Sunday, August 29, 2004

Sinopsis Mars (2004) - Episode 01

Standard


Drama Mars ini menurutku salah satu drama klasik Taiwan yang terbaik yang dirilis hampir 10 tahun lalu. Ketika itu Vic Zhou sedang dimasa emasnya dan baru saja sukses sebagai anggota F4 dengan drama serial laris "Meteor Garden" yang beradu akting dengan rekannya di Meteor Garden , yakni Barbie Hsu.

Serial drama "Mars" ini bukan kisah cinta murahan , tetapi menyodorkan lika-liku psikologi dari kedua tokoh utamanya yang mengalami trauma berat , sehingga boleh dibilang pasangan ini adalah sepasang insan yang jiwanya terganggu , namun saling memberikan dorongan satu sama lain untuk melepaskan diri dari masa lampau yang kelam.
Aku kebetulan ada waktunya untuk menontonnya kembali dan mencoba untuk membuat sinopsis klasik dari serial drama yang luar biasa ini . Mudah-mudahan generasi sekarang yang belum sempat menontonnya akan tertarik untuk mencari serial drama ini yang masih tersedia di penjual DVD yang lengkap.

NB :  pindah domain >>>  original Link (www.bentara.asia)

***

EPISODE 01

Ketika anak-anak sedang bermain dengan riang di halaman yang luas ,  Han Qiluo 韓綺 (Barbie Hsu) sedang duduk di kursi taman sambil meliukkan pensilnya dengan fasih di atas kertas. Terlihat goresan indah yang menggambarkan seorang ibu bersama anaknya. Mendadak seorang pemuda tampan berambut agak gondrong tebal mengenakan jaket motoris berwarna merah datang menghampirinya.
Pemuda bernama Chen Ling 陳零 (Vic Chou) dan bermaksud menanyakan arah jalan ke rumah sakit yang bernama En……? Ling tidak melanjutkan nama rumah sakit itu dengan lengkap karena lupa.

Qiluo tampak terusik dan menunda aktivitas seninya. Berbicarapun entah malas atau takut ? Sebagai gantinya dia menggambarkan denah untuk menunjukkan arah ke rumah sakit yang dituju oleh Ling. Ling buru-buru memberikan denah yang sudah dibuat kepada Ling tanpa berani mengangkat kepala dan memandangnya.
Ling tersenyum lega. Dalam denah itu terlampir jelas nama rumah sakitnya adalah “En Cheng”.
Tak diduga Qiluo buru-buru minggat dari hadapan Ling. Ling hanya bisa memandang dengan bengong.
Qi Luo dengan busana hitam yang sederhana dan rambut terikat nan bersahaja terus berlari melintasi jalan yang lengang . Daun-daun yang gugur disisi jalan seperti mewakili isi hatinya.

Dia masuk rumah dan menutup pintu . Bahkan sudah berada ditempatnya sendiripu keresahannya belum juga reda . Qi Luo terus memandang dengan was-was . Kunci pintu tiba-tiba bergerak dan dia semakin paranoid.
Ternyata seorang wanita setengah yang membuka pintu itu. Dia khawatir melihat Qi Luo lari terbirit-birit masuk kerumah . Karena itu dia menyusul masuk untuk menanyakan apa yang terjadi.
Qi Luo melaporkan kejadian barusan . Bagaimana dia bertemu seorang pria yang ternyata punya reputasi buruk di sekolahnya. Begitu tahu pria itu hanya menanyakan jalan , wanita itu bernafas lega dan mengherankan Qi Luo yang begitu paranoid untuk urusan sepele.

SEBELAH KAKI

Rumah Sakit itu tampak megah menjulang. Tersusun atas bidang-bidang geometris yang saling mengunci . Bidang kuning berwarna solid memanjang menghubungkan bidang grid kaca yang menjadi entrance dan bidang bertekstur . Diantara mereka masih ada bidang biru yang tinggi selaras dengan langit.


***

TRAUMA

Masa  lampau adalah bayang-bayang yang terus mengikuti Qi Luo . Disaat sendiri , masa lampau jadi sahabat dekatnya .
Seperti pintu itu lagi , yang seolah terbuka oleh seseorang , dan saat kesadarannya pulih pintu itu masih tertutup. Tak tahan Qiluo pun menangis.
***

HARI PERTAMA KULIAH

Kampus itu penuh dengan mahasiswa yang beraktivitas , tetapi Qiluo berjalan dengan murung seperti biasanya. Daye sahabat karib Ling diam-diam memperhatikannya.

