Tuesday, April 9, 2013

Sinopsis : Gu Family Book – Episode 02

Standard


Ini adalah gunung yang misterius. Gunung yang berbahaya yang tak pernah terjamah manusia. Hanya mahluk mitologi yang melindungi gunung itu sejak awal yang terkadang menampakkan diri. Inilah gunung tersebut. Dalam “Taman Cahaya Rembulan” inilah cerita legenda mereka yang menyedihkan dimulai.

Rahib Sojung merasa Wolryung sudah kehilangan akal sehat karena bisa-bisanya hendak menjadi manusia. Kembali Wolryung membenarkan bahwa dirinya bertekad jadi manusia.
Sang rahib mengingatkan bahwa ada pasukan yang sedang menyisir gunung mencari Seohwa. Dan yang lebih parah lagi pasukan itu dipimpin oleh Polisi Dam yang berbakat. Menurut Sojung , saat Wolryung mencintai Seohwa maka itu adalah kesalahan fatal .
Seohwa hanya mendengarkan samar-sama pembicaraan mereka.
Sementara itu Polisi Dam berhasil menemukan tusuk konde Seohwa (yang tadinya hendak digunakan Seohwa untuk bunuh diri). Melihat bukti itu , sang polisi yakin bahwa arah penelusuran sudah benar adanya.
Seekor elang terus terbang diatas Wolryung dkk seperti memberikan pertanda buruk.
Seohwa hendak pamit pada Wolryung karena khawatir keselamatan Wolryung juga. Wolryung tersenyum karena merasa pasukan manusia tidak bisa membahayakan dirinya.
Wolryung malah menyodorkan makanan karena merasa Seohwa lapar. Dengan jenaka Wolryung meminta Seohwa memilih makanan yang disukainya . Wolryung memegang kelinci hidup di tangan kiri dan kura-kura  di tangan kanan.

Seohwa tampak kasihan dengan binatang tersebut lantas memilih buah yang ada dimeja. Wolryung segera menyiapkan buah-buahan segar langsung dari atas pohon.
Wolryung segera menyodorkan cukup banyak buah untuk dimakan. Seohwa merasa tidak enak hati dan memegang tangan Wolryung seraya mengatakan bahwa apa yang dibawa sudah mencukupi. Seohwa juga tak lupa menghaturkan terima kasih sambil tersenyum manis. Wolryung pun tersenyum.
Tak lama Seohwa melihat pemandangan sekitar seperti bunga indah. Wolryung menambah suka cita dengan membawa sekarung kupu-kupu yang hidup. Wolryung juga mengajak Seohwa kesebuah tebing dimana danau indah berada.
Seohwa sungguh terpukau dengan keindahan alam ini. Wolryung juga terpukau dengan kecantikan Seohwa seraya melontarkan pujian .
Malam telah tiba dan mereka berdua berbincang di tengah kehangatan api unggun. Seohwa penasaran dengan identitas Wolryung , sejak kapan tinggal di tempat seperti ini dan juga bagaimana keluarga Wolryung ?
Wolryung mengaku tinggal sendiri sejak lama. Seohwa lantas curhat mengenai adiknya Yoon dan pelayannya yang sudah dianggap sebagai saudara sendiri , Dam.
Wolryung menawarkan apakah Seohwa akan lebih tenang dan tersenyum jika mendengar kabar mengenai Dam dan Yoon ?
Seohwa heran melihat Wolryung begitu baik padanya. Terlebih saat Wolryung menegaskan akan melakukan apapun untuk Seohwa.
***
Betapa kagetnya Wolryung saat menyelidiki bahwa Yoon sudah mati di gantung.
***
Ditempat lain , Madam Chun meminta mayat Yoon pada Pejabat Gwan . Madam Chun meminta agar mayat Yoon diperlakukan dengan layak.
Pejabat Gwan malah berniat menggantung mayat Yoon empat hari lagi. (busuknya seperti apa tuh mayat berusia 8 hari ckckck  ) .
Alasan Gwan karena Yoon adalah orang rendahan , dan untuk memperingatkan bagi yang lain agar patuh pada Gwan.
Madam Chun mengingatkan bahwa Yoon adalah putra bangsawan dan juga putra dari mantan teman Gwan sendiri. Pejabat Gwan bersikeras bahwa sekarang keluarga Mentri Yoon adalah keluarga penghianat yang bisa dianggap sebagai budak.
Madam Chun jadi mengherankan Gwan yang begitu kejam ? Pejabat Gwan juga mengherankan Madam Chun yang begitu peduli dengan keluarga penghianat ?
Pejabat Gwan menyuruh Madam Chun untuk bungkam atau akan bertanggung jawab atas hilangnya Seohwa.
Situasi semakin tegang antara Gwan dan Chun sampai seorang anak buah melaporkan hilangnya mayat Yoon.
***
Wolryung kembali ke hutan dengan wajah murung. Seohwa menyambut dengan rasa penasaran bertanya mengenai kabar mereka.
Wolryung berbohong dengan mengatakan Yoon dan Dam baik-baik saja. Wolryung teringat bahwa baru saja dia menguburkan mayat Yoon ditempat lain.
Wolryung meminta Seohwa tenang dan berjanji akan melindungi Seohwa.
Seohwa terharu dan langsung memeluk Wolryung sambil menghaturkan terima kasih. Seohwa merasa hidup baru dan bisa bernafas lega.
Tak lama Seohwa tersadar dan meminta maaf karena tidak sopan . Wolryung menyentuh pipi Seohwa dan kunang-kunang hijau bermunculan.

