Sunday, August 29, 2004

Sinopsis Mars (2004) - Episode 05

Standard


Disaat yang tepat , Da Ye datang untuk mencegah Ling membunuh A Bing. Da Ye harus berjuang sekuat tenaga untuk melerai , dan setelah itu Ling pun tampak kehabisan energi dan meringkuk dilantai dengan kepala tertunduk.

Sembilan hari berlalu dan Ling tidak kelihatan batang hidungnya. Qiluo gelisah dan menunggu didepan kampus , ketika Da Ye mengatakan bahwa telepon rumahnya pun sudah diputus.
Qiluo khawatir karena masa skor hampir berakhir . Da Ye menenangkan Qiluo , bahwa Ling akan baik-baik saja , sambil berjanji akan mengunjungi rumah Ling pada akhir pekan nanti.
Qiluo ingin tahu alamat rumah Ling , tetapi Da Ye khawatir klo Qiluo pergi sendirian , dan berjanji akan menemani di akhir pecan jika mau.

Musuhku Sekutuku

Qi Luo mendatangi Changze dan memohon agar sketsa ibu-anak miliknya dikembalikan .
“Aku tidak membencimu , mengenai lukisan itu akupun tidak menginginkannya. Curi atau tidak akupun tak peduli , tetapi sketsa itu sangat berarti karena pertama kali Qiluo mengenal Ling adalah berkat lukisan itu. Ling sangat berarti bagiku , dia membuatku berani , dan menatap masa depan , jadi tolong kembalikan sketsa itu , aku tidak akan memberitahu orang lain. ”
Changze tidak menggubris dan berlalu , dan malah datang dua mahasiswi senior mencemooh bahwa Ling sudah keluar karena Qiluo , dan menuding bahwa Qiluo kini mendekati Changze. Aha , rupanya salah satu mahasiswi itu adalah salah satu mantan Ling.
Qiluo menegur agar mereka jangan sembarangan bicara. Tanpa diduga muncul Qingmei yang langsung menampar mereka , dan mengejek balik bahwa dua mahasiswi tua menindas junior , karena tidak bisa merebut pacar orang.

Mantan Ling itu membela diri bahwa itu bukan urusan Qingmei , tetapi Qingmei yang berlidah tajam mengancam akan mematahkan hidung silicon mantan Ling itu. Kalah omongan , maka Mantan Ling minggat .
Qiluo mengucapkan terimakasih , tetapi Qingmei tidak butuh terimakasih dan berkilah bahwa dia turun tangan karena tidak suka Ling dipergunjingkan.
Yang tak terduga lagi , Qingmei menyerahkan alamat Ling kepada Qiluo. Lagi-lagi Qiluo mengucapkan terimakasih , tetapi Qingmei tetap tidak butuh terimakasih
Qiluo angkat suara : “ Qingmei , kau pernah bilang jika jatuh cinta pada Ling , maka aku pasti akan mati. Apa maksud ucapanmu ?”
“Dia punya banyak masalah , aku dengar dia pernah bilang saat tinggal di LA , karena tidak senang dengan seorang pemuda yang mengusiknya , maka dia langsung menembaknya , tetapi untung saja pistolnya kosong. Kau tahu umur berapa Ling saat itu ? 12 tahun .”
Qiluo kembali ke ruang kesenian , dan menyadari bahwa Changze sudah mengembalikan sketsa ibu-anak.

Orangtuaku

Dosen Shi mengabsensi satu persatu mahasiswa dikelasnya , dan menyadari bahwa Qiluo tidak masuk kuliah.
Qiluo memang sedang mendatangi rumah Ling yang tampak agak berantakan itu. Qiluo membuka pintu dan terkejut melihat Ling tergeletak di lantai  , kemudian menjerit minta tolong.
Seorang pria datang dan Qiluo dengan panik meminta tolong pada paman itu. Sang paman membangunkan Ling , dan dengan jengkel mengingatkan Qiluo bahwa dia baru berusia 19 tahun , belum pantas disebut paman.
Setelah terbangun , Ling mandi dengan shower seadanya yang hanya dibatasi tembok kecil  (tipe studio) . Qiluo menunggu Ling mandi dengan salah tingkah , sambil memperhatikan setial detail ruangan.
Ling meminta tolong Qiluo untuk mengambikan handuk. Qiluo tampak ragu , dan Ling becanda akan mengambil sendiri (dalam keadaan bugil total tentunya)  kalau Qiluo sungkan. Qiluo pun bergegas mengambilkan.

