Wednesday, March 5, 2014

Sinopsis : Empress Ki - Episode 35

Standard

Dalam episode sebelumnya ada beberapa point yang terjadi . Seungnyang hamil mengandung calon anak Tahwan . Tanashiri semakin gelap mata dan memutuskan untuk menyantet Seungnyang dengan menggunakan jasa seorang Dukun .

Sementara itu Wang Yoo dkk (atas kerjasama dengan Bayan) meminta El Temur untuk diberikan posisi Komandan Pengawal Ibukota.  Wang Yoo tiba di markas militer yang baru namun menghadapi kesulitan karena komandan sebelumnya menentang Wang Yoo .


UPDATE

  • Menambahkan Rekap Part 1 ( Mar 05 , 21 : 15 WIB)
  • Menambahkan Rekap Part 2( Mar 06 , 01 : 15 WIB)
  • Menambahkan Rekap Part 3( Mar 06 , 07 : 15 WIB)
  • Disarankan follow Twitter Bentara agar bisa mengikuti update terbaru

Rekap

Empress Ki - 35

Para dayang berlalu lalang di istana . Didalam sebuah ruangan , Tal Tal bertanya tentang perkembangan Seungnyang menghadapi santet Tanashiri . Tal Tal menemukan luka gigitan anjing gaib yang baru di leher Seungnyang.

Tal Tal menyarankan Seungnyang untuk mencari sesuatu jimat yang mungkin dikubur di sekitar kediaman Seungnyang .  Tal Tal menambahkan bahwa jimat itu mungkin papan nama kematian untuk Seungnyang . Seungnyang terperanjat.
Seungnyang berkata ini bukan kutukan yang mudah . Tal tal mengatakan telah memerintakan orang2nya .
***
Dokman memasuki tempat kediaman Seungnyang ditengah kesibukan para  dayang dalam mencari papan nama itu . Hongdan menggelengkan kepala pertanda belum ditemukan .
Seungnyang ikut mengawasi di luar tempat kediaman ketika para dayang sibuk menggali tanah untuk menemukan papan nama .
***
Malam sudah keburu tiba  . Tanashiri kembali membakar “hu” sebagai ritual kematian untuk Seungnyang.  Tanashiri mengucapkan mantera sambil merapal tangan .

Seungnyang yang tidur di samping Tahwan kembali mengalami efeknya.  Tahwan terbangun dan bingung melihat Seungnyang yang menggeliat dan berkeringat dingin . Tahwan berusaha membangunkan untuk bertanya apa yang terjadi . Seungnyang dalam tidurnya malah mencekik leher Tahwan . Seungnyang membuka mata sesaat untuk kemudian tidur lagi .
***
Keesokan hari , Tahwan memeriksa luka gigitan misterius di tangan Seungnyang.   Tahwan langsung menerka kalau itu perbuatan Tanashiri .  Tahwan tidak tahan melihat penderitaan Seungnyang.  Tahwan gusar dan hendak melabrak Tanashiri , namun Seungnyang mencegahnya karena tidak cukup bukti .
Tahwan mengeluh apa harus membiarkan Seungnyang menderita. Seungnyang menenangkan . Tahwan bertekad tidak akan memaafkan Tanashiri kali ini .
Bulhwa masuk ruangan untuk mengabarkan bahwa Tanashiri memanggil Seungnyang untuk menghadap .
Tahwan buru2 berkata agar beri jawaban tidak akan hadir karena tidak diijinkan Tahwan .  Namun Seungnyang berkata dia akan pergi menemui Tanashiri , untuk menyelidiki langsung .
***
Seungnyang menghadap Tanashiri yang sedang asik menggendong Pangeran Maha.  Yeonhwa tersenyum sinis pada Seungnyang ketika membawa Pangeran Maha keluar dari ruangan itu .
Tanashiri berlagak seolah peduli pada janin Seungnyang dan mengamati kalau wajah Seungnyang tampak sakit tidak seperti biasanya . Tanashiri bertanya apa yang sedang dikhawatirkan Seungnyang ?

