Sunday, August 29, 2004

Sinopsis Mars (2004) - Episode 15

Standard


Qiluo akhirnya memutuskan untuk mengikuti ibunya untuk pindah kerumah lama ayah tirinya . Ling belum tahu akan hal ini.
Perusahaan jasa yang memindahkan barang-barang keluarga Qiluo ternyata perusahaan keluarga Ah Bing .

Hal ini baru diketahui ketika Ah Bing mengobrol dengan Qiluo yang sedang bersama ibunya , menumpang di truk barang.
Qiluo berbincang dengan gembira dengan Ah Bing , sampai klakson dari arah belakang berbunyi karena lampu lalu-lintas sudah hijau . Sebelum berpisah , Ah Bing berjanji akan memberikan diskon khusus.
***
Barang-barang mulai dipindahkan ke rumah ayah tiri. Ayah tiri sibuk mengatur ini dan itu.
Rumah ayah tiri cukup nyaman dan bagus , namun Qiluo merasa tidak nyaman , terlebih melihat kamar lamanya tempat dulu dia diperkosa.

Qiluo merasa tercekam dirumah yang besar ini. Dihantui oleh kenangan buruk yang sulit dilupakan.
***
Di sebuah pekerjaan proyek konstruksi , Ah Bing bertemu dengan Ling.
Ah Bing bertanya : “Kenapa Qiluo pindah rumah ?”
Ling menjadi bingung karena tidak tahu hal ini. Ah Bing pun bingung karena Ling tidak tahu.
***

Putus

Qiluo mengungkap kepada Qingmei dan Da Ye bahwa tadinya dia ingin menelepon untuk memberitahu Ling , namun diurungkan karena merasa lebih baik bicara langsung nanti.
“Apa kau sudah tahu cara untuk memberitahukannya ?” tanya Qingmei .
“Benar , pikirkan baik-baik , kalau dari awal sudah salah bicara , menurut kebiasaan Ling ……..” tambah Da Ye.
Da Ye belum selesai bicara sudah dikejutkan oleh kemunculan Ling yang langsung menepuk bahu dari belakang.
“Kalian sedang bicara apa , sembunyi2 disini ? Kalian sedang menjelekkan aku yah ? ” tegur Ling.
“Tidak , tidak menjelekkanmu ,” kata Da Ye dengan sedikit gelisah.
“Kenapa begitu panik , kau aneh sekali , apa kalian sedang menyembunyikan sesuatu dariku , ” tuding Ling sambil duduk
“Tidak , Ada ” jawaban yang berbeda Qingmei dan Da Ye serempak .
“Dasar gila kalian ,” kata Ling sambil tersenyum dan meminum sesuatu.
Qiluo terus tertunduk karena merasa bersalah.
Ling tiba-tiba bertanya pada Qiluo : “Kau pindah rumah yah ? “
Qiluo kaget dan kembali tertunduk karena merasa bersalah.
“Bagaimana kau bisa tahu ?” tanya Da Ye.
“A Bing yang memberitahuku , katanya Qiluo pindah rumah kemaren ” jawab Ling.
“Iya , aku pindah rumah.” Jawab Qiluo.
“Kenapa kau tidak beritahu aku?”
“Sekarang aku tinggal serumah dengan ayah (tiriku) ,”
“Apa maksudmu ?”
“Aku dan ibuku tinggal lagi bersama ayah tiriku .”
“Apa kau bilang ? Coba ulangi lagi .”
“Kami tinggal serumah lagi dengan ayah tiriku.”
“Ling , sebenarnya ….,” Da Ye mencoba nimbrung.
“Kalian keluar dulu !!” perintah Ling.
“Ling ,” bujuk Da Ye.
“Keluar sekarang !! “
Qingmei dan Da Ye pun menuruti kemauan Ling.

