Tuesday, September 16, 2014

Sinopsis : Inspiring Generation – Episode 08

Standard

Jeongtae melabrak Shinichi karena telah memperalat Do-Ggoo .  Sebaliknya Shinichi menganggap Jeongtae sebagai penyebab lemahnya hati Deguchi Gaya.






Mereka bertarung dengan singkat.  Shinichi menang dengan sebatang bambu.  Shinichi berkata : " Kami telah mendapat perintah untuk menghancurkan Dobi Nori . Dan hanya ada satu cara agar Dobi Nori selamat.  Kamu harus datang ke markas kami , dan mati didepan Deguchi Gaya. Jika kamu menang , aku akan menentang rencana Yakuza untuk menghancurkan Dobi Nori , dan akan bertanggung jawab untuk itu. "
Jeongtae berkata kalau dia akan datang , dan akan menunjukkan sisi aslinya.

Rekap Age of Feeling / Generation Of Youth / Inspiring Generation / Inspiring Of Age - Episode 8


Bongsik menemui Jeongtae di markas Dobin Nori , dan bertanya apa yang sedang terjadi ? Bongsik meminta Jeongtae untuk tidur dan masuk kedalam saja.  Jeongtae berkata : " Yakuza sedang mengincar Dobi Nori , karena aku ."
"Siapa yang mengatakan itu ?" tanya Bongsik.
" Caranya aku harus menang melawan pedang . " kata Jeongtae.
***

Jeongtae - Bongsik menuju rumah gisaeng. Okryeon muncul di depan pintu dan bertanya ada apa. Bongsik bertanya apakah ada Choi Posoo ?  Okryeon tampak bimbang sejenak . Bongsik berpesan katakan saja nama Bongsik pada Posoo , dia akan tahu . Okryeon akhirnya mempersilahkan mereka masuk.
Didalam , Bongsik menyapa Posoo.  Dan Posoo bertanya apakah Dobi Nori baik2 saja. Bongsik mengaku bahwa sejak kemunculan Yakuza , kelompok Dobi Nori mengalami banyak kesulitan.  Posoo menenangkan bahwa badai pasti akan berlalu .

Posoo menyapa Jeongtae , bahwa sudah lama tidak berjumpa.  Posoo bertanya apa maksud kedatangan mereka kesini.  Bongsik menjelaskan : " Bocah ini , Jeongtae , memohon padaku , jadi aku mohon padamu agar mengajarkan Jeongtae cara melawan permainan pedang.  Tuan aku tahu anda adalah mantan pengawal Dinasti Joseon. Kumohon padamu (membungkuk)."
***

Keesokan harinya Posoo menggunakan tongkat kayu sibuk mengajari Jeongtae.  "Satu adalah mata , dua adalah kaki , tiga adalah hati , empat adalah kekuatan.  Sebuah pedang pertama kali adalah melihat mata , kedua adalah menggerakkan kaki , ketiga adalah hati yang kuat , dan keempat adalah kekuatan dan skill. Untuk mengatasi pedang , itu artinya kamu harus menipu dengan mata , menjaga kaki , dan pikiran , dan melemahkan skill pedang lawan.  "
Jeongtae mencoba lagi dengan tangan kosong , dan masih gagal karena tongkat kayu Posoo kembali bersarang kesamping leher Jeongtae. Posoo memberikan petunjuk lagi : "  Fokus pada kaki yang menjadi poros , dan tidak ada pedang didunia ini yang bisa menghantam tanpa didahului gerakan kaki."
Jeongtae mencoba lagi dan kali ini Jeongtae sanggup menendang kaki Posoo dan memukul perutnya.  Jeongtae minta maaf . Posoo terjatuh dan mengeluh sakit sekali . " Pukulan itu mengingatkan aku pada rasa sakit diseluruh tubuhku . "
Jeongtae mengulurkan tangan untuk menarik Posoo berdiri , dan Posoo malah menarik Jeongtae hingga terjatuh dan berbaring bersama sambil tersenyum.
Posoo : " Orang yang akan kamu hadapi lebih kuat dari aku yah ? Benar khan ? "
"Mungkin saja ," jawab Jeongtae.
"Tidak peduli siapa yang mencoba menghentikanmu. Kamu harus pergi ."
"Ya benar , aku harus pergi ."

