Tuesday, April 30, 2013

Sinopsis : Gu Family Book – Episode 8

Standard


Pada saat itu Jendral Lee muncul dan menghardik agar petugas menghentikan perlakuannya pada Kangchi . Beliau demikian berwibawa dan merubah suasana pagi itu menjadi lebih angker. Jendral Lee memperkenalkan diri dan jabatannya sebagai seorang jendral angkatan laut dan mengaku telah mendapatkan laporan bahwa anak buahnya , yakni Kangchi , ditangkap dan karenanya Jendral Lee langsung datang kemari.

Analisa : Sejak kapan Kangchi jadi anak buah Jendral Lee? Tentu Jendral Lee punya alasan dan rencana sendiri. Tetapi kehadiran seorang berpangkat tinggi merubah posisi Kangchi menjadi lebih menguntungkan.
Ada beberapa alasan kenapa Jendral Lee mau meluangkan waktu dan mengorbankan reputasinya untuk Kangchi.
  1. Jendral Lee menyaksikan sendiri betapa ksatrianya Kangchi yang berani membela rakyat dan menghajar preman.
  2. Jendral Lee menghormati Tuan Park dan juga menghormati pesan terakhir dari Tuan Park untuk menjadikan Kangchi sebagai anak buahnya dan membimbingnya.
  3. Jendral Lee bisa menilai potensi besar dari seseorang. Ini merupakan ciri dari seorang Jendral Besar yang bisa menilai potensi dari calon bawahannya. Semakin banyak seorang pemimpin mengumpulkan bawahan yang setia dan kompeten , semakin kuatlah kepemimpinannya.
  4. Dengan mendatangi langsung kepolisian , Jendral Lee menunjukkan betapa seriusnya dia terhadap Kangchi. Ini cara halus memenangkan hati seorang ksatria yang budiman.
Jendral Lee langsung berkata pada Kangchi bahwa dia datang untuk membebaskannya. Pejabat Gwan tentu saja tidak rela dan bertanya apa maksud Jendral Lee untuk membebaskannya.
Jendral Lee yang kharismatik dengan tajam balik bertanya : “Siapa kau memangnya ?” .  Pertanyaan ini sederhana tetapi sangat melecehkan Pejabat Gwan karena dianggap tidak dikenal. Kapten polisi panik dan buru-buru menjelaskan bahwa Pejabat Gwan adalah pensiunan asisten mentri.
“Benarkah ? Lalu kenapa kau ikut melakukan penyelidikan padahal sudah pensiun ? ”
“Aku disini sebagai saksi yang melihat sendiri Kangchi membunuh Tuan Park .” elak Pensiunan Gwan.
Kangchi kembali emosi dan hendak menyerang Pensiunan Gwan. Para pengawal sampai harus menenangkan Kangchi dengan todongan senjata.
Kangchi hendak bangkit kembali tetapi tangan Jendral Lee menahannya.

“Apa kau baru saja bilang masalah pembunuhan ? ” Jendral Lee mulai mendebat Pensiunan Gwan.
“Ini pasti pembunuhan ! Aku melihatnya dengan mataku sendiri. ” jawab Pensiunan Gwan dengan gaya sok yakin.
“Aku tanya sekali lagi , apakah pemilik penginapan itu orang yang tak bersalah ? ”
“Tidak , kami mengetahui bahwa dia mendanai penghianatan . Dia terbukti bersalah .” jawab kapten polisi dengan gugup.
“Lalu kenapa kau menangkap Kangchi sebagai pembunuhnya ? Jika Tuan Park memang penghianat , maka itu bukanlah pembunuhan. Seharusnya Kangchi mendapatkan penghargaan. Kenapa kau bisa salah menghukum.” desak Jendral Lee dengan nada keras.
“Be be beg begini …. meskipun Tuan Park penghianat tetapi dia orang terhormat di daerah ini. Kami berpikir bahwa hal ini bisa meresahkan masyarakat. ” kapten polisi semakin gugup dalam menjawab.
” Kau ini aneh . Kau khawatir dengan keresahan di masyarakat tetapi kau berurusan dengan penghianatan.? Apakah laian menyembunyikan sesuatu dengan mengkambinghitamkan seseorang !!” tuding Jendral Lee
“Tidak tentu saja tidak .” kapten polisi semakin gugup.
“Atau kau membuat pria tak bersalah menjadi penghianat !!? ” tuding Jendral Lee
“Jaga ucapanmu !! ” Pensiunan Gwan angkat bicara.
“Ini masalah kehidupan. Aku tak punya pilihan selain melihat mana yang benar dan salah !! ” hardik Jendral Lee.
“Aku tanya sekali lagi. Apa kau yakin Tuan Park itu penghianat ? Jika betul begitu maka Kangchi bukan pembunuhnya. Sebaliknya Kangchi harus mendapat penghargaan. Jika Kangchi memang bersalah karena membunuh maka Tuan Park adalah tidak bersalah. Yang mana yang benar ?  ” maki Jendral Lee.
Kapten polisi tidak berkutik karena kalah omongan . Pensiunan Gwan juga kehabisan kata-kata . Gon dan Yeowool mulai tersenyum melihat Jendral Lee.
Yang mana yang benar ?  ” maki Jendral Lee mengulang untuk kedua kalinya.
Gon kini yakin Jendral Lee sudah berhasil membebaskan Kangchi dan mengajak Yeowool untuk pergi.

