Tuesday, September 9, 2014

Sinopsis : Inspiring Generation – Episode 04

Standard

Shinichi (Jo Dong-Hyeok) mengancam Jeongtae (Kwak Dong-Yeon) dengan pedang , bahkan melukai dada Jeongtae dengan satu tusukan dangkal . Jeongtae berharap agar Shinichi melepaskan Deguchi Gaya. Shinici dengan dingin berkata agar perkataan Jeongtae menjadi kenyataan , tetapi  Shinichi tentu saja tidak akan mengganggu Gaya.

Rekap

(Episode 4 )
Pada saat hendak menghabisi Jeongtae , Gaya (Joo Da-yeong) muncul dan mencegahnya. Shinichi bersikeras hendak menghabisi Jeongtae karena sudah melihat wajahnya.  Gaya berkata bahwa dia akan membunuh Jeongtae sendiri , dengan metode paling kejam.
Jeongtae hanya pasrah ketika Gaya berkata agar Jeongtae tetap hidup dan menunggu Gaya membunuhnya nanti.  Jeongtae pingsan karena terluka parah.
Sementara itu ayah Jeongtae , Shin Yeongchool (Choi Jae-Seong) berlari kesana kemari mencari sang pembunuh yang sebenarnya , tetapi malah berpapasan dengan Peramal Senior.
Peramal meminta Sin untuk mengikutinya. Sin dengan wajah cemas berkata bahwa dia masih ada urusan dengan masalah Jeongtae. Namun akhirnya Sin mengikuti sang Peramal.
***

Deguchi Gaya melepas kepergian ayahnya untuk selamanya di pinggir sungai di dampingi Shinichi.  Gaya menyebar abu jenasah ayahnya , dan melihat foto keluarga (ibu dan ayahnya) dan membaca surat pesan dari mendiang ayahnya bahwa jangan mempercayai siapapun yang mengenakan setengah bagian dari kalung yang juga dikenakan oleh Gaya saat ini , orang tersebutlah yang membunuh ibunya dan Gaya juga akan terbunuh.
Gaya meremas surat itu dan memasukkannya kedalam kantong. Shinichi berkata bahwa mereka harus pergi. Gaya berdiri dan berbalik menatap Shinichi sambil bertanya apakah Shinichi tahu kaitan ibunya Gaya dalam kasus ini ?
Shinichi berkata bahwa dia tidak bisa mengatakannya dan silahkan Gaya mencari tahu sendiri.
Deguchi Gaya menuntut diberitahu siapa yang membunuh ibunya ?  Shinichi kembali berkata bahwa dia tidak bisa mengatakannya.  Gaya bertanya lagi kenapa ayah Jeongtae membunuh ayahnya ?  Siapakah aku yang sebenarnya ?

Gaya menegaskan kalau Shinichi tidak bisa menutupi kebenaran terus menerus. Gaya mengambil pisau dan mengancam untuk bunuh diri. Shinichi secepat kilat mencegahnya.
Gaya berkata kalau Shinichi telah menyelamatkannya setiap hari , padahal selama Gaya masih bernafas maka Gaya akan terus memikirkan kematian.
Gaya berkata akan mengikuti Shinichi dan berbuat yang terbaik , dengan syarat Shinichi harus menjawab pertanyaannya.
Namun apapun yang dikatakan Gaya , Shinichi berkata bahwa dia tidak bisa memberitahu apapun tentang apa yang ingin diketahui Gaya.  Shinichi berjanji satu hal bahwa sebelum Shinichi mati , Gaya tidak boleh mati duluan.
***
Seorang wanita berpakaian kimono Jepang mulai mendandani Deguchi Gaya sehingga terlihat cantik dan berkelas.  Shinichi memperhatikan diam2 dari balik pintu dan teringat sesuatu.
Sebuah kilas balik seorang anak kecil (Shinichi masa kecil ?) memperhatikan diam2 dari balik pintu. Seorang wanita bangsawan Jepang bernama Ryoko ada di dalam ruangan memanggilnya masuk . Anak lelaki itu masuk dan berlutut dengan segan . Wanita berkimono itu menegurnya kalau seorang lelaki sejati tidak akan mencuri pandang seperti itu.  Wanita bertanya apakah anak lelaki itu siap melakukan sesuatu. Anak lelaki itu menegaskan akan melindungi Ryoko untuk selamanya. Ryoko tersenyum dan mengatakan bahwa ditempat itu tidak ada seorangpun yang melindungi Ryoko selain bocah itu.

