Saturday, September 6, 2014

Sinopsis : Inspiring Generation – Episode 03

Standard

Jeongtae hampir terpeleset jatuh. Jeongtae mengeraskan hati dan mendengarkan suara kereta api dari kejauhan pertanda waktunya semakin mendesak. Kereta melintas , dan Jeongtae melompat disaat yang tepat.




Rekap

Episode 3
Jeongtae meluncur ke sungai di bawah yang setinggi sekitar 30 meter ( setara gedung 8 lantai) . Semua orang berharap2 cemas , Big Boss Bongsik , para senior Dobinori hingga Jjang-TTol dan Deguchi Gaya .  Mereka menantikan Jeongtae nongol kembali dipermukaan air.

Namun Jeongtae belum juga muncul di permukaan sungai. Jjang-Ttol mulai putus asa memikirkan nasib sahabat baiknya , dan mulai menyusul kedalam air sebelum dicegah oleh rekan seniornya.
Big Boss Bongsik juga cemas memikirkan nasib remaja berbakat seperti Jeongtae. Dia memerintahkan Poongcha untuk menemukan tubuh Jeongtae apapun yang terjadi.  Namun tak lama kemudian Jeongtae nongol . Semua orang merasa lega (kecuali Kang Gae) dan menyambut Jeongtae yang mulai mendarat di sisi sungai.
Jeongtae dengan suara menggigil berkata : "Dobinori .....dapatkah aku melakukannya sekarang ?"

Bongsik membenarkan , dan tersenyum dan menepuk kepala Jeongtae seakan seperti seorang ayah terhadap anak kandungnya sendiri. Jeongtae bertanya pada Poongcha kapan dia bisa mulai berlatih lompatan maut. Poongcha tersenyum seakan sudah mengijinkan.
***
Di markas besar , Boolgom memperingatkan Do-Ggoo untuk tidak mengusik Dobinori untuk saat ini sampai tiba waktu yang tepat untuk menyerang mereka.
***
Jeongtae mengunjungi makam ibunya untuk melaporkan perkembangan terbaru , termasuk akan melakukan latihan lompatan maut karena tidak ada pilihan lain.  Tiba2 Deguchi Kaya muncul dan duduk disamping Jeongtae.
Deguchi Gaya mengingatkan agar Jeongtae jangan sedang badmood ketika mengunjungi makam ibunya , lebih baik dalam suasana yang sedang senang saja.  Gaya mengaku bahwa dia ikut tegang saat menyaksikan Jeongtae melompat dari jembatan.