Tangan Jendral Lee masih memegangi pundak Kangchi sedari tadi. Kangchi tiba-tiba merasakan sensasi seorang ayah yang melindunginya seperti figur Tuan Park. Kangchi memandang wajah Jendral Lee dengan terharu dan mata basah.
Pensiunan Gwan masuk untuk berunding dengan kapten polisi. Sang kapten tidak berkutik karena ucapan Jendral Lee susah dibantah dan tak punya pilihan lain selain membebaskan Kangchi.
Pensiunan Gwan jengkel dan mengungkit anak buahnya menghilang tanpa jejak. Pensiunan Gwan menuduh si kapten hendak membiarkan Kangchi jatuh ke kubu Jendral Lee. Pensiunan Gwan juga menakut-nakuti bisa saja Kangchi datang malam nanti untuk membunuh kapten polisi.
Kapten polisi ketakutan dan Pensiunan Gwan hanya bisa berdecak frustasi melihat kebodohan mitranya ini. Tetapi kapten polisi tidak sebodoh yang dibayangkan . Dia mengusulkan agar membuat surat pernyataan yang harus ditandatangani Jendral Lee . Dengan surat itu maka Jendral Lee harus bertanggung jawab kalau Kangchi melakukan kejahatan.
***
Jendral Lee mengunjungi Kangchi yang ditaruh di penjara untuk sementara. Jendral Lee masuk ruang sel dan meminta agar Kangchi keluar karena sudah dibebaskan.
Kangchi ternyata mempermasalahkan usaha Jendral Lee untuk membebaskan harus mengorbankan reputasi Tuan Park dan juga nama baik Kangchi yang harus rusak karena akan dianggap sebagai pembunuh Tuan Park yang sudah seperti ayahnya sendiri. Kangchi merasa lebih baik bunuh diri daripada harus menanggung malu seperti itu.

Jendral Lee akhirnya menyodorkan tiga koin dan waktu satu hari bagi Kangchi untuk berpikir. Tiga koin itu harus diberikan pada tiga orang yang ingin Kangchi berikan ucapan selamat tinggal. Sesudah itu Jendral Lee meminta agar Kangchi menghadapnya ke markas angkatan laut . Setelah itu Jendral Lee berjanji tidak akan mengganggu Kangchi lagi.
Kangchi bimbang untuk alasan apa mendengarkan Jendral Lee. Jendral Lee menjelaskan bahwa mendiang Tuan Park sendiri yang memintanya untuk menjaga Kangchi.
Kangchi akhirnya memilih bebas . Kangchi sempat menatap tajam kearah Pensiunan Gwan. Pensiunan Gwan balas menatap tanpa gentar.
Jendral Lee turut melepas kebebasan Kangchi dan berharap agar Kangchi menghargai janji antara pria. Kangchi akhirnya pergi dan disambut Bongchool dan masyarakat sekitar yang terus menonton sedari awal.
Kebebasan Kangchi tidak gratis . Jendral Lee harus mempertaruhkan jabatannya dengan menandatangani surat pertanggungjawaban.
***
Polisi Dam menilai keputusan Jendral Lee. Jendral Lee dengan bijaksana mengatakan bahwa Langitlah yang menentukan nasib manusia dan manusia hanya bisa berusaha yang terbaik. Jendral Lee hanya berharap Langit akan terketuk hatinya melihat usahanya.
Pensiunan Gwan di tempat lain sedang berdiskusi dengan kepala pengawalnya. Pensiunan Gwan penasaran kenapa Jendral Lee berani mempertaruhkan jabatannya untuk Kangchi. Pensiunan Gwan merasa pasti ada sesuatu yang spesial pada diri Kangchi.
Kepala Pengawalnya Gwan ternyata sebelumnya menghipnotis Taeseo saat disiksa dulu yang mengindoktrinasi bahwa Kangchi yang menjadi pembunuh ayahnya. Dalam isi hipnotisnya , Taeseo diminta untuk membunuh Kangchi saat melihatnya.
Taeseo terbangun dan ekspresinya seperti orang linglung. Taeseo keluar ruangan dan melihat sekitar sambil terhuyung-huyung. Taeseo terkenang dengan keluarganya yang berakhir tragis.  Karena pengaruh hipnotis ada , Taeseo semakin mendendam pada Kangchi.
***
Yeowool membuntuti Kangchi tetapi akhirnya ketahuan. Yeowool menjelaskan dirinya memang sedang membuntuti karena sedang mengawasi gerak gerik Kangchi agar tidak berbuat hal yang bodoh pada Pensiunan Gwan.
Kangchi tampak tidak peduli . Yeowool mengungkit janji yang dibuat Kangchi antar manusia dengan manusia dengan Jendral Lee. Kangchi berkilah bahwa dirinya bukan manusia atau paling tidak hanya setengah manusia. Kangchi juga menakut-nakuti Yeowool bahwa dirinya tidak tahu kapan sisi siluman akan muncul dalam dirinya.

