Friday, January 24, 2014

Sinopsis : Empress Ki - Episode 24

Standard

Seungnyang tanpa menyangka menemukan "Surat Darah" yang dicari semua pihak dalam cermin pemberian Dayang No. Jeokho terbangun dan bertanya kenapa Seungnyang masih belum tidur.  Seungnyang menyodorkan surat itu . Jeokho amat sangat terkejut dan mengkonfirmasi bahwa surat itu adalah asli .

REKAP EPISODE 24

Di istana , Tanashiri memamerkan bayinya yang bernama Maha (Seungnyang saat melahirkan menamainya Byeol atau Byul. Dan mulai saat ini digunakan nama Maha saja seperti nama pemberian El Temur pada cucunya ini). Tanashiri berkata kalau Maha punya mata yang seperti Tahwan.


Tahwan yang telah kehilangan semangat sejak kehilangan Seungnyang dan Lady Park -- dengan muak mendorong Tanashiri agar menjauh. Golta dan Dayang Seo terkejut karenanya.
Tanashiri hampir terjatuh bersama Maha. Tanashiri bertanya apa maksud Tahwan dengan bertindak seperti ini . Tahwan tidak bisa berbicara karena sakitnya dan memilih untuk melemparkan apa yang ada didekatnya.
Dengan gusar Tanashiri mengatakan bahwa Tahwan bukanlah tak bisa berbicara karena stress seperti diagnosa tabib istana sebelumnya , melainkan sudah gila.
Dayang Seo mengajak agar Tanashiri pergi. Sebelum berlalu , Tanashiri menantang Tahwan untuk tetap hidup tanpa ada seorangpun disisinya .  Tanashiri berlalu , dan Golta mencoba menenangkan Tahwan.
***

Heuksoo menemui Jendral Bayan yang sedang bertugas di Provinsi Yoyang , untuk mengantarkan surat PM El Temur dan berbagai hadiah dan barang berharga dari kawasan Barat seperti ruby dan jade .
Heuksoo berlalu . Tal Tal yang cerdik dapat membaca situasi dan meminta pamannya untuk berhati2 menghadapi Heuksoo . Tal Tal menyimpulkan Heuksoo punya hubungan yang dekat dengan El Temur. Bayang meminta Tal Tal agar mengawasi pergerakan mereka semua untuk bersiap menghadapi setiap kemungkinan. ***
Seungnyang dan Jeokhoo dibawa untuk acara makan bersama bersama tawanan lain. Mereka makan di lantai seperti layaknya anjing saja.  Heuksoo menyerukan bahwa jika makanan yang diberikan tidak cukup , masih bisa mendapat tambahan makanan.
Ketika Heuksoo mempersilahkan para tahanan untuk makan , segera para tahanan berebut makan seperti sekumpulan anjing liar.
Jeokho mulai menyadari bahwa pilihan terbaik untuk mereka adalah dijual pada pemilik baru untuk mencari kesempatan lain. Seungnyang setuju dan untuk itu mereka harus makan untuk menjaga kondisi tubuh mereka , dan dapat terjual dengan baik nanti saat pelelangan budak.
Heuksoo tersenyum tipis melihat Seungnyang dan Jeokhoo akhirnya makan juga.
***


Sebelumnya Bisoo telah memerintahkan anak buahnya untuk memborong komoditas utama Goryeo seperti ginseng.Rencana Bisoo untuk menggoyang moneter Goryeo semakin membuahkan hasil.
Bisoo melihat dampaknya dengan mata sendiri , keresahan sosial yang mewabah dan Bisoo kembali memerintahkan anak buahnya untuk memborong ginseng.
Nilai tukar uang Goryeo merosot drastis dan menimbulkan gejolak sosial.
***
Bisoo tahu dari anak buahnya bahwa Wang Yoo sedang menghabiskan waktu di rumah pelesiran ini . Bisoo tidak yakin kalau Wang Yoo menghabiskan waktu di tempat prostitusi , namun anak buah mengatakan Wang Yoo hanya minum arak saja.
Sejak kabar kematian Seungnyang, Wang Yoo mencari ketenangan semu melalui minuman keras.  Jeombakyi , Moosong dan Kasim Bang membujuk agar Wang Yoo kembali ke istana.
Wang Yoo bertanya apa mereka juga mendukung rencana El Temur untuk menikahkan keponakannya kepada Wang Yoo ?  Wang Yoo tidak mempedulikan rencana El Temur untuk menikahkan Wang Yoo dengan keponakan El Temur . Wang Yoo meminta Kasim Bang dkk untuk pergi dari ruangan itu.
Saat Wang Yoo tumbang karena terlalu banyak minum , Bisoo memasuki ruangan . Menatap Wang Yoo yang tertidur , dan   teringat atas perjumpaan mereka .
Wang Yoo ketika itu bertanya pada Bisoo : " Bukankah dikatakan bahwa musuh dari musuhku adalah sekutuku ?"

