Monday, April 8, 2013

Sinopsis : Gu Family Book – Episode 01

Standard


Gunung Jiri itu begitu misterius di tengah terang bulan purnama dan kabut yang menyelimuti. Begitu jauh dari peradaban sehingga nyaris tak terjamah oleh manusia. Rimbunnya pepohonan tak kuasa menutup datangnya sinar rembulan . Cahaya-cahaya berlomba jatuh menyentuh tanah . Sungguh merupakan tempat ideal untuk lahirnya mitos.

Seseorang berjalan menemus hutan tersebut . Dia mengenakan caping dibantu oleh sebuah tongkat menuju sebuah tempat yang disebut “Taman Sinar Rembulan”.
Orang misterius itu ternyata bernama Sojung. Dia  membuka caping dan terlihatlah wajah yang biasa saja memanggil seseorang yang bernama Wolryung.
Gu Wolryung (Choi Jinhyuk) sendiri saat itu menggunakan ilmu meringankan tubuhnya menuju tempat lain di penghujung hutan. Dari tingginya bukit dia memandang pemukiman manusia yang terhampar indah karena penerangan lampu dari kejauhan.
Music tetabuhan terdengar begitu gagah walau dimainkan oleh seorang wanita yang gemulai. Wolryung terus berlari mendekati festival musik dengan penuh antusias.

Pada saat itu Wolryung melihat barisan pengawal yang sedang membawa para tahanan yang dikurung seperti layaknya anjing dalam kandangnya. Salah satu pengawal membuka kurungan dan menghardik agar para tahanan itu segera keluar.
Diantara tiga tahanan itu terdapat satu gadis cantik yang bernama Yoon Seohwa (Lee Yeonhee)  . Si cantik itu memandang sekitar dengan ragu-ragu sehingga salah satu pengawal menjadi tidak sabar dan mendorongnya dengan paksa. Si cantik terjatuh mencium tanah.
Dua tahanan lainnya menghampiri si cantik dengan prihatin. Tahanan pria  akhirnya sewot dan menegur si pengawal . Mereka berdua jadi berdebat dan bertengkar.
Tahanan itu ternyata berasal dari kelas bangsawan dan statusnya diturunkan menjadi kasta rendah yang dijual kesebuah rumah Gisaeng (기녀) . Gisaeng itu wanita penghibur yang mirip perannya dengan geisha di Jepang. Ditengah pertengkaran pintu rumah terbuka dan sang pengawal mempersembahkan tiga tahanan itu kepada pengurus rumah Gisaeng.
Sementara itu Nyonya kepala dari rumah gisaeng yang bernama Chun Soo-Ryun (Jung Hye-Young)  itu sudah menuntaskan permainan tetabuhannya yang indah dan elegan . Seluruh hadirin memberikan applaus meriah untuk penampilan musiknya. Salah seorang tamu yang tampaknya pejabat penting memberikan pujian atas permainan musiknya yang dianggap terbaik didunia.
Dua pendamping mendekati Madam Chun yang meninggalkan pertunjukan seraya memberikan pujian bahwa sang raja pun meneteskan air liurnya saat melihat Chun menari seperti itu. Madam Chun tidak terlalu menanggapi pujian yang berlebihan itu dan terus membersihkan keringat dengan sapu tangan. Tetapi tak lama kemudian Chun meminta dua pendampingnya itu menghentikan ucapannya karena sudah terlalu cabul. Tiba-tiba seorang pria setengah baya menghadap melaporkan sesuatu pada Madam Chun.
***
Seohwa tetap tidak mau masuk walaupun kepala pelayan sudah memberitahu bahwa Seohwa telah dijual-belikan sebagai gisaeng. Menolak hal ini bisa berarti maut .  Seohwa tampak tidak peduli dan lebih rela mati.

