Monday, September 1, 2014

Sinopsis : Inspiring Generation - Episode 02

Standard

Dalam dunia kekerasan dan dunia mafia / yakuza / triad terlihat begitu keras dan kejam dan berbau amis , beraroma kematian. Namun ada sisi lain yang berbeda dengan dunia politik . Ada nilai2 kesetiaan kepada rekan maupun atasan dan pada kelompok dimana mereka mengabdi.

Dan seorang pria sejati harus bisa menemukan majikan yang tepat , yang menjunjung nilai kesetiaan dan membayar pengabdian bawahan yang setia . Dan sebagai bawahan juga harus membayar dengan kesetiaan yang sama. Beginilah kelompok Dobi Nori pimpinan Bongsik dan Poongcha menemukan potensi dalam diri Jeongtae remaja.

Episode 2


Hwang BongSik (Yang Ik-Joon) memarahi Jjang Ttol (Kim Dong-Hee) dengan mengatakan idiot yang tidak punya otak sambil menunjuk2 kepala , dan jika biaya mencapai 5000 maka kepala si idiot akan menjadi hiasan. Anak buah yang malang itu hanya bisa meminta maaf berkali2.  Bongsik mengatakan pada Poongcha (Jo Dal-Hwan) agar menangkap mereka yang tiba , dan diikat untuk dicelupkan kedalam tempat pupuk.

Kang Gae ( Ji Seung-Hyeon)  menimbrung mengapa mereka meributkan pepesan kosong , bahwa tidak peduli sesama , kepala rusak dan darah yang mengalir juga baik adanya , membiarkan orang memperhitungkan juga tak masalah , dan apa hubungannya dengan mereka.
Poongcha mengatakan bahwa reputasi mereka yang menjadi taruhannya.  Gangkai memotong bahwa ini bukan penyelundupan , dan tidak usah terlalu memikirkan reputasi.
Bongsik angkat bicara dan menghardik Gangkai untuk menangkap kembali , dan berhenti berkata omong kosong.
***
Deguchi Kaya (Joo Da-yeong) berada di pinggir sungai Yalu , ketika seseorang berenang menyeberangi sungai  (belum tahu namanya) . Deguchi Gaya menegur pemuda itu terlambat.  Pemuda itu bertelanjang dada dan terengah2 sehabis berenang kemudian berkilah kondisi sungai .


Deguchi Gaya memeriksa isi tas pemuda itu untuk mengambil barang yang ada. Pemuda itu mengatakan Gaya kurang ajar , karena sebagai penjual masih menjual pula rokok dan anggur . Gaya mengatakan bahwa itu demi mencari uang untuk menopang dirinya dan ayahnya . Pemuda mengingatkan kalau Gaya ketahuan pasti akan mati “Aku akan mati di Dan Dong , dan kamu akan mati di Sin Ui Ju.”
Gaya mengatakan kalau pemuda itu belum menelan sudah takut tersedak. Setelah memeriksa kondisi barang , Gaya mengambil dan membawa barang itu pergi sambil berkata bahwa mereka akan bertemu lagi pada tanggal 15 bulan depan di tempat yang sama dan waktu yang sama.
***

Jjang Ttol yang sebelumnya dimarahi oleh Hwang Bongsik sedang menanti dengan cemas didepan pintu apotek dimana Okryeon  sedang menjaga.
Okryeon menghampiri keluar apotek untuk menemui pemuda itu , dan menegur apa kesalahan yang dilakukan pemuda itu sampai terlihat malu , apa yang terjadi ? .
“Jeongtae …..jeongtae.” kata Jjang Ttol  itu dengan gugup.

