Monday, May 6, 2013

Sinopsis : Gu Family Book – Episode 9

Standard


Di lapangan luas markas Keluarga Dam , Taeseo dalam pengaruh hipnotis menusuk Kangchi karena dianggap sebagai pembunuh Tuan Park ayahnya.
Kangchi tersungkur seraya tak percaya Taeseo bisa melakukan hal ini. Taeseo merasa belum puas dan menarik pedangnya untuk menebas Kangchi sekali lagi.  Pada saat itu Yeowool turun tangan dan menahan serangan Taeseo dengan pedangnya.

Taeseo berang karena dihalangi oleh Yeowool . Gon datang disaat yang tepat memukul Taeseo agar pingsan. Yeowool panik melihat Kangchi tersungkur ditangannya.

***
Chungjo menantang Wolsan dengan menyindir inikah sikap seorang gisaeng terbaik ditempat ini , yang hanya bisa memaksa juniornya untuk minum minuman keras untuk mengerjainya ?  Wolsan marah dan melemparkan minuman . Chungjo tidak gentar karena merasa sudah menukar harga dirinya dengan semangkuk bubur .
Wolsan dkk semakin marah dan melepas baju luar masing-masing , kemudian melemparkannya kepada Chungjo untuk dicuci.
***
Taeseo disidang dalam posisi berlutut karena kasus penikaman terhadap Kangchi. Taeseo membela dirinya melakukan itu karena melihat Kangchi membunuh Tuan Park ayahnya. Gon tentu saja percaya karena pada malam kejadian dia bersama Yeowool menyaksikan sendiri Tuan Park terbunuh oleh salah satu pengawal dari Pensiunan Gwan.
Polisi Dam meminta Taeseo untuk kembali mengingat siapa saja yang ada saat kejadian selain Kangchi dan Tuan Park ? Taeseo berusaha mengingat namun tak berdaya , yang teringat hanya Kangchi membunuh Tuan Park.
Polisi Dam menyimpulkan bahwa Taeseo berada dibawah pengaruh hipnotis. Hipnotis yang dilakukan saat si korban dalam keadaan sadar hanya bisa dihilangkan oleh orang yang menghipnotisnya. Yeowool penasaran apa yang akan terjadi ? Polisi Dam menjelaskan bahwa Taeseo akan terus berusaha membunuh Kangchi sampai berhasil.
Sementara itu Kangchi mengalami luka berat dan tak sadarkan diri kehilangan banyak darah.

(Dahulu Kangchi dan Taeseo sudah seperti saudara sendiri dan juga sahabat baik walaupun berbeda status. Kangchi ketika itu mengungkap cita-citanya yang sederhana pada Taeseo , yakni hidup bersama Tuan Park , Chungjo dan Taeseo selama-lamanya. Taeseo juga punya cita-cita ingin seperti ayahnya . Kangchi bingung karena pekerjaan Taeseo sudah diakui dan menurut Kangchi yang diperlukan Taeseo hanyalah menikah. Kangchi mengeluh kalau Taeseo kelihatan takut sama wanita. Taeseo membantah . Kangchi ganti menduga kalau Taeseo sudah punya calon . Taeseo hanya tersenyum.  Kangchi terus menggoda Taeseo melihat bungkamnya Taeseo. Akhirnya mereka berdua terus bercanda dengan riangnya.)
Taeseo menangis teringat masa lampau.
***
Wolsan dkk terus memplonco Chungjo yang masih junior. Kali ini dengan melemparkan pakaian yang sudah di cuci oleh Chungjo karena merasa masih kotor. Chungjo mencoba mencegah namun pakaian cucian itu malah diinjak2 oleh mereka sendiri.
Kepala Pelayan rumah gisaeng mengadukan hal itu pada Madam Chun. Madam Chun membiarkan dengan alasan Chungjo harus mengalami kepahitan agar bisa menghadapinya .
***
Salah satu murid senior Polisi Dam melaporkan pada Yeowool di luar ruangan bahwa luka Kangchi sangat berat . Jika pendarahan tidak berhenti , sang senior itu ragu bahwa Kangchi bisa mati .
Yeowool khawatir dan masuk ruangan tempat Kangchi sedang terbaring lemah. Yeowool teringat bekas luka tusukan pedang di tangan Kangchi saat menyelamatkan Yeowool dari ancaman ninja. Yeowool pun ingat bekas luka gigitan anjing saat menyelamatkan Yeowool cilik.
Yeowool mulai tergoda untuk menarik gelang pusaka agar Kangchi berubah dalam mode siluman sehingga lukanya bisa sembuh sendiri dengan cepat. Tetapi Yeowool teringat juga peringatan Sojung agar Yeowool tidak ikut campur.

