Sunday, August 29, 2004

Sinopsis Mars (2004) - Episode 12

Standard


Hongdao terisak , sementara Ling terlihat santai dan sedikit tersenyum seakan mengenali kepribadian Hongdao yang sesungguhnya , hanya Qiluo yang tersentuh .

“Jangan menangis , masalah ini tidak boleh menyalahkanmu sepenuhnya,” hibur Qiluo.
Hongdao masih terisak sambil menutupi wajah dengan kedua tangannya , “ Aku yang mencelakakannya , karena aku terlalu lemah , aku harus bagaimana baru bisa mendapat maaf dari Qingmu.”
“Hongdao,” kata Qiluo.
Mendadak Ling angkat suara : “ Semuanya adalah kata-kata munafik , jelas-jelas kau sedang berpikir manusia sampah seperti dia harus segera dienyahkan.”
Qiluo menegur : “Ling , kau bilang apa ?”
“Loh , kenyataannya memang begitu , benar khan Hongdao ?” tanya Ling pada Hongdao .
Hongdao masih terisak sambil menunduk , tetapi lama-lama dia terkekeh mengerikan dan mulai mengangkat kepalanya.

Tongdao berkata : “Benar , orang seperti itu pantas mati . Lagipula walaupun aku tidak membunuhnya , cepat atau lambat dia akan mati ditangan orang lain. ”
“Dasar gila , orang yang membunuh malah merasa dirinya korban, kau memang hebat” tuding Ling.
“Karena hukum memang dirancang untuk orang yang cerdik , maka aku harus memanfaatkannya dengan baik.”
Ling tersenyum sinis : ” Kalau begitu Zeng Qingmu memang kasihan sekali , sudah diperalat , nyawa melayang pula.”
“Ini bukan memperalat namanya , orang itu memang idiot yang tidak berguna , juga tidak berpikir bahwa dulu dirinya sangat pengecut dan masih sok menjadi pemimpin . Preman yang tinggal disebelah juga sama , tak ada yang meminta bantuannya dan suka memamerkan diri . Akhirnya tidak sengaja bunuh orang dan masih menyalahkan aku pula . Jelas-jelas pengecut malah mau melindungiku . Aku hanya melenyapkan Qingmu yang membuat orangtuanya dan polisi kewalahan didunia ini. Kalau aku sampai dihukum karena hal ini maka dunia sangat tidak adil . Kau tidak merasa begitu ? ”
Qiluo tampak terengah-engah karena mendengar penjelasan Hongdao yang tidak disangka , mulai bergidik dan mual , lalu berlari menuju toilet untuk muntah. Ling cemas melihat Qiluo dan menyusulnya .
Didepan wastafel , Ling bingung dengan sikap Qiluo dan mempersilahkan kalau hendak marah , marah saja , daripada membingungkan seperti itu . Qiluo lantas memarahi Ling karena tidak jujur seputar pekerjaan sampingannya di klub bilyar.

Hongdao berkata : “Ternyata kalian masih mesra saja. Saat bersamamu , Ling seperti anak kecil . Jujur saja , ketika aku pertama kali melihatmu bersama Ling, aku sangat terkejut karena waktu itu Ling yang aku kenal benar-benar berbeda. Ling yang aku kenal sangatlah kejam dan licik , bahkan bisa membakar semuanya dengan api. Aku kira Lukisan Mars itu simbolnya , tetapi aku salah paham .”
Hongdao hendak berlalu namun Qiluo berkata : “Tunggu dulu . Aku rasa yang salah itu kau . Ling bukan orang seperti yang kau kira .”

