Wednesday, December 25, 2013

Sinopsis : Empress Ki - Episode 18

Standard

Tahwan mencoba untuk meraih tangan Seungnyang . Dan Seungnyang tampak keberatan . Hal itu dilihat pula oleh Wang Yoo.  Akibatnya keduanya mencoba meraih tangan Seungnyang. Seungnyang terperangkap di antara dua pria .

Tanashiri menyadari Seungnyang berdiri terlalu dekat , dan berkata : " Kenapa kamu berdiri disana. Cepat kembali ke posisimu ."  Baik Raja Wang Yoo maupun Kaisar Tahwan melepaskan pegangan mereka terhadap lengan Seungnyang.
Tanashiri yang "geer" masih merasa Tahwan dan Wang Yoo bertengkar memperebutkan Tanashiri. Tanashiri berpikir : " Yang Mulia Kaisar ekspresi wajahnya seperti bintang buas. Berarti aku tepat membawa Wang Yoo kemari. Kaisar jadi cemburu dibuatnya."
***

Tahwan kembali keruangan dan memberikan perintah pada Seungnyang : " Aku akan memberikan perintah kekaisaran padamu. Jika kamu tidak mematuhi , akan dihukum mati. Kamu tidak boleh berbicara dengan Wang Yu , tidak bisa melihatnya , bahkan tidak bisa tersenyum kepadanya. Dan terlebih lagi , kamu tidak boleh menangis karena Wang Yoo didepanku."
"Yang Mulia !! Yang Mulia !" seru Seungnyang.
Tahwan sudah terlalu ngambek dan berkata : " Hentikan , aku tidak mau mendengarnya lagi. Keluar !!"
Seungnyang hampir menangis karena kemarahan Tahwan. Dan Tahwan hanya bisa menghela nafas setelah Seungnyang berlalu.
***

Seungnyang kembali ketempatnya , dan ada Wang Yoo yang sedang menunggu.  Wang Yoo berkata : " Kamu tidak mau kembali bersamaku ke Goryeo ? Mari kita pergi bersama Seungnyang ."
Seungnyang tentu saja setuju . "Iya Yang Mulia , aku akan pergi , aku akan pergi kemanapun untuk mengikutimu."
Wangyoo mengatakan bahwa ini akan menjadi masa sulit bagi mereka berdua. Seungnyang mengatakan kalau dia sudah siap sedia , seribu tahun atau bahkan seribu tahun pun akan menunggunya.
Wang Yoo meminta Seunngyang untuk berjanji , agar Seungnyang tidak membantu Wang Yoo . Persoalannya Wang Yoo merasa melihat Seungnyang terluka lebih sakit daripada mengalami kematian.
Ketika Seungnyang hendak berlalu , Wang Yoo menahan dan memeluk Seungnyang. Diam2 hal ini di amati oleh Dangkise dari kejauhan .

***
Tahwan gelisah memikirkan apakah harus memanggil Seungnyang atau tidak. Tampaknya Tahwan menyesal telah memarahi Seungnyang sebelumnya.
Keesokan paginya Kaisar Tahwan bangun dan menggeliat di ranjang , sampai dia melihat seekor tikus ada dihadapannya. Tahwan berteriak , sehingga Golta dkk masuk melihat keadaan kaisar.  Namun para kasim juga tidak berdaya dan ketakutan melihat tikus , hingga Seungnyang muncul dan menangkapnya dengan mudah , dengan tangan kosong belaka.


Seungnyang sempat menakuti Tahwan untuk sesaat dengan tikus itu , kemudian membuangnya.
Tahwan memarahi anak buahnya karena takut dan bahkan mengarahkan pedang kepada tikus. Akibatnya Tahwan mengusir mereka keluar dengan melemparkan bantal.
***
Wang Yoo bersiap untuk menghadap Ibu Suri , dan berpapasan dengan Tanashiri yang menyapanya . Tiba-tiba tikus2 muncul entah darimana dan para dayang istana melompat untuk menghindari tikus2 itu.