Shinichi masih memandang Deguchi Gaya dengan mata berkaca2 , sampai Gaya menyadarinya. Shinichi berlalu.
Gaya melihat cermin dan seperti terkagum melihat perubahan penampilannya.

***
Shinichi memasuki satu ruangan lain dimana Do-Ggoo (Eom Tae-Goo) berlutut seperti seekor anjing yang menyambut majikannya.  Shinici berkata bahwa secara Do-Ggoo memutuskan untuk menemui Shinichi , berarti Do-Ggo sudah membuat satu keputusan , dan cara berlutut seperti itu (anjing) menandakan kepatuhan , apakah betul ?

Do-Ggoo memutar diri seperti seekor anjing menghadap Shinichi yang sedang menatap ke arah luar jendela. Do-Ggoo mengatakan bahwa dia ingin "menyingkirkan" faksi Dobinori tetapi big-boss kelompok Dong Hwa-Ung melarangnya.
Shinichi tersenyum dan mengatakan kalau di tempat dia tumbuh besar , sikap seperti itu bisa dianggap sebagai pengecut , dan pada akhirnya orang menjadi begitu takut.  Seorang dibesarkan sejak kanak2 , dan ketika sang majikan mabuk sesekali akan memukuli , dan kamu tidak bisa menggigit balik dia. Orang pengecut mati kembali tiga kali , orang pemberani hanya mati sekali dalam hidupnya.  Jikapun mati terlahir kembali tiga kali , dan hidup sama seperti di neraka.  Namun jika kamu berani mengambil resiko , maka hidupmu akan mendapat perubahan besar .
Usai berpanjang lebar , Shinichi berkata akan menanyakan soal hal ini pada Do-Ggoo di kemudian hari.  Do-Ggoo menjawab dengan serius bahwa dia kini mengerti , bahwa tidak memikirkan hidup dan mati , untuk mengikuti majikan.
Do-Ggoo berlalu dari ruangan , melangkah dengan gontai dan bergumam sendiri , seperti menyesal : " Jangan katakan mati , seratus kali kembali .  Pendiri filsafat besar  Tiongkok seperti Laozi yang mendirikan Taoisme pernah berkata bahwa semua orang tidak mau mati.  Dan tahukah anda bahwa Laozi adalah pendiri filsafat alam. "
Do-Ggoo menatap balik ke arah ruangan yang baru ditinggalkan , memandang tajam sambil tersenyum licik , sebelum benar2 berlalu.
***
Okryeon (Ji Woo) berpapasan dengan Deguchi Gaya yang baru keluar gedung hotel bersama Shinichi. Okryeon melihat penampilan Deguchi Gaya yang baru , namun Gaya tidak melihat Okryeon. Gaya langsung masuk mobil bersama Shinichi.
***
Jeongtae masih merenung seorang diri ketika Okryeon menemuinya.  Okryeon langsung menegur kenapa Jeongtae tidak menjelaskan kesalahpahaman yang sedang terjadi , atau memang tidak tulus untuk menyukai ?
Jeongtae berkata bahwa mungkin setiap kali dia merasa lelah , dan kehabisan tenaga , baru memikirkan Okryeon . Jeongtae minta maaf sebelum berlalu.


Okryeon berkata apakah Jeongtae seperti itu karena gadis itu , Okryeon mengaku telah melihat Deguchi Gaya.  Mendengar hal itu Jeongtae berlari kencang menuju stasiun.
***
Sementara itu di stasiun , Shinichi sibuk memberikan pengarahan pada anak buahnya . Setelah itu Shinichi mengajak Gaya untuk pergi.  Sebelum melangkah jauh , Deguchi Gaya meminta anak buah Shinichi untuk membantunya , membakar bekas rumahnya hingga tak tersisa.  Anak buah mematuhi.
Pada saat itu Jeongtae sudah tiba dan menyerukan nama Gaya.  Deguchi Gaya menatap tanpa ekspresi.  Shinichi yang jengkel melihat kekeraskepalaan Jeongtae , hendak mengambil pedang samurai dari salah satu anak buahnya , namun Gaya mencegah Shinichi , dan Gaya berkilah pernah mengatakan sebelumnya tentang masalah ini Gaya ingin menyelesaikannya sendiri.
Sebagai gantinya, Gaya dengan ekspresi dingin , mengambil pedang itu dan berjalan menghampiri Jeongtae.  Gaya mulai menebaskan pedang itu , Jeongtae menanti pasrah.  Pedang itu terdiam di udara dan berkata dengan emosi bahwa dia akan membunuh Jeongtae.