Tetapi perhatian Daye terusik oleh deru suara motor yang memasuki kampus dengan kecepatan tinggi. Dia adalah Ling , tanpa mempedulikan keselamatan pejalan kaki , Ling menerobos masuk dengan motor barunya. Daye terpana , tetapi seperti pencopet , Ling langsung merampas kantong sarapan milik Daye sambil mengemudikan motornya.

Dosen piket mengejar Ling sampai ke tempat parkir sambil terengah-engah kerena termakan usia. Dosen itu marah besar karena Ling mengemudikan motornya sampai 120 km/jam , namun Ling pandai bersilat lidah dan bertanya apakah pihak kampus harus memasang pendeteksi kecepatan karenanya ? Ling tersenyum dan berlalu , dan dosen itu hanya bisa jengkel dan kelelahan karena baru berlari.
Daye menyambut Ling didepan kampus , dan walaupun jengkel namun menginformasikan karibnya ini bahwa ada yang menantang mereka bertanding bola basket. Mereka pun membahas pembagian keuntungan jika memenangkan pertaruhan nanti.
Saat menaiki tangga kampus, Ling sempat menggoda seorang gadis tinggi langsing dan cantik yang bernama  Qingmei, seorang teman sekelas yang menyukainya. Qingmei pun menyambut Ling sebagai teman sekelasnya dan menggandeng tangannya menuju kampus dalam , namun Ling lebih memilih Daye dan mereka pun masuk kedalam kelas.
Ling terus menghindar dari Qingmei dan tanpa sengaja menduduki sebuah bangku yang  terletak disebelah bangku yang diduduki seorang gadis . Ling memuji gadis disebelahnya itu : “Anak sekarang pertumbuhannya memang luar biasa. (maksudnya adalah tubuh wanita)”.
Daye yang duduk dibelakang meledek Ling begitu sebagai pria yang berbakat mata keranjang karena belum 40 detik masuk kelas sudah mengamati tubuh-tubuh gadis disekitarnya. Daye bahkan menyarankan Ling untuk masuk kedokteran untuk menyalurkan bakatnya. Gadis itu merasa dipergunjingkan dan  sempat ingin pindah tempat, namun dosen keburu masuk. Dosen itu adalah dosen yang tadi menegur Ling di tempat parkir.
Dosen itu menatap Ling , dan Ling membalas dengan kedipan mata yang nakal kepada dosen itu. Sang dosen hanya bisa menghela nafas menahan jengkel , dan memulai absensi kelas.
“Guan Jiaxiang.” (hadir)
”Yan Luofang.” (hadir)
”Wang Junhong.” (hadir)
”Liu Guanchang.” (hadir)
”Li Lihua.” (hadir)
”Fang Wanru.” (hadir)
”Chen Yinhua.” (hadir)
”Chen Chaohua.” (hadir)
”Cai Xinyin.” (hadir)
”Chen Huezen.” (hadir)
Ling menyadari bahwa gadis itu pernah ditanyai jalan olehnya dan bertanya siapa namanya. Disaat bersamaan dosen pun memanggil sebuah nama.
”Han Qiluo.”
Gadis disebelah Ling itu bernama Qiluo , dan dengan lambat menjawab “hadir”.

Kini Ling tahu nama gadis itu , dan meminta menulis hanzi dari namanya. Ling terus menggoda tanpa hasil karena Qiluo terlihat dingin dan kaku. Dan sang dosen saat itu menyebut nama “Chen Ling” .
Ling mengabaikan panggilan itu dan lebih tertarik menggoda Qiluo , bahkan sampai melakukan permainan ting tong ting tong , seakan kepala Qilui itu semacam tombol bel.
Sang dosen kesal karena dicuekin dan mengambil penghapus papan untuk dilemparkan. Chen Ling menyadari dan menghindar , tetapi penghapus itu malah mengenai Daye.

