Monday, August 30, 2004

Sinopsis Mars (2004) - Episode 21 (Tamat)

Standard


Akhirnya aku berhasil memasuki episode final drama Mars ini . Sebuah drama yang kaya akan karakter – karakter yang unik seperti Ling (Vic Zhou) , Qiluo (Barbie Hsu) dan Tongdao yang muncul belakangan namun memberikan warna muram yang terus melekat sebagai karakter penting dalam drama ini.

Mengenai gunung jiwa yang tak terpahami oleh manusia pada umumnya. Mereka menjadi berbeda karena tragedi yang melahirkan tragedi-tragedi berikut. Sebagian jatuh ke jurang tak berdasar atau menjadi lukisan yang muram , dan  sebagian lagi sanggup bertahan sampai akhir seperti Ling yang penuh warna dari hitam-putih hingga pelangi.
Sungguh sangat tidak mudah membuat rekap atau sinopsis drama yang sudah hampir satu dekade berlalu. Yang pertama karena menonton kembali drama lawas cukup terganggu dengan kualitas gambar yang tidak sebaik drama-drama terbaru masa kini. Yang kedua karena peminat drama klasik ini terbatas ketimbang drama terbaru yang sedang populer. Hanya generasi tertentu saja yang sempat menikmati dan bernostalgia.
by : Sian Lie
***
“Kata-kataku masih sama , aku tidak tertarik padamu.” ………..“Tidak masalah , yang penting aku tertarik padamu.” ……..Raut wajah Ling berubah : “ Kalau begitu aku tarik ucapanku , aku membencimu.”………“Benarkah ? Keliatannya hubungan kita semakin berkembang , paling tidak dengan membenci itu sama saja dengan merasakan keberadaannya. ” . Perang urat syarat dimulai diantara dua alumnus rumah sakit jiwa ini. (Ling vs Tongdao , ep10)
 “Asbak ini sudah kotor.” Tongdao mengerti , di menaruh asbak ini dan menyodorkan telapak tangannya sendiri untuk dijadikan asbak baru. Ling lalu mematikan rokok yang sedang menyala di telapak tangan Hongdao yang seperti tidak merasakan sakit. Ling berujar : “Aku kira aku sudah cukup tidak normal , tetapi kau lebih tidak normal dariku.” Seperti tidak merasakan sakit ,  telapak tangan Hongdao berfungsi sebagai asbak dengan baik sampai rokoknya benar-benar mati. (Ling vs Tongdao , ep10)
“Kau tahu manusia sampai abad ini menjalani sejarah yang seperti apa ? Hal yang mereka lakukan seperti sebuah film sejarah pembunuhan . Hanya beberapa abad yang lalu saja , manusia masih merasa pantas untuk membunuh orang karena niat dan pandangan sendiri. Dan sampai sekarang masih saja membicarakan hak asasi. Memakai jaket etika . Ini namanya menyimpang dari sifat dasar manusia dan karena itu nilai manusia semakin rendah saja  . Sebenarnya tindakan membunuh barulah cocok dengan aktivitas manusia. Bisa membunuh orang tanpa sebab tidak hanya aku saja . Saat mereka membunuh lebih menakutkan dariku . ” (Tongdao , Episode 12) 

EPISODE 21 (Tamat)

Da Ye , Zhijia , Qingmei dan Qiluo mengadakan pesta kecil untuk minum bersama untuk merayakan rencana pernikahan Qiluo dan Ling . Namun Ling masih belum juga datang. Tak lama Ajian , tetangga Ling di apartemen lama muncul membawakan tambahan makanan . Ponsel Qiluo berdering , rupanya Ling . Qiluo menjelaskan kalau teman2 mau ikut merayakan. Tak lupa Qingmei – Da Ye menyerahkan hadiah untuk Qiluo.

Qiluo membuka hadiah itu , berupa kerudung , dan teman2 mengatakan kalau hadiah itu tidak makan tempat dan bisa disimpan selamanya. Qiluo terharu dan langsung memeluk Qingmei.
“Jangan begitu Qiluo , aku juga hampir menangis.”
***
Ling sedang bersiap untuk menyusul acara. Tetapi pada saat itu dia melihat Tongdao menangis.
“Tongdao ?”
Tongdao terus menangis seperti anak kecil. Ling merasa kasihan dan menghampirinya , dan berkata : “ Kenapa menangis ?”

