Monday, September 26, 2016

Sinopsis : The K2 - Episode 02 - Part 2

Standard
Jeha sendiri mengalami mimpi buruk ketika masih menjalani profesi sebagai tentara bayaran. Unitnya terpaksa melalui lahan pertambangan dan mendapat kabar bahwa mereka akan memasuki daerah sipil.


Rekap Sinopsis : The K2 - Episode 02 - Part 2

 Terjadi kontroversi apakah unit team ini akan melanggar daerah sipil dan membahayakan warga sipil ataukah harus menerima tawaran seorang sipil yang terluka , dan sudah tidak sanggup lagi berjalan , dan menawari bayaran tiga kali lipat . Jeha pada akhirnya memilih terus lanjut dan terjadilah pertempuran singkat namun mematikan , dan roboh karena sebuah peluru menembus dadanya.


Jeha terbangun dan terlihat gelisah dengan nafas terengah2 , dan tanpa sengaja mendengar isak tangis si nenek dari balik pintu. Jeha keluar dan sang kakek mengajaknya minum bir , seraya menjelaskan kalau hari ini adalah peringatan hari kematian ke 49 dari putera mereka. Si kakek menjelaskan bahwa saat bertemu Jeha tadi siang , mereka baru saja pulang dari kuil.

Si kakek mengajak Jeha keluar melihat perkebunan , dan bercerita bahwa buah dari pepohonan itu ibarat anaknya yang telah meninggal yang sudah bertumbuh terlalu besar . Setelah berkeluh kesah , si kakek sambi menangis  meminta bantuan Jeha untuk menyingkirkan pohon2 ini.

Namun keesokan harinya Jeha bukannya menebang pohon , tetapi malah membersihkan semak2 yang ada disekitar pohon. Si kakek menjadi terharu karena merasa Jeha bisa memahami perasaannya. Si kakek menangis dan akhirnya turun tangan membantu Jeha . Tak pelak lagi Jeha ikut tersenyum bersama begitu si Nenek pun muncul dan ikut terharu.


Perilaku sepasang kakek-nenek ini semakin ramah pada Jeha , dan saat makan bersama mereka mempersilahkan Jeha tinggal sampai kapanpun disini.  Si nenek memberikan kemeja sederhana agar Jeha terlihat pantas saat berkerja .

Saat melanjutkan pekerjaan , Jeha pergi untuk membeli mata pemotong yang baru . Jeha terperanjat saat pulang dan melihat sebuah mobil diparkir disana. Naluri Jeha mengatakan ada yang tidak beres.

Didalam rumah , si kakek - nenek yang malang ini sudah diikat oleh seorang pria . Kakek-Nenek ini menolak memberitahu keberadaan Jeha , sehingga pria itu tega hendak membakar rumah ini dengan bensin.


Jeha muncul dan merampas korek api dari tangan pria itu .Terjadi duel sengit dimana Jeha mengandalkan mata pisau yang tadi baru dibelinya dan masih terbungkus koran melawan pria yang bersenjata pisau .

Dengan tangkas Jeha menghindari pisau yang hampir saja menyentuh lehernya . Dan Jeha melancarkan serangan balik dengan mata pisau yang menyayat perut lawannya.
Satu sama lain berhasil menjatuhkan senjata tajam lawannya , dan Jeha  berhasil melayangkan satu tendangan , mendesak lawannya keluar halaman rumah , dan pertarungan berlanjut dengan tangan kosong.
Dalam satu kesempatan Jeha menyambar lengan lawannya , kemudian menggerakkan kedua kakinya seakan terbang dan bersiap memiting lawan , berhasil melukai sebelah tangan , sebelum lawan meronta , bangkit untuk memberikan perlawanan terakhir.
Dengan sebelah tangan yang lumpuh , lawan dibuat tidak berkutik dengan gerakan mengunci dari Jeha . Selain patah tangan , pria malang itu tak sadarkan diri karena menjadi sasaran empuk tendangan emosional Jeha.

Berikutnya , lawannya sudah dalam kondisi terikat , dan Jeha menginterogasi lawannya untuk mencari tahu siapa yang telah mengutusnya. Pria itu menolak untuk menyebutkan nama , toh hasilnya sama saja dia akan mati.


Jeha mengambil palu untuk menyiksa lawannya ini . Pria itu berkata bahwa Jeha akan mati oleh agen2 lainnya. Jeha maklum jika pria ini memburunya , namun tidak bisa menerima perlakuan pria itu kepada sepasang kakek dan nenek .

Pria itu menegaskan tidak ada masalah pribadi , melainkan semua orang yang membantu Jeha akan mati sesuai perintah yang dia terima.

Jeha menyiapkan palu untuk bersiap menghantam pria ini , dan mengancam , baginya sama saja kalau pria ini menjawab sekarang atau 12 menit kemudian dengan jemari yang hancur. Pria ini bagaimanapun merasa ngeri dan akhirnya buka suara.

.
***
Selanjutnya Jeha sudah mengintai dirumah besar Yoojin berada. Terlihat rumah besar ini dikawal ketat oleh para bodyguard , dan seorang gadis (Anna) turun dari mobil dengan kursi rodanya , dikawal masuk kedalam rumah.

Jeha menggunakan motor curian untuk menyamar sebagai petugas ekspedisi bermotor yang sedang mengirimkan paket. Jeha menanti para pengawal ini lengah , dan dalam sekejab berhasil melumpuhkan mereka.