Jeongtae mencandai apakah Gaya sengaja mendatangi Jeongtae didepan ibunya Jeongtae. Gaya berkilah bahwa dia menemui Jeongtae untuk mengembalikan salep yang digunakan Jeongtae untuk menyelamatkan Gaya sebelumnya.
Deguchi Gaya akan berlalu , dan Jeongtae mencegahnya , mengajak untuk menikmati matahari terbenam bersama.  Deguchi Gaya mencandai balik apakah Jeongtae sengaja ingin bersama Gaya didepan makam ibunya Jeongtae ?
Mereka lalu kembali ke kota. Deguchi Gaya meminta ijin Jeongtae untuk mengunjungi makam ibunya Jeongtae saat mengalami masalah , untuk menenangkan diri. Jeongtae setuju.
Tanpa Jeongtae sadari , Okryeon ada disekitar mereka dan sedang mengawasi dari kejauhan. Diluar dugaan , Deguchi Gaya mencium pipi Jeongtae , dan Okryeon mulai cemas karena menyadari kini dia punya rival asmara yang berat.
Jeongtae akhirnya menyadari kehadiran Okryeon  , dan Jeongtae mengejar Okryeon untuk memberi penjelasan  .
***
Shinichi menemui Do-Ggoo . Shinichi tampaknya sudah mempelajari latar belakang Do-Ggoo yang terlahir disebuah rumah bordil , dan Ibunya Do-Ggoo telah mati karena mengidap penyakit kelamin seperti sipilis.  Emosi Do-Ggoo terpancing .
Shinichi berkata bahwa dia tertarik dengan matanya Do-Ggoo , dan berminat untuk membelinya. Shinichi meminta Do-Ggoo untuk menjadi anjingnya (makna nama Do-Ggoo adalah anjing gila) . Ketika Do-Ggoo hendak memprotes , Shinichi segera melumpuhkan Do-Ggoo dengan menekan titik akupresurnya.
***
Di perbatasan China dan Korea  , yakni Shinuiju , Jeongtae , Jjang-Ttol dan segenap anggota Dobi Nori sedang menunggu para penyelundup .  Mereka berkata bahwa kalau sekedar untuk menerima atau mendapatkan barang selundupan adalah hal yang mudah untuk dilakukan. Yang tersulit adalah melakukan lompatan maut , dimana delapan dari sepuluh orang mengalami kegagalan.
Kereta api mendekat dan disana ada seorang penyelundup Dobinori. Dia tampak ragu dan takut untuk melompat. Jeongtae mendesak remaja itu untuk melompat . Namun remaja yang malang itu luput dan tewas .
Mayat  itu segera di urus oleh anggota senior Dobinori lain seakan sudah biasa melihat hal itu terjadi.  Seorang anggota  bersiap membuang mayat itu seakan seperti manusia yang tak berharga . Dia mengambil uang dari mayat itu.  Jeongtae yang punya prinsip tidak bisa menerima hal itu dan turun tangan .
Jeongtae merasa mayat itu tetaplah manusia juga . Seseorang menukas memangnya yang mana yang manusia , apakah mayat itu ?  Sikap nyolot rekannya itu membuat Jeongtae naik pitam dan menghajar rekannya.

Sang rekan membalas , dan mengatakan bahwa tidak ada seorangpun yang akan menangisi Jeongtae jika gugur dalam tugasnya . Itu memang kenyataan.  dan mempertanyakan apakah Jeongtae akan mengubur mayat itu bersama uangnya , padahal Jeongtae butuh uang untuk membayar biaya medis Cheong'ah sebesar 100 ribu dollar.
Dia memperingatkan Jeongtae agar jangan berlagak sok jika ingin menjadi bagian dari Dobi Nori.  Jeongtae berkata pada Jjang-Ttol : " Jika aku mati , kamu akan datang ke kuburanku untuk menangis. Jika aku mati , akupun akan melakukan hal yang sama."
***
Ayahnya Jeongtae , Sin Yeongchool menemui Peramal Senior . Sementara itu Ayah Deguchi Kaya , yakni Shinjoo juga ada disana dan sedang mencari sesuatu yang bisa dijual di bangunan kosong itu.
PART II

Sang Peramal membawa Yeongchool ke bangunan kosong itu dan memberi petunjuk agar Yeongchool membunuh Shinjoo jika ingin kembali pada anak2nya.
Sementara itu Shinjoo menghadapi masalah yang sama dengan pengemis2 jahat yang juga pernah berurusan dengan Shinjoo sebelumnya. Ketika itu Shinjoo terlihat lemah tak berdaya , namun kini Shinjoo memperlihatkan kemampuan sebenarnya dengan kecepatan gerakan yang menakjubkan.

