Sunday, August 29, 2004

Sinopsis Mars (2004) - Episode 13

Standard

http://2.bp.blogspot.com/-4tQGP4FLoME/UmJoUvcLggI/AAAAAAAAPe0/3J2sdi3ZebA/s1600/Mars+13-01.jpg
Qiluo ternyata bersama dengan Hongdao . Mereka menuju atap bangunan . Diatas helipad , Qiluo heran kenapa Hongdao membawanya kesini.
Hongdao berkata : “Anggap saja kamu sedang sial , mana ibumu juga sedang sakit , jadi biarlah aku membantumu .”

Mendistorsi Ling

Hongdao mulai menghunus pisau dan kembali berkata : “ Sebentar lagi kau akan rileks dan melupakan masalah , tadinya aku tak mau begini , tetapi karena kau , maka Ling jadi sangat membosankan .Tentu saja sampai saat ini aku tidak tega . Kau bisa lompat sendiri. Kau tidak berani lompat ? Ibumu masuk rumah sakit , keuangan keluargamu sedang sulit , harapan kuliah menipis , dan ini cukup alasan bagimu untuk bunuh diri. Aku ingin tahu Ling jika kehilanganmu seperti apa , aku suka Ling versi gila . Aku masih berharap kau lompat sendiri , aku sudah pernah membunuh orang , dan berlumuran darah sama sekali tidak menarik bagiku . Lagipula Polisi Tian sedang mengawasiku dan aku tidak mau tertangkap karena kasus pembunuhan. Aku tidak mau lagi menjalani masa rehabilitasi dan menjalani terapi psikologi yang membosankan. Semua itu tidak berguna , karena hanya Ling yang sanggup memahamiku . Sedangkan kau berani mencoba menanamkan etika pada Ling , dan ini tidak termaafkan , asalkan kau menghilang , Ling bisa kembali seperti dulu lagi saat saudara kembarnya mati , dan itulah Ling yang asli. ”
Ling menyusul ke rumah sakit dengan panik dan tidak menemukan Qiluo disana.
Di atap bangunan , Qiluo bersikeras walaupun dia mati , Ling tidak akan berubah seperti kemauan Hongdao.
Hongdao mulai tidak sabar dan mengejar Qiluo di pinggir atap bangunan dengan pisau terhunus , kemudian mencoba cara lain dengan mencekiknya. Qiluo sempat melakukan perlawanan , bahkan menggigit Hongdao . Selendang Qiluo terlepas.
Sekian lama mencari akhirnya dia tanpa sengaja Ling melayangkan pandangan keluar jendela besar di lorong rumah sakit. Dia melihat selendang milik Qiluo terjatuh dari arah atap gedung.
Di atap bangunan , Hongdao masih mengancam Qiluo . “Tidak disangka kau benar-benar tidak mau mati . Sudah mengalami banyak hal tragis masih mau hidup ? Aku sudah menyelidiki tentangmu . Di masyarakat ini asalkan ada uang aku bisa bisa mendapatkan informasi apapaun . Apa Ling sudah kau beritahu masalahmu ?”
Qiluo yang masih terengah-engah bernafas mulai cemas saat mengetahui Hongdao sudah tahu rahasianya.
Hongdao berkata lagi : “ Kini aku berubah pikiran , aku mau membunuhmu dengan tanganku sendiri. Dengan cara ini kamu akan lebih menderita , tetapi aku berjanji akan mempersingkat waktunya , seperti saat aku membunuh Qingmu.”
Saat Hongdao mengangkat pisaunya dan berniat menghabisi Qiluo , Ling muncul disaat yang tepat dan langsung menghajar Hongdao.

