Monday, January 20, 2014

Sinopsis : Empress Ki - Episode 23

Standard

Seungnyang menjalani kodratnya sebagai wanita yang harus melalui penderitaan saat melahirkan anaknya , terlebih seorang diri di goa terpencil dan tidak ada siapapun yang membantu persalinan.  Seungnyang teringat akan ibunya yang telah tewas demi melindunginya , dan berjanji akan melindungi anaknya juga.


Seungnyang menjerit kesakitan hingga sang bayi akhirnya terlahir.

***
Di Goryeo , Raja Wang Yoo tiba2 terlempar dari kuda . Moosong dan Jeom Bakyi tergopoh2 memeriksa keadaan raja mereka.  Namun Wang Yoo tidak terluka , dan hanya merasa hal ini sebagai pertanda akan sesuatu.
Wang Yoo khawatir karena sudah lama tidak mendengar kabar terbaru dari Kasim Bang.  Raja Wang Yoo meminta Jeombakyi untuk pergi ke Yuan Tiongkok guna mencari tahu kabar terbaru dari Seungnyang dkk . Jeombakyi mematuhi dan berjanji akan segera kembali.
***

Di Yuan. Kasim Bang kembali ke TKP dan melihat Bulhwa tertikam . Kasim Bang memeriksa keadaan Bulhwa dan merasa lega begitu tahu Bulhwa masih hidup walaupun masih tak sadarkan diri.
***
Bayi itu sudah terlahir . Seungnyang memegang bayi itu dan memperhatikan ada tanda lahir di kaki seperti tiga titik seperti formasi bintang di angkasa.
Seungnyang menamai bayi itu Byul yang berarti bintang sebagai nama sementara sebelum nanti Wang Yoo menamai anaknya. Seungnyang mengucapkan terimakasih pada Byul karena terlahir dengan selamat.
Malang bagi Seungnyang yang mendengar Byeongsoo dkk ada di sekitar dan sedang mencari Seungnyang.  Seungnyang menenangkan Byul yang mulai menangis dan berjanji akan melindunginya.
Seungnyang lari sekuata tenaga namun fisiknya masih terbatas karena baru melahirkan. Byeongsoo memburu Seungnyang yang melarikan diri dan terpojok hingga ke pinggir tebing.


Byeongsoo tertawa licik dan puas melihat Nyang tersudut. Seungnyang mengambik kayu untuk mempertahankan diri .  Byeongsoo memerintahkan agar Nyang dihabisi. Salah satu anak buah langsung menyerang , dan Nyang dapat melakukan perlawanan dengan cukup baik.
Namun prajurit yang hampir terjatuh dari tebing tanpa sengaja menarik kain pelindung Byul untuk mencari selamat.  Seungnyang panik dan mencoba mempertahankan Byul. Byeongsoo menembak panah dan mengenai dada Seungnyang.


Seungnyang melemah , dan tanpa sengaja melepaskan kain pelindung Byul yang mengirim prajurit dan Byul terjatuh dari tebing.  Tak lama , Seungnyang juga menyusul terjatuh dari tebing.
Byeongsoo merasa senang bisa menghabisi Seungnyang sambil memandang ke bawah tebing . Jocham mengatakan bahwa mereka harus segera kembali ke istana secepat mungkin karena ada salah satu dayang yang lolos dari maut.  Dan Jendral Tapjahae telah memerintahkan untuk membawa kembali jenazah Lady Park.
Byeongsoo  yakin Seungnyang tidak akan selamat memutuskan untuk bergegas kembali ke istana.
Tanpa sepengetahuan Byeongsoo , Jeokho alias Makseong menyaksikan hal itu. Jeokho melihat ke bawah dan juga mengira Seungnyang tidak akan selamat. Namun Jeokho tersadar kalau Seungnyang tidak terjatuh melainkan tersangkut bebatuan . Seungnyang masih hidup (tentu saja sebagai lead actress dan episode masih panjang).
Sementara itu Byeongsoo dkk sibuk mengevakuasi jenasah Lady Park untuk dikembalikan ke istana.  Byeongsoo berkata pada Jocham bahwa mayat Seungnyang juga harus ditemukan nanti untuk membuat Jendral Dangkise senang.
asim Bang menguping dan mendengar percakapan mereka bahwa Seungnyang sudah mati karena tertembak panah dan terjatuh dari tebing . Kasim Bang menangis mendengar Seungnyang mati ,  dan semua itu rencana Permaisuri Tanashiri.
Byeongsoo tiba2 mengeluarkan pedang untuk melukai tangan Jocham. Dan Jocham terkejut , namun Byeongsoo menjelaskan bahwa mereka harus membuat kesan melukai diri agar meyakinkan pihak istana nanti. Sebagai gantinya , Byeongsoo juga meminta Jocham melukai kakinya Byeongsoo agar semakin meyakinkan.
***
Di istana , Tahwan berjalan mondar mandir dengan gelisah menunggu kabar . Dokman dan Hongdan datang melaporkan , bahwa Lady Park dkk telah tewas mengenaskan diserang para bandit.
Tahwan bertanya pada Hongdan bagaimana kabar Seungnyang yang dikabarkan ada bersama rombongan Lady Park.  Hongdan menjelaskan kalau Seungnyang juga meloloskan diri seperti Hongdan , dan mungkin belum mati.