Pada saat itu warga marah dan menimpuki Kangchi sebagai anak yang tidak tahu diri karena telah membunuh Tuan Park. Yeowool memasang badan untuk melindungi tetapi akhirnya malah ikut terkena lemparan warga yang menuduhnya bersekongkol dengan Kangchi.
Kangchi segera menarik Yeowool untuk menjauh. Yeowool meminta Kangchi untuk bersabar walaupun sekarang berstatus sebagai pembunuh Tuan Park yang dianggap penghianat . Pada waktunya kelak Kangchi bisa membuktikan Tuan Park tidak bersalah.
Kangchi hendak pergi dan meninggalkan Yeowool.
Yeowool mendadak memberitahu bahwa Chungjo ada di rumah gisaeng Choon Hwa Gwan.
***
Chungjo sedang mengikuti pelatihan gisaeng dibimbing oleh para gisaeng senior. Materi saat itu adalah latihan cara minum. Semua calon gisaeng patuh dan Chungjo yang terlihat membangkang.
Gisang senior jengkel dan memerintahkan agar gisaeng senior lain mengambil minuman milik Chungjo dan meludahinya. Gisaeng senior kemudian membawa cawan minuman yang sudah diludahi itu untuk diminum oleh Chungjo.
Chungjo menolak . Gisaeng senior itu mengancam akan “mengajari” Chungjo untuk telanjang didepan pria. Diluar dugaan Chungjo malah mengambil minuman untuk menyiram muka sang senior. Chungjo akhirnya dikeroyok para senior.

(Saat itu Kangchi sudah berada dekat lokasi rumah gisaeng.)
Madam Chun menyidang semua gisaeng yang terlibat dalam keributan tadi. Madam Chun bertanya siapa yang memulai ? Seorang gisaeng memberikan kesaksian bahwa Chungjo menyiramkan minumannya ke wajah Wolsan.
“Minuman ? ” tanya Madam Chun.
“Kami sangat bosan sehingga minum bersama.” sahut Wolsan dan didukung rekan-rekan senior lainnya.
Madam Chun paham dan meminta pelayan mengambil lidi. Chungjo dipanggil dan kakinya dipukuli oleh lidi itu. Wolsan dkk senang melihat hukuman itu.
Kangchi terus merangsek masuk dan tak pedulikan teguran seorang pelayan. Kangchi bahkan mendorong seorang pelayan sebelum masuk ruangan dimana Madam Chun dan Chungjo berada.
Kangchi langsung mengajak Chungjo pergi walau Madam Chun memberikan peringatan.  Belum lama keluar , Kangchi dan Chungjo sudah dikepung.

Madam Chun keluar bersama Wolsan dkk dan memberikan peringatan agar Chungjo jangan berani-berani melangkah pergi karena akan menghadapi masalah hukum sebagai gisaeng istana.
Kangchi tidak gentar dan menenangkan Chungjo.
Madam Chun juga memperingatkan bahwa kabur sama saja dengan menjadi buronan dan dianggap sebagai penjahat dan harus menanggung malu sebagai mahluk rendahan.