Bisoo masih menatap Wang Yoo yang tertidur , dan menyampaikan penyesalan atas kesulitan yang disebabkannya kepada Wang Yoo . Bisoo menyelimuti Wang Yoo dan berlalu .
Apakah hubungan dua insan ini semacam frien-enemy ?
***
Jendral Bayan bersama rekan2 sejawat setingkat gubernur provinsi (atau Warlord ?  ) menghadiri perjamuan  istana untuk merayakan kelahiran Pangeran Mahkota Maha .
(Sementara itu Ibu Suri yang masih menjadi biarawati mulai mengantisipasi rencana pengajuan kandidat selir untuk Tahwan. )

***

Rombongan petinggi seperti Bayan dkk menghadap El Temur , Tahwan dan Tanashiri. Tahwan tentu saja tidak antusias dalam acara itu dan memilih untuk pergi sebelum hidangan perjamuan tiba.
Para petinggi itu berkuasa atas daerah2 perbatasan seperti Yunnan yang berbatasan dengan Indo-China,  Sichuan dan provinsi2 Barat . Mereka satu persatu memberikan salam hormat dan selamat atas kelahiran Putera Mahkota Maha.
(Sementara itu Ibu Suri dan orang kepercayaannya membahas bahwa Surat Darah telah membuat keluarga Istana menjadi bahan pergunjingan , terutama dari para penguasa daerah setingkat provinsi .)
El Temur memberikan salam pada para gubernur militer untuk minum arak bersama.  Para pejabat menyarankan agar Tahwan memiliki banyak selir sebagai bagian dari political marriage untuk memperkokoh keluarga istana. Perinciannya adalah Tahwan harus memiliki 4 ratu , sembilan selir istana dan 27 wanita istana.

Tanashiri tentu saja tidak setuju atas usulan setiap gubernur yang akan mengirimkan kandidat untuk Tahwan  . karena akan mengancam posisinya sebagai permaisuri.
Salah satu pejabat lain berkomentar bahwa tampaknya kekuasaan permaisuri hampir sama dengan Kaisar , karena itu akan lebih baik jika Tahwan memiliki banyak ratu.
Tanashiri menukas dengan kasar pejabat itu. Dangkise sampai harus mengingatkan agar Tanashiri bisa menjaga sikap.  Sementara itu El Temur dengan tenang mempersilahkan para pejabat untuk menyampaikan suaranya.
Pejabat berikutnya hanya menambahkan dan menegaskan rencana pejabat2 sebelumnya bahwa setiap provinsi ingin mengajukan kandidat ratunya masing2.  Tanashiri hanya bisa mendesis menahan jengkel.  Semua pejabat akhirnya setuju akan gagasan untuk seleksi kandidat ratu dan selir yang baru bagi Tahwan. Mereka berkilah bahwa sekarang waktu yang tepat secara Tanashiri sudah punya anak.
El Temur tertawa dan diluar dugaan menyetujui pendapat para pejabat .  Tanashiri , Dangkise dan Tapjahae jadi terkejut.