Setelah mandi , Ling menegur Qiluo kenapa datang kesini padahal ada jam kuliah ?
Qiluo mengaku khawatir Ling belum sembuh dari cideranya setelah berkelahi. Ling mengaku sudah sembuh , dan sibuk berkerja jadi kuli hingga lupa kuliah .
Ling mempersilahkan duduk di ranjang karena tidak ada tempat duduk lagi , sambil menjelaskan bahwa ketika masa skorsing , ayahnya menghentikan biaya hidup sehingga terpaksa harus kerja .
“Separah itukah ?” tanya Qiluo
“Yah , aku hampir mati dihajarnya ,” Ling becanda.
Qiluo sempat melongo sesaat sebelum Ling melanjutkan : “Aku bohong , ayahku tidak pernah memukulku . Sejak kecil dia tidak pernah emosi didepanku.”
“Ternyata ayahmu orang baik ,” Qiluo berkomentar.
“Kau salah , ayahku hanya takut padaku maka tidak berani macam-macam ,” sahut Ling.
“Ah mana mungkin ada ayah yang seperti itu ,” Qiluo setengah tersenyum mengira Ling becanda lagi.
Wajah Ling berubah serius dan berkata : ” Apa kau tidak takut padaku ? Apa kau merasa bahwa aku bukan orang normal ? Aku pernah dikurung ayahku di rumah sakit jiwa. Kau tahu obat penenang ? Itu benar-benar sangat menghina , dan hanya membuat orang gila semakin tidak waras,” dan Ling kembali berubah wajahnya dengan senyuman dan mengatakan itu hanya becanda.
Qiluo tampak lega dan berkata : “Tuh khan , mana ada orang tua yang tega seperti itu ? Bagiku orang-orang yang kelihatan normal seperti Changze , Dosen Fang , justru orangyang paling kutakuti  , dan oh iyah ini ada sesuatu untukmu,”
Qiluo memberikan sketsa ibu-anak dan bertanya : “Ling kapan ibumu meninggal ? ”
“Saat aku lima tahun .”
“Apa kau merindukannya ?” tanya Qiluo.
“Bagiku , kesanku pada mendiang ibuku hanya bau obat saja , dia tinggal terus di rumah sakit. Sebenarnya bagiku sama sekali tidak ada kenangan. Aku hanya ingat , dia sangat cantik , tetapi sangat menakutkan. Hari itu dirumahmu , aku merasakan tangan seorang ibu.”
“Kau tidak pernah menyentuh tangan ibumu ?” tanya Qiluo.
“Tentu saja pernah , tetapi aku benci dengan tangannya. Setiap kali dia mau memegangku maka aku selalu menyingkirkannya. Aku merasa tangan itu sangat menjijikkan , putih dan kecil seperti hantu saja. Mungkin karena saat itu aku masih kecil , tetapi sekarang kalau aku pikir , aku sangat menyesal. Aku pasti sudah sangat menyakiti hatinya.”
“Sekarang lukisan ini milikmu , bukan milik siapapun, terserah mau kau apakan lukisan ini ,” kata Qiluo.
Ling diluar dugaan membakar sketsa itu . Qiluo tampak memahami dan membiarkannya dan berkata : “Kamu pernah berjanji untuk melindungiku , apa itu masih berlaku ?”

Mendengar pertanyaan itu , sorot mata Ling menjadi aneh , dan perlahan mendekati Qiluo diranjang seakan hendak menciumnya. Qiluo yang jengah buru-buru mengalihkan perhatian dengan mengajak Ling jalan-jalan diluar.

Tragedi Menopause

Mereka berdua mengunjungi galeri seni . Saat mengaso duduk , Qiluo meminta maaf karena telah membawa Ling ketempat yang membosankan.