“ Ling jangan marah yah , tubuh ibuku sudah sangat lemah dan tidak sanggup bekerja lagi, selain dia kami sudah tidak punya keluarga lagi , ” bujuk Qiluo.
“Lalu aku apa ?” tanya Ling dengan tajamnya. “Kau tidak boleh pindah begitu saja tanpa kasihtahu aku.”
“Aku tidak tahu bagaimana cara memberitahumu , aku tahu kau pasti tidak setuju.”
“Aku memang pasti tidak setuju. Apa kau lupa apa yang dia lakukan padamu ? ”
“ Tapi ayah berjanji tidak akan melakukannya lagi .”
“ Dan kau percaya padanya ? Orang yang pernah melakukannya pasti akan mengulanginya terus !!!…. Qiluo , cepat tinggalkan rumah itu , dan maniak itu. ”
“Tidak mungkin , kau suruh aku pindah , lantas aku harus kemana ?”
“Kau bisa tinggal bersamaku .”
“Tidak mungkin ,” kata Qiluo dengan sedih .
“Kenapa ?”
“Kita masih kuliah dan kita … bagaimanapun aku tidak bisa meninggalkan ibuku dengan egois. ”
“Apa ibumu tidak egois ? Akhirnya dia tetap mengorbankan putrinya untuk hidup tenang,” tuduh Ling dengan kesal.
“Jangan menjelekkan ibuku !! Kau tidak tahu dia sudah banyak menderita demi aku . Didunia ini hanya dia satu2nya keluargaku. Sedangkan ayah tiriku sebenarnya tidak jahat2 amat , dia sangat memperhatikan ibuku , dan dia pernah jadi ayah yang baik , aku hanya ingin memberikan kesempatan sekali lagi , dan mencari kesempatan untuk kebahagiaan ibuku.”
Ling semakin kesal dan melemparkan gelas di restoran , sehingga Qingmei dan Da Ye yang ada tak jauh disitu kaget.
“Ling..” bujuk Qiluo.
“Jangan sentuh aku . Aku sudah tidak tahan . Aku sudah tidak bisa lagi pacaran denganmu.”

Ling berlalu , dan Qingmei memberikan isyarat pada Da Ye untuk menyusul Ling.
Qingmei menghampiri Ling yang mulai menangis dan memeluknya.
Da Ye menyusul Ling keluar , namun Ling sudah membulatkan tekad dan ngeloyor pergi dengan kesal.
***

Pelarian Cinta

Keesokan harinya di kampus ,Ling sedang berbincang akrab dengan seorang mahasiswi . Raut wajah Ling ketika itu seperti tidak terjadi apa-apa , sehingga muncul pergunjingan bahwa Ling sudah putus dengan Qiluo.
Ling bertemu dengan Qiluo di tangga. Ling berbasa-basi menanyakan kabar Qiluo dirumah , setelah itu berlalu.

Sebelum itu Qiluo bertanya : “Aku dengar kau akan kencan dengan mahasiswi kelas satu ? “
“Benar , dia mengajakku pergi nonton , aku pikir lumayan juga pengganti suasana . Bye.”
Saat itu Qingmei mengawasi mereka dari lantai atas.
Qiluo bertanya lagi : “Ling , apa betul kita sudah berakhir ?”
“Begini lebih baik untuk kita bukan , daripada kita sama-sama menderita. Tapi … aku sangat senang bisa mengenalmu . Aku tidak pernah begitu setia.”
Ling berlalu , dan Qiluo berjalan lunglai . Qingmei menyusul Qiluo dibawah , dan menegur dengan keras kenapa Qiluo tidak mengejar Ling.
“Aku sudah melukainya begitu dalam ,” elak Qiluo.
“Kenapa kamu menganggap diri sendiri begitu hina ? Kenapa selalu menyalahkan diri ? Dengan susah payah kalian baru bisa bersama , dan sekarang kau menyerah begitu saja ? Kalau kau benar-benar suka , kamu harus mencurahkan isi hati , asal bisa mempertahankan dia , pergi cari dia , menangis , buat onar atau lakukan cara terbodoh dan terkonyol didunia ini  , asal bisa mempertahankannya , apapun yang kau lakukan adalah pantas. Kecuali kau mau beritahu aku bahwa masa lalu kalian sudah tidak penting lagi. “

***

Masa Depan Suram

Ling sedang di kamar hotel bersama wanita yang minum bersama di bar. Ling tampak setengah telanjang , menandakan baru bercinta dengan wanita cantik itu.