Hongdao tersenyum dan memperlihatkan luka bakar di telapak tangannya yang terluka oleh puntung rokok di tangan Ling saat di klub biliar beberapa hari lalu. “Luka bakar ini perlu dua minggu untuk sembuh total , kau tahu siapa pelakunya ? Dia orang yang bisa melakukan tanpa mengerutkan alis.”
***
Qiluo sedang duduk dibawah pohon rindang di tengah halaman luas. Seorang junior bertanya sesuatu mengenai lukisan dan berlalu .
Qiluo sulit berkonsentrasi dalam membuat sketsa lukis karena terus merenungkan Hongdao dan Ling.
***
Ling sedang tertidur di sanggar lukis dan Qiluo tidak ada disitu . Seseorang melangkah mendekatinya . Dia ternyata Hongdao yang perlahan menundukkan kepalanya seperti hendak mencium kening Ling.
Sebelum itu terjadi , mata Ling mendadak terbuka dan berkata dengan tenang namun menyeramkan : “Aku bukan Qingmu !”
“Ternyata kau tidak benar-benar tidur,” kilah Hongdao.
“Becanda juga ada batasnya,” kata Ling sambil bangkit dan duduk .  Demikian juga Hongdao yang mengambil kursi untuk duduk.
Kedua alumnus rumah sakit jiwa ini mulai berbincang .
Ling berkata : “Kau mengatakan apa lagi kepada Qiluo ?”
“Dia bilang apa padamu ?” Hongdao bertanya balik.
“Kau tidak bilang aku juga tahu . Qiluo bukan tipe orang yang bisa menyimpan masalah. ”
“Ternyata dia lebih sederhana dari yang aku kira. Aku kira gadis yang bisa berpacaran denganmu sama rumitnya denganmu , ” Hongdao mengkomentari.
“Takutnya kau sendiri yang memang keterlaluan .”
“Aneh , kenapa standar dan pandangan semua orang terhadap masalah begitu mirip dengan buku pengetahuan. Kau juga tidak terkecuali , dan membuatku kecewa.”
“Orang yang bisa membunuh tanpa sebab , siapa pula yang akan menganggapnya sebagai manusia biasa .”
“Kau tahu manusia sampai abad ini menjalani sejarah yang seperti apa ? Hal yang mereka lakukan seperti sebuah film sejarah pembunuhan . Hanya beberapa abad yang lalu saja , manusia masih merasa pantas untuk membunuh orang karena niat dan pandangan sendiri. Dan sampai sekarang masih saja membicarakan hak asasi. Memakai jaket etika . Ini namanya menyimpang dari sifat dasar manusia dan karena itu nilai manusia semakin rendah saja  . Sebenarnya tindakan membunuh barulah cocok dengan aktivitas manusia. Bisa membunuh orang tanpa sebab tidak hanya aku saja . Saat mereka membunuh lebih menakutkan dariku . ”
Ling yang dari tadi tenang menyimak dan mendengarkan mulai berkomentar : “Apa kau baca terlalu banyak buku yang tidak pantas ?”
Hongdao menaruh gelas berisi peralatan lukis dimeja dengan posisi yang tidak seimbang. (Entah disengaja atau tidak) dan menghampiri Ling, lalu berkata : “Kamu jangan pura-pura , bukankah kau pernah merasakan nikmatnya membunuh orang ? Saat adikmu meninggal dan kamu melihat mayat yang mirip dengan diri sendiri. Bagaimana rasanya ? Sebenarnya aku puas melihat tubuh Qingmu berlumuran darah dan berguling diatas lantai . Dia memohon padaku agar jangan membunuhnya . Dia belum mau mati dan memohon ampun pada orang yang dia siksa. ”
Ling mulai terpengaruh oleh gangguan verbal yang menyebalkan ini. Dia menatap tajam Hongdao , dan memperhatikan lehernya yang ramping dan berusaha menakar seberapa jauh kekuatan leher yang terlihat raput itu. Ling berkata : “Leher yang sangat kecil , seharusnya cukup hanya satu tangan saja .”
Bersamaan dengan itu Ling membanting Hongdao kelantai dengan tangan masih mencekik leher. Raut wajah Hongdao mulai cemas akan kematian yang mengancamnya.