Kepala pelayan merasa sedang sibuk dan memaksa Seohwa untuk masuk. Dua tahanan lain membantu Seohwa untuk melepaskan diri dari kepala pelayan.  Pada saat itu Madam Chun muncul mempertanyakan keributan yang terjadi.
Madam Chun lekas menyadari bahwa Seohwa adalah putri dari Mentri Yoon yang dianggap sebagai penghianat negara. Seohwa marah karena tersinggung ayahnya disebut penghianat. Seohwa membela diri bahwa ayahnya telah menjadi korban fitnah dan jebakan .
Madam Chun tidak peduli dengan penjelasan itu dan kembali mengingatkan bahwa Seohwa telah menjadi gisaeng . Madam Chun merasa Seohwa tidak punya pilihan lain selain patuh dan masuk ke rumah gisaeng.
Seohwa mengamuk dan bertekad tidak mau menjadi gisaeng rendahan . Madam Chun tampak tersinggung profesi gisaeng dianggap rendahan dan memerintahkan agar Seohwa di telanjangi.
Salah satu pengawal Gisaeng menghampiri dan tanpa sungkan melepaskan baju luar Seohwa. Wolryung mengamati dari jauh dengan terpana melihat Seohwa setengah telanjang seperti itu.  Dua tahanan lain hanya bisa pasrah sementara Seohwa hanya bisa menatap dengan penuh emosi namun mantan gadis bangsawan ini tak berdaya.
Madam Chun kemudian memerintahkan agar Seohwa di ikat kepohon dan mengirim dua tahanan lain , Yoon dan Dam ke gudang untuk dikurung. Madam Chun memperingatkan agar tanpa perintahnya tidak boleh ada seorangpun yang memberikan minum dan makanan kepada Seohwa.
Wanita kepala pelayan  rumah gisaeng membereskan pakaian luar Seohwa yang tercecer. Seohwa hanya bisa bertanya dengan penasaran apa maksud dirinya di ikat seperti itu ? Sang pengawal menasehati Seohwa agar menurut saja dan meninggalkan harga dirinya daripada tersiksa di pohon “rasa malu”  itu.
Gu Wol-ryung mengamati dari kejauhan dengan pandangan iba terhadap Seohwa yang mulai meratap minta dikasihani.  Kunang-kunang biru mengirangi Wolryung yang bimbang antara menolong atau tidak . Wolryung sebelumnya sudah berjanji pada Sojung untuk tidak ikut campur urusan manusia.
( ……Seohwa terkenang masa lampau ketika pulang ke rumah dan melihat ayahnya sedang berlutut dikelilingi para pengawal istana. Ayahnya , Mentri Yoon Gisoo dituduh berhianat dan terancam hukuman mati. Seohwa tidak berdaya karena tubuhnya di pegangi oleh dua pengawal.
Mentri Yoon memprotes tuduhan dan hukuman ini kepada Gwan Woong yang mengumumkan maklumat kerajaan itu.  Mentri Yoon sungguh kecewa karena Gwang adalah temannya selama bertahun-tahun. Gwan membela diri bahwa Mentri Yoon walaupun teman selalu menganggap rendah dirinya.
Mentri Yoon akhirnya pasrah dan menghela nafas. Belum cukup dengan itu semua , Gwan mendekati Mentri Yoon seraya berbisik bahwa putrinya , Seohwa , akan dikirim ke rumah gisaeng . Gwan mengejek Mentri Yoon bagaimana seandainya tidur dengan seorang gadis bangsawan?
Mentri Yoon tidak tahan lagi dan nekat mencabut pedang dari salah satu pengawal. Gwan dengan mudah mengakhiri perlawanan Mentri Yoon. Seohwa hanya bisa histeris melihat ayahnya dieksekusi di depan matanya sendiri. Darah Mentri Yoon pun turut menciprat di wajah Seohwa……)
***
Jo Gwan Woong tengah bersenang-senang di rumah gisaeng dengan beberapa wanita. Madam Chun masuk dan Gwan Woong mempersilahkannya duduk.  Madam Chun memberi selamat atas kenaikan jabatan Pejabat Gwan.
Gwan senang mendengar salam itu dan mengaku bahwa dia mendapat promosi karena menangkap  penghianatan. Madam Chun langsung menduga yang dimaksud adalah Mentri Yoon yang sering diajak oleh Pejabat Gwan ke rumah gisaeng sebagai teman.
Pejabat Gwan mengaku memang pernah berteman walau demikian tidak akan berpihak pada seorang penghianat walaupun teman sendiri. Madam Chun mengaku mengerti .
Bagai tebal muka , Pejabat Gwan juga mengaku telah berjanji pada Mentri Yoon sebelum menjelang ajal , untuk meniduri Seohwa pertama kali. Pejabat Gwan bertanya kapan Seohwa bisa dipersiapkan oleh Madam Chun.
Madam Chun menjelaskan untuk menjadi seorang gisaeng diperlukan waktu dua sampai tiga bulan. Pejabat Gwan tidak sabar dan meminta waktu lima hari . Madam Chun tidak kuasa untuk memprotes.
***
Matahari terbit dan pagi menjelang. Seohwa mulai menjadi objek penghinaan penduduk setempat . Anak-anak kecil bahkan melempari Seohwa dengan batu.   Seohwa yang mengalami nasib tragis ini mulai berpikir keras dan mengumpulkan tekad untuk mengubah nasibnya. Saat itu Wolryung masih terus mengamati dari kejauhan.
Tiga hari berlalu dan kondisi Seohwa semakin buruk . Wolryung masih bimbang apakah harus menolong atau tidak ? Sementara itu Madam Chun menerima laporan bahwa Seohwa masih keras kepala . Padahal waktu lima hari yang diberikan Pejabat Gwan sudah berlalu tiga hari. Artinya waktu Seohwa tinggal dua hari lagi untuk “ditiduri” oleh Pejabat Gwan.
Wolryung akhirnya memutuskan untuk menolong tetapi dicegah oleh Sojung yang tiba-tiba muncul. Wolryung bersikeras menolong dan melakukan satu lompatan jauh . Sojung mencegahnya dengan melembarkan tasbih.