Jeongtae berkata : " Percayalah padaku . Ayahku telah berjanji padaku ingin menangkap pelaku yang sebenarnya. Walaupun aku sangat membenci ayahku . Tetapi aku kali ini mempercayai ayahku."
"Dan jika tidak ? "
"Maka biarkan aku pergi dan menemukan pembunuh ayahmu ! Apapun rintangan yang harus dilalui , aku akan membawa pembunuh itu ke hadapanmu ! Percayalah padaku.  "
"Bawalah pembunuh itu padaku ,maka aku baru akan mempercayaimu ! " kata Deguchi Gaya sebelum berlalu dan mengampuni Jeongtae untuk sementara.
Gaya berbalik untuk pergi , dan Jeongtae terus menyerukan nama Gaya . Gaya walaupun tampak terpengaruh tetapi tetap pergi juga memasuki kereta api.  Jeongtae mencoba berlali mengejar jendela kereta di mana Gaya duduk .  Namun Gaya tidak melirik sedikitpun.
***
Cheong'ah menatap baju  yang di pajang penjual.  Dia akhirnya membelinya dan berjalan pulang. Dalam perjalanan buah2an yang dibawanya terjatuh . Namun buah2an itu  di pungut satu persatu oleh Do-Ggoo.


Do-Ggoo yang jahat ini anehnya terlihat bersimpati pada Cheong'ah . Bahkan Do-Ggoo membantu Cheong'ah pulang kerumah dan juga membantu pekerjaan dapur.  Jeongtae melihat hal itu terkejut dan langsung melabrak Do-Ggoo dan menyeretnya keluar.
Do-Gggo dengan gelagapan berusaha menjelaskan , namun Jeongtae sudah terlanjur tidak mempercayai Do-Ggoo . Jeongtae menghardik : " Apakah dengan menyiksaku masih belum cukup , kamu ingin melakukan apa pada Cheong'ah ? "

Jeongtae mulai memukul dengan kalap sebelum Cheong'ah muncul keluar dan menghardik kakaknya . " Kakak yang jahat , kenapa harus memukuli orang yang tidak bersalah ? Hentikan !!!"
Jeongtae menurut , dan Cheong'ah menjelaskan kalau paman itu (Do-Ggoo) telah membantunya.
PART II

Setelah itu Do-Ggoo merawat lukanya di pinggir selokan. Jeongtae muncul dengan rasa malu karena salah sangka. Do-Goo mengeluh kenapa Jeongtae selalu ingin memukul saat bertemu.  Jeongtae meminta maaf.
Do-Gggoo berkata bahwa adiknya Jeongtae telah tumbuh sebagai remaja yang cantik , sayangnya mengalami sakit yang parah. Jeongtae meminta Do-Ggoo untuk tidak ikut campur apa yang bukan urusannya. Do-Ggoo menawarkan kalau Jeongtae butuh bantuan biaya medis bisa menghubunginya nanti.  Do-Ggoo tersenyum dan berlalu.
***
Malam harinya , Jeongtae berada diluar pintu kamar Cheong'ah dan meminta maaf atas insiden tadi siang , dan punya alasan tersendiri untuk itu.
Cheong'ah menjawab dari dalam kamar bahwa Jeongtae berbuat seperti (sering berkelahi) itu demi Cheong'ah , demi biaya medisnya juga.  Jeongtae berkata bahwa itu bukan seperti yang Cheong'ah pikirkan , profesi tukang becak (rickshaw) memang terkadang sering mengalami konflik dan berharap Cheong'ah tidak khawatir karenanya.
Cheong'ah berharap agar dia idiot dan bisa percaya apapun yang dikatakan Jeongtae.  Dia mengira Jeongtae sudah berubah dan sampai tidak teringat kapan terakhir Jeongtae tersenyum , dan itu karena sakitnya Cheong'ah . Cheong'ah bertanya2 bagaimana seandainya kalau dia mati saja. Jeoktae panik dan meminta adiknya tidak berpikir bodoh.  Jeongtae merenung di luar kamar adiknya , namun tersadar ada dompet seseorang yang ketinggalan di halaman rumah.
***
Shinichi dan Gaya sedang bersama.  Shinichi berkata : " Kamu telah merasakan kehidupan seperti neraka sebelumnya , tetapi tempat ini (Gedung Kongress di Osaka- Jepang ) jauh lebih mengerikan lagi."
Sementara itu Ahka , dengan sebelah mata palsunya sedang melatih seseorang (bernama Aoki)  bermain pedang. Shinichi yang ada disekitar menjelaskan pada Gaya mengenai proses perekruitan yang juga seperti pertaruhan hidup dan mati.
Terlihat Ahka unggul secara teknis , tetapi Aoki dalam satu kesempatan melemparkan pedangnya dan berhasil di elakkan oleh Ahka. Dan secepat kilat Aoki itu bergulingan untuk meraih pedangnya yang tertancap di tanah didekat Ahka.
Ahka hendak menyerang , namun trainee itu lebih cepat lagi dan berhasil melukai sedikit pinggang Ahka.  Latihan mereka usai , dan Ahka mengingatkan bahwa hal ini tidak akan terjadi lagi di masa depan. Ahka terlihat tidak mengalami sakit sedikitpun.