“Apa dia memukul seseorang atau dikalahkan seseorang?” tanya Okryeon yang khawatir dan meminta pemuda itu cepat menjawabnya.
“Dia dirumah sakit Ui Ju.” jawab Jjang Ttol
Mendengar hal itu tanpa pikir panjang Okryeon tergesa2 masuk toko dan mengambil uang , untuk kembali keluar toko dan berlari menuju rumah sakit.
***
Di kantor pusat rickshaw Sin Ui Ju , Bookgom aka Beruang Cokelat ( Lee Cheol-Min) mengatakan pada tangan-kanannya bahwa sebuah kasino mahjong telah dibuka di pinggiran sungai Yeong Chang .
Seorang pria yang mendampinginya menduga bahwa kasino mendapat dukungan dana dari seseorang.
Bookgoom mengajak mereka untuk memeriksa keadaan dengan jelas  , dan memerintahkan agar para anak buah untuk membunuh tanpa ampun saat menyeberangi sungai Yeong Chang.


Sebelum mereka berlalu , Do-Gggo  didampingi juniornya datang menghadap . Bookgom bertanya apa yang terjadi dengan wajah Buja , dan meminta agar plester di idung di lepas.  Buja melepas perban di hidungnya . Bookgom mencandai bahwa hidung Buja begitu besar dan benar2 membuat iri.  Bookgam menampar Buja dan berkata bahwa jangan lagi sampai hidung terluka seperti itu.
***

Jeongtae dirawat dirumah sakit. Dia terbangun dan melihat Okryeon tertidur di sampingnya.  Okryeon terbangun juga dan bertanya kapan Jeongtae terbangun. Jeongtae berkata baru saja.


Okryeon ingin pergi , dan Jeongtae bertanya apakah rumah sakit itu tempat orang untuk bangun dari tidur dan kemudian pergi.
Okryeon akan berlalu . Jeongtae memanggil dan berkata sorry dan terimakasih .  Okryeon tersenyum dan berlalu .
***
Bookgom berpapasan dengan Bongsik.  Bookgom menyapa : “Tak disangka kamu datang kesini untuk minum. Kalian semua hal mencuri barang yang diselundupkan. Dengan bantuan kami , kalian menjual barang. Apakah kalian sebaiknya mengucapkan terimakasih pada kami ? “
Bongsik mendekat sedikit dan berkata : “  Jangan bicara omong kosong disini dan segera menyingkir !!”
Bongsik dan Bookgom beradu pandangan mata . Namun terlihat Bookgom kalah dalam sorot mata sehingga matanya malah berair. LOL.
Bongsik berlalu bersama bawahannya , dan Bookgom baru jengkel dan hendak melakukan sesuatu sebelum dicegah oleh bawahan Bookgom .
***

Okryen menemani Shin Chung'ah (Lee Ji-Woo) untuk tidur seranjang karena Jeongtae masih ada dirumah sakit . Mereka belum bisa tidur dan merenung.  Chung'ah menyarankan agar Okryeon mengajari bahasa. Okryeon berkata oke waktu sekolah. Chung'ah berkata agar Okryeon mengajarinya dengan gratis.  Okryeon sempat keberatan namun bersedia juga.
Chung'ah berkata bahwa bibi Mok Poga pernah berkata bahwa Jeongtae persis dengan karakter ayah yang terus bertarung sepanjang hari.   Chung'ah bertanya apakah Okryeon pernah melihat ayah Jeongtae - Chung'ah ?  Okryeon mengaku hanya pernah melihat sekali , dan mendengar bahwa ayah Jeongtae , Sin Yeongchool , adalah seorang petarung hebat dan orang2 di sekitar segan kepadanya.
***
Di penjara , seorang sipir memanggil Sin Yeongchool (Choi Jae-Seong)  untuk keluar dari ruang penjara.
Yeongchool kembali ke dunia luar dan menemui seorang ahjussi peramal jalanan yang sedang asik duduk di pinggir jalan. Yeongchool melemparkan uang receh ke kotak sumbangan.  Peramal itu  berkata bahwa Yeongchool begitu kikir , memberikan uang satu sen saja masih ingin melihat keberuntungan.  Yeongchool tersenyum dan mengatakan peramal itu belum berubah sedikitpun.
***
Okryeon menatap sebuah bangunan dan bersiap untuk melompati tembok rumah sebelum terpergok oleh ibunya , Kim Seongdeok (Sin Eun-Jeong). Alhasil Okryeon mendarat di tanah dan sibuk beralasan pada ibunya. Ibunya memerintahkan Okryeon masuk kerumah .

