Sunday, August 29, 2004

Sinopsis Mars (2004) - Episode 03

Standard


Dirumah sakit , Ming Gao menawari Ling untuk menjadi pembalap. Ling ragu karena motor saja tidak punya , dan Ming Gao menenangkan bahwa dia akan menyiapkan segalanya untuk Ling agar bisa menggapai cita menjadi pembalap Grandprix , termasuk membentuk tim dan melatih Ling. Mereka pun sepakat.

http://1.bp.blogspot.com/-wO-qdZGbn7w/UjW3niMsUlI/AAAAAAAAN28/EmiRtrabDfE/s1600/Mars+03+-+01.jpg

***

Qi Luo sedang makan malam bersama ibunya . Sang ibu menyatakan ketidaksukaan melihat Qiluo bergaul dengan preman seperti Ling. Qiluo berusaha membela Ling sebisanya , tetapi sang ibu mengingatkan bahwa apa bedanya Ling dengan preman yang menabrak ayah Qiluo. Ling tetap bersikeras bahwa Ling pria yang baik.

Bertepuk Sebelah Tangan

Ling kembali kerumah dan Qingmei melabrak kenapa Ling mau membonceng Qiluo ? Ling tentu saja merasa itu bukan urusan Qingmei .
Qingmei semakin marah dan mengungkit kenapa dulu Ling mau tidur bersama ?
“Karena kau yang menggodaku , dan kita melakukan hubungan suka sama suka.” sahut Ling ringan.
“Pokoknya aku tidak akan membiarkan kamu berdekatan dengan Qiluo.”
Ling menyadari bahwa Qingmei yang menindas Qiluo di atap bangunan kampus. Qingmei membela diri bahwa itu adalah salah Ling yang menyeret Qiluo dalam masalah.

“Seharusnya kau tahu bahwa aku adalah pria bajingan yang bisa pacaran dengan 8 gadis sekaligus , dan kau sendiri yang mau jadi salah satu dari mereka ! Tetapi kuingatkan bahwa Qiluo berbeda dari 8 gadis itu , ” sergah Ling.
Rupanya Qingmei tidak mempermasalahkan betapa banyak pacar Ling , tetapi intinya adalah “Asal Bukan Qiluo” .
***
Da Ye sedang berkerja diluar jam kuliah disebuah restoran cepat saji , ketika Ling datang dan menasehati bahwa seorang sahabat tidak akan bermusuhan hanya gara-gara wanita.
“Apa aku tipe orang seperti itu ?” sahut Da Ye.
Ling mengambil salah satu makanan untuk dicemil , dan Da Ye pun menasehati bahwa Ling adalah tipe orang yang bertindak dulu sebelum berpikir sehingga dia merasa malas berbicara dengan teman sebodoh Ling.
Ling mulai menanyai jadwal pribadi Da Ye . Ada apa gerangan ?
***
Kini Ling seperti wasit yang mengawasi Qiluo dan Da Ye saling berhadapan dalam suasana kaku . Qiluo menunduk terus sementara Da Ye tidak ada bahan pembicaraan.
Ling menceletuk : “Kalau begini terus , aku bisa ketiduran. Jadi begini saja , Qiluo , apakah kamu mau didekati oleh Da Ye ? ”