(Sebelumnya Yeowool memang bertemu dengan Rahib Sojung. Yeowool berkilah bahwa membantu Kangchi hanya sebatas teman. Yeowool juga menenangkan Sojung bahwa sampai saat ini Kangchi masih menganggap Yeowool itu pria. )
Yeowool bimbang akan janjinya pada Rahib Sojung . Tetapi Yeowool prihatin atas keselamatan Kangchi. Yeowool akhirnya nekat menarik gelang itu dari tangan Kangchi.
Ajaib. Luka Kangchi berangsur pulih sendiri dengan cepat diiringi butiran cahaya biru. Tetapi tiba-tiba Kangchi bangun dengan mata hijau yang liar. Kangchi langsung menerkam dan mencekik Yeowool . Yeowool dalam keadaan bahaya.
Ditempat lain Gon merasakan firasat buruk dan bergegas pergi meninggalkan Taeseo di ruang aula.
Yeowool berusaha menenangkan Kangchi bahwa dia hanya ingin membantu menyembuhkan luka. Yeowool seakan berusaha membujuk hewan ganas yang liar . Yeowool menyodorkan gelang itu dengan sikap lembut . Kangchi tidak menurut begitu saja tetapi menggeram dengan sikap waspada.

Tetapi Kangchi akhirnya menuruti . Kangchi berangsur-angsur kembali menjadi manusia. Walau demikian Kangchi pingsan kembali.
Gon sudah masuk ruangan. Yeowool meminta bantuan Gon untuk membantu memegangi Kangchi. Gon menurut walaupun kelihatan tidak suka. Yeowool mulai merawat luka Kangchi dengan perban.
Hanya saja Gon melihat luka cakaran di lengan Yeowool dan marah. Gon langsung mendorong Kangchi yang masih pingsan dan keluar ruangan. Yeowool menyusul keluar.
Yeowool khawatir Gon akan mengadukan pada Polisi Dam. Gon menyindir harus mengadukan Yeowool mencabut gelang ataukah mengadukan Yeowool terluka oleh Kangchi.

Yeowool berbohong bahwa luka itu karena terkena lilin. Gon mengancam kalau Kangchi membuat Yeowool terus terluka maka Gon sendiri yang akan membunuh Kangchi. Gon ngeloyor pergi dengan jengkelnya.
Taeseo ternyata mengamati dan mendengar pembicaraan mereka berdua.
***
Madam Chun melihat Chungjo tertidur pulas karena kelelahan mencuci baju yang diperintahkan seniornya. Chungjo terbangun dan berkilah dirinya tidak lelah. Madam Chun segera meminta Chungjo untuk ikut kesebuah ruangan.
Madam Chun menunjuk deretan tambur indah pada Chungjo. Madam Chun menjelaskan bahwa orang sering salah paham menganggap profesi gisaeng adalah wanita rendahan yang menjajakan tubuh dan minuman.

Padahal profesi gisaeng adalah kesempatan untuk mempelajari berbagai hal unik termasuk menjadi seorang seniman. Madam Chun memotivasi Chungjo untuk bangkit dan memulai hidup baru.
***
Markas Keluaga Dam gempar karena Kangchi menghilang. Yeowool langsung mencari kesana kemari.
Ternyata Kangchi sedang di dapur dan menikmati makanan. Seorang murid Tuan Dam memergoki dan mengenali Kangchi.
Kangchi memang populer dimarkas itu karena hari pertama datang sudah langsung ditusuk.
Tetapi si murid itu mengingatkan agar Kangchi tidak menyentuh makanan didapur dengan sembarangan. Lagipula kalau guru Gongdal tahu maka Kangchi dalam bahaya.
Kangchi menggerutu kalau Guru Gongdal mungkin pria yang pelit. Si murid pada mulanya tersenyum tetapi jadi pucat begitu Guru Gongdal muncul di tempat itu.
Guru Gongdal ternyata seorang pria renta yang kelihatan lemah sudah berdiri dibelakang Kangchi dengan memegang sapu.
Kangchi tidak tahu dan terus nyerocos hendak makan . Kangchi meminta si murid tidak usah khawatir karena Kangchi berjanji akan menangani Guru Gongdal.
Gongdal celetuk bagaimana cara Kangchi menangani ? Kangchi tersadar ada orang dibelakangnya. Si murid buru-buru memberi hormat pada Guru Gongdal. Kangchi tak percaya Guru Gongdal seorang pria renta yang tidak meyakinkan seperti itu.

