Sunday, August 29, 2004

Sinopsis Mars (2004) - Episode 17

Standard


Ling masuk ruangan , dan ayah Ling langsung menegur : “Datang dengan cara menggemparkan , ini seperti kebiasaanmu . Tetapi gedung ini bukan tempat untuk berbuat onar , dan pada dasarnya kau sudah mengganggu jadwalku .”

“Maaf ,” sesal Ling yang berdiri mematung.
“Sikapmu hari ini membuat orang terkejut , katakan , apa yang bisa ku bantu ?” kata Ayah Ling.
“Selain kau , aku sudah tidak punya cara lain. “
“Benarkah ? Kau membutuhkan uang ?”
“Bukan , aku harap kau bisa meminjamkan semua milikmu .”
“Tadi kau bilang apa ?”
“Aku harap kau bisa menggunakan semua kekuasaanmu demi aku , untuk menolong seorang gadis .”
“Bulan kemaren kau bilang tidak membutuhkan bantuanku. Kenapa sekarang kau memohon padaku ? Kalau kau merasa membantumu adalah sebuah kewajaran , maka kau meremehkanku , kau anggap semua nasehatku sebagai angin lalu , sekarang kau meminta bantuanku , apa aku harus membantumu ? Apa dunia ini semudah yang kau bayangkan ? Pulanglah nak. ”
Ling berdiri mematung , kemudian memohon pertolongan ayahnya , menghampiri meja ayahnya .
“Aku mohon padamu . Tolong aku . Aku tidak takut kena hukuman , tetapi kalau karena itu aku harus dipenjara dan tak bisa melindungi dia lagi . Kau merasa sikapku tidak sopan , aku akan mengubahnya . Aku akan melakukan semua perintahmu . Kau mau aku kuliah , sekarang juga aku akan mendaftarkan diri . Kau mau aku kembali kerumah , aku akan pulang. Balapan ? Aku juga bisa berhenti nanti. Aku mohon. Aku Mohon. ”
Ayah Ling merenung sejenak namun akhirnya tersentuh oleh permohonan Ling. Dia menelepon Fang Min dan memerintahnya untuk menghubungi Pengacara Ye.
***

Tunduk Pada Konglomerat

Ayah Tiri Qiluo sedang mencoba menikmati hidangan di meja makan walaupun wajahnya babak belur karena dipukuli Ling sebelumnya.
Ibu Qiluo datang membawakan hidangan tambahan di meja makan. Ayah Tiri Qiluo bertanya pada istrinya apa Qiluo sudah mau makan ?
Ibu Qiluo terdiam .
Ayah Tiri Qiluo mengira Qiluo masih tidak mau makan dan berkata : “Biarkan saja , cepat atau lambat dia akan mengerti.”
“Kau tetap ingin menuntut anak itu ?” tanya Ibu Qiluo.
“Tentu saja . Sudah lama dia mengurung Qiluo . Juga dia hampir membunuhku . Kau tidak melihat kejadiannya sih . ”
“Tetapi jelas-jelas Qiluo sendiri yang pergi mencarinya khan ?”
“Apa maksud ucapanmu ? Kau mau menyuruhku untuk melepaskannya ? Kemudian membiarkan dia terus mengganggu Qiluo ? Bukankah kau juga membenci pemuda itu ?  ”
“Sekarang intinya bukan bagaimana cara kita menilai pemuda itu. Tetapi perasaan Qiluo. Tak peduli dia seperti apa , kalau Qiluo bisa bahagia ……”
“Kau …! Kau sedang bicara apa sih ? Qiluo dan pemuda itu , preman itu , mana bisa bahagia !! Aku benar-benar tidak mengerti apa yang kau pikirkan !! ” sergah suaminya sambil berjalan mengitari ruangan.
“Apa kita benar-benar bisa membahagiakan Qiluo ? “tanya sang ibu.
“Hah…. Apa yang kau katakan ?”
Pada saat itu telepon berdering membuat Ayah Tiri Qiluo menghentikan racauannya sesaat.