“Ling…!!” Da Ye mulai cemas melihat karibnya.
“Jadi saat kau bilang menyukai Qiluo ternyata bohong yah ? “ tuding Ling.
“Tentu saja bukan ,” Da Ye mulai panik
“Oh berarti benar , jadi kenapa tidak terus terang saja .” desak Ling.
Qiluo tiba-tiba angkat suara : “Baiklah , aku dan Daye bisa mencoba pacaran.”
Da Ye tampak senang mendengar respon Qiluo , tapi Ling tampak agak berubah wajahnya , tetapi tak lama Ling tersenyum seakan memberi selamat pada karibnya.
Ling merasa urusannya sudah beres dan hendak pergi , tetapi Qiluo tiba-tiba mengembalikan jaket balap pada Ling.
Sesudah Ling kembali suasananya menjadi kaku , Qiluo menunduk menatap meja , dan Da Ye mencoba untuk mengajak Qiluo untuk mulai pacaran dan jalan-jalan.
Mereka mulai jalan bareng , dan kini Da Ye mulai lancar berbicara tetapi seperti berbicara dengan boneka berjalan dimana Qiluo hanya merespon seadanya.
Mereka akhirnya ke café dan berbincang . Qiluo memang mengaku bahwa dirinya sangat pendiam , dan Da Ye membahas bahwa tidak pernah menyangka Qiluo bisa akrab dengan Ling.
“Aku memang tidak pintar berbicara , semuanya kuungkapkan melalui lukisan , dan Ling mulai berbicara denganku juga karena lukisanku,” jelas Qiluo.
Da Ye tersenyum dan becanda :” Sejak kapan dia suka seni , apa sejenis lukisan bugil ? “
“Oh bukan , hanya lukisan seorang ibu yang sedang menggendong anaknya ,” jelas Qiluo.
“Pantas saja dia suka ,” rupanya Da Ye mengetahui rahasia karibnya.
“Kenapa ? “ tanya Qiluo.
“Karena Ling tidak punya ibu , aku dengar ibunya meninggal sejak dia masih kecil ,” jelas Da Ye.
Da Ye merasakan ada sesuatu yang berbeda dari Qiluo saat membahas Ling , dan menduga : “Apakah kau menyukai Ling ?”
“Tidak , kenapa kau bilang begitu ,” bantah Qiluo.
“Karena dari sore kau tidak banyak bicara , tetapi begitu membahas Ling kau mulai gembira , dan pandangan matamu juga berubah , dan sekarang sudah waktunya kita melanjutkan acara, ”

Da Ye kebingungan mencari tiketnya yang baru disadari telah hilang. Qiluo mengatakan lebih baik tidak usah menonton saja , dan Daye bersikeras ingin tetap nonton karena sudah mengantri lama .
Malam sudah tiba ketika mereka berdua sudah berkencan seharian. Da Ye mengantar Qiluo sampai ke elevator stasiun.
Bagaimana dengan Ling ? Ling tampak galau makan sendirian seperti merasakan ada sesuatu yang hilang.
Qiluo sudah pulang dan melihat lukisan ibu-anak , dan teringat perkataan Da Ye bahwa Ling tidak memiliki ibu sejak kecil.

Cinta Menumbuhkan Keberanian

Keesokannya , Da Ye menunggu kedatangan Qiluo didepan kampus. Setelah bertemu dan berbincang sesaat , dua karib Qingmei menghampiri dan mengajak Qiluo untuk ikut entah kemana .
Bodohnya Da Ye , tidak menyadari dan membiarkan begitu saja. Da Ye sempat termenung di setengah tangga , namun menuju ruang kelas pada akhirnya.
Diruang kelas , Ling mencandai Da Ye yang pasti telah melalui pengalaman yang menyenangkan.
Benar saja , dua karib Qingmei itu menggiring Qiluo yang pasrah ke suatu tempat dimana Qiluo didorong kearah Qingmei dan langsung ditampar.
Sementara itu Da Ye memasuki kelas dan langsung duduk disamping Ling. Ling bertanya mengenai kencan Da Ye kemaren , dan menduga semestinya berlangsung menyenangkan. Da Ye bungkam .
Kembali ke Qiluo yang masih berada dalam ancaman Qingmei , dan kali ini Qingmei mengancam akan merajah Qiluo secara gratis (dengan puntung rokok menyala)  jika masih berani mendekati Ling.
Qiluo mempertanyakan : “Katamu Ling tidak akan menyukaiku , lantas kenapa kamu ketakutan sendiri ?”
“Kamu pintar berbicara juga , tetapi aku tidak mau mendengar omong kosongmu , pokoknya kamu jangan mengajak Ling untuk menjadi model lukisanmu, ” Qingmei menukas.
Qingmei mulai mengarahkan puntung rokok yang menyala kearah lengan Qiluo yang mulai gelisah dan hendak menangis , tetapi sejak Qiluo mengenal Ling , mulai muncul keberanian dalam diri Qiluo.
Kali ini Qiluo tidak mau menurut begitu saja , sehingga Qingmei semakin kesal dan mengambil batu besar.