Entah strategi apa yang sedang diterapkan El Temur dengan semudah itu menyetujui.  Yang pasti El Temur juga menggunakan strategi political marriage dengan rencana menikahkan keponakannya sendiri untuk merangkul Wang Yoo yang dipandang potensial oleh El Temur.
Masalah berikutnya para pejabat membahas bahwa hak prerogatif untuk memilih ratu dan selir adalah wewenang Ibu Suri sejak ribuan tahun dalam sejarah dinasti di Tiongkok , namun Ibu Suri telah dijatuhkan dari posisinya .
Tanashiri mengajukan diri untuk terlibat dalam seleksi kandidat ratu ini.  (Dalam bahasa gaul sekarang jeruk memilih jeruk sangatlah absurd) . Salah satu pejabat merasa usulan Tanashiri ini absurd.
El Temur hanya bertanya apa mereka tahu apakah kejahatan yang dilakukan Ibu Suri. Salah satu pejabat lain memprotes bahwa pemberontakan itu dilakukan oleh Jendral Bang , dan tidak ada bukti kuat Ibu Suri terlibat dalam pemberontakan itu.
Dengan protes para pejabat ini tampaknya posisi  Ibu Suri akan dikembalikan.  El Temur juga tidak akan gegabah bersikap tangan besi menghadapi para pejabat penguasa setingkat provinsi yang berkumpul bersama ini .
El Temur mengkalkulasi dalam benaknya sesaat , dan kembali tertawa untuk mengembalikan posisi Ibu Suri seperti semula.  Bahkan dengan sopan dan ramah El Temur menawarkan mereka untuk kembali minum bersama atas kesepakatan ini.  Sebagai gantinya para pejabat pun mengucapkan harapan agar PM El Temur panjang umur sampai 10 ribu tahun .
Usai pertemuan , Tal Tal berkata pada Bayan , kecurigaan kalau PM El Temur terlalu mudah menyetujui hal ini. Bayan pun mengaku merasakan hal yang sama.
***


Wang Yoo dibujuk oleh ayahnya untuk menerima usulan pernikahan yang diajukan El Temur.  Wang Yoo akhirnya bersedia dengan syarat Wang Yoo akan kembali ke Yuan sedangkan calon istrinya akan di Goryeo.
Anak buah Wang Yoo tentu saja heran dengan Wang Yoo yang berubah pikiran secepat itu.  Wang Yoo menerima usulan El Temur juga ada strategi sendiri , yakni mendekat ke kubu El Temur sambil menunggu kesempatan untuk membalas dendam .
***
Jendral Bayan menyadari  Seungnyang berada di tangan Heuksoo . Jendral Bayan dan Seungnyang saling memandang , namun status Seungnyang sebagai budak belian tidak bisa berbuat banyak selain memandang Bayan seakan berharap pertolongan. Tal Tal pun belakangan menyadari bahwa ada Seungnyang diantara para tawanan itu.


Dan Heuksoo pun menyadari bahwa Bayan berminat untuk mengambil Seungnyang.Heuksoo yang tahu Seungnyang bernilai tinggi tidak semudah itu menyerahkan Seungnyang kepada Bayan.  Heuksoo berlalu dengan kaki pincangnya.
Bayan merasa berhutang budi pada Seungnyang dan perlu untuk menyelamatkannya. Tal Tal mengingatkan kalau memang demikian Bayan harus berpartisipasi dalam proses lelang budak nanti.
Bisoo menemui Heuksoo untuk merundingkan masalah peredaran uang palsu. Bisoo juga memberitahu Heuksoo bahwa dia telah memborong ginseng di Goryeo disaat yang bersamaan dengan menurunnya nilai tukar mata uang Goryeo.
Bayan menggunakan ajang lelang sebagai kesempatan untuk menyelamatkan Seungnyang.  Pada ajang itu Jeokho sudah lebih dulu terjual dengan harga 50 nyang.
Kini giliran Seungnyang untuk dilelang pada penawar tertinggi.. Taltal memulai dengan penawaran cukup tinggi , yakni empat kali dari harga akhir Jeokho , sebesar 200 nyang.
Bisoo tidak membiarkan Tal Tal semudah itu dan ikut terjun untuk terus menaikkan harga Seungnyang. Penawaran datang silih berganti , 300 , 350 , 500 , 1000.
Pada harga 1000 Tal Tal menganjurkan Bayan agar menyerah pada lelang itu sebelum terseret semakin jauh.  Bayan sudah kepalang tanggung dan mengambil papan lelang dari Tal Tal .
Ketika Bayan akhirnya memberikan penawaran sebesar 3000 nyang . Semua terkejut termasuk Seungnyang sendiri.
Bisoo pun berlalu sambil menyeringai.  Bayan pun meringis karena  harus membayar mahal untuk menyelamatkan Seungnyang  , dengan harga akhir yang nyaris 60 kali lipat dari Jeokho.
***
Usai lelang , Tal Tal mengingatkan kalau Bayan telah menghabiskan dana setara dengan setahun biaya pasukan.  Bayan membela keputusannya karena merasa berhutang budi pada Seungnyang.
Seungnyang menghadap Bayan dan mengucapkan terimakasih atas bantuan Bayan dalam lelang itu.  Bayan bertanya apa yang terjadi hingga Seungnyang bisa tertangkap oleh Heuksoo.
Seungnyang menceritakan apa yang telah terjadi pada Bayan , seperti pembantaian Lady Park dkk yang melibatkan Tanashiri dan bagaimana akhirnya Seungnyang tertangkap oleh Heuksoo dkk.
PART II