Tak lama Golta melaporkan bahwa jenasah Lady Park sudah dibawa kembali ke istana. Byeongsoo sempat memberi isyarat mata pada Dangkise bahwa misi mereka berhasil .
Tahwan melihat kondisi jenazah Lady Park. Byeongsoo dkk berpura2 memohon hukuman bagi dirinya karena gagal dalam mengawal Lady Park dkk. Dangkise pun bahkan berpura2 memarahi Byeongsoo .
Tahwan hendak ikut Dangkise untuk memburu bandit tersebut , namun mengurungkan niat karena tahu bahwa PM El Temur tidak akan suka kalau Tahwan meninggalkan istana.  Dangkise berlalu , demikian juga Byeongsoo.


Tahwan hanya bisa memandang sedih jenasah Lady Park dengan penuh kesedihan dan penyesalan meminta maaf. Tahwan memerintahkan Dokman untuk mencari keberadaan Seungnyang yang mungkin bisa menjadi saksi kunci tentang kasus ini.
***
Sementara itu Dangkise berencana untuk menghabisi para bandit  dengan tujuan menutupi jejak rahasia yang melibatkan Dangkise (dan Tanashiri) tentunya .

Byeongsoo dengan bangga mengatakan bahwa dia telah membunuh Seungnyang. Diluar harapan Byeongsoo , Dangkise malah mengamuk dan menghardik : " Sudah aku katakan padamu untuk menangkapnya hidup2. Jikapun dia harus mati , harus mati di tanganku !!"
Byeongsoo mungkin akan menjadi sasaran amuk Dangkise jika Tapjahae tidak menengahi.
***
Disisi lain Dokman bersama satu pengawal andalannya mulai mencari keberadaan Seungnyang. Dan di TKP , Kasim Bang menampakkan diri . Kasim Bang memberitahu tentang kemungkinan Seungnyang telah mati , dan semua pembantaian terhadap Lady Park dkk terkait dengan rencana Tanashiri.
Mereka menghadap Ibu Suri untuk melaporkan.  Ibu Suri tidak percaya Tanashiri bisa sekejam itu menyuruh orang untuk menghabisi Lady Park yang sedang hamil tua.
Dokman cemas kalau Tahwan tidak bisa menerima pukulan bertubi2 seperti ini , bagaimana Lady Park yang sedang mengandung anak Tahwan mati , dan bagaimana Seungnyang juga mati akibat rencana busuk Tanashiri.
Ibu Suri bersikeras Tahwan harus tahu kepedihan seperti ini agar bisa mengingat terus kepahitan ini , dan jangan menunjukkan kemarahan , selain berjuang untuk bangkit. Ibusuri tampak terpukul sekali memikirkan nasib Lady Park dan terus menangis.
Sesudah itu Kasim Bang dan Dokman menjenguk Bulhwa yang masih hidup , tetapi tikaman Byeongsoo ke selangkangan telah membuatnya tidak bisa lagi menjadi lelaki normal.  Poor Bulhwa.
***

Seungnyang siuman dan menyadari ada Jeokho alias Makseong di sana.  Jeokho mengatakan bahwa Seungnyang beruntung , berkat cermin pemberian Dayang No maka Seungnyang selamat dari serangan anak panah di bagian dada.
PART II

Jeokho bertanya kenapa ada kain di balik sedikit pecahan kaca. Seungnyang teringat bayinya dan mulai mencari bayinya yang kemungkinan sudah mati karena terjatuh dari tebing. Seungnyang tidak menyerah begitu saja dan terus mencari hingga ke sungai.
Disana mereka melihat pengawal yang mati dan ada manik2 doa ditubuhnya bersama kain yang digunakan Seungnyang untuk membawa bayinya sebelumnya.
Seungnyang mencoba untuk melompat ke sungai yang dingin untuk menemukan bayinya walaupun Jeokho mencoba menghentikannya.

