Saturday, September 3, 2016

Sinopsis: Moon Lovers - Scarlet Heart Ryeo: Episode 03 - Part 2

Standard

Haesoo menduga Eun akan senang menyaksikan langsung hukuman yang bakal menimpanya.  Haesoo mulai cemas jangan2 akan mengalami hukuman berat seperti dipotong tangan dll.  Chaeryung menenangkan jika memang hukumannya seburuk itu tentu Pangeran 8 Wook mengetahui lebih awal. Haesoo menjadi tenang kembali.


 Benar saja Eun datang menunggang kuda didampingi beberapa orang. Eun segera turun dari kuda , dan menyapa Haesoo apa sedang menantikannya ?
Eun bergegas menghampiri dan menjelaskan bahwa Raja sangat marah melihat luka di wajahnya , dan mendesak Eun untuk menghukum Haesoo . 
Haesoo memprotes bahwa tetap saja Eun yang salah , dan menuding Eun menyembunyikan sebagian fakta pada raja.  Eun memamerkan jasanya telah meminta ampunan raja demi Haesoo .

(Kilas balik : Eun berlutut dihadapan saudara2 dan ayahnya dengan satu kalimat yang sangat brilian : "Jika seorang wanita harus dihukum karena memukul seorang pria , lantas jenis hukuman apa yang pantas bagi seorang pria yang mendapat pukulan dari seorang gadis ?") 

Eun sesumbar bahwa ucapan pembelaan demi Haesoo di hadapan raja akan tercatat dalam sejarah sebagai pepatah kebijaksanaan.
Haesoo mengucapkan terimakasih dengan sikap yang masih ketus , hendak berlalu . Eun mencegat dan mengaku ada yang ingin disampaikan . Eun menghalau Chaeryung dan pengawal2 lain demi privasi .
Pada giliran tinggal berdua , giliran Eun yang gugup , terlihat jelas dari gesture Eun yang salah tingkah , sehingga Haesoo dapat menerka kalau Eun menyukai dirinya.
Bahkan Haesoo bisa menerka apa yang hendak disampaikan Eun sebenarnya : " Kamu adalah wanita pertama yang memperlakukan aku seperti itu ."
Eun menambahkan untuk pertama kalinya pula bisa merasa berkelahi sungguhan , secara semua orang selama ini berlaku sungkan terhadap para pangeran. Eun mengaku perkelahian mereka tempo hari itu menyenangkan.
Haesoo mempersilahkan Eun datang kapan saja jika ingin berkelahi lagi . Eun "geer" merasa itu undangan untuk mengunjungi Haesoo kapan saja.  Haesoo berkilah bahwa paling tidak hanya itu yang bisa dilakukan bagi Eun yang telah membebaskan Haesoo dari hukuman.

Eun semakin girang dan berseru bahwa hari ini adalah hari pertama mereka. (hari jadian?)
***

Ditengah keramaian aktivitas warga kota , Pangeran Baek Ah melukis setiap aktivitas masyarakat , sampai tibanya kegaduhan warga karena akan ada perkelahian. Baek Ah tidak melewatkan kesempatan berburu objek yang menarik untuk dilukis seperti perkelahian .
Baek Ah berdiri diantara kerumunan sambil menggambar adegan perkelahian . Terlihat petarung yang lebih muda lebih gesit membulan-bulani lawannnya . Satu tendangan si pemuda akhirnya menghabisi lawannya sampai tersungkur disambut sorak sorai penonton.
Ternyata petarung muda adalah Pangeran Jung yang sedang menyamar sebagai rakyat jelata. Jung sangat gembira dengan kemenangannya dan mempersilahkan penantang berikutnya jika ada yang berani menghadapinya. Sampai tibalah , Jeung dan Baek Ah melongo menyadari satu sama lain.



***
Masih di jalanan kota , Jung merengek Baek Ah untuk menyerahkan gambar (barang bukti Jung sedang menyamar) . Jung bahkan memohon agar gambar lukisan dirinya yang sedang bertarung dijual kepadanya. Dan Baek Ah terus menggodanya.

Jung menuding bahwa Baek Ah pun menyamar sebagai rakyat jelata yang sedang bersenang2 di kota. Jung menjewer adik tirinya dan menegaskan kalau dirinya sedang berdinas atas perintah raja untuk melukis keseharian masyarakat kota .

Tanpa sengaja Baek Ah menendang selangkangan Jung . Dan Jung memanfaatkan kesempatan untuk pura-pura kesakitan dan akhirnya merebut buku gambar Baek Ah , dan kabur .
***
Baek Ah mengunjungi Lady Hae . Baek Ah memperlihatkan kemampuan musik harpa tradisional , dan Lady Hae menjadi terkenang dengan kebersamaan mereka di masa lampau . Baek Ah berkata masa lampau mereka berdua itu seperti mimpi , dan menyesali kenapa abangnya , Pangeran 8 Wook , tidak memberikan hatinya lebih banyak kepada Lady Hae.