Sambil mencekik , Ling terus berkata : “Saat melihat orang menghadapi kematian , sangat menyenangkan bukan ? Jadi kau coba saja sendiri . Rasakan sendiri detik-detik menjelang kematian . Bagaimana ? Sangat menyiksa bukan ? Semua pori-pori terbuka , berkeringat dingin , pandangan semakin buram , suara mulai hilang. Kau juga takut mati ? Kau sangat egois , orang lain boleh mati tetapi kau sendiri takut mati. Cepat mati atau tidak bukan urusanmu. Beberapa menit lagi tubuhmu akan kehilangan rasa. ”
Hongdao meronta-ronta tanpa daya . Ling terlalu kuat baginya . Gelas yang tadi ditaruh dimeja menyelamatkan Hongdao disaat kritis. Gelas itu terjatuh kelantai hingga pecah dan menyadarkan Ling dari nafsu membunuh yang sudah menggelora.
Ling tersadar , dan Hongdao berguling dilantai untuk sedikit menjauh dari posisi Ling. Tangan Ling tergetar dengan pandangan yang bingung. Saat itu Qiluo sudah sampai didepan pintu sanggar kesenian.
Merasa ada orang di dalam , Qiluo tidak jadi masuk dan menguping dari balik pintu.
Hongdao tertawa terkekeh seperti orang gila , dan berkata : “Barusan kamu serius ? Aku sangka hanya ingin menakutiku saja , ternyata kau tergoda oleh kenikmatan membunuhku . Tetapi aku terkejut , aku pikir aku akan benar-benar mati.”
“Jadi karena itu kau gembira ?”
“Tentu saja gembira . Sudah 20 tahun , dengan susah payah aku menemukan orang yang sama denganku . Nyawa yang begitu berbakat kini punya pendamping. Mana mungkin aku tidak gembira ? Selama ini aku kira didunia ini tidak akan ada yang bisa memahamiku ”

Hongdao merangkak mendekati Ling sampai wajah mereka nyaris bersentuhan. Hongdai dengan wajah menyeringai , mengatakan : “Detik-detik tadi , kita mendapatkan simpati bukan ?
Ling hanya bisa memasang wajah aneh seakan tidak menerima kenyataan . Dan Qiluo tidak jadi masuk dan berjalan ke arah lain.
***
Qiluo  berjalan sendirian di trotoar . Pada saat itu dia mendapat telepon yang mengabarkan  bahwa ibunya jatuh pingsan . Qiluo segera menuju rumah sakit dan dokter menjelaskan bahwa ibunya hanya mengalami kelelahan.
Qiluo terkenangdengan ucapan ibunya yang mengatakan akan mencari uang agar cukup untuk biaya kuliah Qiluo. Mengingat hal itu Qiluo menangis terisak .
***
Keesokan harinya Da Ye heran melihat Ling sudah datang pagi-pagi ke kampus dan mengira dunia sudah terbalik. Pada saat mereka menaiki tangga , Hongdao datang dari belakang mereka dan menaiki tangga dengan cepat sambil menyapa :”Selamat pagi Ling.”
Da Ye heran : “Apa tidak salah , seorang adik kelas memanggil kakak kelas dengan namanya saja ? Kau biarkan dia Ling ?”
“Terserah dia saja.” sahut Ling.
“Ini tidak mirip dengan kebiasaanmu . Apa kau dengan Hongdao sudah punya hubungan yang aneh ? ”
“Aku? Aku dan dia ? Apa aku seperti binatang dimatamu ? Kau sungguh meremehkan aku ,” kata Ling.
Ling hendak berlalu , dan Da Ye berkata : “Begitu saja kok marah ?”
Pada saat itu Qingmei menghampiri mereka dan mengabarkan bahwa ibu Qiluo masuk rumah sakit kemaren.
***

Qiluo masih dirumah sakit mencemaskan ibunya. Sang ibu meminta Qiluo untuk pulang saja.
Saat pulang , Ling sudah menunggu didepan rumah Qiluo. Ling menemani Qiluo sampai malam tiba. Saat itu Ling melihat buku alumni milik Qiluo ketika sekolah. Ling menertawai sesuatu yang ada disitu. Sementara Qiluo sibuk memasakkan sesuatu untuk Ling.
Ling merasa tidak enak karena tidak membantu sama sekali dan malah merepotkan . Makan malam sudah siap dan Ling mulai menyantap , tetapi Qiluo tiba-tiba menangis karena mengkhawatirkan ibunya yang sakit. Ling menenangkan bahwa ibu Qiluo akan baik-baik saja.
Ling  menemani Qiluo itu tidur ,  terlebih Qiluo mengaku takut gelap dan suka berhalusinasi ada orang yang mendatanginya.
Sebelum tertidur , Qiluo menegaskan bahwa dia menyukai Ling.
***
Pagi-pagi benar Ling meninggalkan rumah Qiluo.
Ketika Ling sedang menikmati makanan cemilan , Hongdao kembali datang mengganggu.  Ling mengeluh kenapa Hongdao selalu datang mengganggunya.