“Hallo cari siapa ?” tanya Ayah Tiri Qiluo
“Apa kabar , maaf tiba-tiba mengganggumu . Aku Pengacara Wu.”
(Sementara itu Qiluo perlahan-lahan turun tangga untuk menguping.)
“Pengacara ?”
“Benar.Terus terang saja aku mengganggu karena masalah Tuan Chen Ling. Aku rasa hal ini akan mendatangkan kesulitan bagi keluargamu. Ayahnya memintaku mewakilinya untuk minta maaf. ”
“Aku tak peduli , aku mau menuntutnya dengan pasal pembunuhan berencana , penculikan , aku pasti akan menuntutnya.”

Ling menyerahkan kunci motor sebagai simbol untuk mulai patuh pada ayahnya sesuai janjinya. Ling meninggalkan gedung dengan menatap sepeda motor kesayangannya.
***
Ling mendatangi rumah Qiluo , dan meminta maaf serta menyampaikan penyesalan kepada Ibu Qiluo yang kebetulan membukakan pintu untuknya.
” Bibi , maaf datang mengganggu. Aku sengaja datang kesini untuk minta maaf . Dulu aku sok jagoan dan banyak melakukan kesalahan , sudah banyak menyulitkan bibi juga. Minta maaf (membungkuk). Ada satu hal lagi , aku harap bibi merestui hubungan kami , walaupun sekarang aku belum pantas dan tidak punya jaminan masa depan , juga tidak pernah melakukan hal yang bisa dipamerkan , tetapi mulai hari ini aku akan kembali ke sisi ayahku dan mulai belajar dari nol. Aku akan berusaha sampai mendapatkan pengakuan orang lain. Jadi , ijinkan Qiluo untuk menikah denganku . Aku akan membahagiakannya.”
Qiluo menyusul keluar dan memeluk Ling didepan pintu , sementara Ayah Tiri Qiluo hanya bisa pasrah karena telah mengetahui Ling itu siapa.
Diluar dugaan Ibu Qiluo yang dari tadi berdiri mematung memberikan restu pada Ling untuk menjaga putrinya.

Ibu Qiluo melepas Qiluo dan Ling untuk pergi , dan berkata : “Kalau ada yang bisa kami bantu , tetapi takutnya tidak ada yang bisa kami bantu. Ini gelangmu yang rusak , aku sudah memperbaikinya. Kamu pernah bilang bahwa gelang ini penting bagimu khan.”
“Ibu , aku pamit untuk pergi.”
“Qiluo ! Selama ini ibu ingin mengatakan satu hal padamu. Maaf , ibu tidak menjagamu dengan baik , maaf nak , maaf , membiarkanmu hidup seperti ini dan pura-pura tidak tahu. Setelah pergi dari sini kamu harus hidup bahagia yah nak.”
Qiluo terharu dan memeluk ibunya.
***
Di apartemen , Ling seakan malas untuk makan malam bersama ayahnya. Namun Qiluo tampak antusias dan menanyakan Ling bagaimana penampilannya. Ling lagi-lagi tak acuh dan menganggap acara makan malam dengan ayahnya tidak begitu penting.
Qiluo menanyakan bagaimana kepribadian ayahnya Ling.
Ling berkomentar kalau ayahnya tenang-tenang saja menghadapi situasi apapun , sekaligus dingin dan menyebalkan , dan juga sombong.
Qiluo mulai resah mendengarnya , namun berpendapat bahwa biasanya orang yang memimpin perusahaan besar seperti itu memang harus bersikap seperti itu , dan kalau terlalu baik maka tidak akan bisa mengelola perusahaan dengan baik.
Ling pura-pura kesal mendengar Qiluo membelah Ayah Ling.
Mereka lalu berangkat menuju restoran , dan Ling ogah ganti baju dan hanya mengenakan kaos casual saja.
***

Keluarga Kecil

Ayah Ling sudah menunggu disebuah restoran bergaya Jepang dengan posisi duduk setengah bersujud.
Qiluo kaget melihat Ayah Ling ternyata sudah pernah dijumpainya saat pameran lukisan. Qiluo teringat saat itu Ayah Ling mencoba menawar Lukisan Mars .