(Sementara itu Ling diruang kelas menanyai Da Ye kenapa tidak bersama Qiluo ?  Da Ye menjelaskan bahwa tadi Mia mengajak Qiluo keluar. Raut wajah Ling langsung berubah ketika mendengar nama Mia. Ling menanyakan mereka sedang dimana ? Da Ye mengaku tidak tahu , tetapi mengira mereka pergi mengarah ke gedung olahraga. Ling tanpa banyak pikir langsung berlari meninggalkan kelas. Da Ye pun mengikuti Ling berlari menuruni tangga , bahkan mereka hampir menabrak dosen mereka. Ling berlari kencang dan Da Ye mengejar dengan kepayahan dibelakangnya.)

Qingmei mulai mengamcam dengan batu besar untuk dihantamkan ke lengan Qiluo. Kali ini, Qiluo semakin berani dan rela kehilangan tangan kanannya agar bisa bersama Ling.
“Tangan kananku tidak bisa melukis , aku masih punya tangan kiri , dan kalau aku tidak ada tangan , aku masih bisa melukis dengan kaki , tak ada kakipun , aku masih bisa melukis dengan mulut ,” kata Qiluo.

Perkataan Qiluo membuat Qingmei kehilangan akal dan mengurungkan niat jahatnya , dan pada saat Ling tiba , Qingmei dkk sudah tidak ada ditempat , tetapi Ling menemukan Qiluo yang sedang meringkuk di tanah .
Ling menghampiri Qiluo dan memeluknya untuk menenangkannya. Da Ye hanya bisa memandang mereka. Ling segera membawa Qiluo ke klinik kampus , tetapi staff klinik meragukan keterangan Ling (tentu saja karena reputasi Ling yang buruk) , tetapi begitu Da Ye mengkonfirmasi Ling tidak berbohong , staff klinik itu menerima keterangan dari Ling.
Ling sambil tersenyum memprotes kenapa pihak klinik tidak mempercayainya , tetapi mempercayai Da Ye.
Da Ye pun berjalan meninggalkan lorong klinik , dan Ling menyusuk karibnya keluar ruangan. Da Ye termenung sesaat , dan kemudian memperingatkan Ling kalau Qiluo terjadi apa-apa , maka Da Ye tidak akan melepaskan Ling.

Aku Akan Membunuhmu

Disebuah bar , Ling menghampiri Qingmei yang sedang gundah . Ling dengan santai tapi serius menegur Qingmei .
“Ternyata kau tidak tega juga , “ Ling berkata.
“Itu kali ini , lain kali belum tentu ,” sahut Qingmei
“Bagus kalau begitu , terserah kau , tetapi aku akan membunuhmu ,”
Qingmei mendengus tak percaya : “Demi Qiluo , kau akan membunuhku ? Jangan menggertakku ! “
Ling mendekatkan wajahnya kearah Qingmei dengan tatapan yang mulai menyeramkan dan berkata : “Aku pasti akan membunuhmu ! “ , dan Ling meminum sedikit minuman sebelum pergi.