Mereka kembali berdebat dan berkelahi sampai akhirnya Wolryung kesal dan melemparkan tongkat Sojung kepada pemiliknya. Mata Wolryung menjadi merah karena emosi , merasa niatnya baik tetapi selalu dicegah oleh Sojung.
Sojung kaget tetapi …….ups .. ternyata Wolryung melemparkan tongkat milik Sojung itu untuk membunuh ular besar yang sedang berada di pohon.
Wolryung menghampiri dan mengarahkan tangannya kepada ular itu . Secara gaib ular besar itu menghilang seperti debu. Wolryung kemudian menyindir apakah diirnya telah mengacaukan takdir Sojung.
Wolryung kemudian berbalik kembali untuk menolong Seohwa . Ternyata Seohwa sudah menghilang dari pohon .
***
Seohwa terbangun dan Dam menyambut majikannya dengan penuh syukur. Dam sebelumnya sempat khawatir karena Seohwa demam terus menerus.
Seohwa mulai marah saat tahu dirinya berada disalah satu ruangan rumah gisaeng dan hendak menyingkir dari tempat itu.
Pada saat itu Madam Chun masuk ruangan dan kembali mengingatkan bahwa seorang gadis bangsawan yang sudah dijual sebagai gisaeng tidak punya pilihan lain selain hidup sebagai gisaeng dan melayani pria termasuk dengan tubuhnya .
Seohwa menantang balik agar Madam Chun mengembalikan dirinya ke pohon “rasa malu” itu. Lebih baik mati daripada harus menjadi gisaeng !!
Madam Chun akhirnya menggunakan Yoon , adiknya Seohwa , sebagai sandera agar Seohwa mau menurut. Yoon sebagaimana kakaknya pun tak peduli dengan nyawanya sendiri asalkan Seohwa tidak menjadi gisaeng.
Madam Chun memberi tekanan baru dengan membiarkan Yoon dipukuli oleh tongkat . Keteguhan Seohwa mulai runtuh melihat adiknya disiksa didepan matanya sendiri. Seohwa akhirnya memohon akan melakukan apapun asalkan adiknya dibebaskan.
***
Seohwa mulai dipersiapkan untuk menjadi gisaeng. Pundaknya diberi tatoo sebagai tanda dirinya seorang gisaeng. Seohwa hanya bisa meringis kesakitan saat mulai di rajah pundaknya.
Sementara Yoon pun mulai berkerja sebagai pelayan di rumah gisaeng dan membantu pelayan senior Jangso.  Pada saat lagi menyapu berdua , Jangso terpukau oleh kecantikan Seohwa. Jangso segera mengeluh bahwa kenapa harus Pejabat Gwan …
Yoon penasaran .
Jangso menjelaskan bahwa Seohwa akan ditiduri Pejabat Gwan malam ini.
Yoon terperanjat dan segera melaporkan hal itu pada Dam. Yoon sadar bahwa Pejabat Gwan tidak puas dengan membunuh Mentri Yoon tetapi akan menodai Seohwa pula.
Yoon membisikkan sesuatu kepada Dam.
Dam ketakutan karena rencana Yoon akan membawa mereka berdua dalam masalah besar.
***
Seohwa masih terus didandani . Beberapa gisaeng lain mengagumi kecantikan Seohwa . Salah satu gisaeng laen mengeluh apa gunanya menjadi secantik Seohwa kalau harus menjadi gisaeng rendahan.
Muncul pula pertanyaan kenapa Seohwa begitu cepat menjalankan “ritual pertama” padahal baru beberapa hari. Salah satu gisaeng yang lain menjelaskan semua itu karena intervensi Pejabat Gwan.
Seohwa terperanjat mendengar nama Pejabat Gwan disebut. Kepala pelayan kemudian mengusir dua gisaeng itu agar tutup mulut. Kepala pelayan mencoba menghibur bahwa mungkin saja nasib Seohwa memang buruk.
Seohwa semakin hati mendengar pembunuh ayahnya akan menidurinya . Seohwa hendak bunuh diri dengan mencoba menusukkan sesuatu ke tubuhnya.
Pada saat itu Dam masuk ruangan sehingga Seohwa menunda keinginannya. Dam rupanya meminta Seohwa untuk lekas kabur karena Yoon juga sudah menunggunya.  Dam meminta Seohwa untuk berganti pakaian dengannya.
Dam rupanya abdi yang setia dan siap mempertaruhkan dirinya akan dihukum berat demi keselamatan Seohwa.
Seohwa memeluk Dam dengan terharu. Keduanya menangis .