Didalam Seongdeok memarahi dan memukuli Okryeon dengan lidi karena mencuri uang dari apotek. Seongdeok cemas kalau kasus itu dibawa pada aparat , karena tidak mudah untuk menyelesaikannya.
Okryeon berkata bahwa ibunya semestinya tahu untuk apa Okryeon mencuri uang , dan punya perasaan untuk tidak meninggalkan Cheong'Ah seorang diri di malam hari.  Seongdeok berkata kalau putrinya perlu uang tinggal bilang saja.  Okryeon berkata kalau begitu pinjamkan uang 100 ribu untuk biaya perawatan Cheong'ah .
***
Jeongtae masih dirawat dirumah sakit.  Poongcha (Jo Dal-Hwan) datang membesuk . Jeongtae bergegas meminta maaf , tetapi Poongchan bertanya untuk apa meminta maaf.  Poongcha membawakan sebungkus makanan untuk Jeongtae , yang didalamnya makanan itu mengandung sarang walet yang mahal untuk memulihkan kondisi tubuh Jeongtae.  Mereka bersenda gurau berbincang dengan riang sampai seorang suster perawat datang.

Poongcha mengatakan bahwa sudah banyak orang meninggal karena terkena pneumonia , dan meminta suster menjaga diri juga karena begitu banyak orang yang tergantung hidupnya atas karya pengabdian sang suster.  Suster meraih tangan Poongcha dan mengucapkan terimakasih.
***

Shinichi (Jo Dong-Hyeok) tiba di stasiun dan bertanya kepada anak buah yang menyambutnya apakah sudah menyelidiki pusat utama transaksi di Tiongkok.
***
Deguchi Gaya sedang bertransaksi dengan pihak lain di malam hari , sampai kelompok penyelundup lain memergoki Gaya .  Pemimpin kelompok itu mengusir pelanggan Gaya. Kemudian sang pemimpin gang itu memeriksa barang dagangan Gaya , memujinya produk yang bagus made in America. Pemimpin itu kemudian memarahi dan menampari Gaya yang dinilai begitu berani menyelundupkan rokok sendiri .
Gaya sekalipun gadis remaja belia , namun tidak mengenal takut dan malah meludahi sipemimpin gang.  Pemimpin itu menjadi marah dan menendang gadis cantik ini , berkata "gigi diganti gigi , mata di ganti mata "

Tiba-tiba muncul pria misterius dalam gelapnya malam , dia adalah Shinichi tentunya. Si pemimpin gang meminta pria misterius itu untuk mengambil jalan lain saja. Tetapi Shinichi seorang diri tanpa takut berjalan mendekati kelompok gang ini.  Shinichi memberikan peringatan agar mereka segera enyah agar tetap hidup.  Si pemimpin menggerutu kenapa orang Jepang berani bersikap seperti itu.  Shinichi mengulang kata2 si pemimpin , "gigi diganti gigi , mata di ganti mata ".
Kemudian Shinichi menghajar dengan mudah kelompok gang itu satu persatu.  Si pemimpin terpaksa menjadikan Gaya sebagai sandera dengan pisau dan mengancam Shinichi untuk tidak mendekat atau Gaya akan menerima akibatnya. Shinichi tidak peduli dan terus mendekat dengan tongkatnya.  Shinichi menggoda , kenapa pemimpin itu ragu2 ?  Dalam satu kesempatan ,Shinichi secepat kilat menghantamkan tongkatnya ke kepala si pemimpin dengan presisi yang tinggi.
Akibatnya si pemimpin tak berdaya dengan kepala bocor . Dengan posisi masih berdiri namun sekarat , darah si pemimpin mulai menetes bocor dari kepala dan terjatuh di wajah Gaya yang berlutut ketakutan.  Shinichi ikut berlutut memeriksa kondisi Gaya yang tertunduk kepalanya berhiaskan tetesan darah .