Gongdal langsung menghajar Kangchi. Pria renta itu dengan mudah mempermainkan Kangchi dan memaksanya untuk memberi hormat kepada orang yang lebih tua.
Pada saat itu Yeowool muncul dan langsung menggeplak kepalanya (sering sekali Yeowool melakukan ini.) Yeowool langsung mengomeli Kangchi dan setelah itu memohon maaf pada Guru Gongdal karena Kangchi anggota baru yang mungkin belum mengerti suasana markas Keluarga Dam.
Guru Gongdal menggerutu dan pergi dengan gaya yang lucu , seperti kakek-kakek yang benar-benar lemah dan penyakitan. Kangchi kaget kalau kakek lemah itu tadi bisa menghajarnya.
Yeowool jengkel dan menjewer Kangchi , langsung di seretnya keluar. Yeowool menegur agar Kangchi pura-pura masih sakit kalau tidak dia akan dicurigai oleh warga markas Keluarga Dam kalau dia mahluk jejadian yang bisa sembuh secara ajaib.
Yeowool mengingatkan kalau sampai Guru Gongdal tidak menyukai Kangchi akan berabe. Kangchi menanyakan apa Yeowool melepaskan gelang kemaren malam. Yeowool beralasan itu agar Kangchi lekas sembuh karena krisis darah.
Kangchi diluar dugaan mengucapkan terimakasih atas bantuan Yeowool.
Yeowool kaget Kangchi bisa sesopan itu. Kangchi memperingatkan lain kali jangan melepas gelangnya karena tak ingin melukai Yeowool. Yeowool tersentuh oleh ucapan Kangchi.
Pada saat itu Gon datang memberitahu bahwa Polisi Dam memanggil mereka.
Yeowool dan Kangchi segera menuju aula. Disana Kangchi menatap semboyan perguruan dan membaca beberapa aksara (pada masa itu Korea masih menggunakan Hanja atau Hanzi yang merupakan aksara Tionghoa). Kangchi membaca “Mu” yang berarti kebajikan dan Ji yang berarti kebenaran.
Polisi Dam sudah datang dan langsung menjelaskan maknanya . “Seni bela diri berdasarkan kebajikan dan kebijaksanaan dan dikuasai melalui kebenaran.” Demikianlah semboyan perguruan di markas Keluarga Dam.
Kangchi langsung memberi hormat dan memberi salam pada Tuan Dam. Yeowool mengkoreksi agar Kangchi menyebut beliau sebagai guru.
Polisi Dam menanyakan kabar kesehatan Kangchi. Kangchi dengan polos mengatakan sudah sehat. Yeowool terpaksa diam-diam mengingatkan bahwa Kangchi harus pura-pura masih sedikit sakit. Kangchi mengerti dan jadi berpura-pura masih mengerang sakit.
Taeseo juga baru datang dengan mata tertutup. Polisi Dam mengingatkan Kangchi dan Taeseo harus bersikap baik atau akan diusir dari markas ini. Polisi Dam juga mengingatkan ada empat guru besar yang ikut memutuskan.
Polisi Dam juga menasehati agar Taeseo berjuang keras melawan pengaruh hipnotis. Kangchi baru menyadari Taeseo bisa menusuknya karena pengaruh hipnotis. Polisi Dam juga mengingatkan agar Kangchi menghindar sebisa mungkin dari Taeseo karena setiap saat Taeseo bisa terpengaruh hipnotis dan berusaha membunuh Kangchi.
Polisi Dam jengkel melihat Kangchi seperti tidak mendengarkan petunjuknya. Kangchi malah memperhatikan Taeseo sesaat lalu mulai celetuk kalau dirinya tak sudi menghindar seperti anjing pengecut yang lari dari musuhnya.

Taeseo bergumam agar Kangchi mendengarkan Guru Dam. Kangchi mengungkit kembali bahwa alasan dirinya menyelamatkan Taeseo untuk tidak melihat Taeseo selemah ini terhadap hipnotis. Kangchi kembali menegaskan kalau dirinya tidak akan menghindar.
Polisi Dam hanya bisa menghela nafas .
Kangchi keluar dengan wajah jengkel. Tetapi Kangchi terkejut dengan kemunculan Guru Gongdal yang mendadak dengan posisi duduk.
***