Dari kejauhan Gaya memandang ngeri Ahka yang sedang berjalan ke arah mereka. Ahka yang merasa sedang dilihat , balas melihat dengan tatapan mata yang dingin dan menyeramkan , membuat Deguchi Gaya sedikit segan dan menunduk.  Deguchi Gaya belum sadar bahwa Ahka inilah yang membunuh ayahnya Gaya.
Ahka berlalu , dan Shinichi memberikan penjelasan bahwa dua minggu lagi Deguchi Gaya akan berlatih tanding dengan Ahka. ada 30 orang trainee yang akan berlatih bersama Ahka.
***

Gaya jatuh bangun menghadapi latihan keras Shinichi .
Jeongtae di tempat lain mendapat petunjuk dari Poongcha untuk meningkatkan keamanan gapaian tangan saat melakukan lompatan maut di kereta api nanti. Poongcha menunjuk denah tampak samping kereta apai yang mendekati ukuran asli yang terpampang di tembok besar.  Bongsik juga memberikan petunjuk yang sama baik dengan denah maupun survey lapangan.


Deguchi perlahan tapi pasti mulai mengalami kemajuan dalam latihan. Bahkan dalam satu kesempatan , Deguchi Gaya berhasil melukai Shinichi.
***
Deguchi Gaya sedang mandi berendam di kolam hangat ketika seorang pria (Aoki?) muncul (Trainee yang baru berlatih bersama Ahka sebelumnya).  Gaya merasa tidak sopan kalau seorang pria masuk ketika seorang wanita sedang mandi , dan mengusir pria itu keluar.


Pria itu menenangkan bahwa mereka berdua bernasib sama  , sebagai anjing setia dan setajam pedang . Gaya bertanya apa maksud perkataannya.  Pria itu tersenyum dan berkata kalau Gaya nanti juga akan tahu apa maksudnya.  Pria itu mengingatkan Gaya agar waspad , dan Ahka tidak punya kesabaran dibanding harapan mereka.  Gaya bertanya kenapa pria itu mengatakan semua ini padanya. Pria itu mengatakan bahwa tadi sudah dikatakan bahwa mereka bernasib sama.  Pria itu berlalu .
***
Jeongtae terbangun dan meninggalkan Cheong'ah yang sedang tertidur. Begitu Jeongtae berlalu , Cheong'ah membuka mata .  Jeongtae menyiapkan barang-barang dan mempersiapkan diri untuk melakukan lompatan maut nanti.
Jeongtae briefing dengan Bongsik dkk . Bongsik menyerahkan sarung tangan istimewa untuk Jeongtae dan berharap keselamatannya saat menjalankan misi.
Cheong'ah di rumah sedang memberesi pakaian dan menyertakan surat diatasnya.
***

Gaya berlatih kembali . Kali ini dengan Ahka , disaksikan Shinichi .  Gaya terlihat lebih percaya diri kali ini .  Ahka bertanya apakah Gaya akan menyerah . Gaya menjawab tidak.
***
Jeongtae , Jjang-Ttol dan satu rekannya yang lain telah tiba di perbatasan Manchuria Tiongkok dan Korea. Jeongtae dan Jjang-Ttol sempat bercanda menjelang misi berbahaya ini.
Jeongtae pamit pada mereka berdua lalu berlalu dengan sikap penuh percaya diri. Jeongtae memulai persiapan dengan cermat sambil menunggu kedatangan kereta api.  Sementara itu rekan mereka mencandai Jjang-Ttol bahwa dia sengaja datang untuk mengambil mayat.  Jjang-Ttol langsung menjitak kepala rekannya.