Daye pun membersihkan bekas kapur yang menempelnya di toilet. Daye menyuruh Ling menyiapkan es batu karena dosen itu mungkin akan menghajarnya. Ling malah tersenyum menggoda bahwa dosen itu mungkin memberi pelajaran pada Daye karena mengantuk dikelas.
Daye tampak serius dan menjelaskan bahwa dosen itu sedang mencegah tangan genit Ling berulah. Daye mengingatkan agar Ling melupakan Qiluo. Ling heran bagaimana Daye mengenalnya.
Daye mengaku sebagai teman sekelas waktu di SMA dan memang Qiluo sudah terlihat aneh , hanya menggambar dan terlihat benci pada laki-laki , apalagi pria seperti Ling yang lebih seperti “alat kelamin berjalan.”
Mereka berdua pun berjalan melintasi lorong kampus , dan Ling masih tetap bercanda , bahkan menunjukkan sebuah kelas dimana ada adik kelas yang cantik. Daye tidak peduli dan terus berjalan.
***
Dalam ruang kuliah yang lain , dosen yang lain meminta Qiluo untuk menerjemahkan sesuatu. Qiluo berdiri cukup lama tanpa bersuara , sehingga Qingmei dkk pun memprotes suaranya tidak kedengaran , demikian pula mahasiswa yang lain pun memprotes.
Ling yang duduk di samping Daye pun ikut mengamati. Ling mengambil kertas dari Daye kemudian menuliskan sesuatu pada kertas untuk dilemparkan kea rah Qiluo.
Qiluo tak bergeming dan pura-pura tidak melihat , sehingga ling terpaksa harus meletakkan sendiri kertas yang sudah dilempar ke meja Qiluo.
Qiluo membuka kertas dan melihat pesan : “Peta yang kau gambar , dibaliknya ada gambar ibu dan anak padaku.” Usai membaca , Qilui kaget dan tanpa sadar bersuara cukup kencang “AH.”sehingga seisi kelas mendengarnya.
***
Daye dan Ling makan siang bersama , tetapi saat Daye mengantri makanan , dia melihat dari jauh bahwa Ling sudah didepan meja Qiluo.
Ling mengajak Qiluo untuk berbincang , namun pandangan Qiluo kearah makanan yang sedang disantapnya.

“Apa kau yang menggambarnya ? “ tanya Ling
”…” Qiluo terdiam
“Kau gambar siapa sih sebenarnya?” tanya Ling lagi
“….” Qiluo masih terdiam
“Jika kau terus diam maka aku akan membuka mulutmu dengan lidahku.!” ancam Ling .
Qiluo tampak terpengaruh dan berkata : “Kenapa kau tidak membuangnya.?”
“Ah ternyata suaramu bagus juga.” kata Ling sambil tersenyum. …”Karena ……..karena aku tertarik pada gambar itu.”
“Kenapa ? “ sahut Qiluo.
“Kenapa ? Ini pertanyaan bagus , karena…… “ sahut Ling
“Jadi jawabannya adalah …..?” Qiluo mulai penasaran dan mengangkat kepala memandang kearah Ling.
“Karena ……karena gambarmu itu membuatku terharu. Karena …gambarmu itu membuatku teringat pada ibu yang sudah kulupakan.” Ling tampak serius kali ini tapi tak lama tersenyum kembali dan meminta nomer ponsel Qiluo agar bisa mengajaknya makan .

Qiluo mulai diam kaku kembali sehingga Ling kembali mengancam akan membuka mulut Qiluo dengan lidahnya. Qiluo tak tahan dan akhirnya pergi dari mejanya meninggalkan makanan yang belum habis.
Ling malah tersenyum dan tertawa. Daye yang masih mengantri makanan hanya bisa menghela nafas melihat kelakukan karibnya. Qingmei pun ternyata memperhatikan semua itu.
***
Qiluo berjalan dengan muram seperti biasanya. Daye menyusulnya tetapi hanya bisa memandang punggung Qiluo yang terus berjalan dan mengikutinya perlahan.
Tetapi tak lama Qiluo seperti merasa ada yang mengikutinya dan berbalik melihat Daye.
Daye salah tingkah dan pura-pura terus berjalan dan berlalu , tetapi Ling kembali muncul dan memburunya. Qiluo terus menghindar karena akan ke klub kesenian , dan Ling terus menempel karena mereka satu arah
Sebelum bertanding basket karena terus dipanggil oleh Daye, Ling meminjam uang dan ikat rambut gadis itu dan menjanjikan akan membayar gantinya dua kali lipat bila menang taruhan.
***

MARS

Diklub kesenian , setiap siswa sedang melukis di canvas masing-masing. Pada saat itu Qiluo mendengar Ling dipergunjingkan oleh siswi lain sebagai pria yang tinggi dan sangat tampan.
Sementara Ling masih bertanding basket dengan rambut terikat oleh ikat rambut milik Qiluo.
Klub kesenian semakin sepi , tetapi Qiluo masih asik tenggelam dalam mengerjakan lukisannya.