Seungnyang tidak menutupi fakta dengan mengakui kalau belakangan ini sering mimpi buruk .  Tanashiri berlagak bodoh dan terkejut . Tanashiri memandang kearah Dayang Seo , dan Dayang Seo sibuk mengamati Seungnyang .
Seungnyang menyadari keanehan sikap Tanashiri dkk .  Tanashiri berkata bahwa bagi wanita hamil , tidur sangat penting . Tanashiri menawarkan obat2an untuk Seungnyang . Tanashiri maklum kalau Seungnyang curiga padanya.
Seungnyang menyindir : Memangnya anda akan mengotori tangan anda ? Kamu tidak pernah bersikap seperti ini sebelumnya.
Tanashiri : Kamu itu paranoid sekali ckckckck , menolak obat . Silahkan kamu pergi .
Seungnyang pamit dan berlalu .  Tanashiri dan Dayang Seo tampak puas karena merasa kutukan itu berhasil .
***

Malam hari pun , Seungnyang – Dokman kembali mengawasi proses pencarian papan nama yang mematikan itu , dimana para dayang dan kasim  sibuk menggali tanah .
(Red  - Jaman dulu tidak ada listrik jadi sangat masuk akal kalau adegan malam menggunakan obor untuk penerangan ) .
Dokman melaporkan bahwa pencarian belum berhasil juga dan menerka mungkin papan nama itu ada di tempat lain .  Tiba2 Bulhwa berteriak karena berhasil menemukan papan nama yang terkubur di tanah .

Dokman mengambil papan nama dari Bulhwa dan memperlihatkannya pada Seungnyang.  Dokman mengeluh kalau dia nyaris tak percaya Tanashiri bisa melakukan hal sekeji itu .
Seungnyang tampak geram dan memerintahkan Dokman untuk terus mengawasi kediaman Tanashiri untuk sementara waktu .
***
Seungnyang memperlihatkan barang bukti papan nama pada Tal Tal .  Dan Tal Tal jengkel dan menempatkan papan nama itu diatas meja dengan kasar. Seungnyang bertanya apa sudah ada perkembangan dalam melacak keberadaan Dukun itu ?
Tal Tal menerka kalau dukun itu tinggal didekat Ibukota.  Seungnyang mengingatkan kalau Tanashiri tidak boleh curiga akan penyelidikan mereka.
Tal Tal – Seungnyang melanjutkan pencarian dukun dengan menggunakan jasa berbagai dukun . Untuk sementara Seungnyang tampak tidak puas dengan kemampuan dukun2 itu .

***
Dukun Tanashiri sedang duduk sendirian diruangannya yang penuh lilin .  Tiba2 Seungnyang muncul dan memasuki ruangan . Dukun mengira Seungnyang adalah calon klien . Seungnyang memperlihatkan barang bukti papan nama kutukan itu.
Seungnyang : Ternyata kamu pelakunya.
Seungnyang memerintahkan orang2nya untuk masuk kedalam dan menggeledah sesuatu di perabotan furniture sang dukun . Mereka berhasil menemukan papan nama serupa yang masih kosong.