Shinici memeriksa kalung di leher Gaya , lalu berkata bahwa ini baru permulaan hidup yang sukar yang harus dilalui Gaya , dan masih banyak rintangan yang harus dilalui. Shinichi berlalu , dan Gaya berteriak menanyakan siapa gerangan Shinichi.  Shinichi tetap berlalu dan mengabaikan pertanyaan Gaya.
PART II

***

Di sebuah ruangan , mayat2 bergelimpangan di habisi oleh seseorang (Ahka ? ) . Dia menelepon di antara ruang penuh mayat itu dan melaporkan pekerjaannya sudah selesai.  Dia menatap mayat2 itu , dan kemudian meninggalkan ruangan.
***
Di Dae Dong Petroleum ,  Poongcha dan Jeongtae memasuki bangunan markas Dobi Nori itu . Jeongtae menatap dua orang yang terikat dan teringat bahwa merekalah yang mencuri uangnya. Jeongtae mendekati dan menghajar mereka.
Poongcha mencegah bahwa dipukuli pun uang Jeongtae tidak akan kembali , jadi sebaiknya memanfaatkan mereka saja.

Sementara itu Bongsik sedang bermain susun menyusun korek api. Terlihat Bongsik begitu tekun menyusun sampai tinggi , sampai Poongcha bersin dan semuanya menjadi berantakan. LOL.
Poongcha rupanya membawa Jeongtae untuk menghadap Bongsik.  Dan Bongsik mengatakan pada Jeongtae , " Dengarkan baik2 , ada tiga hal di Tiongkok ini . Pertama adalah Sungai Han dan Perairan Guangdong. Kedua adalah Sungai Yalu (Perbatasan Korea dan Tiongkok) , dan ketiga adalah penyelundupan. Apakah kamu pernah mendengar Mun Il-Jeong ? Singkatnya , karena orang itu melalui pelabuhan secara rahasia untuk menyelundupkan katun  , dan karena keberuntungannya , orang2 tua bisa mendapatkan selimut hangat di musim dingin dan dapat menyelamatkan orang2 dari mati beku. Bukankah begitu ? Jadi yang kumaksud , penyelundupan bukan hal yang 100% buruk. Aku terus terang saja , bergabunglah dengan kami .  "
Bongsik melanjutkan ada jalur kereta api cepat dari Sin Ui Ju ke Mainland Tiongkok  , karena secepat kilat maka butuh lompatan maut untuk melompat ke kereta itu , yang jika tergelincir bisa berujung pada kematian.   Jeongtae sibuk membayangkan , sehingga Bongsik menjitak Jeongtae dan bertanya apa dia mendengarkan apa yang dikatakan.
***
Kang Gae menghadap Bongsik yang sedang menikmati makanan.  Bongsik memesan makanan tambahan kepada pelayan. Kang Gae bertanya apa yang sebenarnya terjadi , dan kenapa menyertakan bocah seperti Jeongtae kedalam kelompok Fei Yue (Dobi Nori) begitu saja tanpa membahasnya terlebih dahulu.
Bongsik berkata kalau sayap Kang Gae telah tumbuh dengan kaku , dan membuat Bongsik tidak bisa menikmati makanan yang sedang disantapnya.  Bongsik menjelaskan bahwa dia sedang membina Jeongtae perlahan2.  Kang Gae berusaha memprotes senior Bongsik .
Bongsik menawarkan agar Kang Gae mau duduk menikmati makanan bersama kalau tidak enyah saja.
***
Di lokasi penebangan kayu , Jjang-Ttol sedang mengerang kesakitan memeriksa luka dikakinya ketika Jeongtae datang dan duduk didekatnya. Jjang berkilah bahwa dia hanya sedang beristirahat.  Jeongtae membahas mengenai penghasilan yang didapatkannya , perbulan , pertahun dan bagaimana dia harus mengencangkang ikat pinggang (berhemat). Jjang meminta maaf karenanya.
Jeongtae membahas mengenai lompatan maut untuk menyusup ke kereta api.  Jjang mengingatkan bahwa kalau lompatannya gagal , maka Jeongtae akan mati mengenaskan , dan memang berbahaya tetapi sebanding dengan penghasilan yang mungkin didapatkan.  Jeongtae mengungkap keinginannya untuk masuk Kelempok Dobi Nori.  Jjang Ttol menjadi senang mendengarnya .