Dosen kesenian itu diam-diam menutup pintu ketika ruangan besar itu tinggal Qiluo seorang diri.
Qiluo merasakan firasat aneh , tetapi tetap menyapa dosennya itu. Dosen itu diam-diam mendekat dibelakang Qiluo , dan tangannya mulai menggerayangi Qiluo . Qiluo tampak kaku tanpa tahu harus melakukan apa ketika dosen itu mendekatkan hidungnya kearah rambut dan memuji aroma rambutnya.

Qiluo mulai teringat kembali pada kenangan buruk yang menyebabkan traumanya dan mulai terengah-engah menahan gejolak emosi. Tangan dosen itu mulai menjelajah dan Qiluo makin teringat pada pengalaman buruk masa lampau (diperkosa) .

Pada saat genting itu , Ling muncul dan bersikap menantang dosen itu. Qiluo seperti lega karena lolos untuk sesaat.
Ling menegur dosen itu : “ Mungkin bapak belum tahu bahwa ada pintu lain ke ruangan ini yang sangat dekat dengan lapangan basket.
Dosen itu mulai gelisah dan menutupi rasa bersalahnya dengan mempertanyakan kenapa Ling yang bukan anggota kesenian masuk keruangan ini.
“Oh jadi kalau bukan anggota kesenian tidak boleh masuk ? Baiklah kalau begitu aku akan bergabung menjadi anggota klub ini.” Ling tersenyum sinis.
“Lupakan saja , selain olahraga kamu tidak bisa melukis.” desak dosen itu.
“Belum tentu, mungkin aku punya sisi yang belum diketahui orang lain, ” tukas Ling…………lalu melanjutkan : “Guru bahasa Inggris yang perhatian , baik dan tampan , juga bisa melakukan pelecehan terhadap mahasiswi.”

Ling mulai menatap tajam , sehingga dosen itu makin panik dan mengancam bahwa pihak kampus akan bertindak.
Ling mengambil cutter dan berjalan mendekat , dan ekspresi wajahnya semakin aneh dan berkata dengan kaku dan misterius : “Aku hanya mau meraut pensil saja , aku tak mungkin menggunakan cutter ini untuk mencoret wajah bapak yang alim dan jujur ini.”
Ling terus berjalan mendekat sambil mempermainkan pisau cutternya dan dosen itu mulai ketakutan , dan kabur . Qiluo pun ikut merasakan tegang dan berdiri.

Ling tersenyum melihat dosen itu kabur , dan berkata : “Baru sebentar sudah menyerah , sungguh tidak seru. “ sambil melempar pisau cutter ke lantai.
Ling pun menegur Qiluo yang dikatakan bodoh karena membiarkan seorang pria menyentuh seenaknya . Ling menyarankan agar Qiluo menjadi lebih kuat , jangan terus menerus menjadi gadis lemah , dan ekspresi wajah Qiluo yang seperti itu hanya akan membuat orang lain ingin melakukan hal lebih jauh.
Qiluo terus menunduk karena tidak bisa berkata apa-apa , tetapi suasana mulai mencair saat Ling memperhatikan lukisan Qiluo , dan memuji lukisan itu sangat mirip gips.

Qiluo menjelaskan bahwa lukisan itu adalah dewa perang yunani dengan definisi yang berbeda di Eropa sana , bahwa Mars seharusnya memakai baju perang yang bercahaya , berwajah tampan , sangat tajam , pahlawan yang memimpin pasukan keluar dari malam yang tragis.

Ling memperhatikan patung model Mars didepannya itu dengan serius , tetapi Daye muncul dan mengajaknya pulang.

Ling berpesan agar Qiluo lekas pulang , sambil mengembalikan uang menjadi dua kali lipat diikat tali rambut sesuai janjinya.
***
Ling memasuki sebuah minimarket , tetapi mendadak dia merasakan firasat aneh . Ling mendekati cermin didekatnya dan anehnya tidak terlihat bayangannya sendiri dicermin. Ling mulai gelisah , dan bayangannya itu akhirnya  muncul dicermin.

Untuk sesaat Ling merasa lega , tetapi mulai gelisah kembali ketika melihat bayangannya di cermin agak berbeda dengan posisi dirinya sekarang.

SINOPSIS LENGKAP

[Episode 1 ] [2] [3] [4] [5] [6] [7] [8] [9] [10] [11] [12] [13] [14] [15] [16] [17] [18] [19][20] [21]

0 comments:

Post a Comment