Ling terlalu kuat bagi Hongdao yang sama sekali tidak bisa melawan. Kini giliran nyawa Hongdao yang terancam. Ling sudah memukuli dan mencekiknya sampai ke pinggir atap bangunan.
Kalau tidak ada Qiluo , mungkin Ling sudah melempar Hongdao untuk mati.
Hongdao tidak gentar dan masih berani berkata sambil terkekeh dengan bibir berdarah : “Melihat lagakmu yang seperti penegak keadilan , sungguh menjijikkan sekali.”
“Aku hidup didunia ini bukan untuk memuaskanmu . Kau mati sajalah .”
Qiluo mencegah Ling untuk berbuat bodoh. “Ling ….jangan membunuhnya . Kau akan menyesal nanti.
Ling memperingati Hongdao : “ Dengarkan aku yah , jangan diulangi lagi , kalau berani berbuat sesuatu lagi pada Qiluo , aku pasti akan membunuhmu. Kemanapun kau bersembunyi , kemanapun kau melarikan diri, aku tidak akan melepaskanmu!! ”
Tapi tetap saja Hongdao terkekeh aneh dan sempat berkata : “Tahu tidak kenapa kau membenciku ? Karena kau menghindariku seperti kau menghindari dirimu sendiri hehehe.”
***
Qiluo dan Ling tiba di apartemen Ling. Ling mencari sesuatu sambil mengingatkan agar Qiluo tidak lagi berdekatan dengan Hongdao.
Ling mencari nomer kontak Polisi Tian karena merasa Hongdao sudah benar-benar gila dan tidak bisa dibiarkan lagi.
“Aku juga sama dengan Hongdao . Aku juga ingin membunuhnya ,” aku Ling.
“Kamu beda , kamu ingin melindungiku ,” Qiluo menenangkan
“Kau sungguh tidak tahu apa yang sedang kupikirkan . Sampai akhir , aku ingin berbuat begitu karena keinginanku , jika tidak ada kamu mungkin aku sudah membunuh Hongdao , mengiris2 tubuhnya sampai darah habis. “

Psikopat Beda Warna

Qiluo masih tidak gentar untuk menemui Hongdao di sanggar kesenian.
“Setelah kejadian itu , apa kau tidak takut padaku ?” tanya Hongdao .
“Takut , tentu saja aku takut , tetapi juga sangat iri , bisa melakukan hal sesuai keinginan sendiri. Selama ini aku juga berharap seperti , kalau semua orang yang kubenci lenyap dari dunia ini pasti sangat menyenangkan . Demi kepuasan ini aku akan membunuh . Mungkin aku tak keberatan , maksudku kalau aku sudah gila , ucapanmu benar , tetapi aku manusia biasa dan bukan orang gila. “
Mendengar perkataan terakhir , tangan Hongdao bergetar pertanda emosi yang mulai bergejolak. Kekuatan kata-kata Qiluo menghujam hatinya.

Qiluo melanjutkan : “ Kau mengira bisa menjalani hidup sesuai keinginanmu . Sebenarnya kau sudah kehilangan diri sendiri . Kau lupa siapa dirimu , impianmu , kau hanyalah mayat yang sedang berjalan. Saat sedang melukis Ling , aku merasa sangat menderita karena tubuhnya banyak warna , unik dan rumit , dan sulit terungkapkan , makanya aku melukis dengan susah payah , tetapi saat melukis orang sepertimu , cukup warna hitam saja diatas kanvas , orang sepertimu tidak bisa merubah hati orang. Kau sama sekali tidak mirip dengannya. “
Hongdao benar-benar terkena pukulan verbal dari Qiluo . Dia berlalu tanpa kata-kata dan berjalan sendirian ditengah keramaian.
Ketika melihat dua orang gadis sedang berada di mulut elevator , tanpa sebab Hongdao mendorong keduanya. Akibatnya dua gadis itu terjatuh berguling di elevator menyeret orang lain yang ada didepan mereka.

Hongdao mengamati saja seperti anak kecil yang menikmati kartu yang berguguran.
***
Di kantor polisi , Hongdao berkilah bahwa korban-korban itu menabraknya tanpa minta maaf dan melarikan diri.
Pak Tian mengawasi proses interogasi itu , dan mulai menyimak saat Hongdao mendadak terkekeh . Kepada polisi yang sedang menginterogasinya , Hongdao mengaku bahwa saat melihat mereka jatuh satu persatu persis seperti formasi kartu , benar2 jelek sekali .
Seorang petugas lain membawakan laporan medis pada Pak Tian yang isinya menyimpulkan bahwa Hongdao tidak pernah menggunakan obat terlarang.
Pak Tian membawa minuman dan menggantikan polisi yang sedang menginterogasinya.
Pak Tian menyapa : “Sudah lama tidak bertemu. Dua hari lalu Chen Ling mencariku dan mengatakan bahwa kau berencana hendak melukai seorang gadis. Kenapa ? ”

“Tidak kenapa . Aku hanya ingin mencoba merebut Ling dari Qiluo , dan ingin tahu apa yang terjadi dengan Ling jika kehilangan Qiluo. Tetapi aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi . Karena Ling pasti akan membunuhku , walaupun aku pantas mati , tetapi aku belum mau mati. Aku tidak mau mati sendirian. Oh iya , Pak Tian , tolong sampaikan pesanku pada Qiluo , walaupun disini (dipikiranku) aku lebih memihak Ling , tetapi dari segi mutu dan posisi , tetapi aku dan dia barulah orang yang sama , beritahu dia bahwa aku merasa sangat menyesal karena tidak bisa membuatnya mengerti . “
***
Qiluo tertidur dengan tidak tenang , perkataan Hongdao di atap bangunan masih mengusik pikirannya , tentang rahasia terdalam Qiluo yang Ling pun belum mengetahuinya. Terbayang-bayang pula ingatan mencekam saat ayah tirinya memperkosanya.