“Aku sudah tidak kuat lagi . Aku orang yang tidak berguna tetapi tidak berani mengakuinya , Aku hanya cemburu dengan keberadaan orang . Aku hanya bisa mengabaikan kelemahanku sendiri , ” keluh Tongdao.
“Ayo bicara ke tempat lain ,” ajak Ling.
Mereka berada di lorong gang . Tongdao masih menangis dan berkata : “Aku takut sendirian dan kesepian , dulu aku tidak begini , kenapa aku bisa berubah jadi begini ? Aku benar-benar takut sendirian. Ling , aku harus bagaimana ? Apa aku sudah tidak tertolong lagi ? “
Ling memeluk sambil berkata “Tidak apa-apa.”
Diam-diam Tongdao sudah menyiapkan pisau , dan menghujamkannya ke perut Ling.

Ling terluka parah , dan Tongdao terkekeh berkata : “ Kau pantas menerimanya , siapa suruh kau meremehkanku . Jangan berpura-pura sangat memahamiku , kau yang sekarang selain punya tenaga , sudah tidak memiliki apa-apa , dan terutama kau tidak pantas mengkritikku. “
Tongdao menggeram dan kembali menghampiri Ling untuk menghabisinya. Ling mencoba menghindar. Dan Tongdao akhirnya berhasil menghujamkan pisaunya sekali lagi.
***
Sementara itu Qiluo masih berpesta kecil mengenakan tudung kepala kado hadiah. Namun mereka menyadari Ling belum juga datang , padahal sudah mulai kelaparan.
***

Tongdao berjongkok didekat Ling yang sedang sekarat. Tongdao bertanya : “Bagaimana rasanya mau mati ? Biasanya kau sangat angkuh , sekarang kau tidak angkuh lagi , lucu sekali . Kau begitu lemah , sering diremehkan orang , juga bisa mengendalikan hidup manusia , sayangnya kau tidak bisa merasakan bahwa aku sangat gembira melihat orang yang tegar menghadapi kematian seperti orang pengecut. Kau tahu aku sangat puas ? “
Ling yang sudah sekarat masih sempatnya tertawa .
“Apanya yang lucu ? Otakmu sudah rusak yah ? Cepat mohon pengampunanku seperti si pengecut Qingmu  !” kata Tongdao.
“Ternyata begitu, hanya begitu saja kesabaranmu ? Tidak saja lemah , juga merasa terpaksa , kau menginginkan semuanya , tetapi tidak mengatakan apa-apa , sebenarnya kau seperti Qingmu , “ Ling masih sempat tersenyum .
Tongdao gelagapan menghardik sambil menusuk Ling kembali : “Diamm , tutup mulutmu !!”
“Kuberitahu , aku tidak kasihan , sama sekali tidak .”
Tongdao menjerit lalu kabur meninggalkan korbannya. Apakah Ling masih bisa bertahan hidup dengan darah yang keluar begitu banyak ?”
Ling mulai terengah2 mencoba bertahan dan bergumam sendirian : “ Ini bukan lelucon , kalau begini terus , aku benar-benar bisa mati.”
Ling mencoba melangkah namun beban lukanya terlalu berat.

***
Di pesta kecil , Qiluo masih mengenakan tudung kepala , sementara teman-teman lain mulai merasa Ling terlalu lambat.

Qiluo merasa ada suara dan menduga Ling sudah pulang. Tetapi ternyata tidak ada siapa-siapa.
Ajian sampai berkelakar apa Ling menemukan buku gratis di mini market sampai lupa waktu .
Da Ye lalu menawarkan diri untuk mencari dan menyusul Ling.
***

Da Ye berjalan menuju mini market , melihat sekeliling dan menyadari motor Ling masih ada di tempat itu. Da Ye mengamati motor itu sesaat dan terus mencari . Alangkah kagetnya Da Ye melihat Ling sudah sekarat.
“Lingggg !! Kau kenapa ?”
Da Ye panik .
***
Di pesta kecil , orang-orang belum sadar sampai Da Ye mengabari Qingmei . Wajah Qingmei langsung berubah tegang .
(Sementara itu , Tongdao masih berjalan dengan baju berlumuran darah . Tongdao bergumam sendiri : “Tidak seru , aku sendirian lagi.”)
Sementara itu Qiluo dan Qingmei sudah menyusul ke rumah sakit. Mereka cemas melihat baju Da Ye berlumuran darah. Da Ye menjelaskan kalau itu semua dari darah Ling.