***
Tahwan telah mengetahui keterlibatan Tanashiri dalam pembunuhan Lady Park dan Seungnyang.  Tahwan masuk bersama seorang dayang.
Setelah dayang berlalu , Tahwan  dengan ragu2 namun akhirnya melangkah dan berusaha membalas dendam dengan membunuh Tanashiri yang sedang tertidur dengan cara mencekik.
Malang bagi Tahwan , karena Tanashiri terbangun dengan senyuman. Rencana nekat Tahwan gagal dan diapun berlalu.


***

***
Bayan - Taltal yang sedang membahas masalah kandidat gadis yang akan diajukan sebagai selir Tahwan. Mereka belum juga menemukan gadis yang tepat.  Bayan tadinya terbersit ide untuk mengirim keponakan gadisnya untuk berkompetisi , tetapi merasa khawatir.
Tal Tal mengingatkan pamannya kalau mereka tidak bisa mengirim kandidat ratu maka akan mendapat ejekan dari penguasa provinsi lain.  Bayan hanya bisa menghela nafas.  Tiba2 Bayan merasa ada orang yang sedang diluar pintu dan memanggil siapa gerangan diluar.
Tal Tal membuka pintu dan melihat Nyang ada diluar.  Seungnyang masuk dan menawarkan diri pada Bayan untuk menjadi kandidat. Bayan bertanya bukankah Nyang akan kembali ke Goryeo ?  Seungnyang menegaskan akan tetap disini.
Namun Jendral Bayan ingin mendengarkan rencana Seungnyang lebih jauh. "Kenapa kamu mengajukan diri ? Apakah hendak menikmati kehormatan dan kekayaan ?

Seungnyang menegaskan bahwa tidak ada didunia ini yang punya rasa dendam lebih besar daripada Seungnyang kepada keluarga El Temur . Tal Tal yang cerdik keberatan dengan ide ini , menganggap Seungnyang cukup kapabel untuk membahayakan kubu Bayan suatu hari . Bayan berpikiran terbuka dan jika Seungnyang punya cara yang meyakinkan , Bayan akan mempertimbangkan.
Seungnyang mengeluarkan kartu truf berupa "Surat Darah" . Bayan dan Tal Tal terkejut melihat surat darah yang di cari semua pihak kini berada di tangan Seungnyang. Tal Tal memeriksa surat itu dan bertanya bagaimana cara membuktikan keaslian surat itu ?  Seungnyang berkata bahwa surat yang asli ada tanda kupu2 dan Tahwan akan tahu keaslian surat ini saat melihat tanda itu .  Dan Tahwan jika melihat itu akan bangkit dari keterpurukannya.
Seungnyang berlalu meninggalkan ruangan Bayan.  Tal Tal semakin merasa Seungnyang akan berbahaya bagi kubu Bayan suatu hari nanti.  Bayan mempertanyakan kenapa Tal Tal yang dulu sering memuji Seungnyang , tapi keni terus menentang rencana Nyang ?
Tal Tal menjelaskan bahwa dia tidak meragukan kemampuan dan potensi Nyang . Namun khawatir kalau suatu saat kemampuan Seungnyang akan berbalik membahayakan kubu Bayan.  Jendral Bayan merasa Seungnyang tadinya hanya sekedar gadis Goryeo belaka.  Tal Tal mengingatkan bahwa jangan menganggap remeh kemampuan Seungnyang.
Bayan mengungkap bahwa dia sering bertaruh ,sebagaimana dulu mempertaruhkan diri untuk mengampuni nyawa Tahwan , dan pertaruhan itu tidak terlalu berhasil . Kini Bayan mempertaruhkan hal yang sama , sebuah pertaruhan terakhir , kesempatan terakhir , untuk mempercayai Seungnyang. Untuk itu Seungnyang harus menjalani serangkaian pelatihan seperti layaknya putri bangsawan.
***