Dukun memperingatkan bahwa kutukan tetap tidak bisa dipatahkan . Seungnyang : Masalah itu serahkan saja padaku . Kamu tinggal mengatakan siapa yang menyuruhmu .  Dukun : Potong saja leherku jika kamu harus melakukannya.  Aku tidak akan mengatakannya.
Tal Tal sempat menodongkan senjata ke leher dukun , dan memperingatkan : Seungnyang sedang mengandung anak Kaisar . Jika kamu ingin hidup lekas katakan !!  . Dukun : Aku hanya takut pada Dewa.
Dukun ditahan dua pengawal .  Minyak bahan bakar pun dituangkan ke lantai . Seungnyang mengambil lilin dan siap membakar tempat kediaman sang Dukun .  Seungnyang tidak main2 dengan ancamannya dan melemparkan lilin menyala ke lantai yang sudah disiram minyak . Api segera berkobar.
Dukun diseret keluar . Seungnyang – Tal Tal masih diruangan ditengah api berkobar dan sempat memandang tajam kearah altar. Mereka pun berlalu .
***
Tanashiri bersiap untuk melakukan ritual kutukan . Dayang Seo berkata kalau Tanashiri terus beraksi sampai larut malam maka akan sakit. Bagi Tanashiri yang terpenting adalah kematian Seungnyang.
Tanashiri dkk mengendap2 pergi menuju tempat ritual rahasia. Diam2 Dokman dan pengawal mengetahuinya.  Dokman memerintahkan pengawal untuk memberitahu Tahwan – Seungnyang . Sedangkan Dokman sendiri memutuskan untuk membuntuti Tanashiri dkk .
Tanashiri sudah tiba di tempat ritual . Dia mulai membakar “hu” disaksikan oleh para dayang. Tanashiri dkk mulai merapal tangan sambil mengucapkan mantera. Tiba2 angin kencang berhembus masuk kedalam .
Tahwan – Seungnyang dkk menerobos masuk kedalam . Tanashiri tertangkap basah .  Tanashiri dengan gugup bertanya untuk apa Tahwan datang kesini di malam selarut ini .
Tahwan : Aku merasa malu , punya Permaisuri sepertimu , yang bisa melakukan kutukan sekeji ini kepada seorang Selir . Tanashiri bertanya apa maksud Tahwan ? . Tanashiri berkilah bahwa dia sedang berdoa untuk anaknya , Pangeran Maha.
Tahwan mengomel kalau kejahatan Tanashiri tidak pernah berakhir . Dayang Seo angkat bicara untuk membantu menjelaskan .


Tahwan menghardik Dayang Seo agar diam dan memerintahkan dayang2 Tanashiri di tangkap untuk di interogasi .  Dayang Seo – Yeonhwa dkk langsung diciduk para kasim .  Tahwan memperingatkan Tanashiri bahwa jika terbukti , Tanashiri bisa diusir dari istana . Tahwan berlalu dari ruangan .
Tinggal Seunngyang – Tanashiri berdua diruangan ini . Seungnyang memperingatkan bahwa sebuah kutukan tidak akan sanggup menyingkirkan Seungnyang.
Seungnyang berlalu meninggalkan Tanashiri sendirian . Tanashiri merasa gugup dan ketakutan .
***

Dukun - Dayang Seo  - Dayang Yeonhwa dkk duduk di kursi hukuman dan disiksa saat menjalani interogasi .  Mereka disiksa dengan cara memasang dua pasak kayu di antara dua paha mereka masing2.  Raungan kesakitan pun menggema di ruangan interogasi .
(Red – Kok hukumannya pake ala Joseon (Korea) ? . Padahal Ini khan Dinasti Yuan – Tiongkok )
Dokman memerintahkan para kasim untuk menghentikan siksaan dan kembali mengajukan pertanyaan apakah Tanashiri yang memerintahkan mereka semua ? .  Dukun tidak mau menjawab. Dokman memerintahkan siksaan dilanjutkan kembali .

***
Diluar ruangan , Wonjin tertawa melihat para sukarelawan berhamburan masuk dengan tampang gembel . Bahkan ada yang membawa kambing , ayam dan sebagainya  . Mereka menghadap Wang Yoo yang sedang berdiri dilantai dua.  Wonjin berkata pada para sukarelawan : Silahkan kalian temui Komandan baru kalian . Wonjin meledek Wang Yoo  : Semoga beruntung melatih mereka.
Wonjin  tertawa puas meninggalkan markas karena meremehkan para gembel2 tidak jelas itu .

Bahkan Jeombakyi pun pusing berada ditengah2 gembel itu . Jeombakyi berkata pada mereka : Kita membutuhkan ksatria. Para sukarelawan menagih makanan dan sebagainya dengan wajah lugu .
Diatas podium , Wang Yoo didampingi Moosong dan Kasim Bang menyaksikan kearah bawah .  Kasim Bang bertanya apakah harus menyuruh para sukarelawan pergi ? . Moosong menambahkan kalau para sukarelawan tidak cocok untuk menjadi prajurit.
Kembali dari bawah terdengar ada suara seorang sukarelawan yang menagih makanan . Jeombakyi sampai kesal dan mencengkram leher orang itu .
Wang Yoo memerintahkan agar para sukarelawan diberi makanan dulu .  Moosong memberikan aba2 agar sukarelawan berbaris untuk makan .  Bahkan aba2 sederhana kanan dan kiri pun tidak bisa dimengerti oleh mereka.
Dari sisi lain Bayan – Tal Tal memandang dengan khawatir perkembangan ini . Bayan : Pasukan elite ? . Tal Tal : Setiap rencana menjadi mundur.
***

