lantas masing2 team mulai bergerak untuk membentur satu sama lain . Terlihat permainan adu otot ini mendekatkan hubungan antar pangeran satu sama lain . Semua terlihat tersenyum dan tertawa dalam permainan ini .
***

Para pangeran pun tak lupa belajar ilmu alam dalam bimbingan Astronom Choi . Entah apa yang dipelajari , seperti mainan perahu kertas diatas air dalam wadah baskom . Yang pasti terlihat Wang So semakin tekun dalam belajar.
***

Wang So dan Jendral Park berbincang sambil berjalan melalui koridor . Jendral Park mendengar bahwa Wang So selama ini semakin tekun membaca buku . Wang So berkilah jika ilmu bela diri yang didapat dari Jendral Park sudah memadai , sehingga sekarang lebih focus mengisi otaknya .
Jendral Park mengalihkan topik kiprah Wang So dalam membantai para biarawan pembunuh dan membakar biara terpencil tersebut. Wang So membela diri bahwa mereka semua pantas mati .  Jendral Park menyindir bahwa Wang So sudah semakin cerdas dalam menentukan mana yang pantas mati , mana yang tidak .
Jendral Park mengingatkan (dalam filosofi-religi Asia Timur) dimana orang berulang kali hidup dan terlahir kembali (reinkarnasi) , dan ada karma yang harus ditanggung dari setiap perbuatan .  
Wang So balas menyindir bahwa Jendral Park yang selama ini telah mengajari ilmu untuk membunuh . Jendral Park berkilah bahwa dia mengajari membunuh jika dalam melindungi seseorang. Wang So berdalih bahwa dia membunuh untuk kepentingan keluarga Istana.  
Jendral Park bertanya apa sesungguhnya alasan Wang So mencoba bertahan di Istana , padahal ada peluang untuk mengendalikan Keluarga Kang jika kembali ke Shinju. Jendral Park mengingatkan bahwa hanya ada satu pangeran yang akan bertahan di Istana , yakni yang akan duduk di tahta. Park menambahkan Wang Soo harus berpikir baik-baik apa alasan masih bertahan di Istana.
***
Lady Oh didampingi Haesoo memeriksa kondisi Ratu Sinjeong . Sang Ratu merasa sedang menderita sakit kepala yang akut , dan tidak berharap banyak atas kesehatannya. Lady Oh berpendapat bahwa chrysanthemum tea adalah yang terbaik dalam kasus ini .
Ratu bertanya dengan ramah  kabar Haesoo , yang berasal dari keluarga bangsawan yang tentunya mengalami kesulitan beradaptasi di Istana . Haesoo tersenyum mengatakan dia baik2 saja , dan menawarkan untuk membuat kembali sabun mandi , dan kalau perlu merias wajah Ratu .
Namun Lady Oh menginterupsi , menganggap Haesoo belum siap , dan meminta Haesoo meninggalkan ruangan. Haesoo meninggalkan ruangan dengan wajah kecewa.