Ibu Suri kembali dari biara ke posisinya di istana . Dokman tentu saja senang melihat Ibu Suri telah kembali ke istana. Ibu Suri pun terlihat terharu dengan orang2 yang setia mengabdi padanya.
Ibu Suri menemui Tahwan yang belum juga bisa berbicara  dan menangis. Tahwan pun hanya memandang karena tidak bisa berbicara.  Ibu Suri menghampiri Tahwan dan mengelus pipinya , menyatakan penyesalan telah membuat Tahwan menderita seperti ini.Ibu Suri menenangkan Tahwan bahwa Ibu Suri mengerti Tahwan walaupun tidak berbicara. Ibu Suri mengatakan bahwa mereka harus memulai awal yang baru untuk melawan kubu El Temur.

***
Tal Tal yang sejak awal menentang rencana Seungnyang , masih terus membujuk agar Seungnyang membatalkan niatnya menjadi kandidat selir yang diajukan dari kubu Bayan. Seungnyang bertanya kenapa Tal Tal begitu menentang rencananya. Tal Tal menjelaskan dengan terus terang bahwa Seungnyang bukan bagian dari kubu Bayan dan dikhawatirkan suatu saat akan menghianati Bayan dkk.
Seungnyang menegaskan bahwa dia tidak akan membalas air susu dengan air tuba , terlebih Bayan telah menyelamatkan Seungnyang. Tal Tal merasa bahwa orang yang tidak berhianat kelak bisa saja berhianat.
Seungnyang menjelaskan bahwa sejak insiden pembantaian dayang istana , dia tidak merasakan kekhawatiran lagi . Yang ditakutkan Seungnyang hanya satu , yakni rencananya gagal total untuk membalas dendam.
***
Dengan tekad yang bulat , Seungnyang mulai berlatih ala wanita bangsawan , mulai dari menyulam , dari bermain musik , hingga menari. Seungnyang kini tampil sebagai wanita yang seutuhnya , jauh dari kesan pendekar wanita saat masih di Goryeo dulu. Bahkan Bayan pun terpukau dengan perubahan mendadak dalam diri Seungnyang.



Tal Tal melihat Seungnyang sedang giat latihan menari. Bayan tiba2 muncul dan berkata pada Tal Tal agar jangan malu untuk mengakui kemampuan Seunngyang.  Bayan merasa bahwa kemampuan Seungnyang memang bagus , tetapi yang lebih mengagumkan lagi adalah usaha dan tekadnya yang kuat , yang sangat langka dijumpai .  Bayan bertanya apakah pikiran Tal Tal sudah berubah.
Tal Tal melangkah menghampiri Seungnyang yang sedang latihan.  Tal Tal belum menyerah untuk menjatuhkan moral Seungnyang , bahwa  Seungnyang tidak akan mampu menandingi kemampuan menari wanita bangsawan .
***
Wang Yoo berlatih panah dan hal ini mengingatkan masa awal berkenalan dengan Seungnyang yang melatih Yoo untuk memanah (sebagaimana Seungnyang juga pernah melatih Tahwan) . Terlihat jelas bahwa bakat memanah Wang Yoo sama buruknya dengan Tahwan . LOL .  Wang Yoo kembali mengarahkan anak panah dengan air mata yang menetes.