Ayah Ling juga ingat Qiluo namun memberi isyarat pada Qiluo agar tutup mulut dan pura-pura tidak pernah bertemu sebelumnya. Ayah Ling secara formal menyambut kedatangan Qiluo dan memperkenalkan dirinya sebagai Ayah Ling.
Qiluo juga secara formal memperkenalkan dirinya sebagai Han Qiluo.
Mulailah mereka bertiga duduk menunggu hidangan lengkap.

Tak lama kemudian Nyonya Pemilik Restoran menyambut kedatangan tamu VIP ini. Sang Nyonya memuji Qiluo sebagai gadis yang cantik dan teringat Ling sebagai tuan muda kecil yang dulu sering ikut ayahnya ke restoran ini.
“Nak , kau sudah lupa saat kau kecil sering kesini ? Tuan besar sering membawa mereka kesini . Sepasang saudara kembar khan ?”
“Dia kakak sulung ,” jelas Ayah Ling.
“Oh yang ceria itu yah . Dia berbeda dengan adiknya. Adiknya sangat pendiam dan patuh. Tuan muda kecil Ling ini suka bermain dan buat masalah. Dia pernah membuat semua jendela kertasku sobek. Besoknya aku hampir tidak bisa jualan. hahahahahihihihi.”
Sang Nyonya tertawa diikuti Qiluo yang ikut tertawa.
Namun Ling tampak kesal dipergunjingkan dan berkata : ” Bibi , apa kau harus ke ruang sebelah untuk melayani tamu ?”
“Aiyoo , masa lalu seperti baru terjadi kemaren. Aku ingat Tuan Besar sering bawa Tuan Muda kecil datang kesini. Juga almarhum adik Tuan Besar , Xiao Yan , datang kesini. Haish , kalau cerita tentang Xiao Yan , kenapa orang yang begitu ceria bisa mati seperti itu ?”
Ayah Ling memperkenalkan Sang Nyonya sebagai teman lama keluarga Chen.
Nyonya bertanya : ” Tuan Muda Ling itu bukannya tinggal di Amerika Serikat ?”
Ayah Ling menjelaskan : ” Sudah delapan tahun dia tinggal disana. Sekarang dia ikut aku untuk mulai dari nol.”
“Hehe Oh begitu . Oh yah , adiknya juga sudah pulang ?”
Pertanyaan ini membuat suasana jadi murung.
Ayah Ling berdusta : ” Dia masih di Amerika Serikat , belajar melukis.”
“Oh begitu yah , kalau dia pulang , harus datang kesini juga dan juga nona cantik Qiluo ini. Aku akan ambil hidangan dulu yah.”
Sang nyonya undur diri dari ruangan.
Ayah Ling berkata pada Ling : ” Nyonya Boss itu belum tahu Sheng sudah meninggal. Adikku Xiao Yan , Sheng ibumu dan juga Kakekmu sudah tiada lagi. Saat aku sadar , aku baru tahu dikeluarga kita tinggal kau dan aku. Keluarga ini kelak harus berhubungan dengan baik.  ”

Ayah Ling tersenyum sinis : “Harga diri yang begitu tinggi . Bagaimana kau ingin menilai niat baikku itu terserah padamu . Tetapi jika karena pertahanan yang tidak berarti dan berdampak pada masa depan Qiluo , aku tidak akan setuju. Bisa tidak aku mohon , sekarang kau harus menghadapi kenyataan dan masa depan.”
“Ayah selalu saja begini. Saat aku mulai sadar , aku baru merasa setiap kali aku selalu membiarkanmu mengaturku. Sebenarnya kau hanya ingin semua orang menuruti perintahmu saja. Begitu juga dengan masalah Qiluo. Bicaramu begitu enak didengar, tetapi hasilnya ? Kau hanya tidak ingin agar orang yang tidak tamat kuliah tinggal dirumahmu.”
Qiluo mencoba menenangkan Ling , namun Ling masih nyerocos : ” Kau menyuruh Qiluo melanjutkan kuliah karena ingin ijazah itu saja khan ? Kau bahkan tidak tahu apa yang dia lukis………”
Qiluo interupsi : ” Ling , bukan begitu , sebenarnya paman pernah memuji lukisanku.”
“Memuji lukisanmu ? Kalian pernah bertemu ? ”
“Bukan begitu , sebelumnya , saat aku memamerkan lukisanmu itu , paman datang dan sangat menyukai lukisan itu.”
“Kau pernah bertemu kenapa tidak bercerita padaku . Kalian menjebakku yah ?”
” Tunggu. Qiluo baru tahu kalau aku itu ayahmu,” jelas Ayah Ling.
Ling tidak tahan dan kabur dari ruangan diikuti Qiluo. Ayah Ling yang malang harus menerima hidangan yang baru datang seorang diri.
***
Qiluo menyusul Ling berjalan sampai keluar dan ditengah keramaian , berusaha menjelaskan bahwa dia memang baru tahu itu ayahnya Ling.
Ling yang kelaparan akhirnya mengajak Qiluo untuk makan dipinggir jalan.
Saat mereka mulai makan , Qiluo membahas kalau Ayah Ling itu sebenarnya pamannya Ling sendiri , artinya masih punya hubungan darah sebagai paman dan keponakan.
Ling membenarkan , namun merasa bahwa justru itu hubungan dekat seperti ini menjadi lebih gawat.