Daya meratapi Ling : “|Hikks , lukanya begitu berat , dokter berkata nafasnya tidak stabil dan sedang dirawat.”
Qiluo panik dan emosi. Qingmei sampai mati-matian mencegah Qiluo karena sedang operasi. Qiluo meratap : “Kenapa aku orang yang paling dekat dengannya tidak boleh masuk , hiks hiks .”
Jam setengah 12 malam.
Da Ye masih terus membersihkan bekas darah . Disampingnya ada Qingmei yang berharap Ling pasti akan selamat. Namun Da Ye mengingatkan bahwa yang harus mereka khawatirkan adalah Qiluo.
Daye : “ Mereka tidak mungkin berakhir seperti itu.”
Terdengar juga perkataan samar-samar perawat yang mengeluh bahwa stok persediaan darah tidak cukup.
Ling masih dalam kondisi kritis di rumah sakit. Team dokter berusaha keras menyelamatkannya.
Qiluo merenung sendiri : “Kenapa aku bisa disini , bukankah tadi aku masih bersenang2 dengan Qingmei dkk ?”
Jam satu subuh . Ayah Ling muncul dan berkata : “ Jangan khawatir , Ling pasti akan selamat.”
Qiluo menangis lagi didepan ayah Ling. Ayah Ling memeluk untuk menenangkannya.
Qiluo masih terus menunggu dan menunggu jam demi jam. Ayah Ling sampai harus membawakan minuman untuk Qiluo.

Ayah Ling : “ Aku sudah menyuruh temanmu untuk membelikan makanan.”
“Aku benci rumah sakit karena jadi teringat ayahku.” Keluh Qiluo.\
“Ayahmu meninggal karena kecelakaan ?”
“Iyah , ibu dan aku menyusul kerumah sakit dan ayah …….”
“tiga tahun lalu juga aku begitu , hari kematian Sheng , setelah Ling sadar , dia bahkan tidak mengenalku , kematian Sheng adalah pukulan berat baginya. Dibawah penderitaan sebesar itu dia melupakan semua yang terjadi setelah kembali dari Amerika , dia berubah jadi orang lain , ada kalanya tiba-tiba pingsan , bahkan bisa menjadi gila , kemudian semakin parah , akhirnya setiap hari aku membawanya pulang dari kantor polisi. Aku tidak ada pilihan lain selain membawa Ling untuk direhab , dan dokter yang dulu memeriksa ibunya , lalu memeriksa Ling , dan aku mengarang kenangan untuk menutupi kenangan Ling yang hilang , misalnya ibunya bukan bunuh diri , tetapi meninggal karena bunuh diri dan sterusnya.”
“Pantas saja kenangan Ling demikian gelap dan terputus-putus , ternyata kalian penyebabnya.”
“Aku hanya berusaha menyelamatkannya , Xiao Yan , Xiao Zhi dan Sheng sudah meninggal . Tinggal Ling satu2nya keluargaku . Aku juga sempat ragu apa bisa menyayangi Ling seperti anak kandungku sendiri , aku tidak bisa kehilangan dia , tidak boleh .”
Team dokter mengabarkan kalau Ling butuh banyak darah. Ayah Ling langsung menawarkan diri karena masih ada hubungan darah . Qiluo hanya bisa menunggu didepan pintu sambil berharap cemas.
Namun pada saat itu Qiluo seperti merasakan firasat aneh. Pintu tiba-tiba terbuka dan menutup sendiri. Qiluo mendekati sumber suara dan terlihat penampakan Sheng sedang berjalan.


Sheng berjalan lurus menuju posisi Qiluo dan menembus Qiluo begitu saja , bahkan menembus pintu . (Rupanya Sheng hendak “menjemput” Ling) . Qiluo jadi panik dan mencoba membuka pintu. Sheng sempat memandang Qiluo sesaat dan akhirnya meneruskan masuk . Qiluo tidak kuasa mencegah arwah Sheng.
Team dokter memperhatikan kondisi Ling semakin parah. Tetapi Ling seperti tersadar. Tiba-tiba dia sudah berada dipinggir atap bangunan .
Ling bertanya : “ Kenapa aku bisa disini ?”

Tiba-tiba muncul Sheng dari bawah atap bangunan dengna posisi tergantung di ketinggian. Sheng tanpa berbicara menyodorkan tangan untuk mengajak Ling. Dan Ling secara naluri menyambut uluran Sheng. Namun saat itu Ling melihat Qiluo muncul meminta Ling kembali.
Ling berkata : “ Sheng , maaf , aku masih belum bisa pergi ke tempatmu.”
Arwah Sheng menghilang dengan sendirinya. Sebagai gantinya , Ling menyambut uluran tangan Qiluo.
***

Ling siuman dan disampingnya ada Qiluo.
Ling bertanya : “ Aku sudah mati atau masih hidup ?”
“Kau masih hidup,” jawab Qiluo sambil mencium dahi Ling.
***
Di rumah sakit jiwa , Tongdao kembali menjalani terapi. Dokter menyodorkan foto Ling dan bertanya apa Tongdao mengenalnya.
Tongdao menjawab : “ memangnya siapa ? “
“Kalah tidak ingat yah tidak apa-apa.”
Sementara itu Ayah Ling sedang berjalan2 bersama Ling di taman. Ayah Ling : “ Bagaimana lukamu ? Apa masih sakit ?”
“Aku sudah tidak apa-apa.”
“ Dua hari lalu kepala rumah sakit mengabarkanku , katanya Tongdao lupa semuanya dan pada dasarnya dia kelelahan , aku khawatir ucapan orang gila itu masih mereka dengar . “
“Ayah , sepertinya ubanmu semakin banyak , apa karenaku ? Kalau benar , aku minta maaf , selama 10 tahun lebih ini tidak ada yang pernah memberitahumu yah ?”