"Kemudian kau pergi kesana untuk mati , melawan musuh yang lebih kuat darimu. Ketika maut sedang mengintaimu , itu adalah harapan sebuah kematian ,  tetapi ada seseorang yang bisa menang dalam situasi itu.  Orang itu adalah ayahmu.  Tidak ada seorang pun yang punya determinasi untuk mati selain dia.  Pastikah kamu harus tetap hidup dan menang."
Jeongtae meneruskan latihan seorang diri dengan memukuli pohon . Jeongtae juga melatih fisik untuk melatih stamina.  Ketika berlari sampai ke atas bukit , Jeongtae memandang sesuatu .
Kemudian Jeongtae mengunjungi makam ibunya , sambil membawa surat wasiat Cheong'ah , dan berkata didepan makam : " Sudah berapa ratus kali aku ingin membaca surat ini , tetapi aku mengertakkan gigi dan urung untuk membaca. Ini seperti surat wasiat , jika aku membacanya , aku merasa akan jatuh . Jadi aku ingin menitipkan surat ini padamu . Ibu ."
Jeongtae memasukkan surat itu kedalam kotak kecil dan menguburnya dengan tanah , seraya berkata lagi didepan makam : " Nanti jika aku bertemu dengan Cheong'ah kembali. Aku akan membacanya. Dan mari kita semua bertemu dengan senyuman.  Maafkan aku , Ibu."
Jeongtae berlalu , dan sempat menatap makam itu kembali . Dan benar 2 berlalu.
***
Ditempat kerja . Okryeon sedang mempelajari notasi lagu ketika Jeongtae tiba. Jeongtae bertanya besok Okryeon ada acara apa.  Okryeon menjawab kalau besok dia akan sibuk meladeni pelanggan di tempat kerjanya .  Jeongtae mengajak untuk berkencan , tetapi Okryeon merasa ada yang aneh .
"Apa ada yang salah ?" tanya Okryeon .
"Apa maksudmu ? Tidak ada yang istimewa yang terjadi , " jawab Jeongtae.
"Ketika aku terus mengajakmu pergi ke Yongampo , menikmati sunrise , kamu tidak pernah datang.  Kita tidak pernah datang ke kafe bersama untuk menikmati kue. Atau pergi ke pasar Satong . Tetapi mendadak kamu ingin menghabiskan waktu sehari penuh bersamaku ?" tanya Okryeon.
"Yah , jika kamu tidak mau , tak masalah . Aku pergi dulu , " kata Jeongtae.
Walau demikian tawaran kencan dari pria yang disukai jelas sulit ditolak . Okryeon akhirnya bersedia.
***

Keesokan harinya mereka bersama . Jeongtae membonceng Okryeon dengan sepeda , dan bahkan mengajari Okryeon bersepeda.  Setelah dirasa sudah lancar , Jeongtae diam-diam melepaskan pegangan sepeda.
"Jeongtae ,kalau kau melepaskannya kau akan mati.  Apa kau masih menahan sepedanya ? Apa kau sedang mendorongku ?"
Okryeon baru berteriak setelah menyadari Jeongtae sudah melepaskan pegangan .  Keduanya tersenyum .