Serempak Jjang-Ttol dan Jeongtae mengangkat meja kearah Do-Ggoo dkk , lalu melarikan diri.  Malangnya , Jeongtae tanpa sengaja tertabrak oleh mobil yang sedang membawa Shinichi.

Namun Jeongtae segera bangkit kembali dan melarikan diri bersama Jjang-Ttol sambil dikejar Do-Ggoo dkk.  Shinichi hanya mengamati semua itu dari mobilnya.
Jeongtae dan Jjang-Ttol akhirnya tersudut dan tidak bisa melarikan diri lagi.  Do-Ggoo dengan sinis mengatakan : " Siapa duluan yang mau mati ?"
Jeongtae mengambil kain untuk membebat kepalan tangannya untuk siap bertarung. Do-Ggoo memerintahkan anak buah untuk menghajar.  Jeongtae yang cerdiak melompat tinggi dengan memanfaatkan gerobak dan langsung mengincar Do-Ggoo untuk mengancam anak buah Do-Ggoo.

Do-Ggoo tidak peduli dirinya sedang terancam dan memerintahkan anak buah untuk terus menghajar . Pertarungan kembali berlangsung dan Jeongtae terpaksa harus menghadapi keroyokan.
Mobil Shinichi melewati gang dimana perkelahian terjadi. Shinici memerintahkan supir untuk menghentikan mobilnya.  Shinichi tampaknya tertarik dengan keberanian Jeongtae . Shinichi bertanya pada asistennya siapa orang itu.
Asisten mengira Shinichi sedang bertanya tentang Do-Ggoo , dan mengatakan bahwa Shinichi juga telah melihatnya sebagai pria yang tidak berguna.  Namun Shinichi berkata yang dimaksudkan adalah remaja yang satunya lagi (Jeongtae). Asisten mengaku baru melihatnya pertama kali.
Shinichi mengomentari Jeongtae yang masih berkelahi . Shinichi berpendapat tubuh dan reaksi Jeongtae bagus.  Setelah itu mobil Shinichi berlalu.
***
Okryeon memanggil2 Cheong'Ah di luar rumah , namun menyadari Cheong'Ah terhampar lemah dan sakit di luar rumah. Bersamaan itu Yeongchool , ayah Cheong'Ah datang dan sungkan untuk masuk. Namun Yeongchool mendengar teriakan Okryeon yang meminta tolong.
Yeongchool panik melihat putrinya sedang sekarat dan tanpa banyak pikir melarikan putrinya untuk mendapat pertolongan.

***
Sementara itu Jeongtae , terlebih Jjang-Ttol sudah kewalahan mendapat keroyokan dan akhirnya kehabisan tenaga.  Jeongtae dengan babak belur masih memikirkan keselamatan Jjang-Ttol dan pasang badan untuk melindungi Jjang-Ttol yang sudah kepayahan.
Pada saat Do-Ggoo hendak menghajar Jeongtae dengan tongkat besar ,  Poongcha datang mencegah Do-Ggoo.  Poongcha mengancam Do-Ggoo dan kawan2 bahwa dia tidak bisa membiarkan mereka berbuat ulah di daerah kekuasaan Dobi Nori.
Do-Ggoo tidak peduli dan membangkang (mungkin merasa percaya diri karena Poongcha sendirian saja). Perkelahian kembali terjadi dan Poongcha yang pengalaman jelas terlalu tangguh bagi mereka.  Semua jatuh dihajar Poongcha , termasuk Do-Ggoo yang jatuh dengan satu jurus saja.