Kemudian Wang Yoo dkk melihat para sukarelawan yang sedang makan di barak . Moosong menghardik para sukarelawan untuk tertib . Para sukarelawan tidak menganggap . Jeombakyi memaki apa mereka semua tuli ?
Wang Yoo bertanya pada beberapa sukarelawan .
Wang Yoo : Apa pekerjaan kalian sebelumnya ?
Sukarelawan 1 : Bertani dan menghindari pajak.
Sukarelawan 2 : Aku kehilangan keluarga ketika wabah . Sekarang aku menganggur.
Sukarelawan 3 : Aku berkerja disebuah rumah yang besar dan mereka menjebakku .
Sukarelawan 4 : Saudariku dijual keistana , dan sekarang aku tidak tahu harus melakukan apa.
Setelah mendengar itu , Wang Yoo memerintahkan agar para sukarelawan diberikan daging untuk dimakan . Kasim Bang tampak keberatan . Wang Yoo menegaskan kalau para sukarelawan harus diperlakukan dengan baik sebagai kaum pria.
Wang Yoo dkk berlalu dari barak . Para sukarelawan ikut senang karena merasa sedang di surga .
Wang Yoo dkk keluar meninggalkan barak . Anak buah Wang Yoo tetap keberatan dengan para sukarelawan itu . Namun Wang Yoo punya pemikiran lain bahwa setiap orang punya kesempatan untuk menjadi berguna , dan orang2 itu akan mengembalikan tahta Wang Yoo .
Part 2 ( of 3 )

Dayang Seo dan Yeonhwa kembali ke tempat Tanashiri dengan selamat.  Mereka berjalan lunglai dan sempoyongan akibat siksaan sebelumnya.  Tanashiri khawatir dan meminta mereka beristirahat  . Seo dan Yeonhwa berkata kalau mereka baik2 saja.
Tanashiri merasa lega karena mereka tidak berhianat. Dayang Seo menggerutu : Mematahkan kutukan , aku tidak pernah melihat hal ini sebelumnya.
Tanashiri meminta mereka untuk menantikan saat dimana Pangeran Maha akan menjadi Pangeran Mahkota.
Selagi Tanashiri nyerocos , seorang dayang datang dengan panik memberitahukan Pangeran Maha yang sakit keras.  Dayang itu menjelaskan kalau sakitnya baru tadi pagi . Dayang itu langsung menyerahkan Maha pada Tanashiri .
Tanashiri menggendong Maha yang terus menangis dengan wajah khawatir , dan memerintahkan para dayang untuk memanggil tabib istana.

Tak lama Tabib Istana memeriksa kondisi Pangeran Maha , dan menyimpulkan penyakit cacar . Tanashiri bertanya bagaimana cara mengatasi cacar . Tabib Istana menjelaskan bahwa penyakit itu tidak ada obatnya (pada jaman itu) .
Tanashiri meminta Yeonhwa untuk memanggil Kaisar. Yeonhwa segera berlalu . Tanashiri meratapi penyakit anaknya ini .
***

Tahwan mengunjungi Seungnyang yang sedang sibuk mengerjakan pembukuan Istana.  Seungnyang mengatakan bahwa kondisi finansial istana dalam beberapa hari terakhir semakin membaik , dan memungkinkan untuk mengirim dana pada Bayan untuk memperkuat pasukan .

Sebaliknya didalam , Tahwan mengomel kenapa Tanashiri benar2 bermuka tebal , dan ingin pergi keluar . Seungnyang mencegah : Yang Mulia lebih baik tidak keluar , biarkan hamba yang akan pergi dan mengatasi hal ini .