Ratu Sinjeong merasa Haesoo dapat beradaptasi dengan baik , sambil bertanya apa Lady Hae masih mendapat perlakuan buruk dari Ratu Yoo. Lady Oh menenangkan Ratu Sinjeong , bahwa dia baik2 saja . Ratu Sinjeong mengingatkan bahwa mereka berdua punya kesamaan , bahwa  Lady Oh juga punya penyakit serius di perut , dan perlu ke dokter.
***
Haesoo memasang raut wajah kecewa ketika mendengarkan suara teriakan seorang pria, yang ternyata Pangeran Mahkota Wang Moo .
Dengan dada telanjang dan penuh dengan noda luka berwarna merah  , Wang Moo berteriak histeris merasa kesakitan , seakan sedang di gerogoti serangga di sekujur tubuh. Haesoo tahu bahwa Wang Moo mengidap gejala eczema , dan bergegar untuk intervensi , mencegah penggunaan air dingin yang dinilai akan memperburuk masalah .
Wang Moo kalap dalam kesakitannya , dan mencengkram leher Haesoo . Namun Haesoo tidak gentar , bisa menerka gejala2 dengan mudah , membuat Wang Moo mulai percaya.  Haesoo menyarankan sebaliknya , penggunaan air hangat.  Haesoo bergegas menyambar salah satu bahan herbal peppermint , mengaduknya dalam air hangat dan mulai merawat Pangeran .
Lady Oh yang tiba diruangan merasakan gelagat buruk , dalam kegusarannya meminta semua court lady meninggalkan ruangan . Lady Oh bahkan mendorong Haesoo hingga tersungkur ke lantai , sekalipun Haesoo membela diri pernah merasakan kasus yang sama yang menimpa ibunya.
Pangeran Mahkota diam-diam mengkhawatirkan Haesoo.
***
Dan untuk kesekian kalinya Haesoo memasang wajah kecewa meninggalkan ruangan . Haesoo tidak menyadari rombongan Ratu Yoo datang mendekat .
Ratu Yo memeriksa keadaan , dan tanpa sengaja mendengar permohonan Pangeran Mahkota pada Lady Oh agar jangan bersikap kasar pada Haesoo , secara Wang Mo merasa terapi dari Haesoo membuat dirinya baikan .
Entah apa yang berada dipikiran Ratu Yoo , yang berubah pikiran , dan langsung meninggalkan Damiwon .
***
Lady Oh menghukum Haesoo yang dipaksa berjongkok dengan menahan buku2 dengan kedua tangannya . Tentu saja koleksi Lady Oh bukan sembarang buku , melainkan kitab2 klasik impor dari Tiongkok tentang pengobatan tradisional .  Kitab2 itu sebagian besar berasal dari era Dinasti Tang – Tiongkok .
Lady Oh melunak , menasehati Haesoo agar tidak menyentuh seorang pangeran dengan sembarangan , bahkan jika Haesoo berkata sembarangan tentang penyakit yang diderita Pangeran Mahkota , bisa dihukum mati saat ini juga tanpa bisa melihat mentari esok hari .  
Haesoo patuh , dan Lady Oh memerintahkan Haesoo merawat taman di Istana Damiwon .
***


Haesoo yang bertubuh kecil terlihat kepayahan dalam mengangkat guci air yang berukuran cukup besar.  Haesoo mulai menyirami tumbuhan dan sekitar , hanya untuk membuat Wang So yang tertidur jadi bangun dibuatnya . Hahaha.
Haesoo tiba2 mengeluh bahwa dia (yang berbakat) ini tidak pantas mengerjakan hal2 sepele seperti ini . Tak pelak lagi Wang So yang diam2 mengawasi jadi geli dibuatnya.
Selagi Haesoo celetuk atas ide melarikan diri . Wang So muncul , dan berkata sinis , di Negara Goryeo mana ada tempat bagi Haesoo untuk menyembunyikan dari Raja . Sekalipun Haesoo berusaha menyangkal , Wang So kembali menyindir kalau Haesoo yang hanya seorang court lady tapi mencoba berlagak seperti mentri kerajaan.  
Berbeda dengan sikap optimis sebelumnya , Haesoo merasa pesimis Damiwon tidak lagi cocok bagi dirinya (dan bakatnya) .  Wang So meledek apa pernah Haesoo menunjukkan bakatnya ?
Haesoo tetap merasa dirinya benar , dan merasa perlu memiliki atasan yang cocok untuk mendapat pengakuan dalam pekerjaan .
Wang So merasa Haesoo belum memahami penyakit yang diderita Pangeran Mahkota sepenuhnya. Wang So menasehati Haesoo agar berhati2 untuk berucap jika berada di Istana .  Haesoo malah berpikir mungkin Lady Hae membuat Pangeran Mahkota menjauh agar tidak menyukai Haesoo .
Wang So mengingatkan bisa saja penyakit Wang Mo semakin parah , dan Haesoo dihukum mati . Wang So menyimpulkan Haesoo tidak begitu berbakat. Wang So memberikan tip agar Haesoo memberikan nama agar sesuatu bertumbuh seperti pohon2 disekitar, dan mencoba bersahabat dengan lingkungan .
Haesoo mengeluh kalau diri sendiri bingung akan namanya sendiri .  Wang So mulai mendemonstrasikan dengan memberi nama satu persatu pohon disekitar. Namun Haesoo merasa Wang Soo sedang meledeknya.
Wang So bercerita pengalamannya di Shinju , ketika menamai sebuah pohon dengan nama Pat-Pat , dimana tiga orang bisa bergantung di pohon tersebut . Wajah So menjadi sedih ketika bercerita dimana dia terpaksa harus membakar pohon tersebut dimana masa para serigala berkumpul , dan Wang So harus bertahan hidup .
Mendadak Wang So jadi kembali tersenyum , dan menepok jidat Haesoo , mengingatkan untuk tidak melarikan dari dari buah keputusan yang Haesoo sendiri .
Wang So berlalu sambil tersenyum .
Haesoo menahan sakit dijidat , sambil mengomel sinis , bahwa Wang So semakin baik padanya.
***