Tanashiri pun ketakutan dan Wang Yoo bergerak cepat untuk mengamankan dan mengangkat Tanashiri.  Dan Tanashiri mengambil kesempatan dengan memeluk Wang Yoo.
Wang Yoo mengatakan agar Tanashiri melepaskan tangannya. Dan Wang Yoo menurunkan Tanashiri kembali. Tanashiri berterimakasih atas bantuan Wang Yoo. Dan Wang Yoo berlalu.
Tanashiri bertanya pada Dayang Seo apakah tadi terlihat memalukan. Dayang Seo berpikir demikian juga , namun segera mengkoreksi perkataannya.

Tikus2 sudah menyebar dimanapun . Dayang2 istana ketakutan , demikian juga dengan Ibu Suri yang terkejut.
***
El Temur bermain catur dengan Dangkise. Permainan ini dimenangkan oleh El Temur.  Walaupun menang ,  El Temur mengkritik permainan anaknya yang kurang strategis.
Pada saat itu Bayan masuk dan melaporkan tentang bencana tikus di istana. El Temur mengira itu hanya masalah sepele belaka. Tal Tal menambahkan bahwa tikus ini mungkin berkaitan dengan kutukan mendiang Kaisar.
***
Ibu Suri tidak senang dengan wabah tikus yang menerpa istana Ibu Suri. Dokman menjelaskan bahwa wabah tikus juga menyerang Istana Kaisar.  Mereka mulai mengaitkan dengan Kutukan Kaisar Mingzong.

Sementara itu Kasim Bang Sinwoo mulai menyebar rumor dengan menyamar sebagai rahib di tempat perjudian. Kasim Bang mengaitkan bencana tikus dengan zodiak Tionghoa dimana tikus adalah binatang pertama yang melarikan diri dari bencana.  Orang-orang yang mendengar mulai mengaitkan bencana tikus sebagai pertanda bencana , dan juga mengaitkan dengan Kutukan Kaisar Mingzong , dan kredibilitas PM El Temur.
***
El Temur lagi2 marah besar membaca petisi di depan Kaisar Tahwan . Dan Tahwan mengatakan bahwa dia telah mendengar rumor tentang kutukan mendiang kaisar.
PM El Temur memperingatkan bahwa Tahwan sudah berjanji akan bersikap seperti orang mati. Tahwan kali ini memberikan sedikit perlawanan , bahwa bagaimanapun rakyat akan gelisah . El Temur menyindir bahwa Tahwan semakin berani saja.  Tahwan hanya terdiam sambil menyembunyikan ketakutannya didepan El Temur.
Bayan menghadap dan memberitahu El Temur ada yang harus dilihat. Setelah El Temur berlalu , Tahwan menarik nafas lega . Seungnyang menyemangati Tahwan bahwa kali ini Tahwan cukup berhasil membuat El Temur takut yang terpancar dari mata , sebagaimana Tahwan takut terhadap El Temur.

Di kuil kekaisaran , PM El Temur dan Bayan melihat Ibu Suri menemukan Patung Buddha menangis darah. Ibu Suri menangis melihat pertanda buruk tersebut , sedangkan El Temur bertanya pada Dangkise apa yang terjadi. Dangkise menjelaskan bahwa Patung Buddha itu sudah menangis ketika Ibu Suri akan mulai bersembahyang.
El Temur menginstruksikan Jendral Bayan untuk mengusut kasus misterius ini. El Temur menuding apakah Ibu Suri yang melakukan ini. Ibu Suri menyindir bahwa El Temur berhasil membuat Buddha menangis darah , dan kutukan akan segera dimulai , bencana akan melanda negri.
El Temur yang marah hendak mengambil pedang milik Dangkise  untuk menghancurkan patung , namun di cegah oleh Ibu Suri yang mengira El Temur sudah gila. Dangkise pun berusaha mencegah ayahnya mengamuk. El Temur berlalu sambil melampiaskan amarah dengan menendang pintu. Ibu Suri sempat lemas namun kembali bersembahyang kepada Buddha.
El Temur menuju ruangannya , dan berpikir siapakah musuh berat yang misterius ini . Selama karirnya , El Temur merasa belum pernah bertemu dengan musuh seberat ini yang membuat dirinya terpojok. Dangkise hanya bisa melihat ayahnya dari luar pintu.
***
Raja Wang Yoo pun terperanjat mendengar Tangisan Buddha tersebut karena memang bukan bagian dari rencananya. Moosong menerka bahwa ada pihak lain yang merencanakan siasat ini , namun Wang Yoo tidak ambil pusing secara insiden itu menguntungkan kubunya , dan berhasil memunculkan ketakutan dan kegelisahan pada El Temur yang dikenal tak mengenal takut sebelumnya.