Wanita itu memberikan nomer telepon untuk komunikasi dan pergi dari ruangan. Ling rupanya hanya iseng saja , dan membuang nomer itu.
Saat Ling keluar , Da Ye sedang duduk di motornya. Da Ye berkilah sedang menjaga motor Ling agar tidak kecurian.
“Aku tentu tidak bisa mengaturmu , tetapi aku harap kau bisa mempertimbangkan perasaan Qiluo, dan aku mohon masalah ini jangan sampai tersebar ke telinga Qiluo , ” kata Da Ye.
“Sebar apa ? Bahwa aku tidur dengan wanita seksi ? Akhirnya tidak terjadi apa-apa , aku yang dulunya dijuluki binatang , pada saat penentuan tidak bisa melakukannya ,” kata Ling.
Da Ye tersenyum : “Apa gadis itu marah ?”
“Tidak , aku berbohong padanya bahwa ibuku meninggal karena penyakit jantung , makanya tidak bisa melakukannya.”
Ling dan Da Ye tersenyum bersama.
“Bagaimana ini , aku sangat merindukan Qiluo , kepalaku penuh dengan Qiluo , ” kata Ling tiba-tiba .
“Memang ini yang tidak aku mengerti , kau begitu peduli padanya , kenapa segampang itu menyerah ? Pasti ada jalan keluarnya .”
“Yang menyerah bukan aku , tetapi Qiluo .”
***
Qiluo masih menunggu dengna tabah , sampai A Jian pun bingung dibuatnya.
***
Kembali ke Ling dan Da Ye.
Ling berkata : “ Masalahku dengan Qiluo tidak sesederhana yang kalian bayangkan , tetapi masalah paling dasar adalah rasa tidak saling percaya. Kenapa dia memilih hidup dalam bayangan kekerasan , aku sudah lama memikirkannya , jawabannya sederhana tapi menyakitkan , karena dia tidak percaya aku bisa memberikan masa depan untuknya.”

“Kau tahu ayah tiri Qiluo ayah yang bagaimana ? Karena tidak tenang dengan Qiluo , jadi buang sedikit waktu untuk cari tahu , yang paling bikin aku terkejut , nama baiknya sangat bagus , dia boss pabrik besi , para karyawan menilai dia sangat baik , demikian juga tetangganya , setiap bulan menyumbang dana sosial. Pokoknya dia orang baik dimata masyarakat. Kejahatan yang dilakukan , tidak ada yang tahu. “
“Ini yang paling tidak bisa kutolerir dalam dunia ini. Kau berjalan dibawah matahari , semua orang mengira baik, semua memilih untuk percaya , dan kau hanya keliru saja , akan ada selalu kesempatan kedua , karena itu Qiluo dan ibunya bisa menerimanya lagi. Sedangkan aku ? di mata semua orang , adalah orang bodoh yang tidak setia , suka kekerasan , pembalap tanpa masa depan , siapa pula yang akan mempercayakan masadepan padaku , siapa pula yang tahu bahwa dihatiku aku sudah menata rumah untuk Qiluo ? ”
Ling masih minum , dan Da Ye pun ikut merenung.
“Aku kira Qiluo bisa , hasilnya ?” tanya Ling kembali.
Da Ye menghampiri dan berkata : “ Kenapa tidak berusaha lagi ? Walaupun semua orang mengakui kau maniak , yang penting kau dan Qiluo . Didunia ini tak ada konsep yang normal , nilai yang berharga adalah hatinya , kau tidak bisa melindunginya terus .”
“Lalu harus bagaimana ?”
Da Ye dan Ling menatap lalulintas dari atas jembatan.
***
Ling kembali kerumah . Ajian menegur bahwa Qiluo sudah menunggu lama sekali , dan katanya akan naik jadwal kereta terakhir.
Ling gelisah dan langsung menyusul Qiluo ke stasiun. Namun disana sudah kosong melompong.
Ling merenung sesaat , dan melihat Qiluo masih ada didepan stasiun . Qiluo menyapa , dan Ling bertanya kenapa Qiluo masih distasiun.
Qiluo beralasan bahwa dia lupa membawa uang.
Ling menghampiri : “Apa di hatimu semua laki-laki sama saja ? Apa aku dan ayah tirimu sama saja ? Sama-sama bajingan yang ingin menguasaimu ?”