***
Dokman menemui Tahwan , dan walaupun tidak tega mengatakan hal yang sebenarnya , atas permintaan Ibu Suri , Dokman sambil menangis terpaksa mengatakan yang sebenarnya .
Tahwan terkejut dan menangis ketika mendengar Seungnyang di tembak oleh Byeongsoo dan terjatuh dari tebing dan jenasahnya belum berhasil ditemukan.
Tahwan seperti kehilangan gairah , seperti saat melihat jenasah Lady Park. Tahwan bertanya apakah jenasah Seungnyang sudah ditemukan. Tahwan dengan histeris memerintahkan Dokman untuk mencari jenasah Seungnyang , dan mencari tahu siapa yang bertanggung jawab atas kasus ini.
***
Sementara itu Seungnyang terus mencari bayinya , sambil membawa kain pelindung bayi seakan sebagai Bayi Byeol itu sendiri.
Mereka berpapasan dengan jenasah para dayang yang ditinggalkan. Seungnyang menghampiri mayat Dayang No dan menutup matanya untuk membuatnya mati dalam damai.
Seungnyang tidak tega melihat mayat rekan2nya selama hidup istana , dan memutuskan untuk menguburkan mereka dengan layak. Jeokho hanya bisa menghela nafas menahan geram dengan para bajingan yang telah melakukan hal ini. Jeokho mengaku menyaksikan semua ini.
Jeokho mengajak Seungnyang pergi . Namun Seungnyang bersikeras hendak menguburkan rekan2nya sendiri karena mereka mati juga disebabkan Seungnyang secara tidak langsung. Jeokho meminta agar Seungnyang beristirahat, dan biar Jeokho sendiri yang melakukan.
Mereka akhirnya melakukan penguburan massal ini bersama2. Setelah itu Seungnyang meratap didepan kuburan mereka , sambil teringat masa2 terakhir bersama Lady Park dkk. Juga Dayang No yang sebelum ajal meminta agar Seungnyang menjaga anaknya dengan baik.

Seungnyang histeris memikirkan pembantaian massal akan wanita2 istana yang tak berdosa , dan juga Byeol yang belum lama dilahirkan tetapi sudah menghilang.
***
Tahwan berada di titik nadir keputus-asa-an dengan menenggelamkan diri dengan minuman. Tahwan ingin mengajukan permintaan pada Golta , dan Golta menyanggupi. Namun Tahwan  meminta Golta untuk membunuhnya saja karena Tahwan merasa tidak ada alasan untuh hidup lagi setelah kehilangan dua wanita yang penting dalam hidupnya. Golta memberi dorongan agar Tahwan bisa bangkit.

Tahwan curhat dan merasa istana yang megah ini seperti neraka baginya . Tahwan kembali mendesak agar Golta membunuhnya. Golta tentu saja tidak mau dan hanya bisa ikut bersedih melihat Tahwan meratap.  Tiba2 Tahwan mencengkram dadanya dan  mengerang kesakitan .
Tabib Istana memeriksa kondisi Tahwan dan menyimpulkan bahwa Tahwan tidak bisa berbicara untuk sementara waktu karena stress yang dialaminya.
PM El Temur meminta semua keluar dari ruangan. Semua keluar ruangan termasuk Golta , yang bergumam sesuatu sebelum keluar.
Kemudian El Temur duduk didekat Tahwan , untuk menertawainya , sebagaimana dulu melakukan hal yang sama kepada adiknya Tahwan.
***


Tanashiri menerima terapi  menyakitkan di biara namun tetap saja tabib menyimpulkan bahwa tidak ada harapan bagi Tanashiri untuk mengatasi kemandulannya.
Dayang Seo menganjurkan agar Tanashiri kembali saja ke istana , bahkan tabib legendaris Tiongkok Hua Tuo dari masa seribu tahun lalu juga akan sulit mengatasi masalah ini.
Menyadari hal itu , yang bisa dilakukan Tanashiri adalah mencari bayi pengganti , agar bisa kembali ke istana tanpa ketahuan telah berdusta dengan kehamilan palsunya. Tanashiri memerintahkan Dayang Seo untuk mencari bayi pengganti.

Ketika Tanashiri berdoa , dia mendengar suara bayi yang ditemukan biarawati dari jenazah pengawal yang mungkin ayahnya (jenasah yang sama yang ditemukan Seungnyang) .