Ling tersenyum dan berkata : “Sebenarnya tidak juga , malah tempat ini sangat menarik.”
“Kau merasa ini menarik ?” Qiluo tampak lega dan tersenyum.
“Iya , dan yang menarik bukan karya-karya seni ini , tetapi ciptaan Tuhan ,” jelas Ling.
Ling lalu menunjukkan seorang pria tua yang sedang tertidur pulas dan menyebutnya sebagai KEBAHAGIAAN SENJA.
Ling meminta Qiluo berdiri , dan kini Ling menunjuk kearah ibu-ibu yang sedang bergosip dan menyebutnya sebagai “TRAGEDI MENOPAUSE” . Qiluo tidak tahan untuk tertawa .

Lalu Ling menunjuk ke arah lain dimana ada pria setengah baya yang rambutnya agak botak dan menyebutnya sebagai “MENYINARI DUNIA” .
Qiluo tidak tahan untuk tertawa , tetapi Ling langsung menunjuk Qiluo dan mengatakan “PEMUDI YANG SEDANG JATUH CINTA.”
Mereka lalu berjalan-jalan berkeliling bahkan berlari dan Qiluo masih terus saja tertawa.
Ling berkata lagi :” Baru kali ini gadis yang tidak bisa tersenyum bisa terus tertawa ,”
“Karena kau orang yang bisa membuat orang lain jadi gila,” sahut Qiluo.
“Masih mau gila terus ? Mari pergi ke hotel ,” canda Ling dan Qiluo langsung berubah wajahnya. Mereka pun berpisah karena urusan masing-masing , tetapi sebelum itu Qiluo meminta agar Ling kembali ke kampus. Ling memandang sesaat dan menyanggupi.

Kenangan Kembar

Mereka pun jalan-jalan kembali dimana mereka bertemu dengan seorang suster, yang memanggil Ling dengan nama A Sheng yang selalu datang setiap misa.
Ling menjelaskan kalau dia adalah kakak A Sheng. Suster itu masih belum sadar kalau A Sheng sudah meninggal , tetapi Ling tidak berkata yang sesungguhnya pada suster itu.
Kemudian , Ling mengaku pada Qiluo kalau A Sheng adalah adik kembarnya yang telah meninggal karena bunuh diri. Ling menunjukkan foto kembarnya saat bersama , dan Qiluo langsung bisa menebak Ling yang mana.
“Sifat adikmu seperti apa ?” tanya Qiluo .
“Dia , anak yang baik , tetapi agak penakut dan lemah. Kalau aku energik , dia selalu harus periksa ke dokter. Setiap kali dia diganggu temannya selalu aku yang balas dendam untuknya.”
“Jadi dia dimana sekarang ?”
“Dia sudah mati.” jelas Ling.
“Kamu bohong , tadi kau katakan pada suster itu bahwa …….”
“Suster itu kelihatan orang baik , jadi aku tidak perlu memberitahu dia yang sebenarnya dan membuatnya sedih.”
“Kapan dia meninggal ?
“Dua tahun lalu pada musim gugur.”
“Boleh aku tahu apa penyebabnya ? ”
Wajah Ling berubah serius dan berhalusinasi saat adiknya bunuh diri menghempas ke bumi. Qiluo berjalan terhuyung-huyung dan akhirnya jatuh pingsan.

Qiluo panik dan akhirnya mencoba untuk memberikan perawatan darurat dengan nafas buatan.  Ling akhirnya tersadar , dan Qiluo meratap : ” Aku pikir kamu akan mati , seperti ayahku .”
“Maaf , maaf , aku sudah membuatmu cemas ,” kata Ling sambil terengah-engah.
Setelah itu mereka kembali berjalan-jalan sampai Ling mengantarkan Qiluo pulang di malam hari. Qiluo berpesan agar Ling memeriksa kondisi kesehatannya dirumah sakit.
Ling mempersilahkan Qiluo untuk cepat masuk kerumah . Sebelum berpisah Qiluo menanyakan kapan Ling kembali .
“Besokpun kamu akan melihatku dikampus.” jawab Ling.
“Dulu waktu aku mau pergi kuliah , perasaanku sangat kacau . Sebelum keluar rumah aku selalu berdoa , mudah-mudahan hari ini tidak ada yang mengajakku bicara , tetapi sekarang aku sudah bisa pergi ke kampus.” aku Qiluo sambil tertunduk malu-malu.
“Qiluo …………besok kamu pagi celana panjang karena pulang kuliah kita akan pergi keliling dengan motor.” ajak Ling.
Kali ini Qiluo hendak melihat Ling pergi duluan , karena merasa takut tidak bisa melihat lagi. Ling tampak tersentuh dan memeluk Qiluo , kemudian mereka berdua berciuman. Qiluo kali ini merasakan bibir Ling yang hangat .