Sementara itu Dangkise dkk telah berhasil sampai ke ibukota Goryeo untuk mengantarkan sepupunya menikah dengan Wang Yoo.
Ketika minum bersama , Wang Yoo mengungkit tentang kematian Seungnyang. Dangkise tentu saja berpura2 bodoh , dan menyesalkan kematian gadis cerdas seperti Seungnyang .
Wang Yoo dengan mata berkaca-kaca berkata tentang satu permintaan agar Dangkise mau membantu menemukan pembunuh Seungnyang , dan Wang Yoo ingin membunuhnya secara pribadi. Bahkan Dangkise pura2 bersimpati , berkata akan membantu Wang Yoo.
Wang Yoo hanya bisa menahan geram melihat musuh besarnya sedang bersamanya dan bertekad akan membalas kematian Seungnyang sepuluh ribu kali lipat.
***
Seunngyang pun giat belajar sastra di perpustakaan keluarga Bayan. Tal Tal melihat saat membuka pintu kemudian menutup kembali. Seungnyang membaca tanpa kenal lelah dan tertidur. Tal Tal masuk kembali ke ruang perpustakaan .  Tal Tal tersenyum begitu tahu Seungnyang sedang membaca karya klasik Tiongkok  seperti karya Sun Tzu di perpustakaan .
Suatu saat ,  Seungnyang meminta bimbingan  Tal Tal , apakah lebih suka kitab Sun Tzu atau Wu Zi ? Tal Tal bertanya kenapa Seungnyang membaca Sun Tzu .  Seungnyang menjelaskan bahwa tujuannya untuk masuk lingkungan istana adalah salah satu taktik Sun Tzu juga. Seungnyang paham bahwa situasi Istana tidak ada bedanya dengan situasi di medan perang. Seungnyang berlalu , dan Tahwan tersenyum.
Suatu saat lagi , Tal Tal menyodorkan buku lainnya. Kemudian hari Tal Tal menguji Seungnyang akan buku itu. Seungnyang ternyata punya wawasan yang cukup untuk menerka esensi dari buku tersebut.  Tal Tal mengajukan buku lain untuk dibaca Seungnyang. Ini adalah Analek Konfucius , buku utama filsafat Tiongkok yang memang terkenal sulit untuk dibaca.
Suatu saat lagi Tal Tal mengujinya , dan Seungnyang kembali bisa menjawabnya.  Tal Tal entah kagum atau khawatir , yang pasti bisa merasakan kepandaian dan bakat Seungnyang . Tal Tal meminta Seungnyang untuk tidak membaca buku lagi.
***
Tal Tal kemudian menemui Bayan , dan mengatakan bahwa Dangkise selalu ingin membunuh Seungnyang sebagai alasan ketidaksetujuan untuk melibatkan Seungnyang sebagai kandidat Ratu. Bayan membantah bahwa Dangkise dan Tapjahae sedang berada di Goryeo untuk urusan pernikahan Wang Yoo . Jadi Dangkise tidak bisa berbuat apa2 jika Seungnyang sudah menjadi ratu.
Bayan sendiri mengingatkan bahwa kekhawatiran Tal Tal tidaklah sebanding dengan sasaran yang akan mereka raih.Bayan memberikan contoh dirinya yang selalu takut hingga tidak mendapatkan apapun.  Singkatnya high-risk high-gain. Tal Tal mengerti perkataan Bayan.
PART III

***

Ketika Tanashiri dan El Temur menikmati kebahagiaan bersama Pangeran Mahkota Maha , Tahwan hanya bisa bergelimang dendam dan perasaan jijik melihat mereka.
Tahwan bahkan melangkah lebih jauh ke ranah religi , dimana dia mempertanyakan eksistensi Buddha , dengan segala keburukan yang terjadi di dunia ini (di sekitar Tahwan) . Sebenarnya apa yang dipertanyakan Tahwan ini pertanyaan filosofis yang abadi tentang mahluk adi-alami seperti Tuhan dan Buddha.
Tahwan mempertanyakan jika Buddha memang ada kenapa nyawa Seungnyang terampas dini . Tahwan geram terhadap Buddha sebagaimana kegeramannya terhadap El Temur. Tahwan memilih untuk menghancurkan patung Buddha yang jelas tidak bisa melawan . Disaat yang tepat Golta dkk mencegah hal itu terjadi . Tahwan jatuh bertekuk lutut pertanda kekesalan yang memuncak.

***

Seunngyang mempersiapkan yang terbaik untuk menyambut momen penting dalam rencana besarnya. Tal Tal dan anak buah ikut mendampingi perjalanan Seungnyang menuju istana.
Ironisnya disaat bersamaan Wang Yoo pun melangsungkan pernikahannya dengan sepupunya Dangkise.