Lady Hae memprotes Baek Ah agar tidak memanggilnya "noona/kakak perempuan" lagi , dan khawatir kedengaran Wook nantinya. Baek Ah menukas bahwa dia mengenal Lady Hae sebelum menikah dengan Wook. Lady Hae berkata Wook sudah bersikap baik dengan pura-pura tidak tahu selama ini .

Baek Ah menyadari ada Haesoo diseberang halaman . Dari kejauhan terlihat Haesoo sedang berdiri sambil berlatih , menirukan , menjawab , seolah2 menghadapi putri Yeonhwa.


Pemikiran Choi  berlanjut bahwa memang ada kelompok biara yang memberlakukan hukuman pada biarawan yang melakukan kejahatan . Dan sang dalang memanfaatkan kelompok biarawan semacam itu sebagai pembunuh .
(So membayangkan Yo dalam adegan pembantaian para biarawan pembunuh )
So bertanya siapa yang paling mungkin menjadi dalangnya. Pangeran Mahkota menjawab harus seseorang yang punya kekuasaan , seseorang yang bisa bertemu tanpa menarik banyak perhatian . Pangeran Mahkota memerintahkan Choi untuk memeriksa siapa yang paling sering meninggalkan ibukota dalam bulan-bulan terakhir.
***

So melabrak abang kandungnya , Pangeran Yo , mendorongnya ke sudut ruangan dan langsung menudingnya sebagai dalang dengan mengerahkan biarawan terhukum untuk menjadi pembunuh. Yo gusar menantang untuk menunjukkan barang bukti . Namun muka Yo mulai gugup ketika So mulai menerka ibu kandung mereka yang telah menjadi dalangnya.
Yo membantah dan menganggap So telah kurang ajar . Namun So dapat menyimpulkan dari sikap Yo
***
So diam2 mengamati Ibunya yang sedang bersama si bungsu , Pangeran 14 Jung.
***
Haesoo mengamati kesibukan di rumah kediaman Pangeran 8 Wook. Rupanya Lady Hae tengah mengemasi barang bekas yang masih dalam kondisi bagus untuk disumbangkan dalam bakti sosial. Lady Hae juga menjelaskan kalau Wook sedang mempersiapkan makanan untuk dibagikan di bakti sosial nanti.
Haesoo bertanya kenapa Lady Hae tidak ikut pergi . Lady Hae menjelaskan kalau selama ini Pangeran Wook biasanya pergi sendiri. Haesoo tersenyum , menyarankan Lady Hae untuk pergi mendampingi suami.
Lady Hae terlihat ragu . Namun Haesoo menawari mendandani Lady Hae.
***
Bakat Haesoo yang pertama kali terungkap adalah kemampuannya dalam merias wajah . Walaupun pengetahuannya minim tentang peralatan kosmetik di era Goryeo , dia berhasil mendandani wajah Lady Hae dengan baik.

Sambil beraksi , Haesoo mengungkap mimpinya selama ini untuk menjual keahlian kosmetik. Haesoo mengungkap pengalamannya merias begitu banyak orang (tentunya pengalaman abad 21) , dan menurut Haesoo tidak membosankan sama sekali.

Menurut Haesoo , pekerjaan seperti ini membuatnya terasa penting, dan bagaimana orang tampil spesial kemudian berterimakasih kepadanya. Memang suatu pemikiran delusif tentang kemampuan yang bisa membuat orang lain bahagia.  Ironisnya kemampuan Haesoo ini membuat seorang gadis menjadi lebih cantik dan berselingkuh dengan kekasihnya, bahkan merampas harta benda Haesoo termasuk rumah.
Lady Hae tentu saja merasa cerita Haesoo itu bagian dari mimpi buruk yang. harus dilupakan Haesoo tersenyum membenarkan bahwa semua ceritanya adalah mimpi buruk.
Haesoo sudah selesai merias , dan menyodorkan cermin . Lady Hae terpukau menatap cermin dengan perubahan drastis diwajahnya.
***

Keluarga Pangeran 8 Wook mulai menggelar bakti sosial . Antrian masyarakat terbagi menjadi dua antrian , dimana yang satu dilayani oleh Pangeran 8 Wook didampingi Chaeryung , dan Lady Hae didampingi oleh Haesoo.
Pangeran Wook diam2 tersenyum memperhatikan istrinya yang ceria dan lebih segar. \
Dalam satu insiden seorang anak kecil mencuri jatah makanan temannya , dan Haesoo mengejar anak itu sampai dapat , untuk kemudian menegurnya agar jangan mengulangi perbuatan. Pangeran Wook tersenyum melihat Haesoo .
***

Wook menyusul Haesoo diruang obat , dan terkejut melihat ketertarikan Haesoo dibidang bahan2 pengobatan. Haesoo menjelaskan sedang riset membuat sabun kecantikan dengan bahan-bahan yang tersedia dihadapan mereka sekarang.
Pada saat itu Wook menerima obat dari seorang petugas , satu untuk Lady Hae , dan satu lagi untuk menyembuhkan bekas luka di leher Haesoo.
Haesoo mengucapkan terimakasih , dan mulai membuka perban dileher untuk mengoleskan obat. Terlihat Haesoo pandai merias orang lain namun tidak terampil dalam merawat diri , terlihat Haesoo tidak terampil pula dalam mengolesi obat dilehernya sendiri .