Keesokan paginya , Wang Yoo bermain catur dengan El Temur. Tahwan dan Seungnyang ikut terkejut saat melihat kebersamaan Wang Yoo - El Temur.
Pada permainan catur , Wang Yoo berhasil mengalahkan El Temur. Wang Yoo menjelaskan bahwa kekalahan El Temur kali ini karena terlalu fokus dalam menyerang sehingga melupakan pertahanan.
Lalu Wang Yoo mulai mengungkit bahwa dia tahu El Temur menghianati kaisar sebelumnya , kakeknya Tahwan. El Temur bertanya apa Wang Yoo mau mati bisa berkata seperti itu.  Wang Yoo tidak gentar dan menantang El Temur agar membuat keputusan dengan lebih bijaksana dan tidak membuat kesalahan untuk kedua kalinya.
***

Di malam hari , El Temur terinspirasi oleh ucapan Wang Yoo , dan berkata pada Dangkise  bahwa selama ini El Temur terlalu peduli pada musuh yang didepan mata , sehingga tidak memberi perhatian pada musuh yang berada dibelakang. El Temur mengatakan akan menarik Wang Yoo ke kubu El Temur.
Dangkise tidak sependapat dan meragukan Wang Yoo bisa dipercaya. El Temur mengira anaknya iri pada kemampuan Wang Yoo. El Temur menegaskan bahwa yang dibutuhkan saat ini adalah orang yang cerdas seperti Wang Yoo , dan tidak membutuhkan anak yang tidak punya kemampuan seperti Dangkise.
Dangkise tidak terima dengan hal ini , meminta ayahnya agar wait and see , sementara Dangkise membongkar kedok Wang Yoo.
***
Seungnyang berjalan sendiri menuju ruangannya ketika seseorang memanggil namanya. Ternyata Wang Yoo yang memanggil dari tempat bersembunyi dengan senyum lebar. Seungnyang khawatir mereka akan terpergok oleh para kasim yang berpatroli.
Wang Yoo bertanya apa Seungnyang telah mendengar tentang Tangisan Buddha . Seungnyang malah berkata bahwa dia mengira Wang Yoo yang melakukannya.  Wang Yoo asal membenarkan dugaan Seungnyang dan meminta Seungnyang untuk tidak menyebarkan rumor mengenai hal itu.
Seungnyang meminta Wang Yoo pergi. Dan Wang Yoo berlalu sambil tersenyum . Setelah itu Seungnyang menghela nafas.
(Pelaku Tangisan Berdarah Sang Buddha ternyata Seungnyang . Dia melakukan itu karena tidak tahan melihat Wang Yoo begitu lelah berjuang sendiri dengan rencananya.)