Pangeran Mahkota minum tea bersama saudara2 pangerannya . Haesoo yang turut bertugas mempersiapkan tea menjadi kikuk dan hampir jatuh didekat Yo .  Dan terlihat So dan Wook yang paling mengkhawatirkan Haesoo .
Ketika Haesoo bersama2 koleganya berjalan berbaris melalui koridor mengikuti Lady Oh , Wook diam2 menyergap dan memeluknya untuk memberikan semangat.
***
Eun dengan jari terluka terlihat tidak sabar menantikan Haesoo yang sedang menyiapkan bahan herbal . Haesoo pun terlihat sedikit jengkel melihat tingkah Eun . Namun Haesoo memberitahu jika bahan herbal itu tetap bertahan hingga salju pertama tiba , maka Eun akan menemukan cinta pertamanya.
Eun mulai bersemangat , hingga Jung muncul , dan memamerkan ilmu pedang yang baru didapatnya . Alhasil Jung malah membuat salah satu guci pecah hingga berkeping2.
***

Wook melihat Haesoo tekun dalam mempelajari aksara Tiongkok . Wook membantu Haesoo mengartikan frasa yang baru saja ditulisnya .
Haesoo mengaku sedang mengerjakaan pe-er hingga kepala pusing . Wook terheran bagaimana Haesoo bisa membaca puisi hadiahnya ? . Haesoo mengakui mendiang Lady  Hae yang membantunya. Wajah Wook jadi sedih dan semakin ingin membalas budi kebaikan mendiang istrinya.
Wook berujar bahwa tadinya merasa Haesoo semakin sulit ditemui sehingga berjanji akan rajin menuliskan surat untuk Haesoo , namun apa daya ternyata Haesoo tidak bisa membaca. Haesoo berjanji akan belajar dengan tekun . Wook tersenyum dan membantu Haesoo menuliskan aksara , yang bermakna tentang sebuah tanaman herbal di kawasan Amur yang berkhasiat tinggi namun juga bisa beracun .
Haesoo lebih sibuk mengamati wajah Wook yang sedemikian dekat . Wook kemudian menuliskan sebuah aksara , namanya sendiri , “Wook” , yang berarti matahari terbit.
Haesoo tersenyum . Dan Wook memandang prihatin bekas luka di tangan Haesoo . Wook kemudian meraih tangan Haesoo , dan memasangkan perhiasan berwarna merah untuk menangkal kesialan , yang sekaligus bermakna tentang hubungan yang membahagiakan .
Wook meminta Haesoo untuk berjanji agar tidak melepaskan hadiah perhiasan ini . Haesoo tersenyum mengatakan dia baik2 saja . Wook mencium dahi Haesoo .
***
Malam hari , studi Haesoo berfokus hanya pada karakter “Wook” . Perasaan Haesoo sedang berbunga-bunga.
Dia memandang keluar jendela , seraya berpikir , tak apa2 menjadi Haesoo , bukan Go Hajin , asalkan bersama dengan Wook .

0 comments:

Post a Comment