Alat Kelamin Berjalan

Qiluo menunggu Ling didepan kampus , yang muncul malah Daye yang terus memandangnya. Tak lama yang ditunggu sudah datang , Ling masuk kampus dengan motor berkecepatan tinggi.

Ling menyambut : “Zao an .”  sementara Daye pun ikut tersenyum. Saat Ling masuk ruang kelas , teman-temannya pun bersorak gembira menyambut kembalinya Ling.
Ling kembali kambuh , dan langsung membagikan majalah dewasa kepada rekan-rekan kelasnya. Qiluo cuek melihat kelakuan Ling , sementara Qingmei tersenyum seperti merasakan ikut senang atas kembalinya Ling.

Daye penasaran dan bertanya : “Apa betul kamu hanya berciuman saja dengannya ? Apa kau salah makan obat atau ada syaraf yang terputus. ”
“Aku tidak ada waktu untuk bercanda dengan kalian , dan aku berpikir apa aku sudah mundur ? Kenapa berciuman dengan Qiluo juga bisa………,” Ling belum selesai bicara , Daye sudah memotong .
“Bisa teringat padaku ?” tanya Daye.
“Bisa tegang ,” sahut Ling
“Kau sungguh alat kelamin berjalan , dan bisa tahu tata krama juga , ” goda Daye.
Pada saat menuruni tangga , mereka sempat terkejut melihat A Bing muncul . Tetapi tanpa diduga , A Bing menawarkan persahabatan pada Ling.
“Aku paling salut dengan orang yang tidak takut padaku , dan kau juga pintar berkelahi, jadi…mari kita bersahabat.” tawar Abing.
“Baiklah ,” sahut Ling sambil tertawa hangat dan mereka pun berpelukan.
Pada saat A Bing berlalu , Ling dan Daye kembali terkejut melihat Changze pun muncul.
Ling mengeluh : “Hari apa yah sekarang ?”

Batas Kemampuan

Changzhe mengajak Ling kesebuah tempat di kampus yang baru diketahuinya.
http://1.bp.blogspot.com/-m2vphAEf38o/UkXTm14WrRI/AAAAAAAAOXo/2OUtG3Zu95g/s1600/Mars+05-14.jpg
Ling termenung sesaat dan wajahnya mulai berubah seperti terengah-engah (teringat kasus adik kembarnya) . Lin sempat hendak pingsan didepan Qiluo , tetapi Ling tiba-tiba menyusul Changze keatas dengan terhuyung-huyung.

Begitu sampai ke atap , Ling langsung melabrak Changze.
Changze mengancam : “Jangan dekat-dekat , aku akan melompat.”
“Ayo turun !!” perintah Ling.
Qiluo hendak membuktikan ancamannya tetapi ragu-ragu sehingga Ling langsung menariknya ke lantai dan menghajarnya., ” Kau kira kamu ini siapa ?”

Ling terus menghajar Changze sampai lupa diri . Daye dan Qiluo sudah datang untuk mencegahnya , tetapi Ling turun ke bawah dan langsung pergi dengan motor balapnya.
Qiluo dan Daye tidak berdaya untuk menyusul . Qiluo tiba-tiba bertanya pada Daye apakah Ling sakit apa , karena sebelumnya pernah jatuh pingsan. Qiluo bertanya juga mengenai bagaimana cara adiknya Ling mati .
Da Ye tampak bingung karena diapun baru tahu .

SINOPSIS LENGKAP

[Episode 1 ] [2] [3] [4] [5] [6] [7] [8] [9] [10] [11] [12] [13] [14] [15] [16] [17] [18] [19][20] [21]

0 comments:

Post a Comment