Wolryung akan berlalu tetapi mendadak dia membalikkan tubuhnya , langsung mencium Seohwa dengan penuh perasaan. Wolryung langsung mengajak menikah.
Seohwa minder karena dirinya adalah budak dan buronan . Wolryung tak peduli dan kembali mengajak menikah . Seohwa memeluk pertanda setuju.
***
Wolryung menghadap pada Rahib Sojung untuk menanyakan “Kitab Keluarga Gu” karena akan menikah dengan Seohwa.
Rahib Sojung putus asa namun akhirnya mengajak Wolryung kesebuah ruangan perpustakaan yang lain. Sojung terus mencari tetapi tak kunjung ketemu juga . Wolryung mulai jengkel dan tak sabar menuduh Sojung kurang hati-hati menjaga buku yang berkaitan dengan Wolryung .
Sojung berkilah karena siapa yang menyangka Wolryung mau jadi manusia ? Wolryng merasa Sojung tidak memahami kesendirian selama seribu tahun sebagai siluman . Wolryung merasa kehidupan manusia jelas lebih indah daripada kehidupannya selama seribu tahun. (mirip dengan topik serupa dalam film Chinese berjudul Painted Skin)
Sojung balas menggoda bahwa tetap saja lebih enak punya wajah tampan dan awet muda seperti Wolryung walaupun harus hidup sepuluh ribu tahun.
Sojung tampak tidak setuju pernikahan Wolryung-Seohwa karena tahu Seohwa belum tahu identitas Wolryung yang sesungguhnya. Wolryung bersikeras tidak akan memberitahu Seohwa . Wolryung merasa akan menjadi manusia jika saatnya tiba.

Wolryung menemukan satu buku dan Sojung membacanya. Dalam kitab itu disebutkan bahwa tidak ada seorangpun yang pernah melihat “Kitab Keluarga Gu” . Jadi akan sulit bagi Wolryung untuk berubah menjadi manusia.
Sojung meminta Wolryung untuk mengurungkan niatnya jadi manusia.
Untuk menjadi manusia , Wolryung harus melakukan tiga pantangan . (1) Dilarang membunuh mahluk apapun . (2) Dilarang menolak permintaan tolong manusia disaat diperlukan.  (3) Dilarang menunjukkan identitas aslinya kepada manusia.
Jika Wolryung sanggup melalui pantangan itu dalam 100 hari maka “Kitab Keluarga Gu” akan muncul di hadapan Wolryung. Jika gagal maka Wolryung akan berubah menjadi Iblis selama 1000 tahun.
Wolryung tidak gentar dan ingin mencoba.
Wolryung akhirnya menikahi Seohwa secara sederhana.