***
Seungnyang teringat momen bahagia ketika bersama Wang Yoo memandang rembulan . Tetapi bagi Seungnyang ini terakhir kalinya untuk memikirkan hal sentimentil seperti itu. Sorot mata Seungnyang sudah berbeda dibandingkan dahulu , keceriaannya seakan menghilang , di ganti dengan mata yang dingin.
Seungnyang bertekad bahwa ini terakhir kalinya dia menangis demi Wang Yoo. Berikutnya Seungnyang akan menempuh jalan yang berbeda . Harapan yang tersisa dalam diri Seungnyang adalah berharap Wang Yoo dapat bangkit sebagai raja yang kuat dan membuat Goryeo menjadi negara yang bermartabat tanpa harus direndahkan negara lain.  Seungnyang sudah membulatkan tekad untuk membalas dendam demi orangtuanya , "kematian" Byul (aka Maha) dan juga kematian sahabat2nya seperti Lady Park dkk  yang mengenaskan.
***
Ketika Seungnyang dan Wang Yoo memulai pijakan awal dalam grand design mereka masing2 , Tahwan masih tetap stagnan , bahkan terpuruk dalam gelimang dendam , dan tak berdaya sebagai sebuah kaisar di negri raksasa seperti Yuan. Tahwan bahkan menampik obat yang di bawakan Golta.
El Temur menemui Tahwan dan mendesah ckc ck ck melihat kondisi Tahwan yang lemah . El Temur mengingatkan Tahwan bahwa pemilihan Ratu bukan urusan sembarangan dan tidak bisa dianggap lelucon.
Tahwan menahan geram , dan setelah El Temur berlalu , Tahwan meminta Golta untuk menyerahkan obat yang barusan. Golta senang karena Tahwan mau mengkonsumsi obat. Namun Tahwan melampiaskan kemarahan  dengan melempar barang yang ada didekatnya.
***
Sementara itu Tanashiri juga bersiap menggunakan haknya untuk terlibat dalam pemilihan selir .  Dayang Seo dkk sedang merias Tanashiri. Tanashiri menganggap putri penguasa setingkat provinsi tidak bisa dipadankan dengan dirinya , terlebih diangkat sebagai Ratu.  Tanashiri bertanya apakah Dayang Seo sudah menyiapkan "obat" . Dayang Seo mengaku sudah menyiapkannya.
Tanashiri yang malang belum tahu kalau ibu kandung dari Pangeran Mahkota Maha akan ikut sebagai kandidat.  Tanashiri hendak mendahului Ibu Suri untuk melihat lebih awal para kandidat "Take Me Out" itu.
Sementara para kandidat juga merasa resah karena telah mendengar rumor mengenai sepak terjang Tanashiri yang menyeramkan. Mereka malah cemas kalau terpilih nanti. Semua mendadak berbaris tertib begitu tahu Tanashiri muncul.
Tanashiri menyuguhi mereka minuman , namun mereka ragu2 untuk minum . Tanashiri bertanya apa mereka itu tuli ? Semuanya menunduk mendengar kemarahan Tanashiri.  Tanashiri menghardik apa mereka takut di racuni ?