Qingmei yang mengenal karakter Ling  , kali ini menyadari Ling tidak main-main dengan ancamannya.
***
Da Ye menemui Qingmei yang duduk di lantai luar bangunan .
Qingmei mengadu sambil terisak  : “ Dia bilang dia akan membunuhku ,  mana boleh dia memperlakukan aku seperti ini ,”

“Itu karena kau sendiri yang keterlaluan ,  Lagipula dia selalu main-main , kenapa kau harus berbuat seperti itu ? “ sahut Da Ye

“Kamu bukan orang seperti itu , aku bisa merasakannya , kau orang yang butuh banyak cinta , mungkin jalan cinta memang berat , makanya kau memejamkan mata , dan berganti pacar untuk menutupi dirimu ,” bantah Qiluo.
“Aku orang seperti itu kok , jadi lebih baik menjauh dariku .”
“Aku pernah bilang pada diriku sendiri untuk menjauhimu , karena takut tersakiti olehmu , dan lagipula kau tidak mungkin menyukaimu , tetapi semakin aku berpikir begitu , semakin pula aku dekat denganmu,”
Ling menghampiri Qingmei dan menciumnya , Qingmei pasrah namun salah tingkah dan hendak kembali kerumah , tetapi gelang jimat Ling tersangkut dirambut Qiluo , sehingga terbersit di pikiran Ling untuk memberikan gelang itu pada Qiluo.

Ling pun mempersilahkan Qiluo untuk kembali kerumah.
Dari dalam kamarnya , Qiluo sempat mengamati keluar jendela sesaat , kemudian siap tidur sambil tersenyum sambil mengamati gelang hadiah itu .
Namun Ling yang juga sudah pulang , mengambil minuman dan meminum sambil berpikir mengenai sahabatnya , Daye , bagaimana kebersamaan mereka sebagai sahabat yang sangat dekat , dan dilemma Qiluo yang disukai oleh Da Ye.
***
Qiluo tampaknya sedang menunggu Ling di depan kampus , dan menyapa Ling selamat pagi  , tetapi Ling kali ini tampak berubah sikap dan menjaga jarak.
Ling tersenyum saat Ling hendak berkata , namun berubah sedih ketika Ling mengingatkan bahwa kemaren  itu semacam santun di dunia barat , jadi jangan terlalu serius menanggapinya karena hanya berteman saja.
Qiluo mengerti , tetapi begitu berbalik dan berjalan , terlihat Qiluo sedih sambil menahan tangis.
Pada saat itu Da Ye muncul dan mengajak Ling kesuatu tempat , dan setibanya diatap bangunan kampus , Da Ye ternyata langsung menghajar Ling.
Tetapi Da Ye bermaksud bahwa memukul Ling itu sebagai pertanda bahwa Da Ye akan melupakan Qiluo. Da Ye menjelaskan : “ Aku takut cinta tak akan membuahkan hasil , walaupun sekarang aku masih suka padanya , tetapi aku tahu sudah tidak mungkin , karena orang yang dia suka adalah kau .”
Ling tersenyum : “Kau tahu khan watakku ini , kenapa kau mendorongku keapi ? “
“Walaupun aku tahu kau akan membawa kesulitan bagi Qiluo , tetapi itu pilihan Qiluo sendiri , dan aku paling benci sudah dalam posisi kalah , tetapi masih dikasihani oleh rival , jadi jika memang kau menganggapku sebagai sahabat jangan lagi bersikap seperti itu .”  kata Da Ye sambil pergi meninggalkan Ling.
Dan bersamaan itu Qiluo melihat Qingmei sedang menunggunya. Qingmei menghampiri Qiluo dan menuduh : “Kau pasti sudah merasa menang khan ?”
Qingmei hendak berlalu , tetapi Qiluo memanggilnya dan berkata : “Kau benar Qingmei , tak mungkin Ling akan menyukaiku .”

Qingmei berbalik untuk mendengarkan sambil menatap dengan sebal : “Dasar bodoh ! “ , lalu terus pergi.

SINOPSIS LENGKAP

[Episode 1 ] [2] [3] [4] [5] [6] [7] [8] [9] [10] [11] [12] [13] [14] [15] [16] [17] [18] [19][20] [21]

0 comments:

Post a Comment