***
Pejabat Gwan bersama pasukan menemukan sebuah nisan . Pejabat Gwan menduga bahwa itu adalah nisan untuk Yoon karena waktunya hampir bersamaan. Yang menjadi pertanyaan bagi Gwan adalah bagaimana mungkin seorang wanita seperti Seohwa bisa membawa mayat adiknya sendirian ke hutan.
***
Kehidupan rumah tangga Seohwa-Wolryung berlangsung lancar pada tiga bulan pertamanya. Mereka hidup berbahagia dan damai.
Suatu ketika Seohwa hendak pergi mencari tanaman di sekitar. Wolryung khawatir kalau Seohwa pergi sendirian. Wolryung akhirnya luluh saat Seohwa menciumnya . Wolryung akhirnya mengijinkan Seohwa pergi sendiri.
Wolryung hanya bisa terpana melepas kepergian istrinya sambil merasakan sensasi ciuman yang masih tersisa.
Saat itu Sojung datang dan langsung menggoda Wolryung. Sojung juga menyadari bahwa Wolryung tampak tidak bugar karena menjalankan tiga pantangan .
Wolryung tetap tenang dan merasa tinggal 11 hari lagi untuk berhasil merubah dirinya jadi manusia. Sojung kembali menggoda kalau pantangan makan daging itu tidak sepadan dengan kecantikan Seohwa.
Sojung juga membuka kotak makanan berisi masakan Seohwa dan mencobanya . Ternyata Sojung langsung memuntahkan kembali .hoekk
Wolryung mengakui bahwa Seohwa harus mengasah lagi kemampuan masaknya. Sojung heran karena Wolryung sanggup masakan tidak enak seperti itu selama tiga bulan. (Tentu saja seorang rahib seperti Sojung tidak mengerti bahwa masakan buatan wanita yang dicintai tentu akan enak di mata pria yang mencintai. )
Sojung juga menyampaikan satu pusaka berupa kayu kecil yang akan berguna untuk menolak hukuman jika dalam sisa 11 hari terakhir terjadi sesuatu yang buruk .
Seohwa ditempat lain sedang asik mengumpulkan tanaman . Malang bagi Seohwa bahwa gerak – geriknya sedang diawasi dua polisi .
***
Padahal Polisi Dam sudah menyerah dan menghadap Pejabat Gwan untuk meminta pasukan khusus ini agar dibubarkan karena sudah tiga bulan berlalu.
Pejabat Gwan tampak marah mendengar permintaan ini dan merasa hanya dirinya yang berhak memutuskan stop atau lanjutkan pencarian. Polisi Dam mengingatkan bahwa tugasnya adalah untuk mengabdi pada kerajaan dan bukan untuk kepentingan pribadi semata.
Pada saat itu justru muncul laporan bahwa ditemukan wanita dengan ciri fisik yang mirip dengan Seohwa.
***
Seohwa akhirnya menyadari sedang dibuntuti . Seohwa mencoba meloloskan diri dan para polisi melepaskan panah berasap untuk memberikan tanda lokasi kepada rekan mereka yang lain.
Polisi Dam dan Wolryung melihat tanda asap itu dari tempatnya masing-masing. Wolryung segera menyusul keberadaan istrinya.
Saat itu Seohwa sedang bersembunyi disemak-semak . Tetapi tak lama kemudian polisi menemukan keberadaan Seohwa dan mengejarnya.
Wolryung datang di saat yang tepat dan menarik istrinya untuk tetap diam . Muncul tanaman ajaib yang berusaha mengelabui para polisi .
Wolryung kemudian yakin sudah aman dan menarik Seohwa untuk pergi. Pada saat itu justru Polisi Dam muncul dengan berkuda dihadapan mereka.
Ternyata Polisi Dam memang punya bakat seperti yang dikatakan Sojung sebelumnya. Polisi Dam bisa melihat kemampuan Wolryung untuk menutupi diri secara gaib dengan tanaman.
Polisi Dam jadi mempertanyakan Wolryung itu sesungguhnya manusia atau mahluk lain ?
Wolryung mulai khawatir dan menggenggam tangan Seohwa makin erat. Wolryung menegaskan sedang tidak ingin berkelahi dengan Polisi Dam.
Polisi Dam tetap tenang dan santun berkata jika wanita disamping Wolryung itu bukan budak dan buronan yang selama ini dicari maka Polisi Dam bersedia meminta maaf. Polisi Dam meminta Wolryung – Seohwa untuk ikut buat diselidiki.
Wolryung mulai bingung menghadapi Polisi Dam. Wolryung memberikan isyarat gaib pada kuda yang ditumpangi Polisi Dam. Kuda itu jadi meringkik dan Wolryung mengajak istrinya untuk segera lari.
Polisi Dam segera mengirimkan tanda asap untuk anak buahnya ditempat lain.
Seohwa akhirnya mengalami kelelahan dan tidak kuat lagi berlari. Seohwa menyesal tidak mengikuti nasehat suaminya tadi . Wolryung menenagkan istrinya dan berjanji akan tetap melindungi.
Malang bagi pasangan ini , mereka berlari ke arah yang salah dimana para pasukan sudah menunggu. Wolryung terjerat oleh rantai besi  . Keadaan pasangan ini sungguh genting.
Polisi Dam sudah memastikan identitas Seohwa dan memerintahkan anak buahnya untuk menangkapnya. Seohwa di giring paksa sementara Wolryung dipukuli dalam kondisi terikat.
Wolryung panik melihat istrinya dibawa paksa . Wolrung akhirnya melanggar pantangan dan berubah dengan wujud aslinya sebagai siluman.