Seungnyang pergi keluar untuk menghadapi Tanashiri . Suasana menjadi tegang dan para kasim – dayang menyingkir . Hanya Dayang Seo dan Yeonhwa yang menguping .
Tanashiri mengomel tentang Tahwan menjadi ayah yang tidak bertanggungjawab pada anaknya sendiri yang sedang sakit . Seungnyang menuding balik bahwa sakitnya Pangeran Maha mungkin karena salah Tanashiri sendiri , bukan kesalahan Tahwan .
Tanashiri : Apa maksudmu ? . Seungnyang : Siapa yang mencoba mengutukku ?. Tanashiri : Jaga mulutmu !! . Seungnyang : Dukun mengatakan padaku . Jika aku mematahkan kutukanmu , maka kutukan itu akan berbalik padamu dan keluargamu juga.

Tanashiri terdiam ,  terpengaruh perkataan Seungnyang dan jadi teringat perkataan Dukun bahwa kutukan bisa berbalik .
***

Tanashiri berlalu didampingi Seo & Yeonhwa. Mereka kembali menenangkan Tanashiri yang terpukul menyadari kutukan itu mungkin membuat Maha sakit.  Tanashiri bergumam panik bahwa dia harus menyelamatkan nyawa Pangeran Maha.
Namun Seo berpendapat bahwa hal itu mustahil secara Maha sebenarnya bukan anak kandung Tanashiri . Tanashiri bersikeras bahwa Maha adalah anaknya , dan Tanashiri mengancam akan menghukum mati jika berani berkata sebaliknya.  Dayang Seo dan Yeonhwa meminta maaf. Tanashiri kembali bergumam kalau anaknya harus tetap hidup.

Tanashiri memutuskan untuk bersembahyang pada Buddha dengan ritual berdiri sambil merendam kakinya di baskom air dingin .  Dayang Seo mengeluh kalau Tanashiri bisa sakit . Tanashiri berkata kalau hanya ini satu2nya cara untuk mematahkan kutukan yang berbalik . Tanashiri bahkan bersedia menukar tubuhnya sendiri untuk keselamatan Maha.
Yeonhwa membantu mengguyur air dingin ke kepala Tanashiri . Dan Tanashiri terus bersembahyang sambil menderita karena menahan dingin .
Tanashiri berdoa : Buddha yang pengasih , selamatkan Maha. Ambil nyawaku jika memang harus.  Tetapi mohon ampuni nyawa anakku .
***
Pemandangan yang janggal ketika El Temur di malam yang sepi memasuki Ruang Tahta  dengan memegang pedang.  El Temur menutup pintu dan memanggil2 / mencari2 Tahwan .  Tetapi yang muncul malah El Temur sendiri yang mati menggantung diri .


El Temur melangkah mundur ketakutan . Mendadak Tahwan muncul dari kegelapan dengan wajah licik dan menyeramkan . Tahwan mengejek kenapa El Temur yang banyak membunuh orang tetapi ketakutan melihat mayat.
El Temur : Apa yang terjadi ? . Tahwan : Jangan katakan padaku kalau anda tidak bisa melihat . Anda telah mati , aku sebagai Kaisar telah menghukum mati dirimu .  El Temur : Huizong (Tahwan) Kamu sungguh berani ? .
Tahwan : Kamu telah menjadi roh . Aku menggantung mayatmu di depan umum sehingga orang2 bisa melihat akhirmu yang tragis.
El Temur : Apa ? .
Tahwan : Pertama memutilasi tubuhmu , dan memotong kepalamu , dan dagingmu akan diserahkan pada burung gagak .  El Temur : Itu bukan aku . Kamu pikir kamu punya kemampuan untuk membunuhku ? . Tahwan : Setiap orang akan mati . Aku juga akan membunuh anak2mu , Dangkise , Tapjahae , Tanashiri , dan kalau perlu Maha juga . Aku akan membunuh mereka semuaaaaa !!!!!!!!!!!