***
Saat malam tiba. Madam Chun masuk ruangan dan mengingatkan Seohwa agar bersiap menyambut tamu. Tiba-tiba Madam Chun merasakan sesuatu yang aneh dan akhirnya menyadari bahwa yang berada diruangan adalah Dam.
Madam Chun beserta asistennya menginterogasi Dam disertai tamparan. Dam terus mencoba berkelit dan mengatakan bahwa dirinya tidak tahu apa-apa dan hanya bertukar pakaian saja.
Madam Chun mulai panik karena Pejabat Gwan dikabarkan sudah tiba di rumah gisaeng. Tidak ada cara lain , akhirnya Madam Chun memaksa Dam untuk melayani Pejabat Gwan.
Dam tak berdaya selain menangis.
Madam Chun mengingatkan agar Dam melayani Pejabat Gwan dengan baik . Kalau sampai ketahuan , Madam Chun mengancam akan memenggal Dam .
***

***
Seohwa terus berlari bersama Yoon. Seohwa mulai kelelahan dan menyadari bahwa mereka harus berpencar agar peluang selamat lebih besar.

Yoon enggan berpisah dari kakaknya . Tetapi Seohwa meyakinkan bahwa dirinya akan bersembunyi . Lagipula Seohwa berpendapat bahwa salah satu dari mereka harus memulihkan nama baik Mentri Yoon yang sudah difitnah dan di eksekusi.
Yoon akhirnya patuh dan mulai berpencar.

Seohwa ternyata berbohong dan akan bunuh diri sepeninggal Yoon. Seohwa mulai menggerakkan tusuk konde untuk menghabisi nyawanya sendiri sambil menyesali nasib Dam .
Pada saat itulah cahaya kunang-kunang biru menghampiri dan Seohwa mendadak kehilangan kesadaran. Seohwa terjatuh dalam pelukan Wolryung yang datang untuk menyelamatkannya. Seohwa sempat melihat Wolryung dan memohon pertolongan sebelum benar-benar pingsan.

Cahaya kunang-kunang biru bermunculan juga disekitar para pengawal rumah gisaeng yang masih terus mengejar . Para pengawal mulai gentar melihat fenomena alam yang janggal itu. Mereka melihat sesosok pria yang sedang berdiri di bawah volume cahaya menambah kesan misterius .
Ternyata Wolryung sedang menakut-nakuti dan memerintahkan mereka untuk enyah dari hutan . Peringatan itu tidak langsung diindahkan sehingga Wolryung terpaksa mengerahkan kesaktiannya.


Semak-semak terangkat dan mulai menggulung para pengawal.
***
Pejabat Gwan menyadari telah tertipu. Dia keluar kamar dan memanggil-manggil Madam Chun.
Begitu Madam Chun muncul , Pejabat Gwan langsung menamparnya. Pejabat Gwan sangat marah karena telah meniduri seolah pelayan , bukan gadis mantan bangsawan seperti dalam hayalannya.