Kali ini Wolryung punya kekuatan untuk menghadapi pasukan ini. Satu persatu polisi menerima hajaran dan bahkan salah satu polisi tewas mengenaskan dengan posisi tergantung dengan cekikan satu tangan keatas.
Seohwa disisi lain tentu saja kaget melihat suaminya ternyata siluman.
Semua polisi tumbang oleh keperkasaan Wolryung. Tinggal Wolryung dan Seohwa yang berdiri mematung. Seohwa semakin panik saat suaminya makin mendekat. Seohwa akhirnya jatuh pingsan karena shock.
Wolryung membawa istrinya kegua. Seohwa tersadar dan masih tak percaya dengan kenyataan bahwa suaminya siluman. Wolryung membenarkan seraya meminta maaf karena telah berbohong selama ini.

Ternyata Seohwa yang memberikan petunjuk jalan dan menatap Wolryung dengan penuh kebencian.
Wolryung tak menyangka istri yang dicintainya bisa berhianat.
Seohwa dengan ekspresi dingin menuding Wolryung telah memperdayainya karena Dam dan Yoon telah mati . Wolryung mengaku bahwa saat itu dia tidak ingin membuat Seohwa bersedih
Pejabat Gwan muncul dan langsung membantah . Menurut Gwan , Wolryung sebagai seorang siluman tentu hanya ingin merebut hati Seohwa dan memperdayainya.
Wolryung menampik tuduhan Pejabat Gwan. Tetapi Seohwa sudah terlanjut tidak mempercayai suaminya lagi. Seohwa dengan tajam menuduh Wolryung pun berpura-pura jadi manusia selama ini.
Wolryung makin tersudut dan teringat ucapan Sojung sebelum ini.
Sojung berpesan bahwa jika Seohwa tetap mencintai suaminya walau tahu identitasnya sebagai siluman , maka Wolryung akan baik-baik saja. Tetapi jika Seohwa berhianat , cara satu-satunya untuk mencegah Wolryung menjadi iblis 1000 tahun adalah dengan cara membunuh Seohwa dengan pusaka kayu berbentuk pisau yang sudah diberikan Sojung .
Wolryung tampak ragu-ragu memikirkan perkataan Sojung. Tetapi Wolryun mulai mengeluarkan pisau pusaka dan berteriak histeris memanggil Seohwa .
Para polisi mulai tidak sabar dan menembakinya dengan panah. Wolryung dengan mudah menangkis serangan anak panah tersebut.

Wolryung terus maju mendekati posisi Seohwa. Dia merangkul pundak istrinya dengan tatapan tak percaya akan penghianatan istrinya. Namun saat itu Polisi Dam mengambil kesempatan dengan menusukkan pedang tepat keperut Wolryung. Tusukan itu semakin lama semakin dalam menembus perut Wolryung.
Wolryung tak mempedulikan tusukan itu untuk sesaat dan terus mempertanyakan kenapa Seohwa bisa melakukan penghianatan walaupun Wolryung sungguh2 mencintainya.
Seohwa mulai sedih dan bimbang melihat Wolryung terancam bahaya. Tetapi Pejabat Gwan memerintahkan agar Polisi Dam segera menghabisi Wolryung.
Wujud Wolryung berubah dalam wujud aslinya . Tangannya menjadi cakar yang menyakitkan bagi Seohwa. Polisi Dam mendorong Wolryung dengan pedang . Tak lama Polisi Dam menarik pedang dan menebas kembali tubuh Wolryung.