El Temur menghardik Tahwan agar diam , dan mulai mengayunkan pedangnya .
Beralih ke dunia nyata , dimana El Temur menggila dan mengayun2kan pedangnya didepan Dangkise dan Tapjahae.
Dangkise : Ini aku , anakmu .  El Temur : Aku akan membunuhmu (Tahwan) seperti aku membunuh ayahmu
El Temur kehilangan kewarasannya dan mengayunkan pedang kembali kearah dua anaknya.
Dangkise berteriak : Ini aku , anakmu . !!! . Tapjahae : Apa yang terjadi ayah ? .
El Temur tersadar dan duduk diranjang kembali mengatakan kalau baru saja mengalami mimpi yang sangat buruk  . Namun tak lama kemudian El Temur kumat dan mempertanyakan kenapa mereka membawa pedang kedalam kamar , apakah hendak membunuh ayahnya sendiri ? dan hendak merebut kekuasaan ?
Dangkise : Sadarlah ayah !! . El Temur : Aku akan membunuh kalian semua !!!
El Temur menggila kembali dan berteriak sambil mengayunkan pedang . Belum sempat pedang itu diayunkan lebih jauh , El Temur semaput dalam keadaan mata mendelik . Dangkise – Tapjahae berusaha keras menyadarkan ayahnya.
***

Ironisnya . Tanashiri masih melakukan ritual air dingin didepan patung Buddha.  Dan ritual itu terbukti manjur karena seorang dayang mengabarkan kalau Pangeran Maha sudah sembuh .
Tanashiri dkk menjadi senang. Tanashiri keluar dari baskom air.  Dayang Seo dkk berlutut .
Dayang Seo berkata kalau pengorbanan Tanashiri telah berhasil menyelamatkan Maha.  Tanashiri merasa lega dan kembali sembahyang pada Buddha.
***

Moosong mengumumkan bahwa latihan militer segera dimulai . Setiap orang yang lolos latihan mendapatkan pakaian militer dan gaji resmi sebagai tentara , tetapi jika berhenti ditengah jalan maka akan didemosi menjadi budak di perbatasan . Mereka mulai memprotes persyaratan yang berat ini . Jeombakyi menghardik agar mereka diam .
Wang Yoo mengumumkan : Ada sembilan bukit disekitar sini . Kita akan melaluinya satu setiap hari .   , dan jika tersesat harus mengulang dari awal .  Kalian telah dianggap sebagai bukan manusia sebelumnya . Sekarang terserah pada kalian . Apa kalian mau jadi ksatria atau cacing. ?
Jeombakyi menambahkan bahwa desersi bisa dihukum mati .  Para sukarelawan mulai mengeluh dan meratapi penyesalan telah terlanjur bergabung.
Wang Yoo , Moosong , Jeombakyi memimpin para anggota dengan ikut berlari . Wang Yoo terus berlari dan berlari seolah tidak merasakan lelah , sementara para anggota jatuh bangun .
Malampun tiba . Para sukarelawan duduk beristirahat sambil menikmati makanan seadanya dibawah pengawasan Wang Yoo dkk .   Moosong datang dan melaporkan ada 12 orang yang tersesat . Wang Yoo memerintahkan agar besok latihan diulang lagi .  Para sukarelawan jadi kesal terhadap rekan2nya yang gagal itu .
Hari berganti dan latihan berlari dimulai kembali . Tetap saja masih ada anggota yang jatuh saat berlari .  Wang Yoo menarik simpati dengan menolong anggota itu .

Malam hari , mereka beristirahat disertai api unggun .
Wang Yoo merasakan kakinya terluka akibat berlari . Bang – Moosong – Jeombakyi mendesak agar Wang Yoo beristirahat saja.
Namun Wang Yoo berkata : Aku juga tersesat (gagal) dan kehilangan tahtaku sendiri . Aku tidak ada bedanya dengan mereka semua.
kalau dirinya sama dengan para calon tentara itu , sama2 tersesat pecundang , sebagaimana Wang Yoo gagal melindungi tahtanya di Goryeo . Aku tidak bisa menyerah . Kita tidak akan kehilangan satupun dari mereka.  Kita akan melakukannya bersama , hidup ataupun mati .
Beberapa anggota yang belum tertidur mendengar sekilas perkataan Wang Yoo dan ikut tersentuh dengan kesungguhan Wang Yoo .
Part 3 (of 3)