***
Taeseo menjelaskan bahwa satu-satunya jalan menuju ruang harta rahasia adalah ruang kerja Tuan Park . Menurut Polisi Dam uang ini penting untuk dana militer Jendral Lee dalam mengembangkan kemampuan Angkatan Laut Joseon Korea.
Sang Tukang yang bernama Chun yang baru saja menghadap Pensiunan Gwan datang . Dia  kemudian melaporkan perkembangan itu pada Polisi Dam. Menurut Tukang Chun waktu bagi kubu Jendral Lee hanya empat hari saja.
Taeseo meragukan apa Tukang Chun dapat dipercaya ? Tukang Chun menjelaskan bahwa dirinya sangat berhutang budi pada Tuan Park.
Yeowool penasaran bagaiman cara ayahnya tahu bahwa Pensiunan Gwan akan memperbaiki lantai diruang kerjanya ? Polisi Dam menjelaskan bahwa Gubernur Lee sudah menduga sejak Kangchi menghantam meja Pensiunan Gwan sampai patah dan menembus lantai.
(Sebelumnya Polisi Dam meragukan Kangchi . Gubernur Lee pernah menjelaskan bahwa Kangchi punya tekad untuk menjadi manusia kembali. Sedangkan manusia yang sesungguhnya malah banyak yang bersifat binatang. Jendral Lee tertarik dengan tekad kuat Kangchi dan memutuskan untuk mendukungnya. )
***
Mata Kangchi terbelalak melihat makanan yang tersaji rapih di meja makan yang panjang untuk acara makan bersama di markas itu. Seorang senior yang pernah merawat Kangchi bertanya kabar kesehatan Kangchi .
Kangchi bingung apa sang senior itu mengenalnya ? Sang senior menjelaskan bahwa dirinya lah yang merawat Kangchi disaat terluka parah tak sadarkan diri.
Kangchi senang mendengarnya dan mengucapkan terimakasih. Tetapi sang senior curiga kalau Kangchi terlalu cepat sembuh. Kangchi teringat pesan Yeowool dan pura-pura mengerang kesakitan pertanda dia belum pulih seutuhnya.
Kangchi menuju tempat duduknya dan bersiap makan. Kangchi kecewa begitu melihat makanannya hanya bubur polos saja. Ekspresi muka Kanchi berubah dan salah satu murid bertanya apa Kangchi baik-baik saja ?
Kangchi memprotes makanan yang bubur saja. Sang murid menjelaskan bahwa Guru Gongdal berpesan agar Kangchi diberi bubur dulu karena belum sembuh betul. Kangchi jadi jengkel pada Guru Gongdal dan menggebrak meja .

Kangchi menyusul kedapur. Ternyata Guru Gongdal lagi asik menikmati ayam . Kangchi semakin jengkel dan membanting mangkuk bubur itu kelantai.
Guru Gongdal juga marah karena menilai Kangchi tidak tahu sopan santun kepada orang yang lebih tua , dan juga tidak menghargai makanan .
Kangchi menuduh bahwa Gongdal hanya memberikan bubur polos sedangkan guru Gongdal sendiri menikmati ayam di usianya yang sudah tua. Kangchi terus mengomel.
Guru Gongdal tersenyum dan merasa tidak yakin kalau Kangchi manusia normal. Kangchi kaget.
Guru Gondal mengajukan alasan bahwa manusia normal tidak akan sembuh secepat itu. Gongdal kemudian menyodok perut Kangchi dengan tongkat.
Kangchi mengancam akan menghajar Guru Gongdal. Guru Gongdal menantang kalau Kangchi berhasil merebut gagang sapu maka akan diberikan ayam yang lezat. Kangchi semakin tergiur.
Kangchi mengira itu adalah masalah gampang . Yang ada Kangchi malah dihajar habis-habisan oleh Guru Gongdal.
Kangchi jadi penasaran kenapa pelayan dapur bisa sesakti ini. Guru Gongdal menjelaskan bahwa dirinya adalah satu dari empat guru besar di tempat ini. Kangchi melongo.
***
Yeowool sebenarnya tidak enak badan karena terluka oleh cakaran Kangchi beberapa hari yang lalu. Yeowool mencoba mengobati lukanya.
Pada saat itu Gon datang memanggil bahwa rencana besar siap dijalankan , yakni merebut harta keluarga Park.
Yeowool bersiap namun tidak melihat Kangchi. Taeseo menjelaskan bahwa sudah ada kesepakatan untuk tidak menyertakan Kangchi dalam misi ini. Yeowool tidak sependapat karena bagaimanapun Kangchi adalah salah satu yang paling paham kondisi Penginapan Seratus Tahun selain Taeseo.
Yeowool membela bahwa Kangchi itu keras kepala tapi akan membantu . Yeowool berharap bahwa Taeseo tidak kehilangan sahabat baiknya hanya karena terpengaruh hipnotis.
Dimana gerangan Kangchi ?
Kangchi dihukum membersihkan semua peralatan dapur. Bukan Kangchi kalau tidak menggerutu bahwa dirinya kelaparan dan masih harus melakukan pekerjaan berat.
Tiba-tiba Gongdal mengajak Kangchi bertaruh. Gongdal tahu bahwa Jendral Lee sangat dekat dengan Kangchi.  Kangchi membenarkan bahwa Jendral Lee bahkan rela mempertaruhkan jabatan demi Kangchi.
Gongdal menuntut agar Kangchi bisa membuktikan kedekatannya dengan Jendral Lee. Taruhannya adalah Kangchi bisa membuktikan dan akan mendapatkan keinginannya (makan enak) atau Kangchi harus pergi dari tempat ini.
***
Pensiunan Gwan mengunjungi rumah gisaeng Chunhwagwan . Para gisaeng menyambutnya tetapi padangan Pensiunan Gwan tertuju pada Chungjo.