Mereka melanjutkan pergi ke pasar untuk melihat2 barang. Okryeon mencoba beberapa topi untuk Jeongtae. Dan Jeongtae mencoba beberapa aksesoris wanita untuk Okryeon.  Mereka membeli permen kapas dan menikmatinya bersama.
***
Kkab-sae makan bersama Kang-Gae , dan  mengungkap idenya untuk membuka sebuah toko .  Kang Gae menukas kalau Dobi Nori belum bubar.  Kang Gae memperhatikan Jeongtae sedang berjalan kesebuah tempat.
Kang Ga dan Kkab-Sae membuntuti Jeongtae. Tak lama Kang Gae menyimpulkan Jeongtae sedang menuju markas Yakuza , dan menggali kuburannya sendiri.
***
Deguchi Gaya teringat Shinichi menyembunyikan sesuatu di laci . Deguchi diam2 memeriksa kotak Shinichi , dan menemukan ada foto jadul dimana ada wanita dewasa (ibunya Gaya) dan Shinichi cilik.
Shinichi memergoki Gaya . Dan Deguchi Gaya malah menuntut penjelasan tentang foto itu , apakah anak kecil dalam foto itu adalah Shinichi.
Shinichi hendak merampas foto itu , namun Gaya juga bukan wanita sembarangan . Mereka bertarung untuk memperebutkan foto sampai fotonya robek menjadi dua bagian .

Shinichi dengan marah bertanya apa yang telah dilakukan Gaya.
Deguchi Gaya : " Aku akan makin merasa bersalah jika aku mencari tahu jenis hubungan apa diantara kamu dengan ibuku . Jadi katakan padaku , agar aku bisa memahami . Itu perintah !!! "
"Arghh aku menolak perintahmu," kata Shinichi sambil menggebrak meja sampai hancur.
Anak buah datang untuk memberitahu  Jeongtae muncul di markas Yakuza.
Gaya - Shinichi keluar menemui Jeongtae. Gaya tampak prihatin karena diam2 khawatir keselamatan Jeongtae.
Jeongtae berkata bahwa sudah saaatnya mengakhiri hubungan yang aneh ini.
***
Di markas Dobi Nori , Kkab Sae tidak bisa tenang , mondar-mandiri memikirkan sesuatu. Kka-Sae masuk kekantor dimana ada Poongcha , Bongsik dan Kang Gae.
"Aku ada sesuatu yang ingin kukatakan ," kata Kkab Sae . Sementara itu Kang Gae memberikan pandangan mengancam pada Kkab Sae agar tutup mulut.
Kemudian yang terjadi suasana di markas menjadi tegang.  Bongsik memerintahkan Kang Gae dan Kkab Sae untuk keluar ruangan.
Bongsik memikirkan sesuatu dan menelepon seseorang.
***


Di kota Dandong -China - yang berdekatan dengan Sinuiju (Modern Korea Utara ) .  Boss Hwangbang , Sul Doosung berkata pada Mo Ilhwa : " Bagaimanapun , begitu Yakuza menguasai Sinuiju . Dandong akan menjadi sasaran mereka selanjutnya."
Mo Ilhwa mengaku sudah tahu kondisi itu.
Doosung : " Walaupun jaraknya jauh , Shanghai juga tidak akan aman karenanya. Dan kamu harus menghalangi usaha mereka."
Mo Ilhwa menenangkan : " Selama aku masih disini , Dandong tidak akan mudah di tembus ."
Doosung : " Aku dengar kamu berjumpat dengan Jeongtae ?"
Mo Ilhwa : "Iya , aku terkesan padanya. Like father like son. "
Doosung : " Anak itu terluka parah. Jika ada situasi dimana kau harus membantunya , mohon jangan sungkan2.  Jika kamu menolongnya , aku akan mempertimbangkannya sebagai hutang budi padamu. "
Mo Ilhwa : " Aku punya hutang budi yang lebih besar kepada Jeongtae."
Anak buah memberitahu Mo Ilhwa sesuatu. Mo Ilhwa pamit untuk menerima telepon . Wajah Mo Ilhwa berubah saat menerima telepon , dan berkata pada anak buahnya setelah itu : "Dia mengatakan belum bisa melupakan luka di kupingnya olehku ."
Sementara itu di markas Dobi Nori , Bongsik juga menutup teleponnya.
Part 2 (of 3)