***
Seungnyang memasuki ruangan dan melihat Dayang No sedang bercermin . Dayang No segera menyembunyikan cermin begitu tahu Seunnyang sudah ada diruangan.  Dayang No marah karena menilai Seungnyang tidak menghormati yang lebih senior.
Lalu Dayang No meminta Seungnyang untuk memijat kakinya . Dayang No bertanya apakah Seungnyang berasal dari Goryeo. Seungnyang membenarkan , dan Dayang No mengeluh bahwa orang-orang keras kepala dan tidak berguna semuanya berasal dari Goryeo. Walau demikian , Dayang No juga mengakui bahwa dirinya berasal dari Goryeo.
***
Keesokan paginya , Tahwan berpapasan dengan Wang Yoo. Tahwan bertanya tentang kedekatan yang mendadak antara Wang Yoo dengan El Temur. Wang Yoo menjelaskan bahwa dia hanya raja yang terbuang dan sebagai sandera di istana , dan hanya bisa melihat siapa yang berguna bagi dirinya untuk berkerja sama.
Wang Yoo menawarkan Tahwan untuk berkerjasama dengan syarat mengembalikan tahta Wang Yoo sebagai Raja Goryeo. Kemudian Wang Yoo berlalu sambil mencuri pandang kearah Seungnyang.
Setelah itu Tahwan bertanya pada Seungnyang  : "Tuh kamu sudah lihat khan ?" Seungnyang tidak keberatan untuk membantu Tahwan karena akan menguntungkan posisi Wang Yoo pula jika El Temur berhasil dikalahkan. Tahwan menganggap Seungnyang keterlaluan karena tidak mempertimbangkan perasaan Tahwan.  Seungnyang meminta maaf dan berlalu.
***
Tahwan ingin mendengarkan kemajuan proses pengusutan tentang Surat Darah . Bayan hanya meminta maaf karena belum ada kemajuan. Tahwan menjadi muak karenanya. Lalu Tal Tal mengatakan bahwa sebelum ayah Tahwan meninggal , punya kasim yang senantiasa mendampinginya. Dia bernama Jeokho asal Goryeo , namun batang hidungnya , hidup atau sudah mati , belum diketahui.
Tahwan meminta mereka untuk pergi . Bayan dan Tal Tal berlalu.
Golta dan Seungnyang muncul untuk membahas masalah Jeokho. Golta mengatakan bahwa dia pernah mendengar bahwa Kasim Jeokho ahli bela diri dan sangat setia. Golta berkata bahwa dia akan mencari tahu mengenai Jeokho , dengan memerintahkan kasim yang bisa dipercaya untuk melacak keberadaannya.
***
Di Desa Goryeo , Byeongsoo menyadari bahwa tikus2 yang biasa hilir mudik di desa itu sudah menghilang , dan terdengar di istana muncul tikus2.
Makseong berkata kalau tikus2 itu memang pindah ke istana , dan jika Byeongsoo seekor tikus , apa akan ikut pindah juga , secara istana lebih baik sebagai tempat inggal.
Byeongsoo membenarkan kalau dia seekor tikus tidak akan tinggal didesa ini. Makseong bertanya kalau begitu mengapa Byeongsoo tetap tinggal disini. Byeongsoo berkilah bahwa dia merasa kerasan di desa ini yang sudah dianggap sebagai kampung halamannya.

Kasim yang diutus Golta tiba di desa dan mencari siapa gerangan kepala desa di desa ini. Setelah mengetahui siapa kepala desa , Kasim itu bertanya apa kepala desa Makseong tahu tentang seorang kasim bernama Jeokho ?
Byeongsoo langsung tertarik mendengar kasim itu berasal dari istana. Byeongsoo bertanya kenapa kasim itu mencari soal Jeokho. Byeongsoo berpura2 pernah mendengar nama itu.
***

Dangkise bersama Tapjahae dan Jachom bergegas untuk bertemu dengan Byeongsoo di rumah bordil. Byeongsoo lalu bercerita bahwa Jeombakyi dan Bulhwa datang ke Desa Goryeo , dan setelah itu tikus2 di desa itu menghilang.  Walau demikian Byeongsoo tidak memiliki bukti kalau mereka menangkap sendiri tikus2 itu.
Byeongsoo juga bercerita bahwa ada seorang kasim yang datang ke desa untuk mencari Jeokho. Dangkise teringat kalau ayahnya ,El Temur , telah membunuh seluruh kasim , namun ada satu mayat yang tidak ditemukan ketika itu , nama kasim itu adalah Jeokho.
Keesokan paginya , Dangkise dan Byeongsoo membuntuti kasim yang ditugaskan Golta. Byeongsoo mengkonfirmasi bahwa kasim itulah yang berkunjung ke desa. Dangkise tahu bahwa kasim itu adalah salah satu kasim yang melayani Tahwan.  Tapjahae ragu kalau Tahwan seberani itu. Dangkise menyimpulkan bahwa Tahwan mungkin akan berani jika mendapat dukungan dari si Serigala Seungnyang dan Wang Yoo.
***
Tahwan mendapat kabar baik dari Golta , bahwa orangnya Jeokho bersedia untuk bertemu mereka di malam hari , di rumah bordil.  Mendengar hal itu , Seungnyang memutuskan untuk pergi sendiri. Namun Seungnyang cemas kalau ini adalah jebakan batman.Demikian pula dengan Golta yang keberatan. Namun Tahwan merasa percaya diri karena telah melalui berbagai pengalaman menyulitkan selama di Goryeo.
***
Wang Yoo mulai berpikir kenapa El Temur  belum juga mengutus orang untuk menghubunginya.  Namun pada saat itu Sinwoo memberi kabar bahwa ada utusan dari El Temur.
Ternyata Dangkise , yang mengabarkan ayahnya , El Temur mau bertemu dengan Wang Yoo di luar istana , yakni di rumah bordil.  Wang Yoo setuju.