Yeongchool tiba di TKP , dan Shinjoo terperanjat .  Yeongchool menghajar satu pengemis , sehingga yang lain melarikan diri.  Kini Yeongchool berkata pada Shinjoo : " Aku telah menghabiskan waktu 18 tahun untuk menemukanmu. Kini aku tidak mau membuang waktu lagi. Aku harus kembali pada anak2ku."
Shinjoo berusaha menenangkan amarah Yeongchool  : " Aku berharap kamu dapat menunggu sampai besok. Aku tidak akan melarikan diri lagi. Aku sudah tidak punya tenaga lagi."
Namun Yeongchool tidak percaya lagi pada Shinjoo , terlebih dulu Shinjoo pernah menghianati rekan2nya sendiri.
Shinjoo bersumpah atas nama putrinya bahwa dia mengatakan kejujuran. Akhirnya Yeongchool melunak dan berkata : " Kali ini aku percaya , bukan kepada kamu , melainkan nama putrimu."
***
Jeongtae dkk kembali ke markas Dobinori. Terlihat para sesepuh sedang menikmati daging dan minuman.  Bongsik memerintahkan Jeongtae untuk membawa barang2 yang ada kepada sang Peramal.
Begitu Bongsik tahu bahwa seorang penyelundup mati , dia langsung mengajak mereka untuk ikut menikmati minuman.  Bongsik berkata : "Walaupun kita tidak terlahir di bulan dan tahun yang sama . Mari kita mati di bulan dan tahun yang sama. Tetapi bukanlah kematian yang bodoh. Hidup seperti seekor anjing sudah sangat buruk , apakah harus mati seperti anjing ?"
***
Ayah Jeongtae , Yeongchool mengunjungi putrinya Cheong'ah di rumah sakit untuk memberikan boneka Teddy Bear.  Cheong'ah tertidur ketika itu dan Yeongchool berlalu.   Tiba2 Cheong'ah muncul keluar dan berterimakasih padanya , mengira ayahnya sebagai teman dari ayahnya sebagaimana yang dikatakan Okryeon.



Sungdeok tentu saja tidak bisa dibohongi karena melihat mereka berdua terluka dan berdarah . Sungdeok tampak kecewa pada anaknya ini . Sebelum berlalu , Deguchi Gaya memberikan sapu tangan pada Okryeon .
***
Ayah Deguchi Kaya , Shinjo , pada malam itu sedang melihat foto lama keluarga. Di foto itu terlihat istrinya yang orang Jepang (putrinya Denkai) dan Deguchi Kaya yang masih kecil sekali.
Ahka (Choi Ji-Ho) , anak buah Denkai yang bermata palsu satu , muncul dihadapan Shinjo. (Ahka ini pula yang ada diruangan penuh mayat dalam episode sebelumnya.) Shinjo mengenali siapa Ahka.  Shinjo berusaha memancing Ahka untuk menuju hutan bambu dimana Yeongchool sedang menunggu.  Ahka tidak termakan pancingan ini.
Sementara itu Yeongchool sedang menanti kedatangan Shinjoo yang tak kunjung muncul. Yeongchool teringat kembali penghianatan yang pernah dilakukan Shinjoo .
Ahka dan Shinjoo mulai bertarung dan saling melukai . Namun Shinjo menyadari bahwa Ahka tidak merasakan sakit akan lukanya. Ahka menjelaskan bahwa bukan semata2 itu yang membuatnya kuat. Tujuah Ahka memang hendak membunuh Shinjo.

PART III

***
Deguchi Gaya meminta maaf pada Jeongtae atas insiden ciuman di pipi yang dilihat oleh Okryeon juga. Gaya tidak ingin menyebabkan masalah baru antara Jeongtae dan Okryeon. Gaya hendak berlalu , namun Jeongtae menghentikannya . Jeongtae tersenyum dan mengatakan akan mengantar Deguchi Gaya pulang kerumah.
Sementara itu Shinjo kalah dalam pertarungan ini. Shinjo memperingatkan agar Ahka tidak membunuh Deguchi Gaya .  Ahka rupanya tidak berniat langsung membunuh Shinjo , dan hanya melukai bagian tubuh Shinjoo yang tidak langsung mematikan (untuk membuat Shinjo menderita ?)
Karena itu Shinjo masih hidup ketika Yeongchol tiba (karena sudah tidak sabar menanti di hutan bambu) . Shinjoo mengatakan bahwa dia lebih memilih mati ditangan Yeongchol untuk menebus dosanya menghianati rekan2nya di masa lampau. Terlebih Ahka sebelumnya memang sengaja melukai Shinjoo , untuk tidak langsung mati , melainkan menyiksa perlahan2 sebelum mati.
Yeongchool melihat penderitaan Shinjoo , dan akhirnya mengabulkan permintaannya dengan menusuk jantung Shinjo.  Shinjoo sebelum menghembuskan nafas terakhir menyebutkan nama Ahka sebagai pelaku pembunuhnya. Yeongchool berjanji untuk membalaskan dendam Shinjo. Yeongchool mengakhiri penderitaan Shinjo kali ini.
Pada saat itu Jeongtae sudah tiba didepan pintu rumah Deguchi Gaya , dan Gaya dengan malu2 mengajak Jeongtae untuk kencan menonton film di kemudian hari. Jeongtae tiba2 mencium Deguchi Gaya dan setuju untuk berkencan dengan Gaya .