Keesokan harinya , latihan terus berlanjut . Kali ini para sukarelawan semakin membaik dan mampu berkerjasama membantu rekan2 mereka yang jatuh .
Wang Yoo menunggu semua anggota berkumpul lengkap . Namun ada dua anggota yang belum kembali .  Tak lama kemudian  dua orang kembali dimana seorang memapah rekannya yang lain . Wang Yoo dkk lega karena hal ini menunjukkan rasa kepedulian terhadap rekan .
Wang Yoo mengumumkan bahwa latihan dasar telah selesai dan sukses . Hal ini disambut gembira oleh seluruh anggota.
Latihan berikutnya adalah menjadikan tongkat sebagai senjata , dan para anggota mulai melatih jurus bela diri dibawah bimbingan Moosong.
Wonjin diam2 memantau dan masih tersenyum mengejek , menganggap “pasukan buangan” itu tidak berguna.
Latihan berikutnya adalah memanah . Hasilnya tidak menggembirakan karena para anggota tidak becus memegang busur panah .
***

Seungnyang berjuang untuk melahirkan bayi didampingi para dayang termasuk Hongdan .
Tahwan dkk menunggu dengan gelisah diluar ruangan .  Tahwan mengeluh pada Ibu Suri kenapa prosesnya lama sekali . Ibu Suri tersenyum menenangkan Tahwan bahwa melahirkan bayi itu memang begitu ,  penuh dengan kesakitan .
Tiba2 terdengar suara tangisan bayi . Seungnyang berhasil melahirkan . Ibu Suri tersenyum mendengar hal itu dari luar. Tahwan juga menjadi lega.
***
Sementara itu Tanashiri memohon pada Buddha agar anak Seungnyang bukan anak lelaki atau kalau perlu lahir dan mati  .
Tak lama Dayang Seo melaporkan kabar buruk bahwa Seungnyang melahirkan anak lelaki . Tanashiri langsung lemas mendengar kabar itu .
(Red – Wanita seperti apa yang berdoa untuk nasib buruk orang lain ? Dalam hal ini Tanashiri sudah kalah sebelum bertanding .  )
***


Disaksikan Ibu Suri , Tahwan dan Bulhwa  -- Hongdan menyodorkan bayi pada Seungnyang yang beristirahat di ranjang.  Seungnyang melihat bayinya untuk pertama kali . Ibu Suri memuji kalau bayi itu mirip Seungnyang  . Tahwan mengucapkan terimakasih pada Seungnyang yang telah melahirkan dengan selamat.
Seungnyang bertanya pada Tahwan apakah sudah memberi nama untuk bayi ini ? . Tahwan menjelaskan kalau walinya (Ibu Suri) telah memberikan nama Ayushiridara. Seungnyang mengulang nama bayinya , dan mengamati bayinya yang tampan ini .
Semua tersenyum menyaksikan momen berbahagia ini .
***
Wang Yoo mengamati latihan para sukarelawan yang mulai mengalami kemajuan . Kasim Bang menghampiri Wang Yoo .
Wang Yoo berkomentar bahwa dia telah melihat sosok ksatria pada para sukarelawan . Kasim Bang dengan ragu2 mengabarkan kalau Seungnyang sudah melahirkan bayi lelaki .  Raut wajah Wang Yoo tampak berubah mendengar hal ini .
Sementara itu Jeombakyi – Moosong berduet untuk sparring melawan beberapa anggota calon tentara sekaligus. Jeombakyi memperingatkan agar bertarung sungguh2 . Mereka pun mulai sparring sungguhan walaupun dengan tongkat kayu .
Wang Yoo mengamati latihan itu dengan melamunkan perkataan Seungnyang .
Sebuah kilas balik . Seungnyang mengatakan agar Wang Yoo melupakan Seungnyang.