Setelah itu Bongsik melangkah pergi.  Diluar ada Poongcha , Kkab Sae dan Kang Gae. Bongsik beralasan hendak pergi untuk mencari makanan dan memerintahkan Kang Gae dan Kkab-Sae untuk menjaga markas.
Namun Kang Gae penasaran dan bertanya Bongsik ada urusan apa hendak pergi semalam ini ?  Bongsik mengomel , dan terpaksa Kang Gae patuh diam di markas.
Bongsik berlalu . Poongcha menirukan geraman anjing untuk mencandai Kang Gae untuk menjaga markas.  Poongcha tersenyum dan pamit untuk pergi.
***
Di markas Yakuza , Jeongtae masih berdiri berhadapan dengan Gaya - Shinichi.  Gaya tampak mengkhawatirkan keselamatan Jeongtae . Gaya bertanya pada Shinichi kenapa Jeongtae datang kesini ?
Shinichi : " Apakah ada alasan kenapa dia tidak datang kesini ? Seorang yang datang hidup2 , dan pulang tanpa nyawa. Itu adalah instruksi Yakuza . Pria itu (Jeongtae) datang kesini hidup2.  Aku akan membunuhnya .  Jadi kamu , Gaya , tinggal memperhatikannya."
Shinichi dan Jeongtae mulai bertarung. Dalam gebrakan awal , Shinichi tampak unggul dan berhasil memukul Jeongtae. Shinichi berkata kalau Jeongtae terlalu berat hingga bergerak lambat.
Jeongtae teringat kembali masa pertama kali dia berkenalan dengan Dobi Nori , dimana Poongcha membuat Jeongtae babak belur.  Saat itu Poongcha berkata : " Nak , kamu membuang energimu percuma."
Mereka kembali bertarung lagi dan bertukar pukulan.  Shinichi masih tampak unggul teknik dan pengalaman . (Gaya menonton dengan prihatin.)
Jeongtae teringat nasehat Mo Ilhwa , agar menggunakan bahu dulu sebelum menyerang.  Jeongtae bangkit lagi dan siap bertarung lagi.
Mereka kembali bertarung dengan tangan kosong. Kali ini pertarungan mulai berimbang. Dalam satu kesempatan Jeongtae berhasil menendang Shinichi. Mereka melanjutkan pertarungan jarak dekat. Dan kali ini Jeongtae membanting Shinichi hingga tersungkur dengna mulut berdarah.



Jeongtae berkata : " Kamu , yang menggantungkan pada pedangmu seumur hidupmu . Mungkin jarang menerima pukulan. Sedangkan aku mendapat pukulan terus menerus sejak kecil karena tanpa kehadiran seorang ayah disisiku. Kemudian aku sering dipukul karena tanpa ibu. Kemudian aku sering dipukul karena lancang berbicara. Kemudian aku dipukul karena tidak berbicara.  Aku hidup dengan menerima pukulan. Aku menyadari bahwa ada sesuatu yang baik saat aku menerima pukulan.   Kamu berkata bahwa melindungi Gaya adalah tugasmu. Bagiku , aku hanya ingin membuat Gaya tertawa riang.  Karena saat aku melihatnya tertawa , tawanya juga membuatku tertawa , dan meskipun aku tidak tahu kenapa . Aku menyukai hal itu . Itu saja. Tetapi kenapa hal itu begitu salah ? Apakah sebuah dosa jika aku memimpikan tentang itu dalam hidupku ?  "
"Jelas itu sebuah dosa , karena kamu memimpikan sesuatu yang tidak boleh kau miliki , jadi betul kalau itu memang dosa. " kata Shinichi sambil meminta Kenjo untuk memberikan pedang pada Shinichi.
Shinichi menerima dua pedang  , dan salah satu disarungkan ke pinggang , dan yang satunya lagi dibuka sarungnya. Shinichi berkata : " Jika aku kalah , biarkan Jeongtae pergi hidup2. Jaga harga diriku untukku , Kenjo . "
Shinichi bersiap untuk bertarung lagi dan berkata kalau kali ini merupakan pertarungan sungguh2.
***
Bongsik berjalan melintas pepohonan. Poongcha menempel terus Bongsik , dan Kkab-Sae diam2 mengikuti dua bossnya.
Bongsik mengomel kalau Poongcha menempel seperti kutu. Poongcha berkilah : " Tahukah anda , bahwa orang yang menyukaimu hingga terus mengikutimu adalah aku dan nyamuk di musim panas ."
"Kamu itu sungguh bullsh*t . Heii , ketika aku pergi ke Myeongwolgwan , tidakkah kamu tahu para wanita tergetar karena aku ?"