Poongcha bertanya sebenarnya apa yang terjadi diantara Jeongtae dan Do-Ggoo ?  Jeongtae meminta Poongcha agar pura2 tidak melihat. Jjang-Ttol mengatakan bahwa itu adalah kesalahannya , bukan kesalahan Jeongtae.  Poongcha meminta Jeongtae dan Jjang-Ttol ikut dengannya.
PART III

***

Bookgoom sedang bermain go dengan asistennya ketika Do-Ggoo dilempar ke lantai oleh Jeongtae , Poongcha dan Jjang-Ttol.  Bookgom tertawa getir melihat anak buahnya babak belur seperti itu.


Poongcha mengatakan bahwa Do-Ggoo telah menyentuh orang2 Dobi Nori dikawasan Dobi Nori. Bookgoom menegur Jeongtae sebagai anak tidak tahu berterimakasih setelah pernah diberi pekerjaan untuk menarik rickshaw.
Jeongtae emosi dan sempat dicegah oleh Poongcha. Jeongtae mengatakan kalau uangnya dihasilkan dari kerja keras , keringat dan darah , bukan datang begitu saja. Jadi pada dasarnya Jeongtae merasa tidak berhutang budi pada Bookgoom.
Bookgoom kehabisan kata2 menahan gusar.  Bookgoom masih bersikukuh bahwa dia tulus membantu Jeongtae.  Poongcha kembali mengingatkan konsekuensi kalau berani menyentuh orang2 dari Dobi Nori. Poongcha mengancam akan muncul kembali kalau itu terjadi di masa depan.
Bookgoom menggertak balik , apakah Poongcha tahu konsekuensi dari Faksi Dong Hwa-Ung ?  Poongcha tentu saja tidak takut dan berlalu.  Jeongtae sempat melihat Bookgoom sesaat , dan Bookgoom memberi isyarat ancaman bahwa Jeongtae akan mati.
***
Diluar , Poongcha memberitahu bahwa Faksi Dong Hwa-Ung telah tahu bahwa Jeongtae dan Jjang-Ttol sudah menjadi orang Dobi Nori  , dan orang2 Dong Hwa-Ung tidak akan gegabah mengusik Jeongtae lagi. Namun Poongcha mengingatkan bahwa Faksi Dong Hwa-Ung juga tidak bisa dianggap remeh.
Poongcha memberikan uang , bahkan dompet , untuk membeli pakaian.  Jjang-Ttol mengucapkan terimakasih. Sebelum Poongcha berlalu , Jeongtae menyatakan akan melakukan "lompatan kematian". Poongcha mengatakan bahwa bahwa melompat dari gerbong kereta kebawah itu  bukan masalah mudah , seperti jembatan Sungai Yalu yang punya tinggi sekitar 30 meter dan Jeongtae bisa terseret air.  Jjang-Ttol tampak jerih mendengar uraian Poongcha , namun Jeongtae menyatakan tidak takut.  Poongcha mengatakan bahwa Faksi Dobi Nori masih banyak bidang bisnis lain , dan perjalanan karir Jeongtae masih panjang.
***
Jeongtae pulang kerumah dengan barang belanjaaan dan melihat Okryeon sedang menunggu didepan rumah.  Okryeon membuat belanjaan itu terjatuh karena itu tidak penting lagi . Okryeon memandang Jeongtae dengan prihatin dan sedih , kemudian memukuli dada Jeongtae.
Jeongtae terkejut dan bertanya apa yang terjadi , kemana gerangan Cheong'Ah. Okryeon mengkritik Jeongtae yang lebih sibuk berkelahi daripada memikirkan kesehatan adiknya.
Mereka menuju rumah sakit. Okryeon masuk duluan dan Cheong'ah meminta untuk dibawa pulang karena takut kakaknya khawatir. Namun Jeongtae masuk belakangan dan meminta maaf atas kesalahannya.  Cheong'Ah gadis yang tabah dan malah memberikan semangat pada kakaknya yang menangis.