Chungjo memikirkan sesuatu dan tiba-tiba melepaskan tangannya dari Kangchi.  Chungjo meminta Kangchi pergi dan baru kembali jika berhasil membuktikan Tuan Park tidak bersalah. Madam Chun juga menasehati agar Kangchi melakukan sesuatu terlebih dahulu sebelum ingin membawa Chungjo pergi.
Chungjo menangis ditempat lain dan Kangchi hanya bisa menatap rumah gisaeng . Yeowool mengamati Kangchi diam-diam. Kangchi teringat tiga koin yang diberikan Jendral Lee sebelumnya. Tiga koin yang harus diberikan Kangchi kepada orang yang ingin diberikan ucapan selamat tinggal.
Kangchi tampak menuju sesuatu. Yeowool ingat tanggungjawabnya untuk mengawasi Kangchi. Polisi Dam sebelumnya memang menugaskan Gon dan Yeowool untuk mengawasi Kangchi atau jabatan Jendral Lee menjadi taruhannya.
Yeowol dan Gon ditempat yang berbeda melihat Kangchi menuju Penginapan Seratus Tahun. Yeowool dan Gon menyiapkan panah bersiap menembak Kangchi yang akan memasuki Penginapan. Yeowool ragu-ragu untuk menembak , tetapi akhirnya malah memanah kearah Gon hingga panah Gon putus. Gon tentu saja jengkel menuduh Yeowool tidak memikirkan nasib Jendral Lee.
***
Kangchi merangsek masuk dan disambut bekas rekan-rekannya dengan bingung. Kangchi mengambil sebuah tongkat dan langsung masuk keruang kerja Pensiunan Gwan (yang tadinya ruang kerja Tuan Park). Penginapan menjadi gempar dan ayah angkat Kangchi , yakni Kepala Pelayan Choi ikut mendengar kabar kehebohan ini.
Pensiunan Gwan melihat kehadiran Kangchi tanpa gentar sedikitpun . Kangchi mengaku datang untuk memberikan jawaban pada saat Pensiunan Gwan menawari Kangchi untuk menjadi anak buahnya.
Kangchi tampak mempersiapkan tongkat sapu dan Kepala Pengawal mempersiapkan pedang untuk melindungi Pensiunan Gwan.
Pensiunan Gwan meminta pengawalnya tenang. Ternyata Kangchi bersiap menghujamkan tongkat kearah Pensiunan Gwan. Sang pengawal jadi panik dan siap membacok Kangchi karena merasa majikannya terancam.

Sasaran Kangchi ternyata hanya meja kerja yang patah menjadi dua dan lantai dibawahnya sampai bolong oleh hantaman Kangchi. (Ruang rahasia harta juga ikut berdebu karena getaran yang dashyat ini.) Kangchi menegaskan bahwa dirinya akan kembali untuk mengambil alih Penginapan Seratus Tahun dan juga akan mengambil nyawa Pensiunan Gwan. Itulah jawaban dari Kangchi dan pergi begitu saja.
Pensiunan Gwan hanya bisa meradang tanpa bisa berbuat apa-apa. Kangchi sempat pamit pada ayah angkatnya yang sudah menunggu diluar bersama rekan-rekan lamanya yang kini telah menjadi budak. Kangchi berjanji akan membawa Taeseo dan Chungjo kembali ke Penginapan Seratus Tahun.
***
Jendral Lee sedang bermain panah bersama Polisi Dam sambil menunggu kedatangan Kangchi sesuai janjinya. Ternyata yang muncul malah laporan bahwa Kangchi datang mengacau tempat milik Pensiunan Gwan.
Jendral Lee bergegas mendatangi Penginapan Seratus Tahun seorang diri untuk membuktikan kebenarannya.
Pensiunan Gwan menyambut kedatangan Jendral Lee dengan perasaan menang karena merasa memiliki bukti . Jendral Lee meragukan bukti yang dimiliki Pensiunan Gwan.
Pensiunan Gwan tersinggung karena Jendral Lee tidak percaya . Pensiunan Gwan menyebutkan bahwa dirinya , pengawalnya dan para pelayan bisa menjadi saksi.
Jendral Lee lantas menanyai para pelayan diluar disaksikan oleh Pensiunan Gwan. Jendral Lee meminta jika memang betul menyaksikan , cukup tiga saksi dari pelayan untuk maju ke depan memberikan kesaksian. Diam-diam Kepala Pengawal melototi para pelayan dengan pandangan mengancam
Maka majulah Kepala Pelayan Choi (ayah angkat Choi Kangchi). Choi maju dan mengaku tidak mengerti apa yang dimaksud Pensiunan Gwan. Choi juga mengaku tidak melihat Kangchi. Sikap Choi ini diikuti oleh mantan pelayan Chungjo dan mantan rekan kerja Kangchi. Tiga orang ini memberikan kesaksian sama yakni tidak melihat Kangchi. Akhirnya seluruh pelayan tergerak memberikan kesaksian yang sama.
Jendral Lee merasa tuduhan Pensiunan Gwan tidak terbukti. Jendral Lee juga menyindir kalau Pejabat Gwan harus berusaha lebih keras kalau memang ingin Jendral Lee kehilangan jabatannya. Jendral Lee pun pergi.