"Haha , mereka berkata ketika anda semakin tua , mereka mulai percaya dengan apa yang mereka dengar , bahwa hyungnim juga ......."
"Enyahlah ," hardik Bongsik yang jengkel dan hendak berlalu.
"Aku pikir kamu sudah terlalu jauh dari restoran yang menjual nasi sup," protes Poongcha.

Gaya hanya bisa memandang Jeongtae yang sekarat.  Shinichi memerintahkan Kenjo untuk mengakhiri penderitaan Jeongtae.  Shinichi berlalu .
Kenjo siap menghabisi Jeongtae , namun Poongcha datang dan mengamuk di markas Yakuza.  Poongcha memeriksa kondisi Jeongtae dan menyimpulkan Jeongtae masih hidup.  Poongcha bersumpah akan menyelamatkan Jeongtae apapun resikonya.

Poongcha bersiap menghadapi para pengeroyok : " Hey kau tahu aku khan ? Namaku adalah Poongcha , dan dalam bahasa kalian adalah Kazaguruma (windmill) .  Aku kesini untuk mati , jadi harap kalian jaga leher kalian. "
Poongcha mulai bertarung menghadapi keroyokan bersenjata pedang.  Poongcha berhasil menghabisi dua anak buah Yakuza.
***
Anak buah Mo Ilhwa berkata pada bossnya : " Jika Dobi Nori jatuh , maka berikutnya adalah kota Dandong."
" Mulai sekarang kita harus memperkuat diri . Orang yang membunuh ibuku mencoba membunuhku untuk menghilangkan barang bukti. Dan yang menyelamatkanku adalah ayahnya Jeongtae.  Untuk membalas budi ini  , 10 kali lipat terhadap musuh .  Aku akan pergi ke Sinuiju sekarang. "
***
Betapapun tangguhnya Poongcha , dia tak berdaya menghadapi keroyokan bersenjata pedang. Poongcha luka parah , namun berhasil melumpuhkan semua anak buah Yakuza. Kini tinggal tersisa Poongcha , Shinichi dan Deguchi Gaya.
Poongcha bersikap gagah walaupun sudah sekarat . "Hei , aku pikir kalian itu gerombolan Japs (panggilan melecehkan untuk orang Jepang) , dapat bertahan dalam pertarungan ini ? Hanya tinggal dua orang saja ?  Mungkin tidak , ada empat orang sekarang. "
Salah satu anak buah yang sempat bangkit , menyerang lagi , dan Poongcha langsung melumpuhkan lehernya dengan mematikan.  Kenjo berhasil melukai dada Poongcha dengan pedang. Poongcha rubuh , dan bnagkit kembali , dan dengan sisa tenaganya menghajar Kenjo hingga rubuh.
Poongcha sudah semakin sekarat dan kepayahan. Deguchi Gaya dan Shinichi hanya bisa memandang bengong.  Dengan sisa tenaganya , Poongcha menghampiri Jeongtae untuk mengangkat protegee kesayangannya , mengajaknya untuk pulang.
Perkataan terakhir Poongcha : " Jeongtae , mari pulang . Hyung akan membawamu pulang.  Kamu tidak bisa mati .  Jeongtae , aku sangat menyukaimu . Kita harus pulang Jeongtae  , Jeongtae , aku minta maaf . Dan ............aku mencintaimu Jeongtae."