“Kalian punya kemiripan , dulu aku mendengarmu cerita tentang ayahmu itu , aku kira dia orang yang dingin dan menakutkan. Tetapi hari ini aku baru sadar kalau dia persis seperti yang dikatakan oleh Fang Min , pria yang tidak berguna dan malang.”
“Apa-apaan ini ? Begitu cepat sudah disuap ?” tanya Ling.
“Tidak kok. ”
“Kalau begini terus , dia akan segera menjemput kita pulang,” keluh Ling.
“Kenapa kau tidak rela pulang kerumah sih ? Sudah berapa lama coba kau tinggal diluar negri ? Bagaimanapun itu tempatmu tumbuh besar dari sejak kecil. ”
“Apa boleh buat , benci tetap benci. Selain itu ………besarnya rumah itu sangat tidak masuk akal.”
“Seberapa besar ?”
Ling tersenyum geli.
***
Keesokan hari sebuah mobil Mercedez datang menjemput Ling dan Qiluo di apartemen. Sang tetangga , Ajian , bingung melihat hal itu dan mengira Ling anak mafia hahaha.
***

Rumah Keluarga Chen

Entrance
Rumah Keluarga Chen ternyata memang sangat besar. Di bagian depan entrance masuknya seperti hotel modern dimana ada beberapa pelayan yang siap menyambut mobil yang masuk seperti tamu agung.  Bagian entrance dihiasi oleh canopy bertekstur kayu L-shaped terbalik  namun tetap menghadirkan kemegahan tersendiri.

Mobil Mercedez sudah tiba untuk mengantarkan Ling dan Qiluo. Ling menanyakan dimana ayahnya , dan sang pelayan menjelaskan bahwa ayahnya sedang sibuk di kantor dan baru pulang nanti malam.
Living Room.
Living Room begitu luasnya hingga mungkin bisa bermain tenis di ruangan itu , dan bahkan untuk mengundang sekian banyak tamu untuk mengadakan pesta.

Ruang duduknya pun dirancang dengan unik seolah seperti bunker yang berada dibawah ketinggian lantai. Ruangan itu dihiasi juga drop ceiling dengan pendar cahaya hijau yang berkesan modern. Diantara drop ceiling juga dihiasi beragam lampu gantung dengan warna ceria dan modern.
Qiluo kini paham kenapa Ling tidak betah dirumah yang sangat besar ini.
Foyer Area
Setiap bagian rumah ini seperti kampus besar dengan fakultasnya sendiri tapi penghuninya tidak banyak selain pembantu rumah tangga yang cukup banyak.
Untuk menuju kamar Ling , mereka harus melalui area foyer dengan tangga besar menurun , benar-benar seperti berasa di hotel mewah saja.