Tanashiri senang melihat bayi yang rupawan dan memutuskan untuk bantu menjaganya. Biarawati itu tampak puas mendengarnya.  Tanashiri memutuskan akan membesarkan bayi ini sekaligus pengganti kehamilan palsunya.
Dayang Seo mempertanyakan bahwa bayi ini punya asal usul yang tidak jelas. Tanashiri merasa doanya dikabulkan Sang Buddha .
Tanashiri tetap bersikukuh dengan rencananya , dan Dayang Seo kembali mempertanyakan kalau para biarawati sudah tahu mengenai eksistensi anak ini. Tanashiri tersenyum dan mengatakan bahwa orang mati tidak akan bisa berbicara.
Dayang SEO cemas mendengar hal ini. Tanashiri mengatakan kalau Dayang SEO tidak mau melakukan , maka Tanashiri bisa melakukannya sendiri.  Dayang Seo menjawab bahwa tentu saja dia tidak bisa membiarkan Tanashiri melakukan hal itu. Tanashiri mulai saat itu menyebut bayi itu sebagai anaknya



***





PART III

***


Tanashiri belum cukup dengan hanya mendapatkan bayi. Tanashiri meminta Dayang Seo untuk meracuni para biarawati yang ada dibiara itu untuk menutupi jejak rahasia . Sementara Yeonhwa ditugaskan untuk membakar biara itu setelah Tanashiri pergi .Tanashiri mencekoki bayi itu dengan obat tidur sebelum berpura2 melahirkan nanti .
Di perjalanan , Tanashiri dkk berpapasan dengan Heuksoo dkk . Sebagaimana rakyat yang bersujud memberi hormat pada Permaisuri Tanashiri yang sedang melintas  ,Heuksoo dkk juga ikut turun dari kuda berlutut memberi hormat.



Terlihat sorot mata Seungnyang penuh benci dan dendam untuk membalas dendam kematian anaknya , bahwa darah harus dibayar dengan darah .
Seungnyang belum sadar kalau anaknya masih hidup dan berada di tangan Tanashiri . (Hanya bukti tanda lahir yang kelak mungkin akan jadi petunjuk.)
***
Tahwan meringkuk di ranjangnya dengan fisik dan psikis yang benar2 jatuh ke titik nadir.  El Temur dkk memberitahu Tahwan tentang hal ini.  El Temur menyapa Tahwan dan berharap Tahwan dapat ikut mengurus  calon bayinya.

Namun Tahwan hanya terbaring di ranjangnya tanpa mengucapkan sepatah katapun.  Bahkan membalikkan muka seperti enggan melihat El Temur.
El Temur mencemooh Tahwan yang tidak becus sebagai seorang suami maupun ayah.
El Temur berlalu , dan Tahwan mengambil sapu tangan peninggalan Seungnyang , dan mengenang dan meratapi masa kebersamaannya bersama Seungnyang.


***
Tanashiri berakting melahirkan bayinya dengan didukung oleh Yeonhwa dan Dayang Seo. Tanashiri pura2 mengejan sambil diawasi oleh Dayang Seo . Bahkan mereka membuat "Byul" berlumuran darah seperti benar-benar baru dilahirkan.



Sementara itu keluarga El Temur menantikan bayi Tanashiri dengan cemas. Dan bayinya akhirnya terlahir , seorang calon Putera Mahkota .
El Temur  begitu senang setelah mendengar "cucu"nya terlahir dengan selamat . Demikian pula dengan Dangkise dan Tapjahae. El Temur memberikan nama sanskrit Buddhisme , yakni Maha (Artinya agung atau besar)  untuk cucunya ini.  Tanashiri suka dengan nama pemberian ayahnya ini.
Selagi El Temur antusias dengan cucunya yang kelak diharapkan akan jadi Kaisar yang Besar,  Tanashiri tersadar bahwa Tahwan belum datang untuk merayakan kelahiran "anak" mereka.
Semua tampak senang dengan kehadiran  bayi ini kecuali Dokman.
***
Kembali ke Goryeo . Raja Wang Yoo menghadap ayahnya untuk melaporkan situasi moneter di Goryeo yang terus memburuk yang akan mengancam kelangsungan kerajaan.  Wang Yoo menyebutkan bahwa dia sedang mengusut kasus itu.
***
Ketika Wang Yoo memikirkan solusi terbaik , Bisoo membaca manuver Wang Yoo dan memerintahkan anak buahnya untuk memborong ginseng sebagai salah satu komoditas andalan Goryeo.