***
Tahwan memiliki sebuah ide. Dia membuat salah seorang kasim berdandan seperti dirinya dan terus berbaring di ranjang. Tahwan mencoba menenangkan kasim yang takut , bahwa hanya satu malam saja.
Tahwan mengenakan pakaian yang jauh dari ciri seorang kaisar. Demikian pula dengan Seungnyang , bersama satu kasim lagi yang akan menjadi pengawal . Mereka lalu mengendap2 keluar dari istana. Tanpa mereka sadari , Dangkise mengawasi mereka.
Dangkise meminta Tapjahae untuk memberitahu ayah mereka. Kasim yang disuruh Golta juga ada bersama mereka. Ternyata kasim ini dipaksa untuk memberikan informasi palsu karena keselamatan keluarganya terancam. Dangkise berjanji untuk melepaskan kasim yang malang ini , namun Dangkise malah membunuhnya.  Dangkise meminta Jachom untuk mengurus mayat kasim ini.
Sementara itu Tahwan dan Seungnyang memulai perjalanan. Tahwan sangat antusias karena sudah lama sekali tidak menghirup udara segar. Seungnyang meminta Tahwan agar bergegas , namun Tahwan memeluk Seungnyang . Dan Seungnyang melepaskan pelukan Tahwan dan memintanya agar tetap tenang.

***
Jocham yang ditugaskan mengurus mayat kasim  , terpergok oleh Bayan dan Tal Tal. Mereka mengenal kalau mayat kasim itu adalah kasimnya kaisar. Jocham yang ketakutan mengatakan bahwa dia hanya disuruh Dangkise yang telah membunuh kasim itu.
Bayan bergegas menuju tempat Tahwan untuk menginformasikan hal itu. Golta mencoba menghalangi , namun Bayan tetap masuk dan menemukan kasim yang menyaru sebagai Tahwan. Bayan panik dan bertanya dimana gerangan Kaisar. Golta menjelaskan kaisar tidak ada ditempat. Lalu Tal Tal mengatakan bahwa salah satu kasim yang melayani Tahwan sudah dibunuh. Golta terperanjat mendengar hal itu. Bayan dan Tal Tal bergegas pergi. Bayan menduga bahwa Dangkise yang menjadi dalang dari semua ini.
***
Di rumah bordil , Dangkise mengawasi Tahwan , Seungnyang dan Kasim Guksoo sudah datang memasuki perangkap yang sudah disiapkan.
Wang Yoo dkk juga berada dirumah bordil tetapi berada diruangan lain. Kasim Bang merasakan firasat buruk . Moosong menyarankan agar mereka kembali saja ke istana. Namun Dangkise muncul dan memberitahu kalau El Temur terlambat datang dan meminta Wang Yoo untuk menunggu.
Tahwan dkk menyadari kalau Jeokho tidak datang. Seorang pelacur datang mengetuk pintu dan memberikan surat kepada Seungnyang. Isi pesannya adalah : " Aku tidak ingin orang lain melihat wajahku , sendiri saja datang ke ruangan terakhir."
Seungnyang memutuskan untuk pergi sendiri. Tahwan memandang dengan khawatir.
Setelah Seungnyang berlalu. El Temur datang dengan disertai pasukan , dan siap untuk bertemu dengan orang yang mencari Surat Darah. El Temur memasuki ruangan dan malah melihat Tahwan sedang menunggu. Mereka berdua sama2 terkejut.
Diruangan lain , Wang Yoo merasa El Temur sudah terlalu terlambat. Dangkise mengatakan bahwa dia mendengar orang yang menyebarkan gosip tentang surat darah ada disini. Wang Yoo mulai merasa gelisah.
Seungnyang tiba dan mengetuk pintu . Dangkise menggunakan nama samaran sebagai password. Seungnyang lalu membuka pintu dan melihat Wang Yoo ada diruangan. Mereka berdua sama-sama terkejut.
Seungnyang tidak berdaya karena Dangkise memerintahkan para pengawal untuk mengepung Seungnyang. Wang Yoo hendak turun tangan , tetapi dicegah oleh Sinwoo. Dangkise tertawa senang karena rencananya sukses besar.