Qiluo dan Ling berjalang mengikuti para pelayan yang membawakan koper milik mereka. Wajah Ling tampak berubah saat melihat area bangunan seberang menandakan cukup banyak akumulasi kenangan yang mengarah pada area bangunan besar yang bergaya repetisi grid kayu dan pepohonan yang asri.
Kamar Ling
Mereka masih harus melalui area foyer dalam dengan interior modern dan minimalis dengan berbagai pajangan artwork disamping kiri.
Kamar Ling pun sangat luas dengan rancangan modern seperti tangga yang melayang di tembok dihiasi railing kaca. Singkatnya ruangan ini tidak seperti kamar , melainkan ruang living yang besar dan beberapa lantai terhubung tangga. Dimana ranjangnya ada dilantai dua yang digunakan penghuni disaat tidur malam hari .

Living area dilantai bawahnya yang persis seperti living area bangunan dalam bangunan , rumah dalam rumah ,  area living kamar untuk penghuni orang kaya yang bisa digunakan untuk menyambut kedatangan tamu secara nyaman. Disana ada sofa untuk duduk dan juga island pantry untuk menyiapkan minuman dan makanan.

Qiluo berkomentar bahwa dia tidak merasa bahwa ruangan ini kamar.
Ling menjelaskan bahwa kamarnya ini banyak direnovasi atas petunjuk dokter psikologi yang menasehati ayah Ling untuk merombak kamar Ling ini . Mungkin agar tidak mengingatkan Ling pada kenangan buruk masa lampau.
Qiluo merasa bahwa  Ayah Ling masih menyayangi Ling hingga menyisakan kamar yang besar untuk menunggu kepulangan Ling kerumah. Namun Ling menjelaskan bahwa ayahnya menyisakan banyak kamar.
Qiluo meminta agar Ling mengajaknya kekamar Sheng dan yang lainnya.
Jembatan & Bangunan Lama
Ling kemudian mengajak Qiluo berkeliling . Ke bangunan seberang dimana area lama berada , dimana ibu Ling , Sheng dan ayahnya dulu tinggal di area lama.
Qiluo lalu paham kenapa Ling tadi sempat memandang bangunan ini erat-erat.

Mereka harus melalui jembatan untuk sampai ke bangunan lama. Jembatan itu menghubungkan dua bangunan besar antara bangunan baru yang dominan warna putih dan bangunan lama yang dominan grid kayu . Jembatan itu menggantung cukup tinggi sehingga saat melewati jembatan kecil ini akan seperti melintasi jurang dibawahnya,
Sungguh , Ling dan Qiluo seperti semut ditengah kompleks bangunan yang besar ini.
Di area lama suasananya lebih muram dan dihiasi tangga melingkar yang tinggi dan tak berujung menghadirkan visualisasi tersendiri saat menatapnya. Seperti manifestasi deret fibonacci yang termashur di jagat matematika. Railing berwarna hitam berupa satu kesatuan dari lantai bawah yang melingkar terus keatas.

Ling menjelaskan bahwa kamar Sheng ada di bagian paling atas .
Kamar Sheng
Kamar Sheng lebih kecil dan sederhana , dihiasi lantai parket berwarna gelap dengan tembok polos putih tanpa wallpaper. Ranjang terpapar diatas lantai dengan bed cover biru . Jendela berbentuk segitiga sehingga membutuhkan tirai yang unik . Ceiling ruangan mengikuti atap sehingga berbentuk seperti tangkuban perahu.

Lampu ruangan ini sudah rusak sehingga suasana kamar Sheng menjadi muram tanpa penerangan ruang .  Diruangan itu dihiasi berbagai lukisan karya Sheng sendiri.
Ling menjelaskan bahwa sejak Sheng meninggal , tidak ada yang datang ke kamar ini lagi , bahwa kamar ini masih tetap seperti semula.
Qiluo terpana melihat lukisan karya Sheng yang indah dan realistis dan banyak yang menjadikan Ling sebagai model lukisan.