Hari demi hari latihan militer semakin memperlihatkan kemajuan . Kini para sukarelawan telah mengenakan seragam militer. Kemampuan mereka meningkat drastis.
Wang Yoo dkk tampak puas dengan hal itu . Bahkan saat diberi aba2 , pasukan yang sedang berlatih langsung berbaris dengan tertib untuk memberikan salute pada Wang Yoo . Kasim Bang tersenyum melihat hal ini .
***
El Temur masih belum sembuh dari paranoidnya dan terus memegang pedang seakan bantal – guling . Dangkise masuk ruangan dan bertanya untuk apa El Temur memanggilnya ?
El Temur menatap Dangkise dengan waswas , meminta Dangkise untuk mendekat.  El Temur bercerita bahwa dia mimpi kalau Byeongsoo mencuri uangnya di tempat rahasia .  Dangkise bersabar menjelaskan kalau Byeongsoo hanya ditempatkan disana , dan tidak mungkin tahu rahasia yang hanya diketahui oleh El Temur sendiri .
El Temur menghardik : Penglihatanku tidak pernah salah . Byeongsoo akan menghianati kita.  Dangkise : Serahkan saja padaku . Katakan padaku dimana harta ayah tersimpan ? . El Temur : Agar kamu bisa mencurinya ? .
Dangkise hampir menangis dicurigai ayahnya seperti ini . El Temur bangkit dan menodongkan pedang ke leher Dangkise.
Dangkise menangis melihat ayahnya yang sudah seperti orang gila. El Temur menuduh Dangkise hendak mencuri harta rahasianya.  Dangkise memohon agar El Temur sadar.  El Temur menuduh  :  Kamu erklompot dengan Byeongsoo untuk mencuri harta ? Sepertinya tidak , kamu harus menemukan harta itu baru kau membunuhku .
Dangkise memegang ujung pedang hingga berdarah dan mempersilahkan ayahnya untuk membunuhnya, karena sudah tidak tahan melihat ayahnya seperti ini . Dangkise memejamkan mata dengan pasrah .


Melihat hal ini , El Temur kembali sadar. El Temur terengah2 dan menjatuhkan pedangnya , kemudian memeluk Dangkise.
El Temur meminta Dangkise keluar .
El Temur bertanya2 dengan sedih apakah memang dihantui atau memang sudah lemah karena usia ?
***


Tahwan menggendong bayinya dihadapan Seungnyang . Tahwan berkomentar kalau mata bayi itu mirip Seungnyang ,s edangkan hidung dan mulut mirip Tahwan.
Keasikan Tahwan terganggu ketika Golta mengabarkan bahwa para Gubernur sudah tiba untuk menghadiri acara ultah Pangeran Maha.
Tahwan tentu saja malas untuk hadir , tetapi Seungnyang mendesak Tahwan untuk hadir secara para Gubernur juga hadir.
***


Tanashiri dkk keluar sambil membawa Bayi . Mereka berpapasan dengan Wang Yoo dkk yang juga akan hadir dalam acara ultah .
Tanashiri mengucapkan terimakasih atas kehadiran Wang Yoo dalam acara Maha .
Wang Yoo menatap Pangeran Maha yang sudah tumbuh besar , dan sedang di gendong Dangkise. Wang Yoo memuji ketampanan Pangeran Maha. (Entah Wang Yoo punya firasat sebagai ayah kandung ? ) . Dangkise tersenyum sebagai paman yang bangga , dan berkata kalau keponakannya akan memerintah negara suatu hari nanti .
Dokman muncul membawa para biarawati untuk mendoakan Pangeran Maha. Diantara salah satu biarawati itu ada yang wajahnya cacat karena luka bakar. Dayang Seo merasa mengenali biarawati itu dan terus memperhatikannya.

Sebuah kilas balik . Dayang Seo menjamu tiga biarawati sebelum melaksanakan rencana jahat Tanashiri untuk meracuni dan membakar biara.
***
Diruang tahta , Tahwan – Tanashiri duduk di tahta . Wajah Tahwan tampak tidak antusias. Para Gubernur mengucapkan selamat atas ultah Pangeran Maha. Tanashiri memohon Tahwan untuk mengucapkan sepatah kata untuk Maha.  Dangkise ikut memohon . Dan Ibu Suri juga mengingatkan kalau para Gubernur sedang menanti perkataan Tahwan.



Disarankan follow Twitter Bentara agar bisa mengikuti update terbaru

0 comments:

Post a Comment