Memahami Psikopat

Keesokan harinya , Qiluo sudah ada dikampus. Qingmei mengatakan bahwa para dosen sedang rapat sejak pagi dan sebuah stasiun televisi akan meliput kampus.
Sementara itu Ling sedang bersama Da Ye disebuah tempat sambil melihat pemandangan.
Da Ye berkata : “ Aku pernah dengar bahwa manusia punya kecenderungan sejak lahir untuk menyerang , tetapi walaupun ini benar , orang normal tidak akan sampai seperti itu. Hongdao bisa punya reaksi menakutkan hanya karena orang menginjak kakinya sungguh tidak kumengerti.”
“Benarkah ? Kalau suatu saat Qingmei disakiti , kamu akan bagaimana ? “ tanya Ling.
“Qingmei dilukai orang ? Apapun itu aku tidak akan melakukan hal yang menakutkan .”
“Kalau Qingmei dibunuh ?”
“Kamu tidak boleh mengajukan perumpamaan ekstrim ,” elak Da Ye.
Ling tetap memaksa : “Apa yang akan kau lakukan ?”
“Apa harus jawab ? Aku mungkin akan balas dendam , walaupun secara tindakan tidak bisa kulakukan , dalam hati aku pasti akan membunuh 1000 kali , demi membalas dendam.”

“Karena benci muncul keinginan untuk balas dendam . Ini hal yang wajar . Tetapi kalau tanpa sebab melakukan itu , ini perasaan yang seperti apa ? Mungkin benci pada diri sendiri . Sasaran balas dendam Tongdao sebenarnya rasa kesepiannya sendiri . Aku bisa memahami saat Hongdao mendorong orang , sama sekali tidak ada ekspresi marah dan dendam , wajahnya hanya penasaran saja melihat proses kejadian itu , seperti melihat kartu yang berjatuhan . Aku rasa dia melihatnya dengan gembira , dia tidak bisa melangkah ke dunia nyata. Makanya dunia ini seperti permainan baginya. Kenapa ? Kenapa aku bisa memahami itu , malah tahu dengan jelas perasaan Hongdao , walaupun akupun tahu hal ini tidak baik , tetapi aku dapat memahaminya dengan jelas.
***
Di hari berikutnya , Qiluo masih belum melihat Ling datang ke kampus. DaYe mengatakan bahwa belakangan ini Ling keliatan aneh .
Da Ye mengatakan : “Sejak kejadian Hongdao , dia berubah jadi aneh , sepertinya sangat terpengaruh , selalu sedih dan tidak gembira. Dulu walaupun Ling menghadapi masalah besar , 2-3 hari sudah pulih , kini Ling seminggu tidak keliatan . Ini bukan kebiasaan dia.”
***
Malamnya , Qiluo mendatangi tempat Ling. Qiluo menegur : “Aku telepon kau tidak diangkat , juga tidak kuliah . Aku khawatir .”
Ling berjalan masuk kembali ke apartemennya . Qiluo bertanya : “Apa kau kurusan ?”
“Mungkin . Aku belum makan,” jawab Ling
“Aku buatkan makanan untukmu ,” tawar Qiluo.
“Tidak usah , lagipula aku sedang tidak berselera.”
“Kau kenapa Ling?”
“Aku dengar Tongdao kembali ke rehabilitasi.”
“Dengar Ling , Kau adalah kau , kau bukanlah Tongdao.”
“Benarkah ? Perbedaan aku dan Tongdao hanyalah karena bertemu dengan orang yang berbeda .”
“Bukan begitu Ling !”
“Qiluo , itu karena sebelum kau mengenalku . Saat aku masih di LA , kira-kira usia 12 tahun , aku hampir saja membunuh orang. Dia adalah anak nakal dan semua orang membencinya , suka mengganggu Sheng. Suatu saat Sheng menangis. ”
(Sebuah kilas balik memperlihatkan Sheng remaja sedang berlari . Ling saat itu sedang menodongkan pistol ke kepala seorang remaja bule. Sheng tampak cemas , tetapi Ling malah memasukkan pistol ke mulut remaja bule itu dan menarik pelatuknya. Ternyata tidak ada peluru sama sekali walau mencoba berkali-kali)