“Tidak ada kerjaan, semuanya lukisan tokoh , juga melukis aku yang mirip dengannya. Dulu , Sheng sering menjadikanku model karena mungkin lebih mudah dan selalu berada disampingnya. Tetapi aku lama2 jenuh melihat dia tidak ada habisnya dalam melukis. ” Ling mengomentari karya kembarannya ini.
“Aku jadi tidak enak hati karena menjadikanmu model lukisan juga,” kata Qiluo.
“Itu namanya cinta , apa kau mengerti ?”
“Kalau Sheng masih hidup , pasti akan sering melukis .”
“Apa kau mendengarkan aku ?” tanya Ling yang melihat Qiluo tenggelam dalam lukisan Sheng.
“Jadi paman berharap aku dapat terus melukis , karena dia merasa kalau Sheng masih hidup juga akan berbuat begitu. Makanya dia menyuruhku untuk jangan menyerah. ”
“Aneh sekali ,” keluh Ling , ” Kenapa semua orang yang kukenal selalu merasa ayahku baik.”
” Lah paman memang orang yang baik kok .”
“Halah ,sia-sia saja aku bicara dengan orang father complex sepertimu ,” canda Ling.
“Kau bicara apa ?”
“Apa aku bilang sesuatu ?”
Ling mengambil album foto yang tersembunyi dibawah ranjang.

Qiluo melihat foto-foto lama itu sambil tersenyum melihat Ling kecil yang lucu. Qiluo mengenali Ling memang mirip ayah kandungnya walaupun secara fisik adalah kembar.
“Loh kau bisa mengenaliku ?” tanya Ling.
“Ini namanya cinta ,” canda Qiluo meniru perkataan Ling sebelumnya.
Qiluo juga mengenali ciri Ling adalah cara mengangkat alisnya. Ling langsung teringat pantas saja dulu mendiang ibunya bilang kalau Ling sangat mirip dengan ayah kandungnya.
Kamar Ibu
Ling mengajak ke kamar mendiang ibunya. Kamar ini basicnya persis seperti kamar Sheng , sederhana dan lebih kecil dari kamar Ling di area baru.  Ada lukisan Ibu Ling yang tergantung menambah kesan misterius dalam kamar ini.

“Ini lukisan ibumu yah ?” tanya Qiluo
“Iya. Sepertinya dilukis sebelum kami lahir. ”
“Cantik sekali.”
” Kalau melukis apa selalu dilukis lebih cantik dari aslinya yah ? Sudahlah , lihat sebelah sini .”
Ling menunjukkan meja rias dimana barang-barang peninggalan ibunya masih tertata seperti aslinya.
“Dia menyisakan banyak kamar , kamar Sheng , dan kamar ibuku . Dia selalu hidup dalam kenangan . Bukankah sangat aneh ?” tanya Ling.
” Semua benda ini pasti sangat penting bagi ayahmu . Makanya dia menyimpan dengan teliti. Ada kalanya mengenang kenangan dalam kenangan adalah semacam kehangatan.”
Wajah Ling sedikit berubah tegang : ” Hidup dalam kenangan bisa merasa hangat ? Benarkah ? Apa begitu baik ? ”
Ling terkenang perkataan ibunya agar tidak mendekati ayahnya , karena ayahny aitu dingin tak berperasaan dan benci anak-anak.
Pada saat itu seseorang masuk dalam kamar ibunya juga. Siapa dia ?
***

Komentar

Bagian ini mungkin recap yang paling panjang diantara episode Mars yang ada. Serial Drama Taiwan biasanya recapnya tidak panjang karena satu episode hanya berkisar 40 menit kurang.
Bagian ini merupakan salah satu bagian terpenting yang membutuhkan banyak ilustrasi gambar untuk menunjukkan betapa besar rumah keluarga Chen. (Sayangnya penulis tidak berhasil mendapatkan kualitas video terbaik dari drama lawas ini) .
Dalam episode ini dijelaskan asal usul Keluarga Chen dengan memperkenalkan terlebih dahulu ruangan kenangan di setiap orang penting dalam kehidupan Ling , seperti kamar Sheng , kamar ibunya .
Bagaimana besarnya rumah itu menjadikan Ling seperti semut ditengah bangunan. Bangunan rumah yang megah seperti Keluarga Chen ini mungkin didambakan semua orang seperti diriku , tetapi jika kita mengalami seperti Ling , kita akan terasing dalam bangunan yang besar itu ,hanya membuat kenangan masa lampau semakin bergema melalui ruang yang kosong.

0 comments:

Post a Comment