Pensiunan Gwan memuji kecantikan Chungjo bagaikan mentari dan rembulan. Chungjo cemas dan merasakan kebencian dan ketakutan bersamaan. Madam Chun pun memperhatikan semua itu dengan khawatir .
***
Kangchi ternyata menyusul ke Penginapan Seratus Hari untuk bergabung dalam misi ini. Kangchi menggunakan penutup kepala dan masuk dengan hati-hati.
Kepala Pengawal Seo memanggil seseorang karena curiga. Kangchi terkejut tetapi sebenarnya yang ditegur oleh Kepala Seo adalah Tukang Chun dkk . Kepala Pengawal Seo curiga kenapa para pekerja semuanya mengenakan cadar.
Tukang Chun berkilah bahwa mereka bercadar agar tidak menghisap debu dalam pekerjaan mereka. Walau demikian Tuan Chun bersama Gon dan Yeowool yang bercadar diijinkan masuk ruang kerja Pensiunan Gwan (mantan ruang kerja Tuan Park).
Gon dan Yeowool tentu saja kaget bahwa Kangchi pun sudah berada di penginapan ini. Kangchi merajuk kecewa tidak disertakan dalam misi besar ini.  Yeowool mencoba untuk menyuruh Kangchi pergi .
Kangchi malah memperhatikan keringat muncul di dahi Yeowool . Kangchi menduga Yeowool sedang tidak sehat dan menegur kenapa Gon membiarkan Tuan Muda Dam alias Yeowool ikut padahal sedang sakit.

Kangchi mencoba meraba dahi Yeowool. Gon tidak membiarkan begitu saja . Kangchi menilai reaksi Gon berlebihan karena Kangchi merasa hanya ingin memeriksa keadaan Yeowool.
Gon dan Kangchi seperti biasanya kembali bertengkar seperti kucing versus anjing. Giliran Yeowool yang jengkel bahwa mereka bisa berantem disaat penting seperti ini.

Tiba-tiba terdengar suara Tukang Chun yang berusaha mencegah Kepala Pengawal Seo untuk masuk. Kepala Pengawal Seo tidak bisa dibendung dan merangsek masuk.
Tukang Chun sudah cemas tetapi akhirnya lega karena hanya melihat Gon saja yang ada diruangan itu.
Kepala Pengawal Seo mempertanyakan kenapa lukisan tembok masih berada diruang itu. Kepala Seo mengatakan bahwa Pensiunan Gwan sangat menyukai lukisan itu. Kepala Pengawal Seo memerintahkan agar lukisan tembok itu dilepas.
Ternyata Kangchi dan Yeowool sudah berada dibalik tembok dan dengan tegang menanti perkembangan situasi. Kangchi mengajak Yeowool untuk menjauh dari tembok . Celaka , Yeowool malah tanpa sengaja menjatuhkan sesuatu. Kangchi secara reflek menangkap tubuh Yeowool agar tidak jatuh. Tanpa sengaja tangan Kangchi menyentuh buah dada Yeowool.

Kepala Pengawal Seo semakin curiga mendengarkan suara dibalik tembok. Tukang Chun dan Gon berusaha meyakinkan Kepala Pengawal Seo bahwa tidak ada suara . Kepala Pengawal Seo tidak percaya dan meminta Gon dan Tukang Chun agar menyingkir dari lukisan tembok itu.

0 comments:

Post a Comment