Perlahan tapi pasti Poongcha menemui ajal di atas tubuh Jeongtae yang juga sedang sekarat.
Part 3 of 3


Gaya bertanya pada Shinichi : " Apakah kamu pernah melihat kematian seperti itu ? Aku tidak pernah . Ini sudah cukup . Ambil Jeongtae dan rawat dia. Ini adalah perintah. "
Shinichi memprotes : "Bahkan jika kamu menolongnya sekarang , dia akan mati pada akhirnya. Itu sudah menjadi takdirnya. "
"Jangan mencoba menentukan nasib orang lain dengan mudah seperti itu , " tegur Gaya.
***
Jjang-Ttool bersama rekannya membahas temuan minuman liquor dari gudang .  Jjang-Ttol berkata pada rekannya : "Kamu tahu khan sejak rute Dobi Nori di blokir , barang seperti ini sulit untuk didapatkan ?"
Rekan membujuk Jjang-Ttol membagi minuman. Pada saat itu Jjang-Ttol menyadari ada petugas keamanan yang sedang menuju ke tempatnya.
Jjang-Ttol bergegas menyelamatkan beberapa botol minuman.  Namun sebelum Jjang-Ttol sempat meloloskan diri , sudah keburu ditangkap petugas.
***
Okryeon menutup toko tempat kerjanya , ketika Soo'ok muncul menemuinya.  Soo'ok berkata : " Ketika sebuah notasi musik berubah menjadi musik yang indah . Itu adalah hal yang menakjubkan."
Okryeon tersenyum .  Mereka berdua duduk untuk berbincang membahas lagu. Mereka berdendang bersama untuk mempelajari lagu dalam notasi musik itu.

Setelah itu Soo'ok mengantar Okryeon pulang. Soo'ok merasa heran melihat rumah gisaeng begitu sepi.
Soo'ok berbasa basi : "  Aku dengar masakan di rumah gisaeng ini sangat lezat , apakah masih ada makanan tersisa. "
Okryeon tersenyum mengatakan tidak ada. Soo'ok hendak pamit untuk bertemu lain waktu, dan mengingatkan Okryeon untuk rajin berlatih.
Okryeon masuk dan terkejut melihat ada seorang pria berjaga di ruang depan. Okryeon masuk ruangan lain dan bertanya pada Malsook apa yang terjadi ?
Malsook menjelaskan kalau ada seorang perwira Jepang yang memaksa masuk untuk dilayani. Malsoo berkata Okryeon tidak perlu khawatir .
Tiba-tiba terdengan keributan. Okryeon bergegas hendak masuk untuk melihat kondisi ibunya. Penjaga menghalangi , bahkan membanting Okryeon hingga terhempas ke lantai.
Didalam , Ibu Okryeon , Sungdeok memegang pipinya yang sakit akibat ditampar oleh sang perwira (perwira yang sama yang bersitegang dengan Aoki dalam episode sebelumnya.)
Perwira menghardik Sungdeok: " Kamu hanya wanita gisaeng , aku hanya mencari hiburan disini , dan kamu berani memintaku untuk menjaga sikap ?"
"Apa yang kamu lakukan !!? Ini bukan rumah bordil ? Jika kamu sedang birahi , datanglah ke rumah bordil !! " tegur Sungdeok.
Perwira itu semakin marah dan menampar Sungdeok sekali lagi.  Okryeon panik namun dihalangi pengawal. Soo'ok muncul dan menghajar pengawal Jepang itu. Okryeon berhambur masuk kedalam dan terkejut melihat perwira Jepang sedang menindih dan berusaha memperkosa ibunya.


Okryeon berusaha menolong ibunya , dan akibatnya perwira Jepang menampar Okryeon juga , dan menghardik : " Apa yang kamu lakukan ? Kalian membuatku tidak berselera minum lagi. "
Perwira hendak menghajar Okryeon lagi , namun Sungdeok menolong putrinya. Giliran Sungdeok di tampar kembali oleh si perwira. Okryeon menjadi nekat dan mengambil vas bunga untuk dihantamkan ke kepala si perwira.
Malsook , Soo'ok ikut masuk dan terkejut melihat si perwira Jepang sudah tersungkur dengan kepala berdarah.  Soo'ok memeriksa keadaan si perwira itu dan merasakan firasat buruk. Si pengawal sudah bangkit kembali dan masuk untuk menodongkan pistol.