Asisten Bisoo berlalu dan Bisoo bergumam bahwa dia akan membalas kekalahan terakhir dari Wang Yoo di perbatasan.  Bisoo bertekad bahwa kali ini hasilnya akan berbeda.
***
Wang Yoo kembali ke tempatnya dan melihat Kasim Bang sudah datang dengan wajah muram , demikian pula dengan Moosong dan Jeombakyi.
Kasim Bang sangat sulit untuk memberitahu Wang Yoo bahwa Seungnyang sudah mati. Bahkan Kasim Bang sudah menangis duluan dan berlutut di hadapan Wang Yoo dan meminta agar tidak diampuni atas kegagalannya menjaga Seungnyang.
Raja Wang Yoo mulai merasakan firasat buruk dan bertanya kenapa Kasim Bang pulang sendirian tanpa disertai Seungnyang dan Bulhwa.

Akhirnya Moosong yang menyampaikan kabar duka cita untuk Wang Yoo tentang apa yang terjadi di Yuan. Wang Yoo terpukul mendengar kabar yang sungguh tidak disangkanya.
Kini Moosong dan Jeombakyi ikut berlutut mendampingi Kasim Bang.  Wang Yoo masih tidak percaya Seungnyangmati . Kasim Bang dengan terisak mengatakan kalau Seungnyang tertembak panah.
Wang Yoo kini tahu bahwa Tanashiri yang bertanggung jawab.  Wang Yoo dengan langkah gontai kembali keruang kerja dan sedih terkenang kebersamaan bersama Seungnyang. Sementara Jeombakyi , Kasim Bang dan Moosong masih berlutut menunggu diluar , memikirkan junjungan mereka.
Sebuah kilas balik . Pada saat itu Seungnyang memanjatkan harapan di bawah sinar bulan purnama. Wang Yoo memeluk Seungnyang dari belakang seraya bertanya apa harapan Seungnyang.  Seungnyang berharap bahwa setiap hari tanpa kehadiran Wang Yoo disisinya akan cepat berlalu. Seungnyang akan mengatakan sisanya jika Wang Yoo telah kembali.  Wang Yoo pun berharap agar kelak bisa hidup dan meninggal bersama Seungnyang. Seungnyang pun mengaku punya harapan yang sama , bahwa tidak peduli hidup dan mati ingin tetap bersama Wang Yoo.

Wang Yoo hanya bisa menjeritkan kepedihannya , berduka untuk kematian Seungnyang.


***
Di markas Heuksoo yang dikawal banyak orang. Heuksoo sedang menakar  berapa nilai Jeokho untuk dijual dan bahkan memeriksa dengan teliti dengan kaca pembesar.

Heuksoo yang berpengalaman memeriksa selangkangan Jeokho dan langsung menyimpulkan Jeokho adalah mantan kasim dan telah kastrasi.  Jeokho mencondongkan kepalda dan mengatakan bahwa Heuksoo pun sama saja.  Heuksoo langsung menakar bahwa Jeokho yang terlihat pandai ini punya nilai 20 tael emas.
Kemudian Jeokho diseret keluar ruangan bersamaan dengan Seungnyang yang di seret masuk kedalam.  Seungnyang mengalami hal yang sama dan diteliti dengan seksama oleh Heuksoo.
Setelah itu Heuksoo menyimpulkan bahwa fitur wajah seperti Seungnyang itu langka.  Heuksoo meminta Seungnyang untuk berbalik , namun Seungnyang menukas bahwa dia berasal dari Goryeo.  Heuksoo menjelaskan bahwa pihaknya hanya menangkap pelaku kriminal untuk dijual sebagai budak.
Seungnyang menolak untuk diperlakukan seperti tawanan lain dianggap kriminal ,  dan merasa tidak melakukan kesalahan apapun , juga tawanan lainnya. Heuksoo mengatakan bahwa tidak akan ada yang mencari tawanan2 kriminal seperti itu , dan terlebih Seungnyang terlahir di Negara Goryeo yang dianggap lemah.

Seungnyang berkata jika Heuksoo perlu uang , dia bisa memberikan dengan catatan harus menghubungi seseorang.  Heuksoo menuntut agar Seungnyang bisa memberikan uangnya sekarang (tentu saja tidak bisa).
Seungnyang diseret keluar ruangan. Sebelum itu Seungnyang sempat memperlihatkan tatapan kebencian dan mengancam tidak akan melupakan wajah kotor Heuksoo.
Heuksoo menyimpulkan kalau Seungnyang bernilai tinggi jika bertemu dengan pembeli yang tepat.
Seungnyang dikunci di sebuah ruang bersama tahanan lain.  Pada saat hendak tidur , Seungnyang tersadar masih ada padanya cermin pemberian Dayang No. Seungnyang melihat ada secarik kain yang didalamnya ada kertas , berisikan "Surat Darah" yang dicari semua pihak selama ini.

0 comments:

Post a Comment