Jeongtae melabrak ayahnya , Yeongchool.  Mereka berdua saja dan berdiri saling menatap. Ayah memanggil nama Jeongtae , namun Jeongtae tak sudi dipanggil namanya begitu saja.  Jeongtae menegur ayahnya bahwa Cheong'Ah belum tahu ayahnya masih hidup. (Pada saat itu Okryeon mengintip dan menguping).

Yeongchool mengaku malu bertemu dengan anak2nya termasuk Jeongtae.  Jeongtae semakin kesal : " Memangnya siapa ayahku ? Apakah kamu tahu berapa kali aku sempat melihatmu ? Hanya tiga kali !!! Saat ibu sekarat , kamu dimana ? Dan kamu dimana setiap Cheong'Ah merasakan sakit setiap malam. Ayah ? Ayah macam apai ini. "
Jeongtae begitu kesal hingga ingin memukul ayahnya , namun bagaimanapun tidak pantas anak memukul orangtua kandungnya sendiri. Jeongtae mengurungkan niatnya.  Ayah hanya bisa pasrah karena memang merasa bersalah.
Jeongtae memperingatkan ayahnya agar tidak lagi menemui Jeongtae dan Cheong'Ah , bahkan bisa saja Jeongtae membunuh ayahnya sendiri kalau terpaksa.  Jeongtae berlalu , dan ayahnya hanya bisa sedih. Okryeon juga memasang wajah prihatin saat menguping dan mengintip percakapan ayah dan anak tersebut.
***
Keesokan harinya , Jjang-Ttol mengingatkan Jeongtae agar sadar diri dengan rencananya ingin melakukan "lompatan maut" . Jjang-Ttol bahkan mengungkit kalau Poongcha sudah memperingatkan Jeongtae sebelumnya.  Jeongtae tidak peduli dan berlalu.

Jjang-Ttol bergegas menuju markas Dobi Nori , disaat Deguchi Gaya dan yang lainnya sedang briefing untuk penyelundupan.  Jjang-Ttol bergegas memberitahu Bongsik dan Poongcha bahwa Jeongtae nekat ingin melakukan lompatan kematian.
Bongsik , Poongcha , Kang Gae segera meluncur dengan mobil  bak terbuka . Sementara Jjang-Ttol berdiri di bak belakang dan dengan kesal mendengarkan deskripsi ancaman kematian yang mungkin dari rekannya .
Setelah tiba di TKP , mereka segera menuruni arah pinggir sungai di dekat jembatan besar.  Mereka berteriak melihat Jeongtae sedang berjalan gontai di rel kereta api.  Jjjang-Ttol terus berteriak agar Jeongtae jangan melompat.  Kang Gae mengeluh bahwa demi seorang bocah , mereka harus melakukan semua ini.  Poongcha memandang Kang Gae dengan kesal.
Jeongtae tersadar , rekan2 Dobi Nori sedang memanggilnya , namun Jeongtae tidak peduli dan terus berjalan .  Kang Gae menimbrung lagi dengan sinis : "Jangan khawatir , dia tidak akan mati."
Poongcha yang gusar tidak tahan lagi dengan Kang Gae , memintanya agar tutup mulut .
Namun semua menjadi tegang ketika Jeongtae bersiap untuk melompat.
Sementara itu Deguchi Gaya juga menyusul ke TKP dan berharap2 cemas menyaksikan Jeongtae dari kejauhan.



Jeongtae hampir terpeleset jatuh. Jeongtae mengeraskan hati dan mendengarkan suara kereta api dari kejauhan pertanda waktunya semakin mendesak.
Kereta melintas , dan Jeongtae melompat disaat yang tepat.


0 comments:

Post a Comment