Sungdeok segera memasang badan untuk melindungi putrinya.  Pengawal meminta Malsook dll masuk kedalam. Pengawal berkata : " Apakah kalian tahu apa yang baru kalian lakukan ? Sungguh berani kalian melukai Tuan Gokubo . "
Diam2 Posoo mendekati pengawal itu dan langsung melumpuhkannya. Posoo meminta Sungdeok untuk berkemas2 untuk kabur .  Sungdeok dll langsung mematuhi Posoo dan berlalu untuk berkemas.
Posoo mengatakan pada Soo'ok : " Aku akan menyeberangi Sungai Yalu , dan ada sebuah sampan kecil di Yongampo.  Apakah kau akan membantuku ?"
Soo'ok bersedia.
Posoo segera mengambil senjata yang di kubur dan mempersiapkan senjata apinya. Posoo mengajak Soo'ok untuk mengikutinya.
Soo'ok melihat keadaan dan memberikan petunjuk bahwa ada target yang harus ditembak dengan jarak 30 meter di sudut kanan.  Posoo secepat kilat menembakkan senapannya mengenai sasaran . head shot.
Posoo memerintahkan Sungdeok dkk untuk bergegas. Mereka kabur.
***
Aoki masih merenungkan perkataan Shinichi . Sebuah kilas balik : Shinichi berkata didepan Gaya dan Aoki : " Pada saat kau menyentuh sehelai rambutnya Gaya , pada saat itu kau akan mati."


Pada saaat itu anak buah datang memberikan laporan dari Jepang.  Aoki membuka amplop itu dan isinya ternyata sketsa pembunuh dengan wajah Posoo sebagai tersangka pembunuh petinggi Jepang sebelumnya.
Aoki langsung mengambil senjata dan bergegas memburu Posoo. Aoki segera tiba di rumah gisaeng dan menemukan perwira tersungkur dilantai. Aoki bertanya pada pengawal yang masih hidup kemana mereka pergi. Pengawal menjelaskan kalau mereka sedang kabur lewat Yongampo dengan dayung.
Di pinggir sungai , Okryeon dkk siap kabur ketika Aoki mulai menembak dari kejauhan.  Posoo terpaksa tidak ikut dan siap duel dengan Aoki. Sementara itu Soo'ok segera mengayuh sampan untuk melarikan diri. (Terlihat Sungdeok juga terkena tembakan) .

Posoo berduel senjata api dengan Aoki head to head ditengah rumput liar yang tinggi. Mereka sempat saling mengenai sasaran setelah bertukar tembakan. Mereka sama2 tertembak satu sama lain , dan tersungkur di tengah padang rumput.
***
Di Osaka  Jepang , Markas Yakuza . Denkai sedang berjalan didampingi dua wanita .  Ahka muncul mendampingi Denkai.
Denkai bertanya apa ada berita mengenai Aoki ?  Aka menjelaskan bahwa sudah mengerahkan banyak orang untuk mencari Aoki .
Denkai bercerita bahwa saat ibu Aoki mati , Aoki mendampingi ibunya selama 8 hari . Denkai memuji daya survival Aoki sebagai bakat alaminya.  "Dia pasti masih hidup . Pastikah kau menemukannya Ahka !"

Ahka mengiyakan perintah bossnya. Denkai bertanya lagi kabar mengenai Gaya.  Ahka menjelaskan kalau Gaya sedang berurusan dengan kelompok Dobi Nori , dan sedang menanti perintah Denkai.
Denkai berujuar : " Pertarungan adalah masalah menguasai . Kemenangan sangat penting , tetapi narasi juga penting. Hancurkan segalanya tanpa belas kasihan . Tunjukkan pada mereka kekuatan Yakuza yang sebenarnya. "
***


Jeongtae sedang di rawat di markas Yakuza di Shinuiju namun masih belum sadarkan diri. Deguchi Gaya melihat keadaan Jeongtae dengan prihatin.