“Ling , aku memberikan ciuman pertama untukmu , hatiku tidak pernah berdegup sekencang itu , tetapi karena kau , makanya aku merasa tenang, karena kau maka aku menantikannya. Juga karena keberadaaanmu membuatku berani kerumah yang membuatku trauma. Aku baru yakin pasti akan jaga diri demi kau.”
Ling terharu dan memeluk Qiluo.
***
Keesokan pagi , Ibu Qiluo menegur Qiluo karena pulang dengan pemuda pembalap. Qiluo protes karena tidak suka ibunya mempermasalahkan Ling.
Ayah tiri turun dari tangga dan nimbrung , seolah membela Qiluo sebagai anak muda yang punya pemikiran sendiri.
Mereka lalu sarapan . Ayah tiri menawarkan untuk mengantarkan istrinya ke rumah sakit.
Keliatan keluarga ini kembali normal. Apa betul begitu ?
***
Di lokasi proyek , Ling bekerja keras sehingga Da Ye memberikan minuman. Sambil minum bersama , Da Ye menggoda Ling yang sudah berbaikan kembali dengan Qiluo . Lin minta maaf karena telah meresahkan Qingmei dan Da Ye.
Ling mengungkap harapannya bahwa disuatu hari nanti mudah2an ibu Qiluo bisa menyadari Qiluo sangat berarti bagi Ling.
***

Penjahat Kelamin

Telepon berdering di rumah ayah tiri. Qingmei yang menelepon dan menggoda Qiluo yang sudah berbaikan dengan Ling.
Qingmei juga menanyai kabar ayah tiri Qiluo. Qiluo merasa keluarganya akan normal kembali .
Mendadak ayah tiri muncul , dengan wajah menyeramkan menanyakan Qiluo sedang bicara dengan siapa ?
Qingmei diseberang telepon jadi bingung apa yang terjadi. Qingmei mencoba menelepon kembali tetapi tidak bisa. Qingmei mulai cemas.
Di rumah ayah tiri , ayah tiri menegur Qiluo.
“Apa kamu sedang bicara dengan preman yang mengantarmu itu ?”
“Kau tidak berhak mengatakan seperti itu ?” tegur Qiluo balik.
“Mana boleh kau naik motor preman ,” tegur ayah tiri.
“Bukan urusanmu !” jawab Qiluo dengan ketus.
“Aku mengkhawatirkanmu ,” kata ayah tiri.
“Jangan menyentuhku !!”
“Qiluo , ini demi kebaikanmu , dengarkan aku !!
Ayah tiri semakin ganas dan sampai merobek lengan baju Qiluo. Qiluo mulai panik dan histeris ketika ayah tiri menindihnya di sofa.
Qiluo melakukan perlawanan sampai pipi ayah tiri tertampar .
Ayah tiri kembali beringas : “Kamu ini kesayanganku , tidak boleh ada yang merebutmu !!
Qiluo mencari sesuatu benda untuk mempertahankan diri. Dia melihat tempat lilin besi , dan menghantamkannya kekepala ayah tiri sampai berdarah.

Qiluo terengah-engah menahan emosi dan ketegangan. Muncul niatan untuk menghabisi ayahnya. Dia menghantamkan kembali tempat lilin.
***
Ling belari dengan panik kerumahnya. Qiluo dengan baju berlumuran darah sudah menunggu disana untuk berlindung.
Qiluo menceritakan apa yang dialaminya tadi dirumah .
“Apa dia sudah mati ?” tanya Ling.
“Mungkin dia sudah mati ,” jawab Qiluo dengan terisak.

Ibu Qiluo menelepon , dan Qiluo dengan terisak mengadukan perlakuan ayah tiri , tetapi ibu Qiluo mengaku sudah mendengar dari ayah tiri (dalam versinya tentunya) .
Ibu Qiluo tidak percaya dengan Qiluo dan lebih percaya pada suaminya.

0 comments:

Post a Comment