Pensiunan Gwan frustasi dan tidak ada jalan lain untuk melampiaskan amarahnya pada tiga pelayan yang bersaksi. Mereka diganjar untuk dikurung dan tidak diberi makan.
Pensiunan Gwan kembali ke ruang kerjanya dengan amarah yang belum reda. Kepala Pengawal menenangkan bahwa masih ada senjata terakhir , yaitu Taeseo yang sudah dihipnotis untuk membunuh Kangchi.

***
Taeseo berjalan linglung kearah pedang. Dia mengambil satu pedang dan menariknya dari sarung. Tujuan Taeseo hanya satu yakni membunuh Kangchi.
Jendral Lee menemui Kangchi dan menanyakan apa sudah memberikan tiga koin ? Kangchi mengembalikan tiga koin itu dan menegaskan dirinya akan tetap hidup.
Kangchi menyebutkan alasan kenapa dia ingin tetap hidup. Pertama ingin membersihkan nama baik mendiang Tuan Park. kedua ingin merebut kembali Penginapan Seratus Tahun dan mengembalikannya pada Taeseo dan Chungjo. Ketiga , Kangchi ingin kembali menjadi manusia.
Jendral Lee menanyakan bagaimana cara kembali menjadi manusia. Kangchi mengatakan solusinya hanya Buku Keluarga Gu yang diketahuinya dari Rahib Sojung. (Rahib Sojung ragu karena Wolryung yang lebih pengalaman seribu tahun saja gagal apalagi Kangchi yang masih anak kemaren sore.)
Jendral Lee mengerti. Kini sang jendral meminta Polisi Dam untuk membimbing Kangchi untuk sementara. Kangchi pun langsung bersujud pada Polisi Dam dan menyebutnya sebagai guru.

Chungjo membawa meja kecil dengan peralatan minuman dan meletakannya didepan Wolsan. Gisaeng senior lain segera duduk untuk melihat apa yang akan terjadi.
Chungjo ternyata hanya meminum sesuai instruksi Wolsan sebelum ribut kemaren hari. Chungjo meminum habis seperti pelatihan yang diberikan Wolsan sebelumnya.
Wolsan bingung dengan kelakuan Chungjo. Chungjo malah kembali menuangkan dan kembali meminumnya sampai habis. Wolsan mulai terganggu dan menyebut Chungjo brengsek.  Madam Chun tersenyum dari jauh melihat Chungjo semakin tegar.
***
Kangchi diperkenalkan sebagai anggota baru di markas Keluarga Dam. Kangchi memperkenalkan diri dengan kikuk. Kangchi lupa membungkuk sehingga anggota lain bingung menanti.

Yeowool dengan usil menarik kepala Kangchi untuk membungkuk memberi hormat pada segenap saudara seperguruan. Barulah anggota lain membalas membungkuk memberikan hormat. Kangchi menggoda bahwa Tuan Dam alias  Yeowool pastilah berkuasa di tempat ini.
Kangchi mengagumi markas perguruan yang luas ini. Yeowool menjelaskan bahwa ayahnya membangun ini dengan jerih payah seumur hidup. Yeowool juga memberitahu bahwa ayahnya sangat memandang Jendral Lee sehingga bersedia menerima Kangchi di sini.
Acara perkenalan pun usai dan bubar. Tinggallah Yeowool dan Kangchi yang masih berdua dan tertegun melihat Taeseo datang dengan wajah yang aneh sambil menyeret pedang.
Kangchi senang melihat Taeseo yang sudah seperti saudaranya sendiri . Kangchi berlari untuk memeluk tetapi Taeseo malah menusukkan pedang ke perut Kangchi. Kangchi tidak percaya Taeseo berbuat itu. Taeseo malah menusukkan pedangnya lebih dalam lagi.

Episode ini ditutup dengan kata-kata mutiara dari Pensiunan Gwan.
Jika aku tak bisa memiliki maka aku akan mencurinya.
Jika aku tak bisa mencurinya maka aku akan menghancurkannya.
Itulah aku. (Pensiunan Gwan , Episode 08)

0 comments:

Post a Comment