Sementara itu didalam rumah , Anna berusaha untuk memulihkan diri diatas kursi rodanya , menatap ibu tirinya , Yoojin , dengan penuh kebencian.


Yoojin berkata kalau Anna sudah tumbuh dewasa sekarang , menjadi cantik seperti almarhum ibu kandungnya. Anna mengumpat ibu tirinya sebagai iblis karena tega membodohi anak kecil berusia 9 tahun seperti dirinya .

 Yoojin terdiam sesaat , kemudian membelai rambut Anna seraya mengatakan bahwa itu sebabnya Anna seharusnya menjadi biarawati . Yoojin mengeluh sudah menyiapkan sendiri masakan untuk Anna, namun sikon sepertinya tidak memungkinkan untuk makan , dan memerintahkan perawat membawa Anna kembali kekamar.

Kini Anna berdiam seorang diri dengan wajah sedih , mengambil wine untuk menikmatinya sendiri , dan terperanjat melihat Jeha sudah muncul dibelakangnya hingga gelas winenya jatuh pecah ke lantai .
Ekspresi kesedihan Yoojin lekas memudar , menjadi wanita yang berkharisma , dan dengan santai mengaku tidak menyangka pria yang sedang diburu ini begitu tampan , sekaligus berani karena memasuki rumah yang dikawal ketat seperti ini.


Jeha memperingatkan: "Biarkan aku dan orang2 disekitarku ". Yoojin tersenyum dan bertanya bagaimana jika tidak ? . Jeha menambahkan : " Jika tidak , aku akan datang untuk mencarimu , dimanapun . Pertemuan pertama ini hanya sekedar peringatan , tetapi jika aku datang menemui kedua kalinya , kamu akan mati."


Yoojin bertanya : Apa sepasang orang tua itu benar2 tidak tahu apapun tentang dirimu ? Baiklah , untuk berbagai alasan , aku merasa dapat mempercayai perkataanmu. Baiklah aku mempercayaimu , tetapi aku tidak berpikir bisa membiarkan mereka tetap hidup.

Jeha menghampiri Yoojin , membuat para pengawal bereaksi siaga , dan salah satu pengawal menodongkan pistol ke kepala Jeha. Yoojin melanjutkan bahwa dia belum bisa mempertaruhkan nasibnya dengan mempercayai Jeha begitu saja. Jeha memperingatkan Yoojin akan segera menyesali hal ini.

Yoojin tersenyum dan berkata itu sebabnya Jeha tidak seharusnya memperingatkan dia karea mereka tidak akan bertemu lagi . Yoojin memerintahkan pengawal untuk membawa Jeha pergi , dan berpesan agar menghabisi Jeha tanpa membuatnya terlalu kesakitan.

***
Jeha digiring dalam posisi mulut disumpal dan tangan-kaki  terikat kesebuah mobil van . Mereka bersiap membawanya pergi entah kemana , namun terdengar bunyi sirine polisi yang hendak memeriksa laporan pencurian motor (yang digunakan Jeha) .
Dua pengawal tidak percaya dengan laporan polisi tersebut.  Polisi yang heboh itupun tidak percaya karena hanya seorang maling bodoh saja yang berani memasuki sarang macan. Namun motor yang mereka cari jelas2 terparkir di depan rumah Yoojin .


Sementara itu Jeha berjuang untuk melepaskan tangannya dari borgol , meraih sebotol oli dan menuangkan ditangannya untuk mengurangi rasa sakit ditangannya. Jeha langsung mengatasi dua pengawal dengan mudah .  Dan kegaduhan didalam garasi membuat polisi semakin curiga.

Pengawal depan garasi yang sedang berurusan dengan polisi memberikan aba2 melalui walki-talkie untuk mengerahkan seluruh orang untuk "menangkap tikus".






Beberapa pengawal memasuki garasi dan mereka menghindari menggunakan pistol karena ini adalah rumah majikan mereka. Jeha menyergap salah satu pengawal dari atas mobil van dengan satu tendangan menyamping. Beberapa pengawal lainnya roboh dengan tendangan Jeha yang mematikan lainnya.

Kegaduhan didalam garasi ini semakin membuat dua polisi diluar curiga , menyindir bahwa "seekor tikus" bisa menimbulkan kekacauan seisi rumah.
Jeha mengambil kunci dari salah satu pengawal untuk melepaskan borgol seluruhnya . Kemudian mengambil pistol , dan kembali memasuki ruangan .Sekretaris Kim menjadi orang pertama yang terperanjat . Dan pada akhirnya Jeha muncul dihadapan Yoojin yang sedang menuruni tangga. Kali ini Jeha yang menodongkan pistol ke kepala Yoojin seraya berkata bahwa inilah pertemuan kedua yang aku katakan sebelumnya.


Jeha mengaktifkan pistol itu dan kembali ditodongkan ke kepala Yoojin yang pasrah memejamkan mata. Namun teriakan seorang gadis benar-benar mengejutkan Jeha . Ternyata Anna berteriak dalam kalapnya : "Tembak dia !! "Tembak dia !!"Tembak dia !!"Tembak dia !!


Jeha mengenali Anna sebagai gadis yang pernah ditolongnya saat di Spanyol.

0 comments:

Post a Comment