Ketika Jeongtae teringat dengan jepit rambut (Jeongtae sebelumnya telah membeli untuk Gaya , namun belum sempat memberikan karena kemunculan Jjang-Ttol yang mengabarkan bahwa mereka telah ditipu dan uang mereka ludes.)
Jeongtae terkejut dengan teriakan Deguchi Gaya di dalam rumah. Deguchi melihat ayahnya telah tewas , dan ada seorang pria yang dianggap Gaya sebagai pembunuh ayahnya , dan ternyata bukan lain adalah ayahnya Jeongtae.   Yeongchool mencoba mejelaskan kesalahpahaman ini , namun Gaya sulit mempercayai karena merasa Yeonghool ada di TKP saat ayahnya tewas.

Deguchi Gaya menghampiri Yeongchool tanpa rasa takut dengan menghunus pisau . Yeongchool dapat menahannya dengan mudah , dan Gaya mengancam dengan mata penuh dendam bahwa dia bersumpah untuk memburu Yeongchool kemanapun dan akan membunuhnya apapun caranya.
Yeongchool mencoba menjelaskan namun Gaya tetap tak percaya . Yeongchool akhirnya memukul Gaya agar tak sadarkan diri. Sebelum berlalu Yeongchool mengatakan pada anaknya  , bersumpah bahwa dia akan menemukan pembunuhnya. Kali ini Jeongtae percaya pada ayahnya , dan memperingatkan ayahnya agar jangan menghindar dari tanggungjawab atau akan mengutuknya sepanjang hidupnya.
Yeongchool berlalu , dan Shinichi tiba melihat Jeongtae dan Gaya. Shinichi berkata bahwa dia pernah melihat Jeongtae sekali (ketika Jeongtae bertarung melawan Do-Ggoo dkk dijalanan).  Shinichi memuji Jeongtae sebagai petarung yang berbakat , dan menawarkan untuk menghilangkan barang bukti. Jeongtae tidak mau menerima bantuan dari orang yang tak dikenalnya. Jeongtae ingin Shinichi pergi dan berkata akan melindungi Deguchi Gaya.
Shinichi memilih untuk menjajal kemampuan Jeongtae dalam bertarung. Namun Jeongtae betapapun berbakat belum menjadi tandingan Shinichi yang berpengalaman. Jeongtae segera kalah dan tersungkur. Jeongtae memohon agar Shinichi mengampuni Deguchi Gaya.

Shinichi  mengancam Jeongtae dengan pedang , bahkan melukai dada Jeongtae dengan satu tusukan dangkal . Jeongtae berharap agar Shinichi melepaskan Deguchi Gaya. Shinici dengan dingin berkata agar perkataan Jeongtae menjadi kenyataan , tetapi  Shinichi tentu saja tidak akan mengganggu Gaya.
Pada saat hendak menghabisi Jeongtae , Gaya  muncul dan mencegahnya. Shinichi bersikeras hendak menghabisi Jeongtae karena sudah melihat wajahnya.  Gaya berkata bahwa dia akan membunuh Jeongtae sendiri , dengan metode paling kejam.
Jeongtae hanya pasrah ketika Gaya berkata agar Jeongtae tetap hidup dan menunggu Gaya membunuhnya nanti.  Jeongtae pingsan karena terluka parah.



0 comments:

Post a Comment