Tanashiri menghampiri salah satu kandidat , dan mengambil mangkok air dari tangan yang gemetar. Tanashiri harus meminumnya sendiri untuk menunjukkan tidak ada apa2 dalam minuman itu. Usai meminum Tanashiri membanting mangkok minuman ke lantai. Sebagai gantinya Tanashiri menghukum mereka untuk memegang mangkok diatas kepala masing2.
***
Seungnyang sudah tiba di ibukota dengan status sebagai kandidat , dan juga putri angkat Jendral Bayan. Menjelang tiba di istana ,  Tal Tal seperti Iblis yang terus membujuk Seungnyang disaat2 terakhir untuk mengurungkan niatnya. Namun tekat Seungnyang sudah terlalu bulat .
Seungnyang turun dari tandu , dan Tal Tal dkk berlutut untuk memberi hormat pada Seungnyang sebagai calon ratu.  Masih berlutut , Tal Tal mengingatkan bahwa "pertarungan" yang sebenarnya akan segera dimulai , Seungnyang merasa sudah menyiapkan diri untuk itu. Seungnyang memulai langkah awal menuju istana .
***
Sementara itu Tanashiri berpapasan dengan Ibu Suri. Suasana mereka masih bermusuhan seperti biasanya. Ibu Suri hanya memandang tajam pada Tanashiri yang sedang berlalu.
Sebagaimana Ibu Suri dulu memberikan barang berisikan racun rahasia untuk membuat mandul , Tanashiri juga berpikir hal yang sama . Ini salah satu bagian perang dalam istana dimana para wanita berubah wujud menjadi Machiavellian sejati yang menghalalkan segala cara untuk mengalahkan rival2nya.
Seungnyang akhirnya melihat Tanashiri dan tentu saja dengan tatapan penuh dendam.
***
Ibu Suri menyadari bahwa Tanashiri yang telah menghukum para kandidat memegang mangkok diatas kepala.  Ibu Suri menenangkan para kandidat agar tidak gugup.
Seungnyang tiba  menghaturkan permohonan maaf karena datang terlambat dan memperkenalkan diri sebagai Ki Nyang dari provinsi Yo Yang (dimana Jendral Bayan bercokol di daerah itu).  Namun wajah Seungnyang terlalu familiar ,dan Dokman serta Ibu Suri terkejut melihatnya.
***
Ibu Suri menyemangati Tahwan yang terlihat lesu di tahtanya. Ibu Suri meminta Tahwan untuk bersabar  , dan pemilihan Ratu ini juga salah satu agenda politik yang penting untuk kedepannya.  Ibu  Suri mengingatkan tanda seleksi  , tanda berupa bunga yang dinilai berhasil lolos seleksi dan uang untuk yang dianggap gagal.
Pemilihan dimulai dan para kandidat memasuki ruang tahta dengan berbaris .  Tahwan masih dalam mood yang sama dengan ketidak-antusias-an-nya dalam segala hal.  Hanya Seungnyang yang bisa menimbulkan gairah hidupnya kembali , dan itu terjadi ketika Tahwan menyadari ada Seungnyang sebagai kandidat.



Perasaan Tahwan bercampur aduk antara mengira Nyang sudah mati , dan tak percaya melihatnya masih hidup . Tahwan mencoba untuk menyebut nama Seungnyang . Dan Tahwan berhasil mengatakan "A Nyang!" . Golta , Dokman dan Ibu Suri terkejut melihat Tahwan sudah bisa berbicara lagi.
Seungnyang bersikap biasa menghadapi Tahwan.
Komentar
Sebuah drama berlatar sejarah betapapun fiksinya perlu pemahaman sejarah yang memadai dan juga wawasan yang luas untuk mencerap makna didalam sebuah karya. Seorang ksatria Jepang , Musashi pernah mengatakan bahwa tidak ada bedanya situasi perang dan situasi damai , dan seorang tukang kayu dengan seorang raja , yang berbeda hanya skalanya saja. Skala kecil , skala besar , dan perlu keahlian yang sama.
Kemampuan seseorang dapat terlihat dari kualitas buku yang dibacanya. Jika makanan mempengaruhi kebugaran fisik , buku berkualitas mempengaruhi kebugaran pikiran . Dan ada peribahasa dimana hanya seorang pahlawan yang bisa mengenali pahlawan. Demikian juga seorang cerdas seperti Tal Tal bisa menakar kemampuan Seungnyang , dan disisi lain memunculkan kekhawatiran kalau suatu saat Seungnyang bisa menghianati kubu Bayan.
Pemikiran serupa juga terjadi pada El Temur yang memang cerdas (walaupun kejam dan licik) yang punya satu etika tersendiri , bagaimana seorang tokoh besar harus menghargai potensi lawan sekalipun. Seperti tokoh historis Tiongkok Cao Cao yang terkenal kejam tetapi bisa menghargai dan menghormati kemampuan lawan sekalipun. Demikian juga El Temur menghargai potensi Wang Yoo , alih2 mengembalikan tahta Goryeo pada Wang Yoo , El Temur lebih memilih untuk merangkul Wang Yoo kepihaknya melalui strategi political marriage.









0 comments:

Post a Comment