***
El Temur bertanya apakah Tahwan sedang mencari Surat Darah. Tahwan menjawab apa salahanya seorang anak mencari surat wasiat dari mendiang ayahnya. El Temur menuding Tahwan yang merencanakan petisi mengenai kutukan itu  . Tahwan membantah keterlibatannya.
Sementara itu Bayan dan Tal Tal memeriksa rumah bordil , dan menyadari keanehan dimana El Temur datang membawa pasukan. Tal Tal melihat Ibu Suri juga telah datang bersama para kasim dan Golta yang bersenjata .

***
El Temur mengambil pedang dan bersiap untuk menghabisi Tahwan. El Temur berkata kalau dia sudah memperingatkan Tahwan sebelumnya. "Karena kamu mengabaikan peringatan dariku , terimalah akibatnya !! "
Niat jahat El Temur diurungkan karena mendengar Rombongan Ibu Suri tiba.
Bayan dan Tal Tal memutuskan untuk sementara berpihak pada El Temur dengan memblokade Rombongan Ibu Suri. Mereka dan para kasim sudah siap untuk bertarung.

Pada saat genting itu , El Temur muncul bersama Tahwan.  Tahwan langsung mendekati Ibu Suri. Dan Ibu Suri memerintahkan Golta untuk mengawalnya. Tahwan keberatan untuk pergi karena belum melihat Seungnyang. Walau demikian , Tahwan tidak ada pilihan lain selain pergi.
El Temur bertanya kenapa Bayan dan Tal Tal juga ada disini.  Tal Tal berkilah bahwa mereka melihat rombongan Ibu Suri dan berniat untuk menghalanginya.
***
Sementara itu Wang Yoo lagi bersitegang dengan Dangkise. Dan Dangkise menuding Seungnyang berkomplot bersama Wang Yoo yang memunculkan petisi itu.  Dangkise jelas tidak punya bukti , dan memanfaatkan hubungan antara Wang Yoo - Seungnyang.
Dangkise mengatakan bahwa Seungnyang akan disiksa sampai mengaku. Wang Yoo mengancam tidak akan mengampuni Dangkise kalau berani menyentuh rambut Seungnyang sehelaipun. Dangkise hanya tertawa dalam menyikapinya.
El Temur tiba di ruangan Wang Yoo dan bertanya apa yang terjadi.  Dangkise mengadukan pada ayahnya tentang dalang dibalik petisi dan bencana tikus. El Temur tidak mempercayai Dangkise dan malah menampar anaknya sendiri.  El Temur bahkan meminta maaf pada Wang Yoo atas kelakuan anaknya ini.
El Temur memerintahkan anaknya untuk pergi. Dangkise yang tak mau pergi dengan tangan hampa , membawa serta Seungnyang. Wang Yoo sempat berkata agar Seungnyang dibiarkan disini. Namun Dangkise tetap membawa serta Seungnyang.
***
Wang Yoo memasuki ruangan El Temur. El Temur bertanya apakah Wang Yoo masih tertarik untuk menjadi orangnya , dan apa persyaratan yang hendak diajukan. Wang Yoo mengajukan syarat agar Seungnyang dibebaskan terlebih dahulu.
***
Tahwan mengkhawatirkan nasib Seungnyang. Setelah mendapat kabar Seungnyang disekap di penjara , Tahwan langsung menuju TKP.
Seungnyang memang sedang disiksa hingga babak belur. Dangkise memegang wajah Seungnyang dan berkata bahwa kali ini Seungnyang tidak bisa lolos darinya.


Wang Yoo tiba di saat yang tepat dengan pedang terhunus ,mengancam leher Dangkise. Wang Yoo menegaskan bahwa El Temur sudah setuju untuk membebaskan Seungnyang.  Sebagai "hadiah" , Wang Yoo memukul Dangkise hingga jatuh pingsan.
Wang Yoo segera mengamankan Seungnyang yang masih tak sadarkan diri. Ketika Wang Yoo membawa Seungnyang untuk pergi , Wang Yoo berhadapan dengan Tahwan yang sudah tiba. Mereka berpandangan satu sama lain.

0 comments:

Post a Comment