Sementara itu , Shinichi juga harus menjalani pengobatan karena terluka parah ketika bertarung dengan Jeongtae.  Dokter berkomentar tentang luka Shinichi : "  Aku tidak bisa percaya apa yang kulihat.  Kamu terluka di delapan tempat di bagian tulang belakang. Dan empat diantaranya retak.  Akibat dari lukamu ini dapat mempengaruhi sirkulasi di paru2.  Dan kamu kemungkinan bisa sulit bernafas suatu waktu. Shinichi , artinya kamu bisa mati dari luka ini kalau kau biarkan saja. "
Shinichi berujar : " Kerja yang bagus dokter. Paling tidak aku masih hidup. "
Shinichi menuju ruang rawat Jeongtae dan berkata pada Gaya : " Cepat atau lambat , aku harus melaporkan apa yang telah terjadi. Apa kamu akan membiarkannya hidup ?  (menghela nafas) Kau sepertinya begitu menyukai Jeongtae . "
Diluar markas . Mo Ilhwa dan asistennya melangkah dengan percaya diri didepan markas Yakuza di Shinuiju. Mo Ilhwa memberi isyarat pada asistennya untuk meneriakkan tantangan.


Asisten melangkah mendekat pintu yang masih tertutup . Menjura dan berteriak : " Kelompok dari Dandong meminta duel pada Yakuza."
Asisten terus mengulang2 seruannya itu hingga terdengar oleh Shinichi dan Deguchi Gaya.  Shinichi menjelaskan kalau diluar , Mo Ilhwa menantang pemimpin tertinggi (Deguchi Gaya) di tempat ini untuk berduel.
Deguchi Gaya tidak takut dan hendak melangkah keluar. Shinichi menahan dan mengingatkan kalau yang akan dihadapi Gaya itu petarung tangguh Mo Ilhwa (yang Shinichi sendiri segan) . Gaya tidak peduli dan menemui Mo Ilhwa diluar.
Gaya dan Mo Ilhwa bertukar sopan santun basa-basi .
Gaya : " Ketua Mo , sudah lama tidak berjumpa."
Ilhwa : "  Apa kamu baik2 saja selama ini ?"
Gaya : " Terimakasih , tetapi tantangan duel ini ?"
Ilhwa : "Ini tantangan duel yang sudah diumumkan didepan banyak orang. Aku menantikan keputusanmu. "
Gaya : " Apa yang hendak kau pertaruhkan ?"
Ilhwa : " Apapun yang kau inginkan."
Gaya : " Apa termasuk Dandong ?"
Ilhwa : "Tentu saja."
Gaya : " Dan apa yang kamu inginkan ?"
Ilhwa : " Shin Jeongtae. Tentu saja jika masih hidup . "
Gaya : " Baiklah , aku akan berduel denganmu ."
Shinichi : "Tuan Putri !"
Gaya tidak ingin Shinichi ikut campur . Gaya melangkah menghampiri Ilhwa. Shinichi memberi isyarat pada pengawal untuk meninggalkan tempat itu.


Ilhwa menjura sambil berbasa-basi minta petunjuk dari Gaya. Dan Gaya mengucapkan hal yang sama. Pertarungan akan segera terjadi , Mo Ilhwa dengan tangan kosong melawan Gaya dengan dua pedang pendek.
Dalam satu kesempatan , Ilhwa berhasil menghantam perut Gaya , namun Gaya berhasil melukai tangan Ilhwa dengan pisau.  Ilhwa memuji Gaya sebagai genius yang begitu cepat berkembang padahal baru saja belajar pedang.  Deguchi Gaya berkata kalau pujian Ilhwa terlalu berlebihan.
Ilhwa berkata kalau sekarang dia akan melakukan yang terbaik.

0 comments:

Post a Comment