Hongdao memprovokasi bahwa Ling takut padanya. Ling mengakui bahwa dia takut , tetapi bukan pada Hongdao , tetapi takut kehilangan sesuatu yang berharga karena Hongdao. Ling mempersilahkan kalau Hongdao menganggapnya sebagai kelemahan Ling.
Ling mengaku bahwa tidak suka orang menganggapnya tegar , juga tidak ingin berpura-pura tegar. Ling mempersilahkan Hongdao untuk bermain sendiri dalam permainan yang membosankan ini dan jangan mengganggu lagi.
Sorot mata Hongdao tampak aneh ketika itu.
***
Didepan layar besar yang entah menampilkan apa , Hongdao merenungkan apa yang dikatakan Ling. Hongdao menganggap Qiluo telah membuat Ling berubah , dan berencana untuk berbuat sesuatu kepada Qiluo.
***
Sambil melukis , Qiluo mengatakan pada Qingmei bahwa dia tidak jadi mengambil jurusan analis terlebih ibunya sedang sakit. Qingmei menenangkan bahwa masih ada jalur beasiswa, karena sayang kalau Qiluo menyia-nyiakan bakatnya.
Qiluo mengatakan bahwa setelah tamat akan langsung berkerja , namun Qingmei mengingatkan bahwa setelah berkerja , Qiluo akan sulit punya waktu untuk melukis lagi.

Qiluo merasa tidak boleh membebani ibunya lagi , dan Qingmei menggoda Qiluo untuk menikah dengan Ling sebagai solusi lain. Qiluo tak percaya , karena Ling untuk makan sendiri saja sulit , namun Qingmei menjelaskan bahwa ayah Ling sangat kaya.
Pada saat itu Da Ye menelepon Qingmei , sehingga Qingmei harus berpisah sejenak dari Qiluo.
Setelah itu Qiluo kembali kerumah
***
Ling sedang mengemudikan motornya dan bertemu dengan Polisi Tian di jalan. Mereka pun makan dan minum bersama di kedai pinggir jalan.
Saat mereka mulai menyantap sate , Polisi Tian mengaku ingin tahu kabar terkini dari Hongdao .

LIng berkata : “Anak itu aneh sekali , memang dia sekarang belum melakukan apa-apa , tetapi nanti juga akan melakukan kesalahan sendiri. Dia mengakui telah merencanakan pembunuhan Qingmu , bahkan sangat bangga , aku rasa dia memang benar-benar gila. Lupakan saja , nanti juga dia akan melakukan kesalahan , ada orang mati sial yang memaksa polisi untuk bertindak. Kalau sekarang , sia-sia saja aku mengatakannya.”
“Secara tertulis , kami memang penegak hukum , namun saat berhadapan dengan tersangka , kami tetap tidak bisa melakukan apa-apa .”
“Hukum itu apa sih ? Benarkah hukum bisa digunakan terhadap tersangka , atau hanya bisa digunakan untuk menghadapi orang bodoh dan miskin ? Kau bisa beritahu aku ? Aku rasa pertanyaan ini selamanya tidak ada jawaban, tetapi akhir2 ini , aku memahami satu hal , ternyata ada yang bisa kita lindungi rasanya lumayan juga , dulu aku tidak memiliki apa-apa , tetapi sekarang aku merasa ada orang yang ingin kita lindungi , baru kita bisa melatih diri untuk tegar,  ” kata Ling.
***
Dalam keadaan setengah mabuk , Ling berjalan , dan ingatan akan ibunya yang bergaun putih kembali muncul. Ling terbangun dari mimpinya.
Ling langsung mendatangi rumah Qiluo , tetapi Qiluo tidak ada disana . Seorang tetangga memberitahu bahwa Qiluo pergi bersama seorang teman ke rumah sakit , karena ibunya akan diperiksa lagi.
“Apa Qingmei ?” tanya Ling pada diri sendiri .
Tetangga itu menjelaskan bahwa orang yang dimaksud memang tinggi , sangat manis , seorang lelaki yang mirip perempuan.

0 comments:

Post a Comment