Pejabat Gwan menuntut agar Seohwa diserahkan sekarang juga.
Madam Chun tidak gentar dan menjelaskan bahwa Pejabat Gwan baru bisa meniduri seorang gisaeng kerajaan setelah resmi menjadi gisaeng.
Pejabat Gwan mengira Madam Chun mencari mati dengan berani menipunya. Madam Chun masih tidak gentar dan menantang Pejabat Gwan untuk membuktikan ancamannya.
Kepala pelayan tak tahan melihat situasi tegang dan mengatakan bahwa Seohwa telah kabur setelah didandani . Madam Chun segera meminta asistennya untuk tutup mulut.
Madam Chun tidak kehilangan akal dengan mengungkit bahwa Seohwa akan mati jika pihak istana tahu Seohwa melarikan diri. (Jika mati tentu tidak akan berguna bagi Pejabat Gwan yang belum mencicipi tubuhnya.)
Madam Chun mengiming-imingi Pejabat Gwan untuk memberikan kesempatan pada Seohwa . Madam Chun juga berjanji akan membawa Seohwa kembali.
Pejabat Gwan sudah emosi dan tetap meminta orangnya untuk melaporkan kaburnya Seohwa ke pihak istana.
Madam Chun hanya bisa pasrah melihat Pejabat Gwan pergi sambil uring-uringan. Sementara itu Dam terlihat berada dikamar sambil menyesali dirinya telah dinodai dengan brutal .
***
Yoon terbangun dan menyadari dirinya masih ditengah hutan. Dia segera bangkit dan membasuh mukanya sambil memikirkan nasib kakaknya.
Tiba-tiba tiga orang aneh datang menghampiri Yoon. Salah satu dari mereka melemparkan sesuatu dan Yoon terjatuh karena kakinya tiba-tiba terikat tali.
***
Salah satu gisaeng melaporkan berita tertangkapnya Yoon kepada Dam. Menurut gisaeng itu , Yoon juga akan di eksekusi didepan umum. Dam panik dan segera menyusul .
Benar saja Yoon sudah babak belur dan bersiap akan di gantung. Dam hanya bisa memandang sedih nasib junjungannya.
Tak lama Pejabat Gwan datang dan menanyakan untuk terakhir kali kemana Seohwa kabur. Yoon menolak dan akhirnya Pejabat Gwan memerintahkan agar Yoon di gantung.

Dam memandang sedih nasib junjungannya dan mengenang masa-masa mereka tumbuh bersama dulu.
Dam pulang ke rumah gisaeng dengan hati hancur.
***
Madam Chun menerima laporan dari para pengawal Jangso . Jangso mengaku telah melihat gumiho berekor sembilan dengan ketakutan. Menurut Jangso , mungkin saja Seohwa sudah dimangsa oleh gumiho yang dikenal suka menyantap hati manusia.
Tak lama kemudian , Madam Chun pun menerima kabar buruk lain bahwa Dam sudah bunuh diri dengan menggantung diri.
***
Seohwa terbangun dan menyadari sedang berada di gua dan kakinya terikat sesuatu. Seohwa keluar goa dan melihat pemandangan menakjubkan cahaya kunang-kunang biru ditengah kegelapan malam.
Wolryung muncul dan Seohwa bertanya siapa namanya?
Wolryung menyebutkan namanya seraya meminta Seohwa tenang karena telah mengusir para pengawal dari hutan. Seohwa tentunya masih waspada melihat pria asing yang baru dikenalnya.
***
Pejabat Gwan tampaknya tidak pernah puas. Dia memanggil kepala polisi Dam Pyung-joon untuk menangkap mahluk yang disebut gumiho itu di hutan.
Polisi Dam menyanggupi dan segera mengirim pasukan ke hutan ditemani para pengawal rumah gisaeng sebagai pemandu jalan .

Rahib Sojung melihat kehadiran mereka dan melaporkan pada Wolryung.
Wolryung menyindir bukankah Sojung seharusnya baru balik sebulan lagi.
Sojung penasaran siapa gerangan Seohwa yang ada disekitar itu. Wolryung mengingatkan bahwa Seohwa itulah gadis yang terikat di pohon kemaren lalu.
Sojung langsung menegur kenapa Wolryung ikut campur urusan manusia. Wolryung berkilah bahwa Seohwa duluan yang datang ke hutan dan meminta pertolongan.

Sojung panik dan meminta agar Wolryung mengeluarkan Seohwa dari hutan sekarang juga. Wolryung menentang anjuran Sojung , karena sama saja mengantarkan Seohwa untuk mati.
Sojung bersikeras bahwa hidup dan matinya Seohwa adalah takdirnya. Wolryung bersikeras urusan Seohwa telah menjadi urusannya.
Mereka berdua terus berdebat sampai akhirnya Wolryung mengaku sedang memikirkan “Buku Keluarga Gu”. Sojung curiga jangan-jangan Wolryung ingin menjadi manusia. Wolryung membenarkan dan Sojung melongo.
***
Polisi Dam bersama pasukannya terus mengawasi hutan dengan seksama.
Sebuah elang melintas ditengah gunung dan hutan yang misterius. Tempat dimana para mahluk gaib pelindung gunung menampakkan diri di tempat yang bernama “Taman Cahaya Rembulan”.

0 comments:

Post a Comment