Ling melanjutkan ceritanya : “Kalau saja malam sebelumnya pamanku tidak mengeluarkan peluru , mungkin aku sudah jadi pembunuh . Karena itu kau merasa dari sifat itu , apakah ada bedanya aku dengan Tongdao ?”
“Itu karena kau masih kecil dan belum memahami pentingnya nyawa.”
“Usia 12 tahun apa kau pernah berniat bunuh orang ? Apa ada anak 12 tahun berniat membunuh orang, kalau hari itu paman tidak bersihkan senapan dan mengeluarkan peluru , aku adalah Tongdao yang sekarang. Didunia Tongdao tidak ada orang seperti kau dan Sheng , dan juga Da Ye . Sedangkan Tongdao hanya memiliki Qingmu , tetapi terakhir dia memilih untuk membunuhnya , bukankah ini musibah yang tragis . ”
“Ling , tetapi apa kau pernah berpikir kenapa Tongdao hanya memiliki Qingmu ? Dan kenapa kau bisa memiliki aku , Da Ye dan Qingmei ? Karena kami menyukaimu , menyukai dirimu yang penuh warna dan semangat hidup . Tongdao sendiri yang memilih hidup dalam kesepian . Dia yang memilih nasib seperti itu .”
“Jangan memandangku seperti itu . Aku paling takut dengan pandangan seperti itu , pandangan seperti Sheng dan ayahku , juga orang-orang yang mengira bisa menolongku , orang yang melihatku dengan pandangan penuh motivasi tetapi menakutkan .  Mereka menganggapku sakit dan tidak menganggapku manusia . Itu adalah pandangan yang menyangkalku .”
“Ling , aku tidak bermaksud seperti itu .”
“Qiluo , jangan melihatku seperti itu lagi , jangan seperti mereka , karena begitu aku bisa bingung , dan tidak bisa mengenal diri sendiri.”
“Aku tahu , aku tahu kau siapa , aku tahu kenapa kau menangis dan sedih , walau orang menyangkalmu , kau masih punya aku.”
“Qiluo….”
“Dihidupku , kau bukan pasien , tetapi memberikan keberanian dan semangat padaku,” kata Qiluo sambil mencium kening Ling.
Mereka berciuman dengan dalam dan terseret dalam kemesraan dan nafsu , tetapi disaat itu Qiluo kembali dalam trauma masa lampaunya.

Qiluo menjadi histeris , dan Ling heran. Qiluo menegaskan bahwa dia memang menyukai Ling , jangan membencinya.
Ling tidak mengapa , tetapi tentu saja bingung apa masalah yang diderita Qiluo.
Qiluo menangis .
***
Keesokan harinya , Ling curhat pada Da Ye.
“Da Ye . Bukankah dulu kau pernah bilang bahwa Qiluo sangat takut laki-laki ?”
“Kenapa kau bertanya seperti itu ? Tetapi baiklah aku mencoba mengingatnya , dikelasku Qiluo sangat ceria , entah kenapa sejak SMA dia jadi sangat pendiam terutama terhadap anak lelaki.”
Ling mulai berpikir .
***
Keesokan harinya , Qingmei bercerita bahwa Ling mendatangi Da Ye . Qingmei bertanya apa yang terjadi diantara Ling dan Qiluo .
Qiluo terdiam , dan Qingmei menasehati agar tidak menyimpan sesuatu dalam hati.

Pada saat itu Ling mengirim SMS yang isinya : “Aku mau bertemu denganmu , aku tunggu di kamar . “

Ayahku Pelakunya

Qiluo tiba di tempat Ling sambil membawa makanan. Saat Qiluo sedang menyiapkan makanan , Ling bersikap aneh dengan menutup pintu .
Ling menghampiri Qiluo dan langsung mencumbui Qiluo. Qiluo pada mulanya menganggap biasa dan menolak ringan.
Lama kelamaan Ling semakin buas dan menyeret Qiluo keranjang dan bersiap untuk bercinta. Qiluo kembali teringat pada traumanya dan bersikap aneh sendiri .
Rupanya Ling sedang menyelidiki trauma Qiluo dengan caranya sendiri . Qiluo mencoba keluar ruangan tetapi tidak bisa dan histeris sekali.


Ling mencoba menenangkan kembali , minta maaf dan memeluknya dengan penuh kasih sayang.
Setelah tenang , Ling menuntut Qiluo untuk menyebut siapa pelaku pemerkosaan itu ? Apa sudah lapor polisi ? Kenapa ? Kau tahu dia siapa ?
Qiluo menjawab sambil menunduk bahwa pelakunya adalah ayahnya sendiri.

0 comments:

Post a Comment