Ling memandang ayahnya yang mulai terisak .
“ Gawat . Aku sudah membuat si tua bangka itu menangis .”
Mereka berdua terdiam untuk sesaat. Qiluo ternyata mengawasi dari belakang dan tersenyum sambil memegang dua botol air mineral yang tidak jadi diserahkan.
***



“Lukisanmu sepertinya jadi lain ……..lain dengan waktu aku mengenalmu , maknanya lebih dalam.”
“Tentu saja , setelah melalui banyak rintangan. “
“Untung kita tidak dikalahkan oleh tragedy.”
“Untung ? “
“Kenapa aku selalu merasa tahun lalu saat aku hampir meninggal , aku sepertinya bertemu Sheng , dan dia masih seperti anak SMA. Kalau diingat-ingat , sebenarnya aku sama sekali tidak memahami Sheng , untung aku masih disisinya seperti melihat lukisanku sendiri.”
“Ling , selama ini ada satu hal yang kuragu untuk kukatakan , tetapi aku harus mengatakan ini , aku ingin menyerahkan sesuatu dari kamar Ling.”
***

Ling membuka surat wasiat Sheng yang diberikan oleh Qiluo. Ling membaca sebentar lalu berkata : “ Dasar bodoh , dia hanya hidup sampai 17 tahun , sudah begitu cepat memutuskan hidupnya .”
Ling kemudian membakar kertas itu dan bergumam : “ Kau tunggu saja disana Sheng , lagipula cepat atau lambat aku pasti akan melapor , tetapi saat itu pasti aku sudah tua , mungkin kau tidak akan mengenalku lagi.”
***

Qingmei mengeluh remote tv kabelnya kacau balau padahal ingin menonton Ling pertama kali ikut pertandingan GP 500. “Kalau tidak direkam , Ling bisa membunuh kita.”
Da Ye mengutak ngatik cukup lama : “Eyyy , sudah ada suara . “
“Lalu mana gambarnya ?”
“Mana aku tahu ?” jawab Da Ye .
“Kenapa setiap kali selalu memilih waktu paling sibuk untuk bertanding,” keluh Qingmei.
Da Ye tiba-tiba dipanggil pegawainya.
Qingmei masih mengeluh : “Kalau tidak ada gambar mana bisa direkam.”
Tetapi tak lama kemudian , Qingmei dipanggil .
“Nyonya boss , bisa ambilkan aku air ,” kata salah satu pelanggan.
“Baiklah , segera.” Jawab Qingmei yang pasrah.
***
Qiluo menemui Ling yang sedang sibuk dengan team balapnya.
Ling yang masih mengenakan kostum balap dengan lengkap , menemani Qiluo berjalan keluar ruangan.
Ling berkata : “Sebenarnya aku berambisi untuk menjadi peringkat satu.”
Qiluo berkata : “Keliatannya kau sangat percaya diri . Kelihatannya kau tidak tegang ?”
“Bukan begitu , hanya berdiri di sini , aku merasa sangat gembira , hidupku senang sekali.”
“Ling , masih ingat hari kiamat yang pernah kita bicarakan. Sampai sekarang kau masih percaya dunia akan kiamat ? “
“Sudah pasti akan kiamat , hanya masalah waktu , tetapi kita harus melalui hidup ini , dan kau akan menemaniku.”
Qiluo tiba-tiba menerkam Ling untuk memeluknya.
(Sebuah kilas balik memperlihatkan awal-awal perkenalan Sheng yang riang dan jahil dengan Qiluo yang muram dan pemalu.)
***
Tongdao masih menjalani terapi . Seperti biasa teknik pendekatan psikologi khas di rumah sakit jiwa itu adalah mengungkapkan perasaan dengan melukis. Tongdao memandang kertas dengan pensil warna .


Tongdao mencoba bersiap untuk menggambar , namun terpaku untuk sesaat sampai seorang pasien gadis kecil , membantunya dengan kedua tangannya untuk menggerakkan tangan Tongdao . Mereka berdua melukis , dimulai dengan lingkaran matahari yang bersinar , dan awan-awan di langit, kemudian hewan di darat hingga kupu2 berterbangan.
TAMAT

0 comments:

Post a Comment