Tak lama tubuh Wolryung berubah menjadi butiran cahaya biru. Sisa-sisa wajahnya yang belum hilang masih menatap Seohwa dengan penuh kesedihan.
Akhirnya Wolryung berubah menjadi cahaya dan menghilang ketempat lain.
Belum puas juga , Pejabat Gwan meminta Polisi Dam untuk menyelesaikan tugasnya (menghabisi Seohwa yang terduduk lemas menatap nasib suaminya) dan pergi meninggalkan pasukan.
Pada saat itu Rahib Sojung tiba. Sojung merasakan firasat buruk akan nasib temannya. Sojung marah karena Polisi Dam telah menghabisi Wolryung yang selama ini menjadi pelindung suci gunung ini. Sojung merasa Wolryung tidak pernah melukai siapapun.
Polisi Dam membantah dengan fakta bahwa sebagian anggota pasukannya tewas terbunuh oleh Wolryung. Rahib Sojung tidak percaya dan bertanya siapa yang menyerang duluan ? Sojung dengan histeris menyesalkan bahwa Wolryung hanya tinggal beberapa hari lagi menjadi manusia dan hidup bersama dengan Seohwa.
Seohwa hanya tertegun mendengar penjelasan Rahib Sojung. Mendadak Seohwa kembali muntah-muntah dan mulai menyadari ada sesuatu dalam tubuhnya (hamil ?) . Polisi Dam hanya bisa menghela nafas memperhatikan Seohwa.
***
Pejabat Gwan menerima tusuk konde penuh darah yang dikirim Polisi Dam sebagai bukti Seohwa telah dihabisi.
Pejabat Gwan jadi terkenang kembali betapa dulu dia melewati rumah Mentri Yoon dan melihat dari balik pagar kecantikan Seohwa.
***
Ditempat lain Wolryung kembali menjelma dalam wujud manusia yang tak sadarkan diri. Waktu terus berlalu dan tubuhnya mulai tertutup oleh tanaman yang tumbuh. Entah bagaimana nasib Wolryung selanjutnya ?

***
Seohwa ternyata masih hidup dan kini hamil tua dirumah gisaeng. Seohwa tidak sudi dengan kehamilannya karena merasa akan melahirkan anak siluman.
Suatu ketika Seohwa mengamuk karena usaha bunuh dirinya di gagalkan rekan-rekannya. Madam Chun muncul dan mengingatkan Seohwa agar rela menerima takdirnya.
Seohwa putus asa dengan takdirnya dan memohon agar dibiarkan bunuh diri . Madam Chun mengingatkan bahwa apapun usaha Seohwa dari mulai minum racun hingga loncat dari ketinggian , nyatanya bayi yang dikandung Seohwa tetap sehat .
Menurut Madam Chun , anak ini tidak bisa mati sebelum ibu yang mengandungnya mati. Seohwa membenarkan dan memohon agar dibiarkan bunuh diri .
Madam Chun menolak karena merasa sudah berjanji pada seseorang untuk menjaga Seohwa di rumah gisaeng.
***
Seohwa berjalan kembali ke Taman Cahaya Rembulan. Makin mendekati lokasi , Seohwa makin teringat pada Wolryung. Pada saat itu Seohwa mulai merasakan kontraksi dari bayi yang dikandungnya.
Seohwa akhirnya melahirkan sendiri bayinya di goa yang pernah menjadi rumah bahagianya . Sungguh malang nasib Seohwa yang harus berjuang sendiri. Tetapi Seohwa akhirnya melahirkan bayi dengan selamat.

Cahaya biru bermunculan mengiringi kelahiran ajaib itu. Seorang bayi terlahir yang merupakan buah hati pasangan siluman-manusia.
Ditempat lain , sedikit cahaya biru juga muncul diruang kerja rahib Sojung. Sang rahib merasa kehadiran mistis dari Wolryung.
Dalam gua yang gelap temaram itu Seohwa ketakutan kalau bayi yang dilahirkannya berwujud siluman. Seohwa mulai menghunus pedang sabit untuk membunuh bayi itu. Seohwa bimbang saat mengarahkan pedang dan terus meminta maaf pada “mendiang ” Wolryung atas keputusan menghabisi bayinya.
Cahaya biru semakin banyak bermunculan dan terang bulan purnama langsung menerangi goa itu. Seohwa terkejut karena melihat bayinya itu manusia normal.  Seohwa mengurungkan niatnya untuk membunuh bayinya disertai rasa sesal sebagaimana naluri ibu terhadap anaknya.
***
Tuan Park sedang bersama koleganya di pinggir sungai ketika dikejutkan suara bayi yang ada dikeranjang. Park tergopoh-gopoh masuk sungai untuk menyelamatkan bayi itu. Para hadirin merasa janggal ada ibu yang tega membuang bayinya seperti itu.

Pada saat itu Rahib Sojung muncul dan memamerkan kemampuan ramalnya. Menurut Sojung kalau saja Tuan Park mau merawat bayi itu maka akan dilimpahi rejeki yang besar.
Rekan-rekan tuan Park mengucapkan selamat atas keberuntungan Tuan Park dan ikut membantu memilihkan nama untuk sang bayi.
Terpilihlah nama Choi Kang Chi yang bermakna “ditinggalkan di sungai”

0 comments:

Post a Comment