Wook memperhatikan semua itu , tersenyum , kemudian menghampiri Haesoo , menyibakkan rambut Haesoo , untuk membantu mengolesi obat dileher. Haesoo terlihat gugup , salah tingkah , berduaan dengan seorang pria dalam jarak sedekat itu.
***
Sekembali kerumah , Lady Hae terlihat lelah hingga harus di gendong suami ke ranjang dibantu oleh Haesoo. Tanpa sengaja jemari Haesoo dan Wook bersentuhan di bedcover Lady Hae yang tertidur. Haesoo salah tingkah dan segera berlalu.
Wook merapihkan selimut istrinya , duduk didepan ranjang sambil menatap kearah pintu dimana Haesoo baru saja keluar ruangan.
***
Dihalaman Haesoo berdoa untuk ibunya (diabad 21) yang tentunya kehilangan putri tercinta . Haesoo berdoa : " Ibu pasti menangis sekarang. Tenang saja aku baik-baik saja. Namun hatiku terguncang . Aku mengatakan pada diri sendiri untuk tidak seharusnya , namun tetap saja membuatku terguncang."
Haesoo lalu berjalan melintasi halaman , melihat So sedang duduk seorang diri.

***

Keesokan harinya , So melajukan kudanya dengan cepat . Rupanya So bertindak lebih cepat mendahului Pangeran Mahkota dkk yang baru saja meninggalkan istana.
 ***

So tiba di sebuah biara misterius di lerang bukit berbatu. So memejamkan mata untuk sesaat untuk menajamkan panca indera seakan sedang bersiap diri untuk bertarung.
Benar saja , sesosok pria berpakaian serba hitam dengan wajah tertutup melancarkan serangan dadakan kearah So. Disusul sekelompok pembunuh lainnya yang melemparkan pisau hingga tombak terbang kearah So.
So menangkis setiap serangan. Pertarungan jarak dekat terjadi , dua pembunuh roboh ditangan So . Muncul belasan pembunuh lainnya mengepung posisi So .
So menuntut pemimpinnya untuk memperlihatkan diri . Tak digubris , So mempertanyakan apa mereka tidak bisa mengucapkan sepatah katapun?.
So bergerak cepat membunuh salah satu , dan kembali pertarungan hebat terjadi . So berjuang mengatasi keroyokan kawanan bersenjata.

(Sementara itu Pangeran Mahkota dkk semakin mendekati TKP).

Satu persatu hampir sekitar 20an pembunuh roboh terkena sambaran pedang So . Terlihat So sangat mahir bertarung dengan gaya serangan yang singkat namun mematikan hingga akhirnya pembunuh terakhir pun roboh.



So berjalan sesaat ditengah mayat yang bergelimpangan . Tiba2 pintu ruangan utama didobrak oleh seorang biksu yang langsung memberi hormat pada So.
So bertanya apa biksu itu yang menjadi penanggung jawab di biara ini ? . Biksu itu menjelaskan bahwa mayat2 itu adalah orang2 yang dibebani oleh dosa mereka dan telah dihukum potong lidah. Biksu itu mengaku bertugas untuk mengawasi mereka.
So dengan tatapan menyeramkan melangkah mendekat : " Jadi , kamu sedang mengatakan bahwa apa yang harus aku lakukan adalah menyingkirkanmu ?"
Sang biksu terheran dan bertanya untuk apa So melakukan semua ini , dan apakah ibunda So mengetahui hal ini ? . So dengan ketus menjawab bahwa ini adalah tempat dimana orang2 seharusnya tidak berbicara, sedangkan biksu itu dipandang So terlalu banyak berbicara.
So mulai mengacungkan pedangnya yang berlumuran darah . Pertarungan singkat terjadi dan biksu itu bukan tandingan So .

Biksu itu tewas mengenaskan karena tubuhnya terkoyak2 oleh sabetan pedang. So mengucapkan dengan sinis : matilah kau demi sang ratu .
***
Pangeran Mahkota dkk didampingi Choi tiba di TKP , namun biara itu sudah terbakar oleh api tanpa meninggalkan jejak apapun.

**
Malam itu , Ratu Sinmyeongsunseong terjaga dari tidurnya , menyadari ada sesosok figur mendekat dalam aura yang menyeramkan . Ternyata So yang muncul , membawa pedang terhunus yang masih berlumuran darah .

Sang Ratu tampak panik seiring langkah So mendekat , dan So memperlihatkan senyum dan wajah yang bengis berlumuran darah .


2 comments:

  1. serem banget si wang so , gimana cara bisa dekat sama haesoo nantinya

    ReplyDelete
  2. So seperti api.. su seperti air... saling menetralkan

    ReplyDelete