Jeongtae berlari sekuat tenaga bersamaan dengan kereta untuk menunggu momentum yang tepat untuk melompat. Dalam satu kesempatan Jeongtae berhasil menangkap pegangan gerbong kereta dan bertahan dari hembusan angin kencang dan rerumputan liar di sekitar.
Part III



Jeongtae berusaha membuka kunci gerbong dan akhirnya berhasil. Hembusan angin kencang sempat membuang barang2 yang didekat pintu keluar. Jeongtae berhasil masuk dan merasakan sensasi yang lega karena lolos dari maut.
***
Gaya masih berlatih dengan keras melawan Ahka.  Bukannya Gaya yang gelisah , melainkan Ahka yang mengeluarkan keringat dingin.  Dalam satu momentum yang tegang ,  Gaya tiba-tiba melemparkan dua pisau ke arah Ahka. Satu pisau berhasil di tangkis , dan satu pisau lagi mendarat di perut Ahka.


Ahka masih berdiri dan mencabut pisau itu. Setelah itu Ahka berkata enam bulan lagi mereka akan bertemu.  Ahka berlalu , dan Deguchi Gaya malah semaput ambruk ke tanah.
***
Di gerbong barang kereta , Jeongtae bersiap untuk melompat lagi.  Jeongtae memilih melompat di tanah yang tidak bersemak. Jeongtae mendarat dan kesakitan. Namun Jeongtae selamat.
Tiba2 dua orang sepasang pria wanita setengah baya berpakaian seperti rakyat jelata datang menghampiri . Mereka berkata untung saja mereka ada disini dan bisa membantu Jeongtae.


Namun tiba2 si pria menusuk Jeongtae dua kali hingga terkapar , dan si wanita merampas barang2 yang dibawa Jeongtae.  Jeongtae hanya bisa terkapar dengan luka parah ditinggal begitu saja oleh mereka.
***


Cheong'ah menatap alam dari ketinggian tebing , seakan untuk yang terakhir kalinya . Dia seperti akan melompat untuk bunuh diri. Dia melepas sepatunya .........dan mulai melangkah .
***
Jjang-Ttool menulis sesuatu di pasir : " Jeongtae keren." Ttol bangkit saat mendengar kereta api tiba dan tidak ada tanda kemunculan Jeongtae.  Jjang-Ttol menendang pasir karena kesal mengira Jeongtae tidak selamat.
Jjang Ttol pulang ke rumah Jeongtae dan berpapasan dengan Okryeon yang akan menemui Cheong'ah . Okryeon bertanya kemana Jeongtae. Ttol berdusta bahwa Jeongtae sedang sibuk dan tidak melihatnya selama beberapa hari terakhir.
Mereka masuk dalam sambil memanggil Cheong'ah , tetapi tak kunjung muncul. Okryeon masuk kedalam rumah dan membaca surat yang ditinggalkan Cheong'ah. Okryeon langsung menangis dan menuduh Ttol telah berdusta tentang Jeongtae barusan.
Okryeon mencari Cheong'ah kesana kemari namun tidak ketemu.  Demikian juga dengan Ttol dan seorang pelayan . Pelayan itu melapor pada pelayan gisaeng , bahwa Cheong'ah menghilang.

Ibunya Okryeon , Sungdeok mendengar hal itu dan ikut prihatin. Sungdeok memerintahkan anak buahnya untuk menutup rumah gisaeng pada hari ini , agar semua orang bisa mencari Cheong'ah.
***
Jeongtae masih terkapar dengan luka parah akibat dua tusukan.  Dua orang pria berdiri didekatnya mengawasi Jeongtae. Mereka membawanya untuk dirawat.

Jeongtae segera menerima perawatan tradisional oleh seorang tetua. Jeongtae tertidur tiga hari tiga malam . Ketika terjaga , Okryeon ada disampingnya.
Jeongtae segera bangkit karena takut kalau Cheong'ah akan khawatir menunggunya. Okryeon mencegah dan menangis seperti berat mengatakan sesuatu. Jeongtae tahu bahwa ada sesuatu yang terjadi dengan Cheong'ah .
Tanpa mempedulikan kesehatannya yang belum pulih , dan mengabaikan seruan Okryeon. Jeongtae melangkah pergi , disusul oleh Okryeon.
Mereka pergi menuju tebing dimana Cheong'ah hendak bunuh diri sebelumnya. Jeongtae menangis histeris mengenang adik tersayangnya.
Beberapa Tahun Kemudian
Shinichi melihat persiapan Gaya . Dan Deguchi Gaya (Lim Soo-Hyang )  yang sekarang sudah dewasa  menyatakan sudah siap.

***
Jeongtae (Kim Hyun-Joong)  juga sudah menjadi pria dewasa. Seorang diri dia memasuki sebuah markas mafia , dan menghajar satu persatu dengan mudahnya. Jeongtae terus merangsek masuk hingga ke ruang utama dimana para boss sedang berkumpul.



0 comments:

Post a Comment